
Bagian 2
Kisah sebelumnya:
Becca, gadis Batak sarjana perikanan, lebih memilih bekerja dalam pertunjukan lumba-lumba di Lovina, Bali. Lumba-lumba yang pintar saat show ternyata harus didera-dera selama latihan. Ia sangat peduli akan nasib Lado, lumba-lumba yang dekat dengannya.
Lado dan teman-temannya, meloncat dengan indah. Menerobos lingkaran bola api tanpa hambatan apa pun. Pertunjukan, berakhir dengan sukses.
Sekarang, dilanjutkan dengan pelajaran berhitung.
“Lima ditambah lima, berapa, Lado?” tanya Bens, sambil menunjukkan lambang
bilangannya di atas papan tulis kecil.
Lado meloncat sepuluh kali ke dalam air.
“Tujuh dikurangi empat, berapa, Jack?” tanyaku, juga sambil menunjukkan lambang bilangannya.
Jack menatapku lucu. Lalu, hip, hip, hip, ia mencium pipiku tiga kali. Penonton riuh memberi tepuk tangan.
“Berapa pacarnya Bens, Lado?” tiba-tiba aku jadi iseng, supaya pertunjukan bervariasi, tidak monoton.
Lado melompat dua kali.
“Kau salah, Lado. Pacar Bens cuma satu, Cuma aku,” kataku tertawa.
Ia memprotes dengan menyemburkan air, dan hup, hup, ia meloncat dua kali ke air. Refleks, aku menoleh ka arah Bens, dan kulihat mukanya memerah.
“Sekarang, saya, dong, yang bertanya,” kata Bens sambil merebut pengeras suara dari tanganku. “Kalau pacarnya Rebecca, ada berapa, Jack?”
Jack langsung menjawab. Ia meloncat dua kali ke dalam air. Tepuk tangan penonton makin riuh. Mukaku jadi merah.
“Coba jawab Lado, berapa pacar Rebecca?”
Kupalingkan muka, berharap Lado meloncat sekali saja. Tapi, aku benar-benar kaget ketika dia meloncat dua kali. Aku jadi salah tingkah.
“Enggak usah dipikirkan, Beca. Namanya juga lucu-lucuan, supaya kita tertawa,” kata Bens, membuatku sangat lega.
Kulemparkan cumi-cumi segar untuk Lado dan teman-temannya. Mereka sudah mempersembahkan yang terbaik.
“Jangan terlalu banyak, Beca,” bisik Bens. “Nanti Pak Bagus marah. Cumi-cumi mahal harganya.”
“Mereka pantas mendapatkannya, karena mereka sudah berjuang memberikan yang terbaik,” kataku tenang.
****
Ini kepulanganku yang pertama ke di Samosir, sejak aib itu terjadi. Kupikir aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Kupikir, Ningot, pria dari masa lalu itu akan membuat perasaanku terbelenggu. Belakangan aku baru sadar, penghinaannya adalah kenyataan pahit yang membuahkan kenyataan yang jauh lebih manis.
Sebenarnya berat memenuhi panggilan Bapak karena aku harus mengambil cuti, dan meninggalkan Lado dan teman-temannya berjuang sendirian memerangi stres. Kepulangan kami berdua pasti membuat mamalia air yang tidur dengan mata terbuka sebelah itu sangat kehilangan.
Ha-ho-lo-ngan. Tak sadar, kueja namanya dalam pesawat menuju Medan. Oh, oh, seperti apa tampang anak itu sekarang? Sudah lima belas tahun kami tidak bertemu. Setelah tamat SD di kampung, Haholongan dan keluarganya tinggal menetap di Singapura. Ayahnya berhasil menjadi pengusaha sukses di negara seribu satu larangan itu. Mamanya adalah kakak kandung perempuan Bapak. Mamanya Haholongan, yang kupanggil Namboru, memutuskan pulang ke Medan, karena suaminya yang kupanggil Amangboru itu meninggal dunia tiga tahun lalu. Kata Bapak, Namboru pulang membawa kekayaan yang tidak sedikit, hasil warisan dari mendiang suaminya.
