DI SAAT KAMI sekeluarga telah menyudahi harapan yang tak kunjung jadi kenyataan, mendadak datang sebuah kabar tentang keberadaan Papi.
Mami pernah sangat terpuruk. Nyaris gila dan beberapa kali berniat bunuh diri. Selalu diteror mimpi buruk dan menangis hebat saat dikepung rindu pada Papi yang sangat ia puja. Tapi entah beroleh kekuatan dari mana, suatu hari Mami bangkit dan seperti orang yang tak kenal rasa takut, ia bersepeda menghadiri semua panggilan interogasi dari aparat. Dari pagi hingga menjelang magrib. Nyaris tiap hari. Ia bahkan tak lagi keder digertak dan diancam.
Mami pernah sangat terpuruk. Nyaris gila dan beberapa kali berniat bunuh diri. Selalu diteror mimpi buruk dan menangis hebat saat dikepung rindu pada Papi yang sangat ia puja. Tapi entah beroleh kekuatan dari mana, suatu hari Mami bangkit dan seperti orang yang tak kenal rasa takut, ia bersepeda menghadiri semua panggilan interogasi dari aparat. Dari pagi hingga menjelang magrib. Nyaris tiap hari. Ia bahkan tak lagi keder digertak dan diancam.
Ketika Papi hilang dalam prahara 65*, Mami dan kelima anaknya, termasuk aku sebagai anak tertua, mengelola harapan dengan cara masing-masing. Aku dan Mami paling optimistis. Kami rajin memburu nasib Papi. Malam itu, tidak hanya kami yang kehilangan, banyak keluarga lain kehilangan ayah dan saudara laki-laki mereka. Siapa mengira, nasib ayah yang sehari-harinya memang vokal bersuara menentang ketidakadilan, berakhir memilukan.
Setelah lenyap malam itu, begitu banyak berita beredar tentang Papi. Tiba-tiba saja banyak orang datang menawarkan bantuan untuk menelusuri jejak Papi. Begitu banyak uang terkuras demi sekeping informasi yang bahkan tidak jelas kebenarannya. Kami rela ditipu demi sebuah kabar simpang siur.
“Bapakmu diamankan di Nusa Kambangan,” ujar salah seorang tetangga yang mengaku sempat bertemu dengan Papi di sana.
Ada pula yang mengantar pesan bahwa Papi sudah menikah lagi di Malaysia.
“Salah besar. Bapakmu dibuang ke Pulau Buru,” kata seorang yang lain. Tentu jika kami ingin mengorek lebih dalam di mana Papi berada, dibutuhkan pelicin yang tidak sedikit. Mereka berbondong-bondong berusaha mengeruk keuntungan. Hilangnya Papi rupanya jadi ladang uang. Kepastian jadi barang yang teramat mahal harganya.
Begitu mudahnya sebuah penantian goyah dan berubah jadi kosong, tak punya arti. Keyakinan menyusut jadi kepasrahan. Awalnya aku berkata pada adik-adikku yang kerap menanyakan keberadaan Papi, bahwa dia pasti kembali. Meski hatiku bertanya-tanya, mengapa Papi tak juga datang menengok keluarganya? Satu per satu tetangga dan kenalan yang saat itu ditahan, pulang. Hingga akhirnya kami sadar, Papi tak mungkin kembali. Terutama setelah mendengar bahwa seluruh tahanan politik di Pulau Buru dibebaskan dan Papi tak muncul.
Mami sudah telanjur menyiapkan dua petak kuburan keluarga untuk dirinya dan Papi. Apa boleh buat. Tahun demi tahun berlalu, tiap ulang tahun Papi, kami sekeluarga berusaha menyempatkan diri nyekar ke sana. Kendati teramat jarang. Cucu-cucu Mami, termasuk anak-anakku, tidak ada yang curiga bahwa selama ini mereka mendoakan kubur kosong. Penyebab kematian Papi pun direkayasa, Papi meninggal karena kecelakaan mobil.
Meski sudah lewat masa reformasi, rahasia keluarga tetap tertutup rapat. Lagi pula, rasa-rasanya semua enggan bicara soal Papi. Hal itu sama saja dengan mengelupas borok yang sudah mengering.
“Sejarah bisa berulang. Mungkin sekarang sudah lebih terbuka, tapi kita tidak pernah tahu apa yang terjadi besok.” Begitu alasan Mami bermain rahasia. Aku cuma bisa pasrah, menurut tanpa menuntut.
Tapi, seperti yang sudah kuutarakan sebelumnya, kabar soal Papi yang kuterima pagi ini membuatku gelisah. Ternyata kebenaran pasti datang, walau sering kali terhambat dan tak jarang terlambat.
Temanku, seorang aktivis --tak perlulah kusebutkan namanya-- menelepon. Dengan terengah-engah dan masih dibuai takjub, ia menceritakan penemuannya yang tak terduga. Beberapa hari lalu, temanku itu bertemu dengan seorang penjual ketela yang tinggal di lereng Gunung Merapi. Aku dengar ia memang sedang bergumul dengan penelitiannya tentang keberadaan kuburan massal di kawasan itu.
