
Foto: HC
Dua tahun berselang, restoran yang dimulai tahun 1969 itu lahir kembali lewat penerus lokomotifnya, pasangan Albert Boedhi Tjahjono dan Yuwinda Muliadi. Seporsi Bistik Lidah yang femina terakhir nikmati 5 tahun lalu memang tak perlu hilang dari daftar makanan nikmat Jakarta.
Miranda (d/h Tan Goei) kini adalah Heritage by Tan Goei di sebuah bangunan seluas 120 m2 yang memenuhi estetika ruang santap masa kini. Dulu, di Miranda,femina mengingat bagaimana tante Albert Louise, paling-paling hanya menggeserkan lokasi kasir dan tetap mengalunkan lagu-lagu lawas Françoise Hardy.
Mesin espresso di muka ruang, menyeduh cappuccino kami siang itu. “Restu membukanya kembali tak mudah. Selaku chef, Albert juga harus belajar lagi dari kerabat dan masak berbekal memori untuk hidangan yang tidak berhasil didapatkan resepnya,” ujar Yuwinda.
Di keluarga Albert, kemampuan memasak dikuasai para pria dan diturunkan dari sang kakek yang bermarga Tan (Goei adalah marga nenek –Red). “Untuk Bistik Lidah, lidah sapi dimasak 6-7 jam sampai empuk banget,” ujar Albert.
Gaya tanpa shortcut yang mengenang leluasanya waktu di dapur era lalu. Wiener Schnitzel, Nasi Langgi, dan Opor Ayam, menyusul dalam daftar hidangan klasik. Bertabur semangat, cita rasa dapur marga Tan dan Goei dilestarikan di sini.
Berkompromi dengan tren, Albert juga menghadirkan hidangan brunch, seperti Watermelon Salad dan Coconut Yoghurt-Granola. Rasa baru yang juga patut dicoba oleh generasi lama yang berkunjung. (f)
Baca Juga:
Wilshire, Restaurant Bar Cita Rasa Penuh Budaya
Menelusuri Memori di Warung Kopi Djie Belitung
Topic
#RekomendasiRestoran