Dengan saudara sepupuku itulah, Papa menjodohkanku. Naif, bukan? Tali darah kami masih sangat dekat!
Aku memutuskan pulang, takut Bapak marah dan sakit. Tetapi, kepulanganku ini kurasa menjadi sangat indah, karena Bens ikut pulang mendampingiku.
“Pesawat telah mendarat dengan baik di Bandara Kualanamu. Sabuk pengaman boleh dilepaskan. Selamat siang, dan kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Anda pada maskapai penerbangan kami,” kata pramugari yang tinggi dan cantik itu.
Aku berdiri, bersiap turun. Rumahku, masih jauh dari Medan, tapi jika dari bandara yang baru ini, perjalanan ke Samosir semakin dekat. Dua jam lagi kami akan sampai di istanaku yang eksotis. Dulu kalau libur kuliah, aku dan teman-teman pulang ke Samosir naik kapal. Kami makan kacang dan telur rebus yang kami beli di Tomok, sambil menikmati keindahan Danau Toba.
“Kalau Haholongan menjemput, bagaimana?” wajah Bens sedikit tegang.
“Enggak mungkin.”
“Kau masih ingat wajahnya?”
“Kami sudah lama enggak bertemu. Tapi minggu lalu, ia mengirimkan fotonya.”
“Ganteng?”
“Lumayanlah.”
“Gantengan mana dengan aku?”
Aku mencubitnya.
“Kok, malah mencubit?”
“Itu jawabannya.”
“Artinya?”
“Artinya, bantu aku di sidang itu, Bens, agar kita menjadi pemenang. Agar aku suatu saat menjadi....”
“Menjadi apa?”
“Menjadi istrimu….”
Wajahnya langsung berubah, memerah seperti cabai.
“Baiklah, aku akan membantumu.”
“Jika kau kuat, aku juga akan kuat, Bens.”
“Ya.”
Aku ingin marah. Pemibicaraan, jika sudah kuarahkan ke pernikahan, pasti akan tawar lagi. Kesal, aku berjalan mendahuluinya sambil menarik koperku. Bandara Kualanamu yang berada di Kabupaten Deli Serdang ini sedikit membingungkanku. Sejak bandara dipindahkan dari Polonia ke areal yang sangat luas ini, aku belum pernah pulang.
“Rebecca, kan?” seorang pria ganteng, berdiri di depanku. Meski sudah lama tidak bertemu, aku tahu dia adalah Haholongan.
“Ya, aku Rebecca.”
“Astaga, kau cantik sekali,” ia menarik tanganku, dan dengan sekali sentakan ia menarikku ke pelukannya. Berani sekali.
“Bagaimana mungkin, gadis secantik kau jadi pelatih lumba-lumba?”
“Aku mencintai lumba-lumba, jadi aku senang saja melakukannya,” kataku datar.
“Kau sendiri saja, ‘kan?”
“Dengan kekasih hatikulah. Kenalan dulu, dong.”
“Mungkin aku rabun dekat,” katanya sambil memandang ke arah Bens. “Kau siapa, ya?”
“Kekasih hati Rebecca.”
“Romantis kali kau!” katanyanya sambil tertawa, antara lucu dan meremehkan. “Pelatih lumba-lumba atau penyair kesasar?”
“Dua-duanya,” jawab Bens tertawa.
Perjalanan terpaksa kami teruskan dengan kehadiran Holong di antara kami. Ia membawa sebuah mobil mewah keluaran terbaru, lengkap dengan dua orang supir. Keindahan selama perjalanan, tak akan jadi kunikmati berdua Bens! Kami melewati Jalan Hutan Tele, supaya lebih cepat sampai, kata Holong. Seandainya dia tidak datang menjemput, aku dan Bens akan naik kapal, berpelukan, sambil menikmati keindahan Danau Toba dari kapal. Aku sangat berharap, di kapal, ia akan memperjelas pembicaraan kami yang terpenggal. Tapi Holong sudah mengacaukan semua harapanku.