“Gila.... dia menyebut nama papimu. Jelas dan gamblang.”
“Bapak penjual ketela itu?”
“Ya. Dia berkisah, di suatu pagi, pagi-pagi sekali saat ia hendak pergi ke pasar, ia menemukan belasan mayat teronggok di bawah jembatan Kali Pasir. Satu mayat mencuri perhatiannya. Kulitnya putih, mengenakan kaus kutang putih dan celana tenis yang juga berwarna putih. Walau hampir seluruhnya mengenakan baju ala kadarnya, sosok mayat satu itu tampak berbeda. Bukan juga karena ia memakai gigi emas yang agak berkilauan karena mulutnya sedikit menganga. Rupanya, dia mengenal sosok mayat itu. Katanya, dia adalah Pak Herman, juragan toko sepeda di Prambanan yang sering ia datangi jika sepedanya bermasalah.”
Kuraba tengkukku yang mendadak meremang. “Lalu?”
“Katanya, mereka kemudian menguburkan mayat-mayat yang entah dari mana asalnya itu tak jauh dari jembatan, ya, di sekitar sungai.” Suara temanku itu meninggi, bergairah. “Itu papimu, ‘kan? Aku shock waktu mendengar cerita ini. Shock!”
“Aku tidak yakin.”
“Tapi jelas-jelas orang ini bilang kalau salah satu mayat itu bernama Herman, sang juragan toko sepeda. Itu papimu, ‘kan?” Sekali lagi ia bertanya, lagi-lagi dengan nada makin tinggi.
“Ya, itu memang papiku. Tapi, dia bisa jadi salah menduga. Lagi pula, mengapa ia baru bercerita sekarang?”
“Setelah kejadian itu, bapak ini sudah berkali-kali mondar-mandir ke toko sepedamu, tapi tak pernah berani masuk, apalagi bercerita. Syukurlah kesaksian ini tak sampai ia bawa mati. Kamu harus tahu, warga di ladang pembantaian cenderung membisu. Makanya, cerita ini sungguh luar biasa, dan kian luar biasa karena ada hubungannya dengan keluargamu.”
“Ya.”
“Nah, yang perlu dikonfirmasi, apakah benar papimu pakai gigi emas?”
“A... a... aku tak ingat, karena masih kecil waktu itu. Mungkin aku harus menanyakan pada Mami.”
“Kalau keluargamu setuju, kita bisa menindaklanjuti penemuan ini. Kau ingat Sumitro, ‘kan? Dia turut serta dalam penggalian kuburan massal di Purwodadi untuk mencari jasad kakaknya. Hebatnya, ketemu!”
Aku terdiam cukup lama, mencoba mencerna. “Ada baiknya aku berdiskusi dengan Mami dan adik-adikku. Terutama Mami.”
Kabar ini terlalu mencengangkan untuk kutanggung sendiri.
TANPA BUANG WAKTU, aku segera menyambar jaket dan helm, melesat menuju rumah Mami. Rumahnya masih sama, rumah masa kecilku. Meski kini beberapa cat pada dinding-dindingnya mulai mengelupas dan dikerumuni lumut. Dari ujung pintu masuk aku bisa melihat Mami sedang khusyuk menguleni adonan. Membuat roti jadi hiburannya di masa tua. Lewat pintu abu-abu itu pula aku menyaksikan Papi digiring pergi.
Celah masa lalu mengintip malu-malu. Tak ada yang mengisyaratkan petaka, semua terjadi begitu cepat. Malam itu di rumah keluarga kami di Polanharjo, tak sempat kulampirkan jaket untuknya. Papi yang necis digelandang hanya pakai kaus kutang dan celana tenis berwarna putih. Aku hanya diam mematung saat Papi diseret, sesekali digebuk dan ditempeleng senapan. Aku melihat ia menggigil dan tampak pucat. Baru kali itu aku melihat Papi amat sangat gentar. Papi yang selalu bilang, “Kalau kamu tidak salah, lawan!” ternyata bisa mengerut ciut seperti pengecut. Mami juga waktu itu hanya tersungkur tak berdaya dan tersedu sambil memeluk adik-adikku.
“Lho, tumben kamu datang ke sini. Ndak ada apa-apa, to?” Mami segera meninggalkan adonannya dan menyambutku di teras.
“Mam, katanya ada yang tahu di mana Papi dikubur. Ada yang tahu Papi dieksekusi di mana.”
Ada jeda agak panjang di antara percakapan kami. Tapi aku amati Mami tampak tenang, tak tampak gejolak.
“Aku sudah ndak pingin tahu. Ndak perlu diungkit lagi. Mami sudah capek,” akhirnya Mami buka suara.
“Tapi Mam, kali ini bisa jadi tepat. Karena dari cerita orang ini, ia bisa menyebut dengan tepat ciri-ciri fisik Papi. Termasuk gigi emasnya.”
“Lha, njuk meh ngopo?”
