
Bagian 1 2
Kisah sebelumnya <<<
Arung jarang sekali sakit. Tubuhnya lebih besar daripada anak seusianya. Perutnya buncit, kulitnya putih, bibirnya merah. Minggu sore, selepas misa, Ayub dan Laksmi menjemput Arung yang menjalani cek kesehatan menyeluruh di rumah sakit. Kata dokter, hasilnya bagus. Tapi, pagi itu Arung muntah lagi. Dokter menahan kepulangannya untuk menjalankan satu pemeriksaan lagi: CT scan.
Setelah selesai, Laksmi dan Ayub bersiap memakaikan ransel Arung untuk bergegas pulang. Namun, seorang perawat mengabarkan bahwa dokter ingin bicara dengan mereka.
Ayub dan Laksmi mengira itu hanya penjelasan biasa. Mereka mengikuti semua basa-basi sang dokter hingga kata itu tersebut. Tumor. Ada tumor di otak Arung. Tangan Laksmi gemetar. Ayub menggenggam tangan istrinya. Sebenarnya ia sendiri juga butuh penguatan. Saat mereka pikir hidup mereka sudah ada di posisi terbawah, ternyata ada titik yang lebih rendah lagi.
Tumor itu membuat penumpukan cairan yang menyumbat pembuluh darah di otaknya. Penyumbatan itulah yang membuat Arung kerap pusing dan muntah. Jalan keluar sementara adalah dengan memasang selang yang mengalirkan sumbatan cairan itu ke usus. Jika tidak segera dialirkan, Arung bisa mengalami serangan mendadak. Nyawanya bisa jadi tak tertolong. Laksmi ingin menangis, tapi rupanya ketegarannya lebih dibutuhkan.
Malam itu juga, setengah jam kemudian, Laksmi dan Ayub sudah berada di antara beberapa dokter yang berkumpul di satu ruangan. Jelas, ini adalah sebuah kasus besar. Laksmi dan Ayub tidak pernah melepas genggaman tangan mereka.
Sebuah foto hasil pemindaian bagian dalam kepala Arung dipajang di hadapan keduanya. Tampak sebuah bulatan hampir sebesar telur ayam bersarang di atas tengkuk Arung. Untuk pertama kalinya mereka berkenalan dengan medulloblastoma. Laksmi tak sadarkan diri ketika mendengar bahwa ‘bola’ itu dikategorikan sebagai tumor ganas.
Sementara, Ayub harus menghadapinya seorang diri untuk kemudian mengulang penjelasan mengerikan itu pada Laksmi. Posisi tumor itu menempel pada batang otak, pusat segala aktivitas manusia. Diameternya sudah lebih dari 2 cm, tak memungkinkan jika hanya diradiasi. Ayub merasa gagal sebagai orang tua yang terlambat membawa anaknya berobat.
***
Air mata Laksmi sudah lebih dulu tumpah dan tuntas. Sekali lagi ia dan Ayub membaca seluruh isi surat persetujuan operasi. Laksmi membaca sederet risiko yang mungkin terjadi, sekaligus –barangkali-- mengabaikannya. Ada risiko operasi itu akan gagal karena tubuh Arung menolak selang yang nantinya akan ditanam di tubuhnya. Tangan Ayub berkeringat saat menorehkan tanda tangan di bagian bawah surat.
Kemudian, yang menyandera pikiran Ayub adalah biaya pemasangan selang itu. Hampir semua keluarga besar keduanya bermukim di luar Jawa. Laksmi dan Ayub hanya mengirim kabar tanpa mengharap mereka datang, khawatir merepotkan. Hanya Uda Faisal, kerabat pasar malam, yang berada bersama pasangan itu. “Biarkan saya membantu. Ini kesempatan saya berbuat baik,” ia menepuk pundak Ayub, tidak memberi kesempatan bagi keduanya untuk menolak.
Laksmi mendaras rosario di sepanjang waktu operasi. Operasi itu berhasil. Tapi, itu baru awal dari peperangan yang sesungguhnya: pengangkatan tumor. Operasi dengan ruang perawatan kelas tiga saja diprediksi sebesar 150 juta rupiah.
“Dari mana uang sebanyak itu?” Laksmi menutup wajah dengan kedua tangannya. Keduanya duduk bersisian di kursi tunggu rumah sakit yang dingin dan tidak nyaman. Itu adalah hari ketiga Arung dirawat di rumah sakit. Kerabat dan rekan yang silih berganti datang menyumbang sekadarnya.
