Fiction
Sebatang Pohon Labu

10 Jun 2016


Apa arti sembilan tahun? Bahkan labu pun tak berhenti berbunga selama sembilan tahun terakhir. Lihatlah pohonnya, merambat sampai ke atap dapur. Bunganya yang kuning berseri tampak seperti puluhan matahari mungil yang tak pernah lelah menyinari semak yang biru dan tampak dingin di pagi hari.
Bagaimana menurutmu, Win? Apakah itu layak disebut sebagai sebuah keajaiban? Ya, tentang pohon labu itu, tentang bunga-bunga kemuning itu, tentang kesetiaanmu, dan tentang caramu merawatnya.

Memang, pohon labu pertama yang ditanam Wit sudah mati bertahun-tahun silam. Tapi biji buah dari pohon labu yang pertama ditanam Wit itu berbiak menjadi puluhan, bahkan ratusan biji labu yang baru. Lantas pohon labu kedua pun berbunga, berbuah dan melahirkan ratusan biji labu yang lain. Lantas kau menanamnya. Satu biji tumbuh, menjalar, berbunga, berbuah, mati, lalu kau menanamnya yang baru lagi. Lagi dan lagi. Dan kau adalah saksi, bahwa pohon labu yang konon berumur pendek itu bisa bertahan selama bertahun-tahun. Dari biji diteruskan ke biji. Dari pohon diteruskan ke pohon. Dari daun diteruskan ke daun. Dari sulur diteruskan ke sulur. Dan dari bunga diteruskan ke bunga. Betapa indahnya sebuah usaha untuk terus menitiskan, mempertahankan diri. Untuk tetap hidup. Untuk tetap ada. Untuk tetap setia.

Lalu bagaimana denganmu, Win? Apa kau akan bertahan? Apakah kau akan merawat kesetiaanmu seperti merawat pohon labu itu?
“Pohon labu ini adalah titisan dari pohon labu pertama yang ditanam Wit sembilan tahun lalu.  Kukira, harapan juga sama seperti itu, akan terus ada kalau dirawat.  Aku akan terus menitiskan harapan itu dari tahun ke tahun, sampai Wit muncul kembali di sini, di hadapanku,” katamu.
Emakmu menganggap itu omong kosong, tak masuk akal. Ia tak merestui itu.

“Bagaimana mungkin, harapan tak bisa kau samakan dengan pohon labu,” ujar emakmu, “Wit pergi sudah sembilan tahun, tanpa kabar. Dan kau masih saja menunggunya. Coba kau buka matamu, Win!”

“Kami sudah terikat janji, Mak. Dan Mak Rus, ia  makin tua, ia sendiri, ia seorang janda. Dan Wit adalah anak satu-satunya. Anak kebanggaan. Aku sudah berjanji pada Wit akan mengurus Mak Rus selama Wit pergi.”

“Tapi Wit pergi tanpa kabar. Dan itu sudah sembilan tahun. Kau boleh-boleh saja mengurus Mak Rus, bagaimanapun ia juga masih kerabat dekat kita. Tapi menunggu Wit? Itu jelas-jelas omong kosong. Ya, menunggu orang yang pergi selama sembilan tahun dan tanpa kabar, apa namanya kalau bukan omong kosong.”

“Emak takkan pernah mengerti,” lirihmu, pasrah.

“Ya, yang Emak mengerti memang sedikit. Tapi paling tidak Emak mengerti, kau hanya  menitiskan harapan kosong ke harapan kosong yang lain, hingga tiba-tiba kau menua, dan bapak-emakmu ini mati tanpa melihatmu naik pelaminan. Tanpa mimpinya menggendong cucu.”
Kau terdiam. Dan itu akan selalu berakhir seperti itu, dari tahun ke tahun. Barangkali, tabiatmu yang keras kepala itu meniru emakmu, tak kenal menyerah. Tak kenal bosan membahas perkara basi itu. Dari tahun ke tahun. Kau tak pernah paham, siapa yang benar, siapa yang salah. Kau hanya berusaha mempertahankan Wit, sebagaimana kau mempertahankan pohon labu itu selama sembilan tahun terakhir. Terkadang, kau sendiri sangsi apakah hal semacam itu berfaedah atau tidak. Terkadang semua tampak buram dan kacau.
 

