Santi, seorang penari, atas kehendak suaminya, memilih mundur dari dunia tari. Namun, ia lalu terjebak dalam perkawinan yang tidak sehat karena suaminya yang otoriter dan menghabiskan banyak waktunya mengurus burung-burung. Hati Santi yang sedang hamil muda mulai bimbang ketika rekan sesama penarinya dulu mengajaknya kembali ke panggung. Ia pun berani lepas dari larangan suaminya.
Cerita sebelumnya <<<
Santi tak mau ambil pusing saat terdengar ledakan kemarahan Hendra. Lovebird-nya hilang lagi. Si hijau kuning mungil jawara Kudus Cup yang baru sepekan dibelinya seharga tiga juta. Bahkan, saat keberangan Hendra memuncak dan melancarkan tuduhan kepada Hasyim, tetangganya yang juga penggemar burung, Santi sedang berada di alam lain saat itu.
Tiga hari lalu Palupi menelepon, mengabari perihal keadaan Om Probo yang kembali memburuk. Palupi dan teman-temannya berniat mengadakan road show yang berpuncak di Gedung Kesenian Jakarta guna mengumpulkan dana bantuan untuk pengobatan ke luar negeri. Ratna dan murid-muridnya konon juga akan ikut membantu, meski ia sudah pindah haluan ke jalur tari modern.
“Kami akan berkolaborasi. Kami juga sudah bagi-bagi tugas. Pokoknya malam itu Jakarta tak akan melupakan kami,” celoteh Palupi dengan amat riang.
Santi serasa berada di antara mereka lagi. Bercanda dengan banyak kru saat geladi resik. Membicarakan perusahaan mana yang layak ditodong sebagai donatur, saling tukar penemuan-penemuan gerakan baru juga menjadi hal yang amat menyenangkan, dan terutama: kebebasan. Santi kembali bisa merasai keberadaannya sebagai Santi. Bukan seekor burung dalam sangkar.
Ah, tiap kali mengingat burung di dalam sangkar, seketika itu pula ingatannya akan langsung beralih ke Laras.
“Mereka menggemaskan,” ujar Santi saat akhirnya ia berhasil bertemu Laras untuk pertama kali setelah pernikahannya.
“Arda lahir setengah jam lebih dulu dari Ardi, San,” kata Laras, tersenyum. Wajahnya terlihat tirus. Hidup seperti telah menyiakannya, padahal secara materi tak kekurangan.
“Kenapa kau tak kembali menari lagi, Ras?” Akhirnya Santi menemukan kesempatan ini juga. Menanyakan alasan mengapa Laras rela tenggelam dalam kehidupan lain, kehidupan yang Santi yakin bukan sepenuhnya atas keinginannya.
“Kau ini seperti Palupi.” Laras menepuk paha Santi, sambil menanyakan apakah Santi sudah berhasil mendapatkan momongan. Tapi, Santi tak mau pembicaraannya dibelokkan. Apalagi berbelok ke arah Hendra dengan sangkar besarnya. Tidak dalam kesempatan yang sangat berharga ini. Kata Palupi, sangat susah untuk bisa berlama-lama mengobrol santai dengan Laras.
“Aku sudah tak bisa, San,” ujarnya setelah menghela napas panjang.
“Kenapa tak bisa? Bukankah Palupi masih sering menawarimu? Aku yang di Jepara saja masih bisa menyempatkan diri ke sini. Kayak Pasar Klewer itu berada di planet mana saja.”
“Tapi kalau rumah makan ini sering kutinggal, akan matilah penghidupan kami. Memang, akan terlihat lebih bermartabat jika menjadi seorang penari. Tapi, anak-anak dan suamiku butuh makan. Kamu pasti ndak percaya kalau aku bilang penghasilan rumah makan kecil ini bisa melebihi penghasilan seorang penari profesional sekalipun. Apalagi di zaman sekarang, yang kata Palupi sudah jarang pentas lantaran kalah dengan penari-penari yang ambil jalur tari modern. Mungkin itu sebabnya Ratna pindah jalur. Kamu sudah tahu, ‘kan?”