Rumahku sudah dua tahun tak kuinjak, sejak peristiwa memalukan itu terjadi. Bapak menyebutnya aib, musibah bagi keluarga kami. Bapak terlalu berlebihan mengintrepetasikan sebuah penolakan karena latar belakang uang. Aku bukan barang, yang bisa dibeli dengan sinamot yang tinggi. Aku tahu, Bapak sangat trauma, dan karena itu dia merasa harga dirinya melambung ketika Namboru Uli akan melamarku dengan sinamot yang sangat fantastis.
“Kau pikir anak saya nggak ada harganya?’ kata Bapak mirip rintihan, dua tahun lalu di rumahku kepada orang tua Ningot yang hendak melamarku.
Ningot, pacarku sejak SMA, memandang tak suka pada Bapak dan aku. Ningot pasti membela orang tuanya.
“Apa sinamot lima juta belum cukup, sedang pesta aku yang tanggung?” seru Bapak Ningot, sambil menepuk-nepuk dadanya.
“Tapi lae, sinamot lima juta bisa beli apa? Kami harus membeli dua puluh lima ulos untuk pihakmu. Harga satu ulos bagus saja sudah seratus lima puluh ribu rupiah. Dan jangan lupa, boru-ku sarjana, bukan buta huruf!” balas Bapak.
“Ya, saya tahu sarjana, tapi sarjana yang cuma pelatih lumba-lumba. Sarjana latteung!”
“Ada yang salah pada pelatih lumba-lumba?”
“Enggak ada, lae, tapi enggak bermutu.”
“Baiklah, lamaran ini saya tolak!” kata Bapak, mirip tangisan. “Anak saya bukan latteung! Ia sangat berharga, sangat berarti! Lain kali, jagalah mulut dan hatimu, lae.”
Sanggul miniku kucampakkan ke lantai. Juga kebaya bernuansa ulos itu, langsung kupetieskan. Latteung kata Bapak Ningot? Bagaimana mungkin aku disamakan dengan tumbuhan perdu duri yang dianggap tidak ada manfaatnya itu?
Mamak menatapku dengan pandangan sekuat garuda. Mendadak kuingat kata-katanya, tiap masalah harus diselesaikan dengan tenang. Aku tidak akan menangis. Aku hanya sangat benci, mengapa pelatih lumba-lumba dibawa-bawa, dihubungkan dengan sinamot yang rendah.
Hubunganku dengan Ningot adalah mimpi buruk. Aku terbang meninggalkannya. Bukan karena sinamot yang rendah, tapi karena aku punya harga diri, punya kekuatan menjauh dari orang yang tidak bisa menghargaiku.
Kupandangi Haholongan di sebelahku. Dia laki-laki yang baik, dan sense of humor-nya lumayan bagus. Aku meyukainya, sebagai saudara sepupu. Tak mungkin perasaan indah dari hatiku bisa tumbuh, karena sepupu tetap sepupu, tidak akan bisa menjadi suamiku.
“Kau capek?” Bens mengagetkanku.
“Sedikit,” jawabku.
“Dari tadi aku melihatmu melamun. Apa yang kau pikirkan?”
“Hubungan kita, apakah akan mendapat restu dari Bapak, atau akan memaksaku menikah dengan pria bodoh ini,” aku menunjuk Haholongan dengan sikuku.
“Bodoh katamu?”
“Apa bukan bodoh namanya, mau saja dijodohkan denganku.”
“Kau kan pariban-nya.
“Pariban dalam adat kami mengandung arti kira-kira begini, sesuatu yang istimewa antara saudara sepupu laki-laki dan saudara sepupu perempuan. Keistmewaannya itu adalah bahwa pariban biasanya dijodohkan, karena secara alamiah mereka sudah memiliki perasaan cinta. Kurang lebih begitulah pengertiannya.”
