Kisah sebelumnya <<<<<
Putti memang datang pada hari Minggu itu, bukan Sabtu seperti biasanya. Tanpa prasangka, bahkan tidak mimpi buruk pada malam sebelumnya. Hilmar menjemput seperti biasa juga di tempat biasa. Tetapi yang tidak biasa adalah, Putti menangkap Hilmar tampak murung, canggung dan banyak melamun.
“Oh, kita tidak ke kebun, yah?”
“Tidak. Aku ingin mengajakmu ke kompleks Salib Putih. Di sana ada tempat makan yang sangat tenang dan hening. Kita bisa makan dan ngobrol tanpa terganggu. Berada di tempat yang cukup tinggi sehingga kita bisa melihat pemandangan dan pedesaan yang ada di bawahnya.”
Walau begitu, Putti tetap heran. Tetapi tak bisa menduga sebab yang membuat Hilmar menjadi gagap. Selanjutnya di dalam mobil Taft itu tak ada percakapan lagi hingga sampai tujuan.
Hening. Memang benar kata Hilmar. Rumah makan yang menjadi satu kompleks dengan penginapan itu hening, teduh, tenang. Lumayan luas, disekat-sekat dengan perabot furniture yang cantik sehingga memberi ruang privasi bagi pengunjung.“Ada yang ingin aku sampaikan padamu, Putti. Dan terus terang kulakukan semendadak ini karena desakan ibuku.”
Putti cukup kaget dengan pengakuan itu. ingatannya langsung pada teleponnya beberapa hari lalu. Ada apa? Apakah ibunya ingin mendapat kepastian secepatnya tentang hubungan itu? bahkan lekas ingin mengukuhkannya? Entahlah.
“Ibuku mendesak agar aku segera mengatakan yang sesungguhnya, setelah menerima telepon darimu. Terus terang aku kaget, Putti. Bagaimana ibuku bisa menduga demikian tepat. Saat aku bertanya tentang itu kepada Ibu, katanya ia menangkap getaran aneh dari suaramu. Aneh, ‘kan?”
Putti diam.
“Sebelumnya aku minta maaf, Putti.”
Hening. Putti makin tak mengerti ke mana arah pembicaraan Hilmar yang memutar itu. Dan mengapa pula tiba-tiba wajah Hilmar begitu gugup, gagap, dan terbata-bata.
“Ibu ingin selekasnya aku mengatakan kepadamu, bahwa….” Tiba-tiba Putti turut menjadi tegang. “Bahwa sebenarnya aku sudah menikah, tetapi kami pisah ranjang.”
Putti terpelanting hatinya. Kini ia turut gugup dan terbata. Ia diam tergugu, menatap Hilmar begitu lekat, mencari sesuatu yang bisa meyakinkannya pada pengakuan yang tak terduga itu.
“Maafkan aku, Putti, aku tak bermaksud membohongimu. Aku tak bermaksud menjebakmu. Tetapi sungguh, itu kulakukan karena aku jatuh cinta kepadamu dan tak berdaya. Itu realitas yang telah mengalahkan realitas yang lain, bahwa aku sudah memiliki satu putri dari perkawinanku dengan Nena. Sudah hampir setahun kami pisah ranjang. Aku begitu kesepian bahkan sudah kehilangan banyak kemauan, Putti. Dunia ini sangat membosankan. Tetapi kemudian aku bertemu kamu dan dari situ aku menemukan sesuatu yang sanggup membangkitkan gairah hidupku lagi: kehangatan pribadimu. Sungguh aku tak bermaksud menipumu. Aku tidak bermaksud….”
“Tenanglah, Hilmar. Berkatalah dengan tenang.” Mereka saling tatap. Masing-masing kesulitan mengartikan tatapan itu.
“Aku memaafkanmu, Hilmar. Jujur aku kaget dan tidak menyangka. Tetapi aku mencoba mengerti keadaanmu.” Suara Putti tak kalah bergetar. Ia terpukul. Sedih bukan kepalang, tetapi ia masih memiliki empati pada kekasihnya setidaknya masih kekasihnya pada hari ini. Entah besok atau lusa.
“Percayalah, Putti. Aku tak bermaksud memperdayaimu.”