Tanpa diminta, Laras pun kemudian cerita, tentang sejarah rumah makan Pondok Laras. Tentang ia yang mau tak mau kini telah menjadi tulang punggung rumah suaminya setelah kecelakaan yang menyebabkan diamputasinya kedua kaki lelaki itu. Laras juga menanggung hidup mertua perempuannya yang sudah lanjut usia.
“Sepertinya ini sudah diatur Tuhan, San. Dan aku ikhlas menerima semuanya. Aku cinta suamiku,” pandangannya menerawang ke lain arah. Dua karyawannya tampak sudah selesai membereskan rumah makan yang sudah tutup.
“Tapi kau kelihatan kurus sekali. Masa iya, ada majikan yang lebih kurus dari pegawainya?”
Laras tersenyum, tapi kentara hambar. “Kemarin beratku nyaris satu kuintal. Gila, ‘kan? Kembenan mana pantas lagi buatku? He… he… he…. Aku sedang diet sekarang. Gula darahku kemarin melebihi ambang batas.”
Saat itulah dua pasang mata itu saling bertemu, saling mengabarkan yang tersembunyi di kedalaman hati masing-masing. Dan Santi menemukan itu, sederet kesedihan yang tersamar rapi di kedalaman sana.
“Enggak nyangka ya, San, ternyata sekarang cuma tinggal unsur air dan api yang bertahan,” sambung Laras, sambil senyum.
Santi pun kembali terlempar ke masa-masa itu. Om Probolah yang memberi julukan itu, saat beliau menerangkan filosofi Serimpi. Om Probo menyematkan keempat unsur utama alam kepada empat muridnya sesuai sifat pembawaan masing-masing. Palupi yang kalem dan begitu penurut seperti toya (air), Ratna yang penuh semangat mempelajari hampir semua jenis tari yang didengar telinganya seperti grama (api), Laras yang paling cerdas dalam mengartikulasikan dan mempraktikkan semua ajaran tari Om Probo seperti bumi, serta terakhir Santi yang paling bodoh di antara mereka berempat, tak jelas pada jenis tari apa hatinya menetap, seperti bayu (angin).
“Aku ingat Om Probo sering mengataiku apa. Sepertinya dia sudah bisa menebak masa depanku.” Senyum itu perlahan surut dengan sendirinya. Membuat Santi makin yakin dengan praduganya.
“Kenapa kau tak ikut Palupi saja? Sesekali minta ikut kan enggak apa-apa? Cuma sesekali, buat klangenan. Kau urus dulu manajemen rumah makanmu supaya bisa kau tinggal barang sehari atau dua hari. Siapa tahu, seiring namamu yang terus berkibar dalam dunia seni, akan membawa dampak positif lebih ke bisnis kulinermu,” sambut Santi, coba memastikan praduga.
“Enggak, San. Om Probo benar. Sepertinya rohku sudah tak betah lagi mengikuti jejak Gambyong yang mati sebagai penari.”
“Tapi, apa benar kau bahagia dengan duniamu sekarang?” Santi seperti sedang menguliti perasaannya sendiri.
“Tentu saja!” potong Laras segera. “Apa aku terlihat seperti orang yang tak bahagia?” Ia menatap Santi dalam-dalam. Coba menolak apa yang dituduhkan kepadanya.
Dan itu malah membuat Santi makin yakin. Santi hanya tak tega untuk bilang bahwa ia sudah dengar semuanya dari Palupi, bahwa konon dulu, Laras pernah minggat dari rumah mertuanya lantaran ingin ikut pentas untuk yang kedua kalinya di Museum Tropen Belanda. Entah bagaimana, Santi melihat kepala Laras sudah berubah menjadi sangkar. Ada burung kecil yang tersiksa di dalamnya. Keinginan. Santi masih yakin bahwa sebenarnya Laras masih memiliki keinginan untuk menjadi penari.