Ayub menghela napas panjang. Ia bangkit dari kursinya, mondar-mandir di hadapan Laksmi. Dalam benaknya, Ayub mengalkulasi uang itu. Uang yang ada, tapi tidak pernah dianggap ada. Lima juta. Itu nominal yang ia terima dari bosnya dalam amplop yang pertama kali ia buka. Ada 25 amplop di laci lemarinya. Dua puluh lima amplop yang tak pernah ia buka. Jika nominalnya kurang lebih setara di tiap amplop, mereka sebenarnya hanya tinggal mencari 25 juta. Oh tidak. Mereka tidak perlu mencari lagi. Sejumlah itulah uang tak bernama sumber yang ia miliki di rekeningnya. Uang yang juga tidak pernah ia sentuh. Keresahan membekap Ayub.
Sorenya, saat mereka mencoba mencari jalan, dokter menunjukkan hasil CT scan terakhir yang menampakkan bahwa si musuh besar, tumor ganas itu, telah membesar 1 cm! Laksmi kembali menangis.
“Laksmi, bagaimana kalau… kuambil saja uang itu?” Ayub berbisik sambil memeluk Laksmi.
“U… uang apa?” di tengah isak tangis, Laksmi mencoba mencerna.
“Semua amplop itu….” Laksmi menggeleng kencang sebelum Ayub menyelesaikan kalimatnya.
“Tapi ini darurat!” Ayub nyaris berteriak.
Laksmi mendorong Ayub menjauh. “Apa jadinya usaha menyembuhkan Arung dengan uang kotor?”
Laksmi merasakan sesak di dadanya. Andai ia punya jalan keluar sendiri, ia bisa menolak mentah-mentah ide Ayub. Tapi, ia tak punya.
Ayub diam saja.
Laksmi tahu persis apa yang akan dikatakan orang lain andai mereka tahu kondisi dan pilihan yang mereka ambil saat ada begitu banyak uang yang mereka terima, tapi tidak digunakan di saat tergenting. Bodoh, naif, dan bisa jadi egois. Arung dapat meninggal seketika dan mereka bergeming demi… sesuatu yang entah harus disebut apa.
Ayub hanya menceritakannya kepada Uda Faisal yang terdiam lama sebelum akhirnya berkata, “Ayub, satu hal yang pasti, seluruh uang di dunia ini tidak akan mampu membeli sesuatu yang kalian miliki itu.” Tapi, Ayub telanjur tenggelam dalam ragu.
Koma
Kapel itu telah senyap. Hosti telah dibagikan setengah jam sebelumnya. Koster sudah menutup separuh pintu depan. Ayub masih berlutut di bangku paling belakang. Sebelum melakukannya, ia berharap diampuni. Sudah jelas ini jalannya, atau setidaknya ia ingin menjadikan ini sebagai satu-satunya jalan. Ia akan mengambil uang itu untuk Arung.
Setelah membuat tanda salib, ia berharap akan keluar dari pintu kapel dengan hati tenang. Tapi, ternyata tidak. Ayub makin gusar.
“Anda baik-baik saja, Pak?” koster bertanya kepada Ayub yang tercenung di depan pintu kapel. Ayub tersentak, lalu menggeleng. “Saya… orang berdosa, Pak.”
Jika tidak sedang buru-buru, barangkali Ayub akan menceritakan semuanya kepada koster itu. Sekadar untuk meredakan gemuruh di dadanya.
“Pak, pintu gereja memang selalu terbuka untuk orang berdosa,” ujar pria itu tersenyum sambil menutup pintu kapel.
Ayub menuruni tangga kapel menuju sepeda motornya dengan perasaan hampa. Gerimis yang turun seakan menggenapkan dinginnya hati. Selembar plastik terjatuh dari dalam tas ketika ia membentangkan jas hujannya. Plastik bungkus roti. Sudah sepekan ia tidak berjualan.
Ayub memperhatikan plastik itu seakan ia baru melihatnya pertama kali. Manna. Bunyi label pada kertas itu. Roti yang turun dari surga, jawaban Tuhan ketika umat-Nya meminta. Pria itu menatap ke langit, membiarkan rintik gerimis berjatuhan di wajahnya, berbaur dengan air matanya yang meleleh. Ayub mencari Tuhan yang sama yang menurunkan manna, ribuan tahun lalu.