Tangannya, tiba-tiba menyentuh lenganku, seperti memberi kekuatan.
“Pariban adalah saudara sepupu, seperti kau dengan anak perempuan dari saudara perempuan kandung ayahmu. Bapakku adalah abang kandung ibunya Holong. Coba kau pikir, bagaimana mungkin aku menikah dengannya?.”
“Tapi dalam adat Batak, kawin dengan pariban sangat dianjurkan.”
“Itu dulu, Bens. Itu adat dari zaman dulu, yang sampai sekarang masih dianggap benar oleh beberapa orangtua, termasuk Bapakku. Padahal kan, perkawinan dengan pariban adalah perkawinan sedarah. Berbahaya dari segi kesehatan.”
“Berbahaya?”
“Perkawinan sedarah, bisa menurunkan penyakit kepada keturunannya. Sudah banyak aku lihat, perkawinan sedarah menghasilkan keturunan yang enggak sehat.”
“Ngeri juga, ya.”
Kulihat Haholongan masih terus bermimpi dalam tidurnya.
“Makanya, bodoh sekali dia mau dijodohkan dengan pariban.”
Mobil sudah memasuki Huta Rianiate, Samosir, kampung halamanku. Di sini, kampung atau desa disebut huta. Di sepanjang jalan yang kami lalui, tercium aroma mangga Samosir yang khas. Aku ingin cepat sampai ke rumah, tak sabar memanjat pohon mangga di halaman rumahku.
“Mangganya banyak sekali, ya,” kata Bens, menunjuk ke sebuah gerobak buah yang dipajang di pinggir jalan.
“Kau mau?”
Bens tersenyum malu-malu.
“Nanti saja di rumah. Di rumahku banyak mangga, nanti kita panjat bersama.”
“Rumahmu sungguh eksotis, dong.”
“Bapakku petani. Kami hidup dari hasil pertanian. Kalau ada waktu, kita marsuan.”
“Apa itu marsuan?”
“Menanam padi di sawah.”
“Pasti sangat seru.”
Pandangan Bens masih terus tertuju pada penjual mangga di pinggir jalan. Aku geli sendiri. Sepertinya ia sedang menahan seleranya.
Aku bergegas turun. Kubeli sekilo mangga Samosir yang ranum.
“Cobalah,” kataku. “Manis, ada sedikit asamnya. Tapi nikmat.”
Kami makan mangga berdua. Kulitnya yang tipis, kami gigit langsung. Alangkah indahnya perjalanan ini, seandainya Bapak mau menerima Bens jadi menantunya.
“Kampungmu indah,” katanya, sambil menyodorkan sebuah mangga yang sangat ranum.
“Kapan-kapan aku juga mau ke kampungmu di Muko-Muko, Bengkulu Selatan.“
“Nanti, kau pasti akan kubawa ke sana, supaya kau kenal calon mertuamu.”
“Calon mertua?”
“Ya, calon mertuamu. Ibuku pasti bahagia akan punya menantu sebaik kau.”
Tak bisa kulukiskan kebahagiaan ini. Bens sudah sangat jelas membawa pembicaraan, ke pernikahan. Tangan kami berpelukan.
Sebuah helaan napas mengagetkan kami. Haholongan sudah bangun. Tapi tak kulihat pada wajahnya tanda-tanda baru tidur pulas. Atau dia hanya pura-pura tidur?
“Kita sudah sampai?” tanyanya, lalu merebut mangga yang hendak kugigit.
Aku mengelak. Mangga terjatuh. Aku hendak mengambilnya, tapi sayang, ia juga berusaha merebutnya. Plug! Ia terjatuh ke pangkuanku. Sungguh menegangkan. Aku lihat, matanya menatapku dalam. Itu bukan tatapan saudara sepupu, tetapi tatapan laki-laki dewasa yang jatuh cinta. Aku merinding.