“Aku mengerti, Hilmar. Tenanglah. Aku tak merasa kamu membohongi aku, aku tak menuduh kamu menipu atau menjebakku. Aku mengerti karena mungkin kamu memang butuh teman berbagi rasa, butuh menangkal sunyi dan kamu ingin menikmatinya lebih lama kedekatan dan kebersamaan ini. Aku yakin kamu akan menyampaikan itu padaku, pada waktunya. Dan mungkin juga kamu sedang menyiapkan momen itu.” Suara Putti makin lama makin pelan, makin hilang.
“Terima kasih untuk pengertianmu, Putti.” Ketegangan perasaan Putti pelan menurun. Ia menyendok yoghurt dengan potongan-potongan kecil stroberi dan pandangannya mulai banyak mengarah pada perbukitan di luar sana, pada lembah-lembah di sisi kanan tempat permukiman penduduk dengan segala geliat kehidupannya. Putti menyandarkan hati di sana. Pada alam nan teduh itu. Ia butuh kekuatan untuk mengolah logika dan mengendalikan perasaannya agar tetap memiliki akal sehat dalam situasi yang menjepit ini.
“Putti, apakah kamu masih mau menerimaku ketika mengetahui semua ini. Tetapi sungguh aku ingin sekali mengajakmu membuka lembaran baru, kita siapkan masa depan kita mulai dari sekarang. Kamu bersedia?”
“Mana bisa begitu? Kamu sudah memiliki keluarga.”
“Aku sudah tidak mendapatkan kebahagiaan di dalamnya. Rasanya aku sudah sangat ingin segera mengakhiri.”
“Mestinya dalam kehidupan keluarga, pantang bercerai.”
“Aku tahu. Tetapi kami.. kami.. tak mungkin lagi bisa disatukan.”
“Mengapa?”
“Putti, tidak mungkin ada dua nakhoda dalam satu perahu. Lalu kami berpura-pura baik-baik saja seolah tak ada persoalan? Itu mustahil. Istriku sudah memiliki rumah dan pekerjaan yang bagus. Tak butuh aku. Ia memiliki segalanya, ia bisa mewujudkan semua keinginannya tanpa melibatkan aku.”
Kembali pulang ke kotanya, Putti seperti sepotong matahari dikurung mendung. Murung dan limbung. Ia mulai mengevalusai hari-harinya. Mencari tanda dan isyarat barangkali telah ia abaikan sehingga ia tak sanggup melihat bahwa Hilmar sudah menjalin sebuah kehidupan dengan perempuan yang mendahuluinya. Sepanjang ingatannya, tak pernah Hilmar ngobrol menyangkut kehidupan lain itu. Atau dirinya sudah telanjur terbius keindahan asmara?
Tetapi tak semudah mencabut uban, Hilmar tak gampang dihilangkan dari benak Putti. Bahkan Putti tak sanggup membenci Hilmar karena pengakuan itu. Tidak. Meski ia menyadari perasaannya telah bergeser, ia tak dapati dalam hatinya tumbuh dendam karena Hilmar tak mengatakan kebenaran itu sejak awal. Yah! Putti memaafkan semua itu. Putti mencoba memahami bahwa sosok lelaki dewasa akan membutuhkan pendamping dan kawan untuk mengungkap misteri kehidupan ini. Putti tak pungkiri, memang hatinya jatuh padanya. Pada sosok Hilmar yang tampan.
Pun bagi Hilmar, melupakan Putti jelas bukan persoalan gampang. Yang ia rasakan justru makin hari makin cinta. Dan betapa ia sangat mengagumi ketika Putti merespons dengan tenang dan terkontrol saat ia sampaikan siapa dirinya sesungguhnya. Putti tidak menuntut dan menuduhnya menipunya secara membabi buta. Tak salah lagi yang dirasakan Hilmar: Putti adalah perempuan idaman.
Meskipun tidak sesering dulu, Hilmar dan Putti masih bertemu. Lebih sering Hilmar yang pergi ke kota Putti, karena kendati kangen pada suasana kebun dan angin yang menerpa saat ia duduk di gubug, Putti sekuat hati menahannya. Jika menuruti perasaan, sampai kapan pun ia tak akan sanggup mengambil keputusan. Maka ia terus berusaha menggunakan akal sehat. Tetapi ia masih memberi toleransi ketika Hilmar datang berkunjung.
Lalu pada akhir April itu, Hilmar mengajak Maura –putrinya untuk sebuah perjalanan ke kota tempat Putti tinggal. Gadis kecil yang pendiam, tetapi ramah dan hangat jika sudah kenal. Tak memakan waktu lama untuk Putti bisa menjadi dekat dengannya.
