
Mie Sagu Kuah Seafood I Foto: Dok. PARARA
Semangkuk besar ramen tersaji di atas meja. Kuah ramennya terbuat dari hasil rebusan kaldu selama kurang lebih enam jam. Di bagian atas tampak potongan daging ayam dan telur rebus ala Jepang. Yang berbeda adalah mie yang digunakan bukanlah mie ramen yang terbuat dari tepung terigu, melainkan mie sagu dengan tekstur yang kenyal. Cocok diseruput bersama dengan kuah ramen dan potongan daging ayam.
Hidangan lainnya, masih berkuah, adalah semangkuk hangat mie sagu kuah seafood. Potongan udang besar, telur dan sayuran hijau menjadi teman yang pas untuk menikmati mie sagu dengan kuah yang ringan. Jika menginginkan hidangan yang lebih ringan, Anda bisa memilih Tuna Brulee yang juga menggunakan campuran mie sagu dan tuna di dalamnya.
Mie sagu memang menjadi salah satu menu yang di-highlight oleh PARARA Indonesia Ethical Store & Restaurant. Tentunya bukan tanpa alasan, karena mie sagu menjadi salah satu bahan makanan yang sejalan dengan konsep LoSAL (Lokal, Sehat, Adil dan Lestari) yang diusung oleh PARARA Indonesia Ethical Store & Restaurant.
Ya, restoran yang terletak di Jl. Kemang Timur No. 52A, Jakarta Selatan ini memiliki misi memperkenalkan produk lokal yang diproduksi dan konsumsi dengan cara yang bertanggung jawab dan berkelanjutan dengan mempertimbangkan kesejahteraan lingkungan, termasuk juga orang-orang yang terlibat dalam sistem produksi.
Lebih lanjut, Arifin Saleh, Direktur Utama PARARA dalam acara media gathering PARARA Indonesia Ethical Store & Restaurant pada awal Maret lalu menjelaskan tentang LoSAL. "Lokal artinya semua produk pangan dan kerajinan berasal dari produsen lokal, selain mendukung petani dan perajin lokal juga mengurangi jejak karbon transportasi rantai produk. Sehat artinya makanan yang diproduksi memiliki ketelusuran bahan baku yang jelas dengan standar kualitas bahan yang mengikuti standar pangan seperti tidak menggunakan pemanis buatan, pewarna sintesis, pengawet dan penguat rasa. Misalnya, mengganti gula dengan gula aren, madu atau gula singkong yang lebih aman untuk memberikan rasa manis serta tepung gluten free."
"Sedangkan Adil artinya melibatkan perlakuan yang adil mulai dari harga beli dari produsen hingga pembayaran upah pekerja. Dan lestari artinya proses produksi memperhatikan dampak lingkungan. Misalnya produk pertanian yang digunakan di sini bisa dipastikan dipanen dan diolah dengan memperhatikan aspek kelestarian demi menjaga regenerasi ekosistem dan berusaha untuk mengurangi sampah plastik. Kami memperkenalkan produk-produk yang dihasilkan dari sumber LoSAL, dan tentunya berkualitas,” tambah Arifin.
Misalnya, mie sagu dan tepung sagu yang digunakan di restoran tiga lantai ini berasal dari produsen sagu dari Sungai Tohor, Kapulauan Meranti, Provinsi Riau. Sungai Tohor adalah salah satu sentra sagu nasional yang didirikan pemerintah. Menurut Abdul Manan, petani sagu dari Sungai Tohor yang turut hadir dalam acara media gathering, sagu yang diproduksi di tempatnya dibudidayakan dengan cara alami dan diproduksi tanpa menggunakan bahan kimia.
“Sagu ini tanaman agro ekologi. Dalam membudidayakannya kami tidak menggunakan pupuk kimia. Selain itu, tanaman sagu juga memiliki peran besar dalam menjaga kelestarian dan melindungi hutan dari kebakaran dan limbahnya juga memiliki banyak kegunaan," jelas Abdul Manan.
Mirip seperti beras, tepung sagu yang berasal dari batang pohon sagu, memiliki kandungan utama karbohidrat. Sehingga dapat berfungsi untuk menambah energi tubuh. Selain itu, tepung sagu juga meningkatkan glukosamin alami yang mampu menjaga fungsi sendi. Sehingga cocok dikonsumsi oleh mereka yang aktif berolahraga dan mengedepankan kegiatan fisik. Beberapa penelitian berhasil membuktikan jika tepung sagu bisa meningkatkan ketahanan tubuh saat berolahraga hingga 37 persen.