“Arung baru tidur lagi,” ujar Laksmi pada suaminya yang baru tiba. Pria itu hanya mengangguk, lalu duduk di seberang ruangan. Lima menit berlalu dalam senyap. Mereka berdialog dengan suara dalam benak masing-masing.
“Aku mau beli sarapan. Kamu mau dibelikan apa?” Ayub berbohong. Ia akan pulang untuk mengambil amplop dan mencairkan dana siluman di rekeningnya. Ia sudah tidak tahan membayangkan bola di kepala Arung yang makin membesar.
“Ayub…,” sekilas, Ayub mendengar suara istrinya terdengar seperti suara mendiang ibunya. Langkah Ayub terhenti. “Aku hanya ingin bilang…,” Laksmi menatap mata suaminya, “Kita sudah belajar tentang bagaimana memilih hal yang benar dibanding melakukan yang mudah. Sekarang saat kamu masih tidak tahu arah, ingatlah siapa itu Ayub. Ada alasan mengapa orang tuamu memilihkan nama itu untukmu.”
Ayub tercekat, tak mengira Laksmi seakan bisa membaca pikirannya. Istrinya itu hanya berujar pelan, tapi di telinga Ayub, suaranya terdengar seperti pekikan yang memekakkan. Ayub, dalam Alkitab, adalah teladan kesabaran atas ujian tak berkesudahan. Di parkiran motor rumah sakit, Ayub mengurungkan niatnya untuk pulang. Barangkali hidupnya memang sudah ditakdirkan untuk dipenuhi masa sulit. Tapi, ia bisa memilih bagaimana cara menghadapinya.
****
Sorenya, Laksmi memeluk Ayub yang berkata bahwa ia menemukan cara baru untuk tetap mendapatkan uang tanpa terlalu lama meninggalkan Arung dan Laksmi. Bu Marta sudah sepakat. Ayub akan menitipkan roti-roti itu ke kafetaria rumah sakit dan kantin-kantin kantor sekitar. Mungkin juga menerima pesanan untuk acara.
Saat itu, Ayub dan Laksmi tidak tahu bahwa di luar dinding rumah sakit, kabar tentang Arung tersebar cepat seperti api menyambar jerami yang dituangi minyak. Malam itu dan beberapa malam setelahnya, Uda Faisal datang ke pasar malam, tapi tidak untuk berjualan. Ia mendatangi tiap pedagang, membawa foto Arung dan fotokopi KTP serta nomor telepon genggam Ayub. Pria itu mengulang cerita yang sama, menjawab tiap pertanyaan, dan dengan santun meyakinkan pedagang yang belum begitu mengenal Ayub.
Bu Marta mengumumkannya di arisan RT, doa-doa lingkungan, di tiap latihan paduan suara gereja, dan menempelkan poster fotokopian sederhana disertai nomor rekening Ayub di papan pengumuman gereja. Teman-teman misdinar Arung menghabiskan dua rim kertas untuk membuat proposal permohonan bantuan dana. Sementara guru dan teman-teman sekolah Arung punya kotak tabungan yang mereka isi tiap hari.
***
“Ibu, Arung nyusahin banyak orang, ya?” Arung menggenggam tangan ibunya. Akhirnya malam itu tiba. Esok harinya, Arung akan dioperasi. Laksmi terkesiap lalu menggeleng kencang. “Arung, begitu banyak orang menyayangimu. Mereka tidak ingin Arung menghadapi penyakit ini sendirian,” Laksmi menggenggam tangan Arung lebih kuat. Dirinya sendiri dikejutkan oleh banyak orang yang datang silih berganti, membawa sumbangan kolektif. Kerabat mereka, para tetangga, guru dan teman-teman sekolah Arung.
Ayub pun terkejut melihat pertambahan saldo rekeningnya. Sudah lama ia tidak memeriksa saldonya. Berbulan-bulan pendapatannya didapat langsung dari tangan-tangan pembeli roti. Kini rekening itu diisi sumbangan dari warga gereja yang kemungkinan besar belum mengenalnya, dan sumbangan dari tangan-tangan pedagang pasar malam yang didatangi Uda Faisal. Ayub menyesal pernah menganggap Tuhan hanya menderanya dan tinggal diam.
