Food Story
Berkah Tahu Petis Yudhistira di Masa Pandemi

19 Dec 2020


Foto: Dok. Tahu Petis Yudhistira

Masa pandemi ternyata bukan masa yang buruk untuk Wieke Anggarini. Walau sempat khawatir, kemunduran usaha ternyata tidak terjadi. Bisnis Tahu Petis Yudhistira dan jajanan khas Semarang lainnya yang dibangun sejak 2006 itu laris manis diserbu pembeli, melalui layanan pesan antar. Namun demikian, keadaan ini tidak membuat pemenang II Lomba Wanita Wirausaha Femina tahun 2008 ini, bersantai. Ia justru harus mengatur strategi baru untuk melayani lonjakan pembeli yang tiba-tiba itu.
 
Isu lock down membuat was-was?

Tentunya, karena itu artinya aktivitas masyarakat akan terhenti, dan ini pasti berimbas ke semua sektor termasuk usaha. Walaupun sempat bingung, saya tetap melakukan antisipasi yang terburuk dan mencari cara supaya bisa tetap bertahan. Saya pikir penjualan dari outlet Tahu Petis Yudhistira dengan 10 outlet pasti akan langsung terkena dampak. Sebelum pandemi muncul, saya dan tim memang sedang me-review beberapa outlet yang performanya kurang memuaskan. Bertepatan dengan habis masa sewa lokasi, kami memutuskan untuk menutup 2 outlet untuk mengencangkan ikat pinggang.
 
Ternyata faktanya tidak sesuai kekhawatiran itu?

Ya, saya memang mengira pandemi akan berdampak langsung pada penjualan Tahu Petis dan makanan lainnya yang kami jual seperti Lumpia Semarang dan Tahu Bakso. Apalagi setelah 2 outlet yang kami tutup, ada 1 outlet yang tidak beroperasi karena lokasinya di dalam mal. Tapi, yang terjadi justru kebalikannya.

Nggak nyangka kalau permintaannya justru naik pesat. Terutama dari layanan pesan antar. Kita mungkin masih ingat, pada saat kasus covid-19 pertama diumumkan, sempat terjadi panic buying. Selain kebutuhan pokok, ternyata makanan ready to cook termasuk frozen food menjadi incaran. Tahu Bakso dan Tahu Walik Yudhistira masuk dalam kategori ini.

Sejak dianjurkan #dirumahsaja dan masyarakat membatasi diri untuk ke luar rumah, layanan belanja online langsung naik. Orang-orang lebih banyak membeli camilan yang agak repot dibuat sendiri. Camilan yang familier di lidah orang Indonesia yang serba digoreng. Sebenarnya, secara tidak sengaja, bisnis model Tahu Petis Yudhistira ini malah cocok dengan kondisi saat ini
Sebenarnya sejak dulu usaha yang saya rintis ini, platform utamanya memang delivery. Gerai fisik cuma jadi tempat pick up orderan dan sebagian menjadi tempat penjualan. Pesanan delivery di outlet meningkat signifikan, begitu juga di e-commerce seperti Tokopedia. Apalagi pada saat bulan puasa lalu, permintaan melonjak berkali-kali lipat.

Dari data Mei - Juli 2020, terlihat penjualan kami mengalami kenaikan sebanyak 40% dari rata-rata. Padahal, gerai kami justru berkurang dan toko oleh-oleh di Semarang juga sempat tutup. Tahun lalu, di periode yang sama hanya mencapai sekitar 25%. Tidak bisa keluar rumah justru jadi berkah!

Adaptasi baru apa yang dilakukan selama masa sulit ini?

Alhamdulillah, kondisi kami tidak menjadi buruk dan justru mengalami kemajuan. Tapi kami harus tetap menyesuaikan diri dengan tren pasar. Di masa pandemi ini orang-orang berbondong-bondong membuka usaha kuliner online dari rumah. Pesaing saya adalah anak-anak milenial yang melek teknologi dan media sosial. Persaingan jadi makin ketat. Gimana caranya supaya bisa meningkatkan potensi delivery?

Tanpa pikir panjang, saya langsung mengambil kursus singkat bagaimana meningkatkan usaha melalui platform media sosial, terutama Instagram dan Facebook. Mau nggak mau saya harus mengikuti perkembangan zaman supaya tidak hilang dalam persaingan. Selama ini, akun media sosial Tahu Petis Yudhistira saya urus sendiri.

Mungkin dulu saya kurang fokus karena ada hal-hal lain yang harus saya urus. Sekarang, karena di rumah saja, waktu saya jadi lebih banyak untuk mengurusnya. Jadi tahu bagaimana caranya berinteraksi melalui chat dengan customer untuk menarik dan mempertahankan mereka. Strategi marketing juga dibuat, misalnya dengan giveway program dan after sales service yang bagus.
 
Katanya sempat kewalahan mengurus pesanan?

Itu benar sekali! Sejak permintaan meningkat berlipat-lipat, banyak hal baru yang harus kami urus, terutama untuk layanan pesan antar. Saya harus menguatkan tim yang ada karena saat ini saya belum berani untuk mempekerjakan karyawan baru. Sehingga karyawan ada yang yang harus switch tugas dan bekerja rangkap. Apalagi sekarang, dapur sentral kami menjadi ghost kitchen yang juga melayani penjualan. Jadi, karyawan yang dulu hanya mengurus produksi, sekarang harus menjaga jangan sampai stok produk kosong, dan mengurus para ojek online yang datang untuk mengambil pesanan. Kami masih harus mencari ritme kerja yang pas agar efektif untuk melayani pertumbuhan permintaan ini.

Baca juga:
Langkah Strategis Ermey Trisniarty Mempertahankan Dapur Cokelat di Saat Pandemi
Dua Wanita Pebisnis Gabungkan Kekuatan Cokelat dan Cookies Jadi Hampers Manis
Makanan-Makanan Yang Sering Muncul di Drama Korea. Nomor 1 dan 9 Ada Resepnya di Femina.
 


Topic

#tahu, #wanwir, #petis

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?