Tidak terbatas itu saja, tepung sagu juga menyimpan banyak manfaat. Kandungan amolose yang ada dalam tepung sagu dapat membantu mengontrol kolesterol dan trigliserida tetap normal, juga gula darah. Sedangkan kandungan seratnya memperlancar pencernaan dan menyeimbangkan bakteri baik dalam usus.
Dengan potensi sagu yang besar, Abdul Manan berharap olahan dari tepung sagu dapat lebih dikenal luas oleh masyarakat. Ia pun berharap kehadiran PARARA Indonesia Ethical Store dan Restaurant dapat memperkenalkan olahan sagu kepada masyarakat Jakarta. "Karena sagu ini dapat diolah menjadi berbagai macam hidangan mulai dari mie, aneka kue, hingga cendol dan pempek,” katanya.
Selain menikmati hidangan mie sagu, PARARA Indonesia Ethical Store & Restaurant juga menghadirkan aneka menu sorgum seperti brownies sorgun, nasi bakar sorgun, dan lainnya. Pengunjung juga bisa mendapatkan beberapa produk pertanian dan olahan hasil hutan seperti beras organik dari Krayan, madu hutan, selain kerben, dan garam sumur. Ada juga aneka produk kerajinan rotan dari keranjang hingga tas, serta kain tenun dan lurik. Menu dan koleksi terbaru dari mereka bisa dilihat di instagram @parara.id.

Tuna Brûlée di Parara Ethical Store & Restaurant. Foto: Dok. PARARA
Jaga Tradisi, Rawat Bumi
Hadirnya PARARA Indonesian Ethical Store & Restaurant, berangkat dari Festival dua tahunan PARARA (Panen Raya Nusantara) yang berlangsung sejak 2015, yang digagas oleh 20 konsorsium organisasi (kini 31 organisasi) seperti NTFP-EP Indonesia, Teras Mitra, KPAM, ASPPUK, WALHI, WWF, Koperasi Kehati, ALIFA, KKI WARSI, YADUPA, dan lainya. Dibuka sejak tahun 2019, toko sekaligus restoran ini menjual aneka produk kerajinan dan makanan serta minuman yang diproduksi secara Lokal Adil Sehat Lestari dan berasal dari Komunitas Masyarakat Adat dan Lokal seluruh nusantara.
Menurut Bibong Widyarti, salah satu Komisaris, PARARA menjadi wadah bagi komunitas-komunitas binaan konsorsium PARARA untuk memasarkan produk-produk mereka yang diproduksi dengan prinsip berkelanjutan. “Seperti tagline kami ‘Jaga Tradisi Rawat Bumi’, semua produk yang ada di PARARA Indonesia Ethical Store dan Restaurant ini mendukung penuh prinsip adil dan lestari. Kami mengedepankan nilai-nilai perjuangan komunitas binaan dalam menghasilkan produk sekaligus menjaga alam tempat produk tersebut dihasilkan.”
Ditambahkan oleh Bibong antara tradisi dan alam itu akan selalu terkait satu sama lain. Misalnya saja terkait tradisi pembuatan wastra Nusantara, ini erat hubungannya dengan bagaimana menjaga aneka tanaman pangan juga obat yang bisa digunakan sebagai pewarna alam untuk kain.
Komitmen LoSAL juga diperkuat dengan adanya sertifikasi yang datang dari komunitas sebagai penjamin produk yang diproduksi sudah sesuai ketentuan yang berlaku. Dalam hal ini, Cristina Guerrero, perwakilan Komisar, menambahkan bahwa PARARA menjadi satu-satunya restaurant yang tergabung dalam Forum Fair Trade Indonesia. (f)
Baca Juga:
Menikmati Relaksasi Terbaik di Resor Mewah ala Jepang di Ubud Bali
Menanam Microgreens Bisa Jadi Hobi Baru
Tren Bisnis Kuliner 2022, Makanan Sehat Makin Diminati
Topic
#restoran, #food, #kuliner, #panganetis