“Tante Putti tangannya halus.” Begitu kata Maura saat Putti mengelus pipi dan lengan mungil itu.
“Tante Putti harum sekali,” komentar Maura saat Putti memangkunya, duduk di bangku biru pada Minggu itu di taman kota. Sungguh Putti jatuh hati pada Maura. Ia turut larut dalam kegembiraan suci bocah itu saat menebar pakan untuk ikan-ikan di kolam besar. Tetapi kerap kali pikiran Putti terkacaukan oleh kenyataan bahwa yang ia pangku bukan anaknya. Ia yakinkan diri tak akan pernah mencuri atau menculik lalu memalsukan kebahagiaan itu.
Lain dengan Hilmar. Ia sangat menikmati tiap detik. Memberi ruang seluas-luasnya untuk Putti mengenal Maura. Mengingat waktu terlalu sempit untuk mereka karena Nena hanya membolehkan Hilmar membawa Maura sebulan sekali pada hari Minggu.
Menjelang sore, saat Maura dan Hilmar harus kembali ke kotanya, ada sesuatu yang hilang pada Putti. Terasa ada yang merampasnya. Lambaian tangan Maura sambil berkata: “Sampai ketemu lagi, Tante Putti. Nantikan Maura, yaa…,” ada yang turut terbawa pergi seiring menjauhnya mobil Taft hitam itu.
Putti meneliti hatinya. Dan mendapati ia telah jatuh cinta pada gadis kecil itu. Sepanjang malam usai pertemuan itu, terus menerus ruang matanya tercetak gadis mungil berambut lurus panjang tergerai. Matanya cokelat besar mewarisi papanya. Bahu tegap seperti petenis atau perenang ulung. Wajah oval yang manis senyum.
“Tante tak akan merampasmu dari mama-papamu. Bergembiralah.” Hatinya terus berkata-kata.
Putti memejamkan mata. Sepanjang hari itu cukup menguras pikirannya, memorak-porandakan hatinya. Antara cinta dan harga diri, antara kesetiaan dan martabat. Ia pastikan dirinya masih waras. Putti tidak ingin menghancurkan apa yang sudah dibangun. Biar tetap utuh. Dalam lubuk hatinya terdalam, Putti ingin Hilmar memerbaiki hubungan dengan istrinya, demi Maura. Meski kenyataan yang ia rasakan, hatinya tersandera oleh manisnya Maura dan sosok Hilmar yang kerap begitu magis ia rasakan kehadirannya. Cinta Hilmar telah menumbuhkan sayap di punggungnya sehingga ia bisa terbang tinggi. Tetapi kini sayap itu mulai lunglai tanpa tenaga.
“Maura terus membicarakanmu sepanjang perjalanan pulang tadi.” Telepon Hilmar pada malam usai pertemuan itu.
“Apa katanya?”
“Kelak jika besar, ia ingin punya kacamata seperti yang kamu pakai. Ingin punya sandal seperti yang kamu kenakan tadi.”
“Begitu?”
“Dan yang lebih mengagetkan, ia pingin bobok dipeluk olehmu.”
“Tapi kamu tahu itu tak mungkin.”
“Kenapa?”
“Karena sekali ia dituruti permintaannya, tentu akan diikuti permintaan yang lain, yang pasti akan menyulitkan. Menyulitkan kita berdua.”
“Ah, Putti. Aku sengaja mengajak Maura agar ia mengenalmu. Agar kalian bisa dekat. Dan aku juga ingin tahu apa yang akan dikatakan Maura kepada mamanya menyoal kamu.”
“Astaga!”
“Kenapa?”
“Kamu ingin menusuk istrimu? Kamu ingin menyakitinya dengan melibatkan aku dan Maura? Itu sangat menyakitkan bagiku, Hilmar. Tak sangka kamu punya pikiran seperti itu. Aku perempuan seperti istrimu. Jangan main-main.”
“Maaf, Putti. Bukan maksudku membawamu pada persoalan ini. Tentu saja aku tak akan menjebakmu, lalu memosisikan kamu sebagai pihak ketiga yang sangat dimungkinkan dituding sebagai pihak yang merenggangkan rumah tanggaku. Tidak Putti. Bukan itu maksudku.”
“Lalu apa?”
“Aku hanya ingin agar dia tahu, bahwa aku tak main-main tentang ini. Jika ia tetap keukeuh dengan dirinya, aku akan menikah lagi.”