MAK RUS, warungnya yang sepi itu masih saja buka. Akan selalu buka. Barangkali untuk selamanya. Ada sebuah meja kayu yang tampak berlumut, lantaran tumpahan kopi dan teh. Meja kayu itu disusun membentuk huruf U. Mak Rus duduk di tengah-tengah huruf U itu sambil melayani pelanggan, beberapa lelaki yang hendak pergi ke ladang.
Stoples kopi, stoples gula, stoples teh tubruk, semuanya tampak begitu murung dan berkarat. Cangkir-cangkir keramik mungil berwarna putih dengan lukisan kembang ros merah muda tengkurap di atas rak piring bagai kelelahan. Beberapa, bibir dan kupingnya rompal. Tapi Mak Rus masih saja memakainya. Lagi pula, tak pernah ada pelanggan mengeluh gara-gara bibir atau kuping cangkir yang rompal.

Semuanya tampak baik-baik saja. Ciri khas Mak Rus. Tampak sangat Mak Rus. Tapi, sepasang mata itu tak pernah bisa berbohong. Setidaknya kau terus memperhatikannya, sepasang mata tua itu. Saat warung sedang sepi, sepasang mata itu kerap menatap kosong ke arah pintu. Seakan berharap, sebuah bayangan berkelebat di depan pintu, dan munculah sosok itu. Sosok lelaki dengan tubuh gempal dan kulit cokelat terbakar. Terkadang kau juga memikirkan itu. Sama persis. Wit datang tiba-tiba dari pintu itu, tersenyum, dan mengucapkan salam dengan suaranya yang khas dan berat.

“Emakmu benar, Win, tak ada gunanya menunggu Wit. Banyak lelaki yang mau denganmu, kamu itu cantik, anggun, seorang sarjana, dan kini seorang guru. Sedangkan Wit, ia hanya pekerja kasar, dan sekarang ia pergi tanpa kabar. Terkadang, aku membayangkan Wit sudah mati bertahun-tahun silam di tanah orang, dan tak ada yang tahu.”

Sama dengan emakmu, Mak Rus pun sudah mengatakan hal yang sama berkali-kali.  Tapi tetap saja, harapan itu terus kau tumbuhkan. Bagimu, Wit adalah sosok lelaki yang sempurna, penuh welas asih dan bertanggung jawab. Kau tak benar-benar tahu, apakah alasan serupa itu cukup untuk mencintai seseorang. Kau hanya mencintai Wit, apa adanya, barangkali itu jawaban yang tepat. Maka, setiap kali harapan itu goyah, kau selalu duduk di atas lesung di belakang rumah Mak Rus sambil menatap pohon labu itu. Menatap bunga-bunganya yang terus mekar dan tampak abadi. Seringkali senyum Wit mekar di antara bunga-bunga kuning menyala itu.

Sembilan tahun silam, sebelum berangkat ke luar negeri, Wit menanam pohon itu tanpa alasan yang jelas. Ia bilang akan mencari bekal untuk pernikahan kalian. Ia menitipkan Mak Rus dan pohon labu itu padamu. Entahlah, mengapa harus pohon labu, kau sendiri tak paham. Wit bilang, setahun lagi ia akan pulang dan segera meminangmu. Tapi tahun demi tahun datang dengan keadaan berbeda. Tahun demi tahun hanya datang dengan tangan kosong, tanpa Wit. Bahkan kabar pun tidak. Tapi kau tahu betul apa arti kesetiaan. Kau masih terus menemani dan merawat Mak Rus seperti merawat emakmu sendiri.

Kau ingat betul, Wit pergi ketika kampungmu baru dimasuki wartel. Sekarang warnet pun sudah mulai merebak sampai gang-gang kecil di kampungmu. Kau pernah iseng-iseng membuka Google dan mengetik nama lengkap Wit. Kau sudah menelusuri segala sesuatu yang berhubungan dengan Wit. Dan Google sama sekali tidak membantu. Apakah di seberang sana Wit tak punya nomor telepon atau akun facebook misalnya, pikirmu. Atau barangkali benar kata Mak Rus, Wit sudah mati bertahun-tahun silam, barangkali ia dibunuh dan mayatnya dibuang ke laut. Entahlah.