Andai Santi menjadi Laras, pasti ia sudah membebaskan yang terkurung dalam sangkar di atas kepalanya itu. Apa pun yang terjadi kemudian. Sebesar apa pun kemarahan Hendra, asalkan sesak dalam dada Santi lenyap. Biarlah burung kecil itu terbang bebas sesuka hati. Biarlah keinginan itu menemukan muaranya. Tak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada itu. Melebihi segala kesenangan yang coba ditawarkan Hendra demi menghapus kesedihan setelah kehilangan janin untuk ketiga kalinya. Toh, percuma saja jika harus selalu menyalahkan kehadiran virus tokso dalam rahimnya.
****
“Bagaimana pendapatmu kalau kita ke Karimun?” Santi tahu bahwa Hendra coba menghibur kesedihannya. Setelah kemarahannya berhari-hari kemarin. Dokter menganjurkan agar mereka jangan melakukan hubungan intim serentang tiga bulan. Santi memang lebih banyak mengunci mulut dalam lamun. Dan mungkin Hendra menganggapnya masih terperangkap dalam duka.
Santi tak mau membuka semuanya. Ada banyak yang ia simpan dan tak ia ungkap. Ini tentang gambaran masa depan yang diinginkannya. Serasa ada lorong gelap di ujung sana. Lorong tak berujung. Lorong nasibnya. Apakah ia akan seperti ini selamanya? Menjadi seekor burung dalam sangkar, yang hanya indah dipandang pembelinya.
Tawaran itu ia terima meski tak begitu menginginkannya. Mengunjungi Karimun untuk yang kedua kali. Mengunjungi tempat-tempat yang dulu pernah menjadi kenangan terindah selama bulan madu. Mengenang keindahan semu di Tanjung Gelam, Legon Lele, dan kehidupan orang-orang Karimun yang bersahaja. Hendra memamerkan beberapa hasil kerjanya di sana. Beberapa fasilitas umum yang proyek pembangunannya ia menangkan dan kini telah selesai ia garap. Bakar-bakar ikan cumi di pantai sembari mengagumi langit malam di Pulau Kemujan. Santi harus belajar berpura-pura bahagia.
“Aku benar-benar tak sabar menunggu tiga bulan berikutnya. Emak dan Bapak sudah makin tak sabar, apalagi setelah musibah kemarin. Mereka sudah benar-benar mengharapkan cucu dari kita. Bahkan liburan ini, Emaklah yang mengusulkannya, agar kamu cepat pulih. Lupakan semua kesedihan.” Entah, apakah bahagia yang terlihat di wajah Hendra itu adalah sungguh-sungguh bahagia.
Sebuah pikiran kemudian terlintas dalam benak Santi. Ada sebuah tanya yang melompat-lompat dalam dadanya. Tentang seberapa besar rasa cinta Hendra, tentang alasan kenapa dulu Hendra memilihnya.
“Bolehkah aku bertanya tentang sesuatu?” Kedua matanya menerawang jauh ke tengah gelapnya Laut Jawa. Terlihat beberapa kerlip tanda perahu bergerak, menjauh dari daratan. Seperti harapan yang ingin melaju ke tujuan. Sementara cahaya mercusuar menjadi petunjuk perjalanan.
“Bertanya apa? Kenapa mesti meminta izin segala?” kata Hendra, sambil memutar-mutar sebatang lidi yang telah penuh dengan ikan cumi. Bumbu dan segala peralatan bakar ikan terhampar di hadapan keduanya. Bau sedap menguar hebat.
“Sebenarnya atas dasar apa dulu kau menyukaiku?”
Hendra langsung menoleh. Sate cumi tak terlihat menarik perhatiannya lagi.
“Aku suka kamu, itu saja. Kenapa? Apakah cinta mesti butuh alasan untuk meyakinkan?”
“Kalau sekarang, atas dasar apa kau menyukaiku?”