“Jika ia luruh? Artinya hubungan kita selesai. Begitu, Hilmar?”
“Putti.”
“Hilmar. Aku juga tak main-main. Sebaiknya kalian memang bicara secara dewasa demi Maura.”
“Putti.”
“Ingat. Aku bukan perempuan alternatif. Jadi baiknya kita sudahi saja hubungan rumit ini. Apa salahnya Nena punya rumah? Berpenghasilan lebih bagus darimu? Jangan turuti ego dan sakit hatimu. Apa salah Nena keukeuh dengan pendapatnya? Tidak adakah toleransi? Apa sudah tidak bisa dibicarakan lagi?”
“Tidak sesederhana itu, Putti. Persoalanku banyak yang tak mudah dijelaskan.”
“Mengapa? Kurasa semua pengalaman yang kita alami bisa dijelaskan.” Hilmar bungkam. Ia tak menyangka teleponnya disambut demikian serius dan setegas ini.
“Hilmar, hidup yang tidak dikaji, tak layak untuk dihidupi.”
“Aku ingin belajar darimu, Putti. Aku butuh kamu. Aku ingin tahu maumu.”
“Mauku adalah aku ingin Maura bangga pada papanya. Aku mau kamu menjadi suami yang hebat bagi istrimu.”
Pembicaraan yang cukup menguras energi Putti. Dan ia ingin membuktikan bahwa keputusannya sudah bulat. Sehingga ketika pada minggu berikutnya dan berikutnya lagi ia menolak saat Hilmar ingin berkunjung. Tidak. Ia butuh tenang.
Ia mulai mengingat, beberapa nama pernah singgah di hatinya. Tetapi, ada saja yang membuatnya kandas di tengah jalan. Ia terlalu malas mengingat Jogi yang kekanakan, atau Gun yang terlalu menuntut. Tidak, ia tak akan gegabah memutuskan hidup bersama dengan orang yang tak bisa ia percayai, meski ia harus berjuang dan bersabar untuk mengertikan Ibu tentang semua persoalan itu.
Dan kini sekali lagi, Putti harus memberikan penjelasan kepada Ibu yang ternyata, tanpa diduga, justru ia mendapat ciuman dan ucapan cinta dari seorang ibu. Bahwasanya Putti adalah jelmaan isi hati ibunya. Betapa pun cinta, ia tak akan menanam luka.
Sudah sebulan berlalu. Putti selalu menolak jika Hilmar ingin bertemu. Tetapi tidak saat ini. Karena tanpa pemberitahuan, tanpa rencana, Hilmar sudah berada di Bandara Ngurahrai. Ia tak mungkin sanggup menolak pertemuan itu. Bagaimanapun Hilmar telah melintasi langit, melompati laut untuk menemuinya. Lagi pula, sebulan sudah cukup untuk mengendap. Sedang persoalan itu tak mungkin selesai tanpa diselesaikan. Yah! Putti harus menghadapinya.
“Aku sudah di lobby tempatmu menginap, Putti.” Hilmar berkata dari telepon genggam.
“Tunggu aku di sana. Aku akan bersiap sebentar. Kurasa kita bisa langsung ke luar. Kita jalan-jalan menikmati Ubud yang antik dan cantik. Bagaimana?”
“Baik. Tetapi aku agak capek dan lapar. Kita cari tempat makan dulu.”
“Itu bagus. Tunggu sebentar.”
Hilmar terlihat lebih kurus dengan jambang dan kumis tak tercukur begitu. Terlalu sibukkah sehingga ia tak mengurus penampilan? Tetapi memang kelelahan sangat jelas terlihat dari cara duduk dan gestur tubuhnya. Kemeja hitam dan celana yang juga hitam makin membuat Hilmar terlihat tirus.
“Kamu sehat, Putti?” bertanya Hilmar ketika Putti sudah ada di hadapannya. Dengan blus putih dan jins biru serta tas rajut menggantung di pundak kiri. Selendang kecil motif batik indigo dikalungkan di kerah bajunya. Ini pertemuan pertama mereka sejak minggu ceria bersama Maura.
“Jangan khawatir. Aku sangat sehat. Mari kita cari tempat makan.”