Kau tak mau memikirkan hal-hal semacam itu, meski pikiran semacam itu terus berkelebat dalam benakmu. Bagai sebuah alamat yang samar-samar ditunjukkan. Agar kau lekas menyerah. Agar kau tak menunggunya lagi.
 
KAU SUDAH TAK INGAT, pohon labu yang menjalar tahun ini pohon labu keberapa yang kau tanam. Yang jelas, bijinya adalah titisan dari biji pohon labu pertama yang ditanam Wit. Barangkali pohon kesepuluh, atau kelima puluh, atau barangkali pohon keseratus. Kau tak pernah menghitungnya. Yang pasti, setiap kali pohon itu mati, kau akan memperbaruinya. Pada musim kemarau, terkadang pohon labu harus mengering dan mati bahkan sebelum ia sempat berbuah. Tapi kau tak pernah khawatir, kau masih punya beberapa stoples biji labu yang sudah kau keringkan, kau simpan, dan siap kau tanam kapan saja. Stoples-stoples itulah pusakamu.

“Setahun bukan waktu yang lama, Win. Setelah Bapak pergi, hanya Emak yang kupunya di sini, dan kamu tentu saja. Percayalah, aku akan segera kembali pada kalian.” Itu kata Wit, sembilan tahun silam, di depan pohon labu yang mulai menggeraikan sulur-sulur daun pertamanya.
Wit memang seorang lelaki yang keras kepala. Ia terlalu gengsi, ia tak mau biaya pernikahan kalian ditanggung hampir seluruhnya oleh keluargamu. Barangkali, bagi Wit, itu sama saja dengan menenggelamkan wajah ke dalam lumpur. Maka, setelah mendapat tawaran dari seorang kawan di luar negeri untuk bekerja di sebuah perkebunan, Wit segera berangkat. Berangkat yang akhirnya tanpa pulang. Sampai sembilan tahun berlalu begitu saja, dengan cepatnya (atau dengan lambatnya?).

 Hingga seminggu yang lalu, emakmu terjatuh di kamar mandi dan tak bisa berjalan, ia dibawa ke rumah sakit dan menurut dokter ia terserang gejala stroke.

Dan yang pertama kali diucapkan emakmu setelah keadaannya membaik adalah, “Kau lihat, emakmu sudah setua ini. Sakit-sakitan. Ini alamat Win, alamat kalau emakmu sudah dekat dengan tanah. Apa kau benar-benar mau menunggu emakmu masuk lahat baru kau mau naik pelaminan.”
Kau hanya terdiam. Tidak menangis. Tidak pula marah. Dari cermin kecil di atas wastafel rumah sakit, kau bisa menilik kerutan-kerutan tipis yang mulai muncul di sudut matamu. Juga satu dua helai uban yang berkelebat di antara rambutmu yang pekat. Emakmu benar, waktu dan usia tak pernah bisa diajak bicara. Ia akan terus melaju. Kalau kau tak berjalan beriringan dengannya, maka ia akan meninggalkanmu. Jauh di belakang. Begitulah cara waktu berkata-kata.

Setelah kesehatan emakmu mulai pulih seperti sedia kala, tampaknya emakmu semakin gencar mengajakmu berdebat. Ya, soal apa lagi kalau bukan soal Wit. Puncaknya adalah ketika emakmu membuang semua biji-biji labu pusaka dalam stoples kesayanganmu itu ke perapian.

“Ini yang membuatmu hidup seperti putri dalam negeri dongeng,” ujar emakmu sambil menumpahkan biji-biji mungil itu ke perapian. Suaranya cepat dan rautnya membara. Kau tak bisa menghentikannya. Barangkali itu puncak dari kekesalan emakmu atas anak semata wayangnya yang sulit ditutur.
Kau hanya terisak melihat biji-biji itu berserak di antara dedaunan kering di belakang rumah. Dikunyah api. Selama ini kau selalu menyembunyikan air matamu di belakang semua orang, termasuk emakmu. Tapi melihat biji-biji itu terbakar, rasanya seperti melihat Wit ikut terbakar dan hangus, lalu hilang menjelma abu.