Seratus enam puluh lima juta. Air mata Laksmi tak terbendung ketika menyadari bahwa sebagian uang itu tidaklah datang dari kantong orang-orang berada. Laksmi teringat pada kisah dalam Alkitab tentang janda miskin yang memberi dari kekurangan. Pendapatan orang-orang pasar malam tidak besar. Tiga puluh, empat puluh ribu setelah dipotong biaya modal, biaya kebersihan, keamanan, listrik. Mungkin bagi orang lain itu angka yang kecil. Tapi bagi pedagang pasar malam, bisa jadi itu seluruh isi kantongnya saat itu.
***
Ayub tidak sanggup menahan air mata. Ia beringsut menjauh setelah mendoakan Arung bersama Laksmi. “Ibu, setelah operasi, Ibu pasti ada di sebelah Arung, ‘kan?” Arung bertanya. Laksmi melihat bayangan dirinya pada bola mata Arung. Ia mengangguk, “Pasti, Nak. Pasti….”
Begitu banyak hal yang ingin diucap Laksmi pada Arung. Bahwa ia menyayangi putra satu-satunya itu, dan ingin minta maaf karena belum bisa membelikan play station yang diinginkan Arung. Juga belum bisa mengajaknya naik kuda ke Gunung Bromo. Selepas lorong terjal dan sempit itu, ia ingin kembali bekerja kantoran agar dapat membawa keluarganya berlibur ke mana pun Arung mau.
“Arung, kata dokter, penyebab sakit Arung ini tidak diketahui. Tapi, Ibu menamainya anugerah. Tuhan memilih Arung karena Arung pasti kuat.”
Itu saja yang mampu dirangkum Laksmi dari lapis demi lapis perasaan dan pikiran di kepala dan hatinya. Arung mengangguk. Laksmi melepaskan genggaman tangannya seakan itu hal paling berani yang pernah ia lakukan.
***
Sejak awal, dokter sudah berulang kali mengingatkan bahwa tumor di kepala Arung tak bisa diangkat 100%. Lokasinya yang menempel di batang otak membuat tumor itu tersisa setidaknya 30% yang kemudian akan ditangani dengan kemoterapi. Setelah operasi, Arung akan bangun setelah 2x24 jam istirahat total, untuk kemudian diobservasi di ICU.
Pagi di hari kedua setelah operasi, Laksmi sudah siap di sisi tempat Arung berbaring. Ia tidak ingin anaknya membuka mata tanpa ia ada di sana. Perlahan, Laksmi di telinga Arung, memanggil namanya. Satu, dua kali. Tidak ada respons. Hingga malam, kelopak mata Arung belum terbuka. “Mungkin ia masih lelah,” Ayub menenangkan.
Esok harinya, keduanya kembali berdiri di sisi tempat Arung berbaring. Ayub membisikkan doa Bapa Kami di telinga Arung. Lima menit kemudian, dua perawat datang untuk memeriksa Arung. Laksmi tersentak ketika mendengar salah seorang perawat berbisik pada rekannya, “Kok, belum bangun juga, ya?” Keyakinan Laksmi seketika goyah.
Lima hari berlalu, Arung belum juga merespons rangsangan. Laksmi susah payah berupaya menghadirkan keramahan dan energi untuk menyambut orang-orang yang datang mengunjungi dan menanyakan kesehatan Arung.
Setelah semua kejadian yang bahkan tidak pernah muncul dalam mimpi terburuk, ternyata masih ada pukulan yang mengempas mereka ke palung terdalam. Di hari keenam, dokter bedah yang mengoperasi Arung menetapkan status MBO. Mati Batang Otak. Secara medis, Arung telah dinyatakan meninggal dunia.
Laksmi berteriak histeris. Ia menggedor-gedor pintu dan melempar apa pun yang ada dalam jangkauannya. Laksmi merasa dikhianati keyakinannya sendiri! Ia berteriak bahwa dirinya membenci dokter dan Tuhan.
Sekuat tenaga Ayub berusaha memeluk dan menenangkan Laksmi. Sia-sia. Akhirnya ia membiarkan Laksmi kelelahan sendiri dan jatuh terduduk di sudut ruang tunggu sambil menangis. Setengah jam, Ayub hanya duduk di sisinya, menemani. Begitu biasanya hingga semua mereda. Istri yang biasa melindunginya, kini tumbang dan karam. Ia yang harus ganti menjadi sandaran.
Tiga perawat baru saja berlari melintasi lorong di hadapan Laksmi dan Ayub, mendorong tabung oksigen. Sebelumnya, seorang anggota keluarga pasien yang panik baru membunyikan bel dan berteriak, ibunya tidak dapat bernapas. Mereka tidak seorang diri menunggui orang tercinta yang sewaktu-waktu dapat direnggut maut.