“Heeh…?” Hendra beranjak mendekati Santi, lalu mendekapnya dari samping. “Kau ini kenapa?”
“Aku tanya, kalau sekarang, atas dasar apa kau menyukaiku?” Santi menemui kedua mata Hendra. Meminta kejujuran.
“Aku menyukaimu, aku mencintaimu. Harus dengan apa aku membuktikannya?” Hendra mencium pipi Santi, lalu kening, lalu pipi, bertubi-tubi.
“Kalau kau mencintaiku, kenapa kau melarangku menari?”
Langsung terpaku. Hening sejenak. Hanya ada suara ombak dan berisik kesibukan di belakang sana. Tak jauh dari tempat mereka berdua, ada penduduk yang sedang menggelar hajatan pernikahan.
“Bukankah aku sudah mencukupi semua kebutuhanmu? Apa istana yang kubangunkan untukmu masih kurang megah? Aku benar-benar tak bisa membayangkan kehidupan kita andai aku tak mampu mencukupi semua kebutuhanmu, San,” kata Hendra, terasa nada kesalnya.
“Tanpa menjadi istrimu pun dulunya aku mampu mencukupi kebutuhanku,” jawab Santi, terdengar datar, seolah tanpa emosi, tapi menusuk.
“Tapi bukankah dulu kau memilihku? Dan bukankah aku sekarang sudah menjadi pemimpin keluarga? Lagi pula, gara-gara menari… oh tidak, apa kau tak menyesal telah kehilangan calon anak kita kemarin?”
Santi tak menyahut lagi. Jawaban lelaki itu sudah berubah. Rasa kecewanya bahkan masih bersisa. Sejak rahim Santi belum mampu menumbuhkan benihnya, Santi bahkan sudah bisa merasai tali tak kasatmata yang diikatkan Hendra ke kedua kakinya. Liburan yang terasa hambar.
Santi pun menjadi lebih banyak diam. Diam yang menyimpan banyak kekecewaan. Meski Hendra mulai menggebu-gebu lagi untuk urusan anak. Terkadang Santi merasa heran dengan sifat lelaki yang telah dipilihnya ini. Betapapun ia pernah dua tahun berpacaran dengannya, masih juga ada hal-hal yang baru ia ketahui belakangan. Kelakuannya bisa berubah drastis, dari yang panas saat kehilangan burung, lalu berubah sejuk saat menginginkannya di atas tempat tidur. Apakah semua lelaki memang seperti itu?
“Aku ingin menari lagi,” ujar Santi dengan pelan, sehabis bercinta. Sengaja ia memilih momen itu demi membuktikan kesimpulannya sendiri.
Terdengar helaan napas berat. Jemari Hendra langsung terhenti mengancingkan baju.
“Sebenarnya, apa yang membuatmu ingin menari?” Nada suaranya tak seperti ketika coba mendekatinya tadi.
“Aku bosan,” ujar Santi, dalam posisi memunggungi Hendra.
“Alasan! Apa tak cukup cuma aku saja yang mengagumimu?”
“Aku benar-benar bosan, Hen!” Suara Santi terdengar gemetar. Seperti ada yang tersumbat di dalam dadanya.
Tiba-tiba Hendra menarik selimut yang membungkus tubuh Santi. Kemeja yang baru setengah dikancingkan ia tarik begitu saja hingga dua kancingnya copot. Santi menangis. Air matanya meleleh dalam diam, betapapun Hendra berubah begitu lembut saat mencumbunya. Perih sekali rasanya. Sakit!
* * *
Pada suatu malam Santi merasa telah dikutuk oleh seorang penyihir jahat menjadi seekor burung. Burung kecil malang yang terpenjara dalam sebuah sangkar. Burung itu menunggu datangnya malaikat yang mampu membatalkan kutukan. Dalam menunggu itu si burung coba berkicau demi menghibur diri. namun entah mengapa kicauan itu justru terdengar bagai ratapan kesedihan di telinga Santi.