Kulihat Bens menatap kami berdua. Sepasang matanya sakit, dan aku lebih sakit lagi melihatnya seperti itu. Aku mendorong tubuh Haholongan.
Aku menggeser dudukku lebih dekat ke Bens. Kugenggam tangannya yang dingin.
“Nyo idak sengajo, idak pulo kau pikirkan nian,” bisik Bens, dan aku sangat kaget.
“Apa artinya, Bens?”
“Dia enggak sengaja, jangan terlalu kau pikirkan, Sayang.”
“Sungguh?”
“Ya, Sayang.”
Tuluskah dia, atau hanya berpura-pura?
Kami sudah tiba. Mobil memasuki pekarangan rumahku yang sangat luas. Daun-daun mangga melambai-lambai, menyambut tuan putrinya yang sudah dua tahun tidak pulang. Aku meloncat turun. Kuedarkan pandanganku ke halaman rumah kami. Pohon-pohon mangga itu, sedang berbuah lebat. Sawah di samping rumah, padinya sudah menguning. Ya, Tuhan, inilah rumah yang sangat kucintai itu. Beribu kenangan indah tercipta di sini.
Refleks, aku menoleh pada Haholongan, dan dia juga sedang melakukan hal yang sama.
“Kuingat kenangan kita waktu kecil,” katanya menggoda.
“Kenangan apa?” kataku pura-pura bodoh.
“Kenangan kita waktu kecil, sering memanjat pohon mangga.”
“Aku sudah lupa,” kataku dingin.
Aku berlari menuju teras rumahku.
“Bapak, Mamak! Aku pulang!”
Wajah-wajah terkasih itu menyembul. Dadaku bergemuruh menahan rasa kangen. Bapak dan Mamak berlari memelukku. Aku melihat kegembiraan mereka yang amat sangat.
“Beca!!” jerit Mamak melepas rindu. “Kau tambah cantik!”
Aku menangis.
Sekarang, aku memeluk Bapak. Kulihat wajah tuanya masih tetap tegar, tapi aku tahu ia sangat tersiksa oleh penghinaan itu.
Lalu, pandangan Bapak beralih pada Bens di sebelahku.
“Siapa ini?”
“Bens, Bapak,” jawabku.
Dahi Bapak berkerut.
“Dia calon menantu Bapak,” kataku bergetar.
Mata Bapak terpicing. Aku tahu, sebentar lagi akan ada ketegangan.
“Masuk!” serunya ke arahku.
*****
Tak sempat kunikmati segala keindahan rumahku. Aku belum mengajak Bens berenang ke Danau Toba. Pagi ini, Bapak akan mengadiliku. Kupandangi wajah Bapak yang tegang. Di sebelah Bapak, Mamak lebih banyak diam, tak berkuasa membelaku.
“Siapa dia?” tanya Bapak angkuh, tanpa memandang Bens di sebelahku.
“Kemarin sudah saya bilang Bapak, dia Bens, calon menantu Bapak.”
“Kau sudah dijodohkan dengan Haholongan. Namboru-mu akan melamarmu, tapi kau justru membawa laki-laki pulang ke sini, halak sileban pula!”
Aku diam. Tidak akan kubantah satu pun perkataannya, karena jika itu kulakukan, Bapak akan makin marah.
“Putuskan hubunganmu dengan dia.”
Aku memandang Bapak, mencoba mencari pengertian pada sepasang mata tuanya.
“Kau bersedia kan, Rebecca?”
Aku memandang Bens di sebelahku, mengharap dia bicara.
Tapi, ia tak kunjung bicara. Ia lebih banyak diam dan salah tingkah. Kugigit sebuah mangga Samosir, menyembunyikan hatiku yang sakit. Ke mana hilangnya kekuatan dan semangat yang diperlihatkannya padaku selama ini? Menghadapi Bapak saja dia tidak mampu? Demi Tuhan aku sangat mencintaimu, yang diucapkannya di bibir panggung sirkus di Bali, hanya pemanis buatan?