“Apakah kita hanya mau menerima yang baik dari Tuhan, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Ayub berucap lirih.
Laksmi menoleh. Penglihatannya masih terhalang air mata. Ikat rambutnya lepas entah ke mana.
“Itu perkataan Ayub pada istrinya, di Alkitab. Kamu sendiri yang mengingatkanku tentang arti namaku.” Ayub meraih tangan Laksmi yang masih enggan membalas.
“Tuhan, pemilik hidup yang menentukan hidup mati seseorang. Kita akan terus berusaha selama jantungnya masih berdetak.”
Ayub menarik dan mendekatkan tangan Laksmi ke dadanya. Laksmi masih tidak merespons apa pun, tapi menyimpan perkataan Ayub di hatinya. Keduanya terjaga hingga pagi, berharap ada keajaiban terjadi.
Laksmi membuka mata ketika Ayub menepuk-nepuk pundaknya. Dokter saraf dan dokter anestesi menolak menandatangani surat penetapan status MBO. Status itu dicabut. Kali itu, Ayub yang ganti menangis.
Hari itu adalah hari pertama masa Advent, masa penantian. Keduanya juga memasuki masa penantian yang tidak diketahui di mana ujungnya. Ayub lebih sering tidak berada di rumah sakit. Ia mengantar dan mengambil sisa roti dari tempat-tempat titipan, sekaligus mengantar proposal yang juga ia buat sendiri. Beberapa langsung membantu tanpa menunggu penjelasan panjang, sementara sebagian lain bertanya-tanya mengapa ia berhenti dari pekerjaannya saat belum punya pegangan lain. Saat itu Ayub memang belum melamar pekerjaan lagi. Jika sudah diterima bekerja, ia khawatir tidak dapat menemani ataupun menggantikan Laksmi menjaga Arung.
Bantuan terus mengalir ke rekeningnya. Tak jarang dari orang-orang yang tidak mengenal ataupun dikenalnya. Tiap hari, biaya perawatan Arung di ICU butuh setidaknya lima juta. Setelah ribuan tahun, Ayub merasakan, Tuhan masih membuat keajaiban. Saldo di rekeningnya tidak pernah kurang dari angka itu, meski tiap hari sejumlah dana ditarik.
Laksmi kemudian tahu bahwa tiap kali ia menangis sedih, pernapasan, detak jantung, dan tekanan darah Arung terdeteksi melemah. Di saat-saat itu, biasanya kadar hemoglobinnya turun, sehingga Arung harus menjalani transfusi darah. Laksmi tidak tega. Namun, di sisi lain itu menjadi penanda bahwa Arung masih ada dan merasakan kesedihan ibunya. Arung masih ada.
Yang Datang dan Pergi
Ruang perawatan intensif itu seperti miniatur kehidupan. Tiap hari penghuninya selalu berubah, silih berganti keluar masuk. Baik keluar karena kondisinya sudah membaik, ataupun yang dipanggil Pemilik Kehidupan. Tiap hari menyaksikan kematian membuat Laksmi dan Ayub mulai menerima sisi lain kematian sebagai jalan paling alami manusia, seperti juga kelahiran seorang bayi ke dunia.
Laksmi memperhatikan pohon Natal besar dengan kerlap-kerlip lampu warna- warni di dekat meja penerima tamu rumah sakit. Jika Arung sehat, ia pasti sudah minta foto bersama pohon itu. Ia mencintai Natal lebih dari ia menantikan hari ulang tahunnya sendiri. Laksmi berjalan lambat-lambat di sepanjang lorong rumah sakit yang dihiasi lampion Natal hijau merah.
Saat itu hari ke-25. Respons Arung berangsur membaik. Sepekan terakhir ia sudah tak pernah menjalani transfusi darah. Tangannya sesekali bisa bergerak tiap kali Laksmi menyentuh dan memanggil namanya. Kakinya bahkan sesekali bergerak tiap kali Laksmi memperdengarkan lagu-lagu Natal kesukaannya, dekat ke telinga Arung. Laksmi sudah membelikan playstation sebagai hadiah Natal Arung, hasil ia mengerjakan terjemahan sambil menunggui Arung di rumah sakit.