Seharusnya burung kecil itu adalah seorang penari. Seseorang yang mampu membuat semua mata terpesona, mampu menguapkan kesedihan mereka, mampu menyihir dan mengalihkan sejenak dari segala masalah yang membelit. Namun entah kenapa dirinya kini justru menjadi sumber kesedihan bagi orang lain. Kicauannya malah membuat orang lain ingin menangis.
“Apa karena aku?” suara Palupi di seberang. “Coba izinkan aku berbicara sejenak dengan suamimu. Biar aku jelaskan semuanya.”
Tapi Santi bergeming. Meski Hendra saat itu sedang di rumah. Tak ada pekerjaan. Ia sedang asyik dengan burung dalam sangkar kesayangannya.
“Begini. Nanti setelah ia pulang kerja, ceritakanlah kepadanya. Sebenarnya dokter yang menanganimu dulu belum sempat menjelaskan, karena dirimu keburu dicabut dari rumah sakit sini….”
Santi masih diam. segala kecamuk hati mulai berdatangan.
“Ada tokso dalam rahimmu. Ya ampun, aku pikir Hendra sudah kelewatan kalau sampai menimpakan semuanya pada aktivitas menarimu. Apalagi kalau sampai… ah, aku benar-benar tak percaya dengan ceritamu ini. Apa dokter yang menanganimu di situ tak cerita apa-apa?”
“Aku tidak tahu. Dokter hanya menyarankan agar aku banyak istirahat dan menjaga asupan makanan. Sebenarnya sudah sejak keguguran yang kedua, kami diberi tahu dan disarankan menjalankan pengobatan tertentu, minimal selama delapan bulan. Dan aku sudah pernah dinyatakan bersih. Mungkin Hendra memang sudah muak dengan masa laluku….” Suara Santi terdengar murung.
Ia coba mencari ingatan itu. Masa-masa berat itu. Ketika ia merasa tak lengkap sebagai perempuan tiap memasuki koridor rumah sakit demi menjalani pengobatan. Tapi kepalanya kosong. Kepala Santi sedang diriuhi seekor burung kecil yang ingin melarikan diri dari dalam sangkar, dari semua masalah yang mengurungnya.
“Tapi aku benar-benar tak habis pikir kalau Hendra ternyata setega itu. Bagaimana ceritanya ia bisa membakar semua kemben-mu? Apa kalian bertengkar hebat? Ceritakanlah, San. Jika ini memang ada sangkut pautnya denganku terkait soal pementasan kemarin, siapa tahu aku bisa menjadi penengah kalian.”
Pandangan Santi beralih ke Hendra yang tengah memandikan burungnya di teras samping rumah. Tentu saja tak mungkin mempertemukan dua orang itu dalam sebuah pembicaraan. Bahkan untuk sekadar menyapa Hendra saja rasanya seperti mengangkat beban berat yang menggantung di kedua bibir Santi.
“Bagaimana dengan acara pengumpulan dana untuk Om Probo? Sukseskah?” Santi mengalihkan topik pembicaraan.
“Ya, sukses. Kemarin beliau sudah dibawa ke Singapura untuk menjalani pengobatan lebih lanjut. Kami mendapatkan bantuan dari teman Ratna yang berdomisili di sana. Setidaknya sisa dana dari kami bisa digunakan istri Om Probo untuk mengelola keuangan keluarga. Aku salut dengan Ratna, San. Dia malah berhasil menggandeng banyak seniman luar untuk turut serta. Kemarin dia sempat menanyakanmu dan meminta nomormu dariku.”
“Apa dia sudah menikah?”
“Belum. Entah. Kelihatannya juga belum punya pacar. Mungkin dia mau mencari pria impor.” Terdengar tawa dari seberang. Cukup keras, meskipun bersumber dari telepon genggam. Sehingga membuat Hendra sempat menoleh.
Dua pasang mata itu pun saling bertemu. Santi tak yakin apakah kebekuan di antara mereka dapat mencair kembali ke keadaan semula. Cerita selanjutnya >>>>


