Fiction
Toko Kue Yosilia

22 Nov 2015


CARA KAU MENCINTAI KUE-KUE --segala jenis kue-- mulai membuatku khawatir. Kau kerap memaksakan diri membuat kue  tiap hari dan mengirimnya ke orang-orang yang pernah kau kenal hanya untuk membuatmu lupa kalau kau tengah sakit, lupa kalau sekali waktu seekor serigala mengobrak-abrik pertahanan tubuhmu dan selalu datang lagi. Tentang seekor serigala itu aku yang pertama kali melontarkannya. Kukatakan, “Aku mencintai perempuan dengan seekor serigala di tubuhnya.”
    Kau tertawa lebar mendengarnya (bukankah seharusnya kau menangis?). Mungkin kau berpikir aku tengah berada dalam ambang putus asa dan kau berbisik agar aku tabah dan kau berusaha kelihatan baik-baik saja.

    “Ini bisa kita lewati,” katamu lagi.
    Aku mau protes. Mau bilang kalau ini bukan tentang aku, melainkan kau. Kau yang harus kuat melawan serigala itu tiap kali ia menyerangmu. Kau yang harus menjaga tubuhmu agar tidak terlampau lelah.
    “Aku hanya membuat kue-kue,” dalihmu.
    “Tapi kau terkadang lupa pada apa pun, jika sudah membuat kue-kue itu.”
    Kau terkikik ketika tiba-tiba matamu terpaku pada sebuah kue dengan hiasan berbentuk daun dan bunga mawar di atasnya, “Sebelum ini aku tak pernah membayangkan akan memanggang bunga mawar,” ujarmu, tampak geli.
    Selanjutnya kau lebih sibuk membicarakan kue-kue dan kita tak pernah membahas soal seekor serigala dalam tubuhmu lagi. Tak banyak yang kutahu nama-nama kue itu. Kau memintaku menghafal nama-namanya. Seingatku, kau tak pernah bercita-cita jadi guru, tapi caramu memerintahku, mirip guru bahasa Inggris waktu aku SMP yang memberi PR hafalan kosakata. Jangan sampai lupa, katamu. Aku mengangguk-angguk. Aku bahkan lebih takut pada tatapan matamu ketimbang penggaris kayu guruku itu. Kau pun kembali membicarakan teman-temanmu yang alamat rumahnya kaucatat rapi di sebuah buku memo. Salah seorang dari mereka mengirimimu brownies panggang setelah tiga kali mendapat paket kue kering darimu. Salah seorang yang lain --namanya Mayla dan itu satu-satunya teman yang sangat kausukai namanya-- membuatkan topi rajutan yang ia buat khusus untuk menutupi rambut pendekmu.

    “Lihat, mereka begitu mencintaiku,” katamu haru. Usiamu baru tiga puluh tiga, tapi mata cokelatmu tampak tua. Bintik-bintik hitam mirip bercak tanah bermunculan di kulit wajahmu yang putih. Dan kau kerap menghibur diri dengan mengatakan kalau nanti kau akan punya kebun bunga di pipimu, saat itu mungkin pipimu sudah benar-benar berwarna tanah. “Bayangkan ada banyak serangga pemakan madu yang terbang,” ujarmu tertawa, dan sudah pasti di antara serangga-serangga itu kau tak menyukai kupu-kupu, kau tak suka sayapnya yang memiliki serbuk, kau tak suka matanya kelam, kau tak suka mulutnya yang jelek.

          Namun, sebenarnya, kau pernah suka pada kupu-kupu seperti banyak orang lain menyukainya. Dulu, sebelum kau menemukan ruam merah serupa sayap kupu-kupu di pipi kanan dan kirimu. Dulu sekali, sebelum kau menemui dokter seorang diri dan kau didiagnosis sakit lupus (aku tak bisa bayangkan bagaimana cara kau menghadapinya selain pengakuanmu kalau waktu itu kau duduk di tepi kanal dan memandangi air yang keruh sampai senja).
Kau masih bicara tentang bunga-bunga di pipimu dan serangga sambil sesekali diselingi tawa renyah. 

    Aku tidak mendengar apa lagi yang kaukatakan setelah itu. Aku sering tidak tahan mendengar kau bicara panjang-panjang. Aku lebih suka kau istirahat di kamar. Membaca buku. Atau kembali menggambar seperti dulu—terserah menggambar apa saja. Namun, belakangan kau memang tidak lagi menyukai kamar. Kau suka berada di dapur. Berada di antara bau mentega, cokelat panas, keju, vanilla, tepung terigu, susu. Kau bisa seharian berada di sana. Kadang sampai malam. Kau membuat banyak sekali kue. Nyaris semua peralatan dapur menjadi kotor dan menumpuk di lantai. Begitu semua selesai, kau membungkus kue-kuemu yang nanti akan dijemput petugas dari jasa pengiriman langgananmu. Setelah itu kau baru membersihkan semuanya.

          Kau menata kembali peralatan dapur di tempat semula sesudah mengeringkannya dengan lap motif kotak-kotak merah. Tiap hari kau selalu berdebar menunggu telepon atau pesan teman-temanmu yang mengabarkan tentang kue-kuemu yang sudah tiba ke rumah mereka. Kau tidak sabar mendengar pendapat mereka soal kreasi terbaru dari kue-kue keringmu. Umumnya mereka adalah teman-teman yang selalu ingin menyenangkan perasaanmu. Mereka bilang kecerdasanmu termanifestasikan dalam rasa kue-kue itu. Berkali-kali kau bertanya padaku, apa mereka sungguh-sungguh?