Menu nasi Bali yang berbumbu khas dan kuat mereka menikmati dengan banyak diam. Musik gamelan Bali mengiring pelan. Rencak berwatak yang membuat perasaan mereka berangsur enak. Tetapi perasaan yang tersambung itu didukung oleh nuansa restaurant dan posisi duduk yang mereka pilih. Menghadap hamparan sawah hijau, berangin semilir dan bermacam tanaman mengepung tempat itu sehingga terasa asri menenangkan.
Putti menyandarkan punggung, pandangannya jauh menjemput kaki langit. Ujung selendang tipis di lehernya berkibar-kibar seperti kelepak lemah sayap kenari.
“Apa agendamu di sini?” tanya Hilmar sambil melepas kacamata.
“Ada kawanku yang membuka galeri seni di Sayan. Grand opening akhir pekan nanti. Selain itu, kerjaanku jalan-jalan ke setting lokasi dalam novel yang sedang kukerjakan skenarionya untuk film. Ditargetkan dua bulan sudah kelar meriset dan draft kasarnya. Jadi aku sangat sibuk.”
“Aku mengerti. Oh iya, hampir lupa. Ini ada titipan dari Maura.” Putti berhenti menyendok nasi. Origami bangau terbang warna biru muda. Sangat rapi dan cantik.
“Salam rindu darinya.”
“Terima kasih.” Suara Putti nyaris tak terdengar. Tangannya menimang ringan origami. Putti menarik napas dalam, lalu mengembusnya pelan. Membaca tulisan kecil dan lucu: “Untuk Tante Putti yang baik hati. Apakah burung juga sekolah?”
“Kenapa Putti? Pekerjaan tangan putriku cukup bagus, ‘kan?”
“Sangat bagus. Amat sangat bagus. Hebat sekali. Kamu tahu ini burung apa?”
“Kurasa bangau,” jawab Hilmar, sambil melihat origami yang dimainkan tangan Putti. Dikepak-kepakkan di udara.
“Aku sepakat denganmu bahwa ini burung bangau.” Putti mengelus-elus sayap kertas itu. Lalu mendongak ke arah Hilmar.
“Kamu tahu pola hidup burung bangau?”
Hilmar menggeleng pelan. Tersenyum kecil membalas senyum Putti yang penuh arti.
“Bangau memiliki sifat monogami, dan kesetiaan pada sarangnya menjadikan burung ini sebagai simbol pembawa kebahagiaan di dalam banyak kebudayaan dan mitologi." Putti diam mengambil jeda. Ia merasa sedang bercakap-cakap dengan dirinya sendiri. Lalu menatap ke kanan, pada hamparan padi yang mulai menguning muda dan pepohonan yang mendindingi area persawahan. Origami burung bangau masih di tangannya. Tanpa menoleh kepada Hilmar, ia kembali bicara.
“Kalau kamu sempat memperhatikan di banyak undangan pernikahan, gambar dua burung bangau sering digunakan sebagai simbol. Tentu mengandung harapan bahwa mereka akan setia selamanya dan turut menganut paham monogami.” Putti tersenyum amat manis. Tetapi Hilmar mengindari serangan senyum itu.
"Tentu saja Maura belum tahu soal itu. Tetapi pesannya jelas. Nalurinya tepat. Memberi bangau ini untukku.”
Hilmar langsung menoleh dan menatap dalam kepada mata Putti.
“Artinya?”
“Artinya ia ingin papa-mamanya tak meninggalkan sarang, di mana Maura juga tinggal di sana.” Sekali lagi Putti tersenyum, tetapi Hilmar tidak.
“Apakah itu berarti kedatanganku ke sini hanya sia-sia?”
“Tergantung target yang ingin kamu capai. Kalau dari kacamataku, tidak sia-sia. Semua persoalan tentang kita sudah seharusnya kita selesaikan secepatnya. Membuatnya berlarut-larut itu bukan ide baik.”
“Aku mencintaimu, Putti, sangat mencintaimu.”
Putti menatap lurus-lurus pada laki-laki pemasok bunga yang memang pada matanya mengisyaratkan sesuatu yang ia katakan. Begitu nyata, tetapi Putti sadar ia tak sanggup menjangkaunya. Ia terus memandangi rambut Hilmar yang telat cukur, diterpa angin persawahan.
“Aku juga mencintaimu, Hilmar, tak kupungkiri itu. Tetapi aku tak bisa memaksakan kebahagiaan apalagi memalsukannya. Tidak. Aku tak cukup nyali untuk menikah, sementara masih ada perempuan yang saat ini berstatus menjadi istrimu.” Hilmar menghela napas. Menandaskan lemon squas dan menatap mata Putti.