“Sudahlah, pohon labu di belakang rumah Mak Rus itu adalah pohon labu terakhir. Dan aku juga sudah bilang pada Mak Rus supaya ia menebasnya saja.

Lupakan Wit dan hiduplah dalam kenyataan, bahwa ia takkan datang. Pangeranmu itu takkan datang.”
Kau melihat emakmu menangis. Selepas pertengkaran itu, kau dan emakmu tampak seperti dua orang yang hidup terhalang pagar. Lebih banyak diam. Mak Rus juga seperti itu. Ia benar-benar sudah membabat pohon labu terakhir itu. Pohon itu memang masih utuh merambat di atap dapur, akan tetapi daun-daun dan bunga-bunganya sudah sekarat. Tepat pada bagian batang pohon yang dipenggal itu, kau melihat getah bening menitis tak henti-henti. Seperti air mata yang tak bisa ditahan. Melihat pohon itu sekarat, kau membayangkan Wit turut sekarat.
 
                                                                                               
 KAU MENGHITUNG hari-hari kematian pohon labu itu seperti menghitung tahun-tahun kepergian Wit. Pohon itu kini tinggal riwayatnya. Pekan dan bulan pun berbiak tahun. Dan kau masih utuh dengan sisa-sisa harapan yang kau tanam diam-diam dalam lubukmu. Tepat pada tahun pertama setelah kematian pohon itu, atau tahun kesepuluh setelah kepergian Wit yang tanpa kabar itu. Seorang lelaki—salah satu pelanggan yang biasa nongkrong di warung Mak Rus, datang tergopoh-gopoh mengetuk pintu rumahmu. Seakan ada kabar penting yang tak bisa ditunda.

Dengan suara tersengal dan air wajah yang tergesa, ia berkabar bahwa Wit telah kembali. Ia baru saja tiba beberapa menit yang lalu. Kau tersenyum, setengah tertawa. Apa kau harus percaya? Setelah sepuluh tahun berlalu? Namun, dengan tubuh gemetar, dan langkah yang nyaris roboh pada tiap jengkalnya, kau pun mengikuti lelaki itu ke rumah Mak Rus.

Rumah Mak Rus tampak riuh oleh orang-orang yang ingin menonton si ‘lelaki hilang yang kembali’. Di antara kerumunan itu, kau melihat Mak Rus terbaring lumpuh dengan wajah dibanjiri air mata. Di sebelahnya, seorang lelaki—yang kini tampak lebih hitam dan kurus, menatapmu. Kalian saling tatap untuk beberapa saat. Di sebelah lelaki itu, tampak seorang perempuan dengan kulit cokelat tua tengah memangku seorang bocah perempuan berusia tiga tahunan. Kau tersenyum. Kalian saling tersenyum. Senyum yang tak dapat menerjemahkan apa pun.

“Win,” suara itu masih sama, tak ada yang berubah, hanya saja ia tampak ragu- ragu, “ini istriku, Marlina, dan ini Hanah, putriku.”
Senyummu masih utuh. Dan kau sudah menebak apa yang telah terjadi di antara kalian. Kau ingin tak percaya. Kau ingin semuanya berlangsung baik-baik saja. Namun batok kepalamu telanjur berdenyut-denyut. Cuping telingamu telanjur memerah. Dua kelopak matamu telanjur perih. Dan sepasang kaki ringkihmu telanjur goyah. Seakan anggota tubuhmu bekerja semau mereka, di luar kuasamu.

Seharusnya kau paham mengapa Wit menanam pohon labu ketika itu. Ya, karena tanpa dirawat, pohon labu takkan berumur panjang. Dan Wit, ia hanya memintamu seorang untuk merawatnya. Ia hanya menanamnya lalu pergi begitu saja untuk menanam pohon lain yang mungkin lebih abadi.

Kini, rasanya, kau ingin berbaring seperti pohon labu yang tamat dan mengering di atap dapur belakang rumah. Dan tak memikirkan apa-apa lagi. Sudah cukup.(f)
 
 
 


 


MORE ARTICLE
polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?