“Kalau Mami setuju, kita bisa cari dan bongkar kuburan massal itu. Kita bisa pindahkan Papi ke kuburan keluarga.”
“Sudah ndak usah ketemu orang itu. Aku sudah lama merelakan tidak lihat jasad papimu.”
Aku kemudian mengajukan usul, sebaiknya kami sekeluarga besar nyekar ke Kali Pasir dan sudah saatnya cucu-cucu diberi tahu tentang apa yang sebenarnya menimpa kakek mereka. Tapi, Mami berkeras untuk tidak melibatkan cucu-cucunya.
Kebenaran itu akhirnya datang. Meski aku jadi bertanya-tanya, perlukah kebenaran itu datang? Rasanya tak ada bedanya. Kalau memang benar, berarti Papi dibunuh malam itu, tanpa sempat mencicipi aroma pengasingan di Nusa Kambangan ataupun Buru. Dan Papi hanya dihabisi belasan kilometer dari rumahnya. Sering kali masa lalu terasa begitu jauh dan kini nyaris bersisian dengan masa depan.
“Mami yakin tidak penasaran?” tanyaku lagi.
“Kita ini bukan tawanan masa lalu,” jawabnya singkat.
Aku berusaha mendebat, tapi tak ada kata-kata yang berkelebat. Seperti biasa, aku tak bisa menemukan alasan yang tepat.
“Orang-orang berani seperti papimu, di mana sekarang?”
Mami beranjak kembali ke dapur dan segera menyaut kembali adonannya.
Aku membiarkan diri bungkam, tak kuasa memetikkan suara, sama seperti jasad Papi yang akhirnya hanya membisu di sebuah entah. (f)
Celah masa lalu mengintip malu-malu. Tak ada yang mengisyaratkan petaka, semua terjadi begitu cepat. Malam itu di rumah keluarga kami di Polanharjo, tak sempat kulampirkan jaket untuknya. Papi yang necis digelandang hanya pakai kaus kutang dan celana tenis berwarna putih. Aku hanya diam mematung saat Papi diseret, sesekali digebuk dan ditempeleng senapan. Aku melihat ia menggigil dan tampak pucat. Baru kali itu aku melihat Papi amat sangat gentar. Papi yang selalu bilang, “Kalau kamu tidak salah, lawan!” ternyata bisa mengerut ciut seperti pengecut. Mami juga waktu itu hanya tersungkur tak berdaya dan tersedu sambil memeluk adik-adikku.
“Lho, tumben kamu datang ke sini. Ndak ada apa-apa, to?” Mami segera meninggalkan adonannya dan menyambutku di teras.
“Mam, katanya ada yang tahu di mana Papi dikubur. Ada yang tahu Papi dieksekusi di mana.”
Ada jeda agak panjang di antara percakapan kami. Tapi aku amati Mami tampak tenang, tak tampak gejolak.
“Aku sudah ndak pingin tahu. Ndak perlu diungkit lagi. Mami sudah capek,” akhirnya Mami buka suara.
“Tapi Mam, kali ini bisa jadi tepat. Karena dari cerita orang ini, ia bisa menyebut dengan tepat ciri-ciri fisik Papi. Termasuk gigi emasnya.”
“Lha, njuk meh ngopo?”
“Kalau Mami setuju, kita bisa cari dan bongkar kuburan massal itu. Kita bisa pindahkan Papi ke kuburan keluarga.”
“Sudah ndak usah ketemu orang itu. Aku sudah lama merelakan tidak lihat jasad papimu.”
Aku kemudian mengajukan usul, sebaiknya kami sekeluarga besar nyekar ke Kali Pasir dan sudah saatnya cucu-cucu diberi tahu tentang apa yang sebenarnya menimpa kakek mereka. Tapi, Mami berkeras untuk tidak melibatkan cucu-cucunya.
Kebenaran itu akhirnya datang. Meski aku jadi bertanya-tanya, perlukah kebenaran itu datang? Rasanya tak ada bedanya. Kalau memang benar, berarti Papi dibunuh malam itu, tanpa sempat mencicipi aroma pengasingan di Nusa Kambangan ataupun Buru. Dan Papi hanya dihabisi belasan kilometer dari rumahnya. Sering kali masa lalu terasa begitu jauh dan kini nyaris bersisian dengan masa depan.
“Mami yakin tidak penasaran?” tanyaku lagi.
“Kita ini bukan tawanan masa lalu,” jawabnya singkat.
Aku berusaha mendebat, tapi tak ada kata-kata yang berkelebat. Seperti biasa, aku tak bisa menemukan alasan yang tepat.
“Orang-orang berani seperti papimu, di mana sekarang?”
Mami beranjak kembali ke dapur dan segera menyaut kembali adonannya.
Aku membiarkan diri bungkam, tak kuasa memetikkan suara, sama seperti jasad Papi yang akhirnya hanya membisu di sebuah entah. (f)
* Pembantaian massal anggota PKI, aktivis, etnis Tionghoa, dan lainnya di Indonesia pada tahun 1965-1966.
***
Adeste Adipriyanti