    Aku menggenggam tanganmu dan mengangguk. Bagiku, apa pun yang kaulakukan adalah perwujudan dari kecerdasan otak dan perasaan riangmu. Karena itu, segala yang kaubuat dari tanganmu tak kuragukan hasilnya. Kau orang yang sangat serius dan tulus dalam mengerjakan sesuatu hal. 
    Saat malam kau mengeluh napasmu sesak atau kepala sangat sakit atau kau tiba-tiba muntah.
     Aku sedikit memarahimu yang keras kepala, tapi aku tidak tega untuk tidak membawamu ke dokter. Sambil menatapmu, aku berkata, “Bisakah kau berhenti bekerja terlalu keras?”
    Kau tampak sangat sedih, “Bukankah aku justru baru saja melepaskan semuanya?”
    Kau benar. Lima bulan lalu akhirnya kau memutuskan berhenti kerja dari kantor redaksi surat kabar. Itu pasti tidak mudah bagimu. Kau yang terbiasa sibuk dengan jadwal-jadwal deadline. Kau yang rapat nyaris  tiap hari. Kau yang bertemu banyak orang. Namun aku tetap saja ingin  memintamu melepaskan yang lainnya. Aku mau  tiap hari kau duduk manis saja sambil menungguku pulang kerja, lalu aku membawamu jalan-jalan atau kita menghabiskan petang di bawah pohon jambu air yang bibitnya dikirimi ibumu dari kampung. 


    TADI PAGI kau baru saja bilang ingin memiliki toko kue.
    Aku pura-pura sibuk mengikat dasi. Aku tidak bisa mematahkan semangatmu dengan cara yang bisa membuatmu bersedih sepanjang hari.
    “Kau tidak setuju, ya?” tanyamu pelan.
    Aku tersenyum, “Nanti kita bicarakan lagi.”
    Kau tak membalas senyumku. Cepat-cepat kau lari ke dapur dan aku sudah mendengar kau memecahkan telur dan menghidupkan mixer. Di dapur itu aku tahu kau sedang marah. Aku bisa mendengarnya dari caramu memperlakukan alat-alat dapur dengan kasar dan bunyinya terdengar lebih riuh dari biasa.

    AKU TAHU KAU PEREMPUAN yang hidup dengan mimpi-mimpi besar. Kau seolah punya banyak sayap dan kau terbang dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu ketinggian ke ketinggian lain. Aku tahu selama ini kau tak pernah membayangkan dirimu berakhir di dapur dan membuat kue-kue. Aku tahu kau kerap menyesali hidupmu dengan mencubiti kulitmu sampai merah atau menarik-narik rambut pendekmu hingga beberapa helai jatuh di lantai.
    Karena itu aku berpikir, barangkali sebuah toko kue bisa menghiburmu. Membuat kau kembali tersenyum dan sesekali terkikik. Aku suka melihatmu tertawa. Aku suka mendengar kau terkikik dengan spontan untuk sesuatu yang menurutku sebenarnya bukan sesuatu yang lucu atau bisa ditertawakan.
    Aku meneleponmu dan kau mengangkat dengan malas.
    Kukatakan, “Dalam 30 menit aku tiba di rumah dan kita akan mencari toko kecil tempat kau memajang kue-kuemu.”
    Aku yakin sekali kalau kau menjerit sangat keras sebelum telepon kaututup. Dan aku yakin sekali kalau sekarang kau masih menjerit-jerit sendirian sambil melompat di lantai dapur (tanganmu mungkin sekali masih memegang spatula yang berlepotan tepung atau memegang sebungkus kismis). Namun, semoga kau tahu kalau kau tak perlu melakukannya hingga tenagamu terkuras habis. Aku tak mau kejadian tak diinginkan menimpamu saat aku sedang tak di rumah. Betapa aku sering ketakutan jika tiba-tiba telepon genggamku berbunyi dan yang kudengar sebuah kabar buruk. Penyakit yang kauderita tiga tahun ini sering membuatmu mendadak kolaps. Mengacaukan kerja jantung, ginjal, dan terakhir kau kerap sesak napas. Dan semua itu bagai mimpi paling mengerikan bagiku.


    KAU BERDIRI DI DEPAN TOKO kue kecilmu. Kau melambaikan tangan padaku. Rambutmu tetap pendek. Namun hari ini kau kurang sehat. Tepatnya penyakitmu kambuh. Wajahmu mengeluarkan ruam merah. Matamu lebih cokelat dari biasa. Aku cemas sejak kemarin. Kau bilang, “Jika kau cemas aku menjadi lemah.”
    Maka aku pura-pura tidak cemas. Pagi-pagi sekali aku sudah mengantarmu pergi ke toko kue yang akan dibuka hari ini. Kau punya tiga orang karyawan yang sekarang sedang sibuk di dalam. Setelah itu aku pamit ke kantor. Dan kau melepasku dengan berdiri di depan toko kue itu. Dan aku seakan ingin selamanya berdiri di sini sambil memandangimu. Kau tampak cantik sekali di sana. Kau mengenakan gaun selutut warna hijau dan rambut pendekmu yang kau beri minyak tampak berkilat. Jika ada orang yang melihatmu, orang itu tak akan percaya kalau kau sedang sakit.
    “Pergilah,” katamu setengah berteriak.
    Aku buru-buru masuk ke mobil. Sekali lagi aku menoleh ke arahmu,  dan kau kembali melambaikan tangan. Senyummu merekah bunga, seindah nama toko kuemu yang huruf-hurufnya tampak hidup dalam balutan warna maroon: Toko Kue Yosilia. (f)

Yetti AKA



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?