*****
Tak ada yang bisa menghalangi rencana Bapak. Perjodohan akan tetap dilakukan, dengan atau tidak persetujuanku. Keluarga Namboru Uli hari ini datang melamarku. Kupakai juga kebaya kartini abal-abal ini, dengan sangat terpaksa. Kusebut abal-abal karena kebaya yang kupakai waktu wisuda ini sudah sempit kupakai.
“Rebecca, kau cantik sekali, hasian!” pekik Namboru Uli, riang memelukku
”Apa kabar, Namboru?”
“Sehat, Inang, sehat. Namboru bahagia sekali, kau akan menjadi menantu Namboru.”
Aku tak mengomentari. Mataku sibuk mencari Bens. Ke mana dia? Dari pagi aku tidak melihatnya. Aku merasa jarak yang amat jauh tercipta diantara kami, sejak Bapak membentaknya.
Teleponku berbunyi. SMS dari Bens.
“Aku ke Bengkulu dulu, Rebecca. Jika memang kita berjodoh, Tuhan akan mempertemukan kita lagi di Bali, di Pantai Lovina. Jika memang hatimu sudah bulat menerimanya, kekalahan ini bisa kuterima. Setelah melakukan perenungan panjang, kupikir lebih baik hubungan kita berhenti sampai di sini.
Sebenarnya, aku berdosa padamu. Kau masih ingat, ketika kau menanyakan berapa pacarku kepada Jack? Dan ia meloncat dua kali ke air. Sesungguhnya, Jack itu sangat cerdas. Ia tidak bohong. Saat melatihnya, aku sering curhat kepadanya tentang seseorang di antara kita. Seseorang itu sangat dekat di hatiku, menungguku di Bengkulu. Sekali lagi, mafkan aku, Rebecca.”
Handphone-ku terjatuh, membentur kakiku. Dia sama saja dengan yang lain. Hanya mempermainkan perasaanku. Dadaku perih, menahan sakit hati.
Telepon berbunyi lagi. Dari Pak Bagus. Aku malas menjawabnya.
“Angkat saja dulu,“ kata Bapak.
“Lado sedang sakit, Rebecca,” suara Pak Bagus sangat cemas. ”Tolonglah segera pulang ke Bali. Hanya kau yang bisa menyelamatkannya.”
“Atasi saja dulu, Pak, saya sedang ada rapat keluarga!” suaraku lemas.
“Kau kenapa, Rebecca? Suaramu lemas sekali.”
“Saya lagi sakit, Pak.”
“Cepat sembuh, ya. Banyak-banyak istirahat dan banyak minum air putih.”
Aku berlari ke belakang rumah, menyembunyikan air mataku. Angin bertiup lembut, dan merontokkan dua mangga yang sudah matang. Secepat itukah cinta menguap? Tiga masalah besar harus kuatasi dalam waktu bersamaan. Aku dipaksa menerima lamaran Holong, Bens mengempaskanku, dan Lado sakit keras.
“Rebecca…..” Mamak menyusulku, membawa ketenangan ke dalam jiwaku.
Aku menghambur ke pelukannya.
“Yang kuat, ya, Inang. Mamak mengerti, kau tak suka perjodohan ini. Tolaklah dengan lembut, dengan alasan yang masuk akal.”
Aku terkesiap. Tolaklah dengan lembut dengan alasan yang masuk akal? Ya, Tuhan, Mamak benar-benar malaikat pelindungku. Ya, cuma itu senjataku menghadapi perjodohan ini. Menolak dengan alasan yang masuk akal!
“Mamak, terima kasih semangatnya. Beca jadi kuat lagi.”
“Ya, Boru.” (Bersambung)
Baca juga: Tarian Cinta Lumba-Lumba [3]
***
Wita Alamanda Simbolon
Wita Alamanda Simbolon
Topic
#FiksiFemina