“Apakah menurutmu aku perlu berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan hati dan hidupmu?”
“Itu akan buang-buang waktumu, Hilmar. Kita punya jalan yang berbeda kurasa. Punya target dan pandangan yang berbeda.” Sekali lagi Hilmar menghela napas.
“Putti, saat aku bertemu denganmu di toko bunga itu lalu kita punya agenda tetap untuk bertemu, aku mengira hidupku akan dilimpahi kebahagiaan dan keindahan. Aku kembali bersemangat dan rasanya sangat khawatir jika semua itu hanya mimpi kosong. Tetapi, rupanya yang aku khawatirkan benar terjadi.”
“Aku juga. Kemarin aku merasakan kebahagiaan dan keindahan itu begitu melimpah kepadaku. Tetapi akhirnya dengan sadar aku harus membuka jendela dan menatap keluar. Kebahagiaan dan keindahan yang kumaksud itu ternyata cacat. Aku tak bisa, Hilmar. Aku ingin Maura gembira sebagai anak tanpa dibebani persoalan orang tuanya. Tanpa dibingungkan oleh egoisme orang tuanya.”
“Putti, di hari pengakuanku waktu itu, kamu begitu kuat dan bijaksana. Reaksimu begitu menenangkan aku. Tatap matamu tanpa kebencian dan penuh pemakluman meski perubahan air mukamu sangat terlihat. Aku sangat kagum kepadamu dan bahkan aku semakin mencintaimu. Tetapi ternyata dalam asmara pun, kamu begitu profesional. Begitu keras tak terbelokkan.”
“Itu tidak mudah. Kamu tidak tahu kan, bagaimana aku mengatasi malam-malam sulitku dan hari-hari berat itu. Kamu pikir dengan mudah menghadapi kenyataan ini? Mari kita menata hidup kita masing-masing, Hilmar. Aku dengan hidupku, kamu dengan hidupmu.” Hilmar mengangguk-angguk kecil. Sorot matanya meredup. Lalu keduanya membiarkan keheningan mengukung. Keheningan yang akan membantu berpikir dengan jernih.
“Aku yakin, masing-masing kita akan sanggup, Hilmar, percayalah.” Hilmar meraih tangan Putti. “Kebahagiaan akan dirasakan oleh orang-orang yang menghargai pengalaman dan mengkaji kehidupan.” Hilmar makin erat menggenggam tangan Putti. Ia berasa sedang menghadapi badai sehingga butuh pegangan untuk tenang.
“Rasanya ingin sekali aku selalu bersamamu, Putti. Tetapi ternyata itu tidak mungkin. Aku sangat sedih.”
“Jangan khawatir. Semua akan menjadi lebih baik. Percayalah!” Hilmar tersenyum, menyambut tawa kecil Putti yang merdu. Putti tak menyangka, novel yang sedang dia garap skenarionya memiliki pengaruh kuat dalam dirinya saat ini. Ia ingat tokoh perempuan yang kuat itu telah menulari kekuatan pada dirinya. Kata siapa novel hanya sebatas hiburan? Nyatanya tiap pengalaman tokoh fiksi di dalamnya, yang disematkan oleh pengarang itu tetap hidup bahkan berkembang dalam diri pembaca yang sanggup memetik butir-butir pemikiran yang dititipkan oleh pengarang kepada tokohnya. Putti tersenyum sekali lagi.
“Apa rencanamu sore hingga malam ini, Putti?”
“Tak ada. Tetapi aku dengar nanti malam pergelaran wayang di Pura Dalem. Kita bisa ke sana kalau kamu mau.” Hilmar mengangguk.
“Kita jalan-jalan saja sore ini. Menikmati Ubud yang mungil. Jika tak lelah, kita lanjut ke gelaran wayang.” Hilmar memutuskan. “Tetapi sebelumnya aku akan mencari hotel untukku menginap tiga selama malam. Kurasa yang dekat-dekat sini saja. Tak jauh juga dari penginapanmu.”
“Baiklah.” kata Putti sambil menyimpan origami itu ke dalam buku agenda warna hitam. Hilmar meminta nota tagihan. Menelitinya sebentar, lalu membayarnya.
Cerita Selanjutnya >>>>
***
Indah Darmastuti
Indah Darmastuti