Seperti malam tahun baru, di malam Natal mereka bertiga biasanya terjaga hingga pagi. Laksmi memasak nasi goreng spesial dan minuman cokelat hangat. Mereka berdoa bersama di depan pohon Natal dan miniatur bayi Yesus, nonton film ditemani kacang mete dan kue putri salju, lalu tidur berpelukan di depan TV.
Natal kali itu, pohon Natal mereka masih tersimpan dalam kardus. Ayub dan Laksmi memutuskan bergantian menghadiri misa malam Natal, lalu menghabiskan malam dengan menginap di ruang tunggu rumah sakit. Mereka hanya ingin berada sedekat mungkin dengan Arung. Keduanya memprediksi dan berharap, tahun baru mata Arung sudah terbuka.
Namun, pukul 02.05 dini hari, mendadak perawat datang berlari memanggil Ayub dan Laksmi untuk segera datang ke ICU. Di sana, Laksmi menyaksikan bagaimana dengan berlinang air mata, dokter jaga dengan sekuat tenaga berusaha memompa dada Arung agar ia kembali bernapas. Tapi, tidak terjadi apa-apa.
Ayub mendekap Laksmi lebih rapat, tapi anehnya, Laksmi merasakan ketenangan melingkupi dadanya. Perlahan Laksmi mendekat dan berbisik ke telinga Arung, “Arung, Ibu dan Ayah sudah siap kalau ini waktunya Arung pergi. Tuhan lebih sayang sama Arung. Nanti kita ketemu lagi, ya….”
Isak tangis menyela senyap.
Segenap perawat dan keluarga pasien lain di ICU menangis ketika dokter jaga akhirnya melepaskan tangannya dari dada Arung. Anak laki-laki itu telah menjadi anak dan adik semua orang.
Setelah genap 30 hari dinantikan, Arung pergi di hari Natal. Saat semua orang berkumpul bersama keluarga, selamanya Laksmi dan Ayub akan mengenang hari itu sebagai momen kehilangan anggota keluarga.
Sebelum peti ditutup, tetangga dan orang-orang pasar malam berduyun-duyun datang tanpa putus ke rumah kontrakan Ayub yang sempit. Para ibu membawa semuanya: gula, kopi, kue bolu, nasi, air mineral, sayur matang. Laksmi tidak diizinkan sibuk di dapur. Hati Laksmi lapang dan tenang. Air mata yang ia teteskan bukan kesedihan, melainkan haru.
Di benaknya, wanita itu masih terus berusaha berdamai dengan semua pertanyaan ‘mengapa’. Namun, Arung telah mengajarkan begitu banyak cara untuk ikhlas, sehingga akhirnya yang bisa dipikirkan Laksmi adalah sebanyak mungkin cara untuk menempuh jalan-jalan kebaikan agar mereka bertiga dapat kembali berkumpul di tempat lain, nanti. Kehilangan nyaris segalanya tak hanya menggenapkan salib hidup, tapi juga kepasrahan ia dan Ayub pada Pemilik Semesta.
***
“Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil…,” ucap Ayub kepada Laksmi, seraya menaikkan kotak kardus terakhir ke atas mobil boks. “Kutipan lain dari Kitab Ayub,” lanjut Ayub saat Laksmi memandangnya. Laksmi tersenyum sambil menutup sebuah kardus berisi mainan Arung. Mereka berencana memberikan isi kardus itu ke seorang pedagang pasar malam, pedagang keripik, yang anaknya setahun lebih kecil dari Arung, dan dua anaknya lain yang lebih kecil.
Sebuah panggilan wawancara tahap akhir tiba tepat setelah hari ke-40 kepergian Arung. Dalam hati, Laksmi sesekali masih bertanya-tanya mengapa panggilan itu lama sekali baru tiba. Seakan semua kesempatan ditangguhkan sebelum mereka selesai menyusuri lorong gelap dan kehilangan itu.
Perusahaan yang memanggil Ayub terkenal dengan reputasi transparan dan karier cemerlang. Tapi dengan sopan, Ayub menolak hadir. Meski hasilnya tak sepasti gaji kantoran, Ayub jatuh cinta pada pasang surut pendapatan berdagang. Rupanya, beberapa pesanan muncul setelah ia menitipkan roti ke beberapa kafetaria. Sebuah kantor memesan 300 roti tiap hari sebagai sarapan pagi pegawai mereka.
Andai saja pemilik rumah kontrakan tempat mereka tinggal tidak berencana menjual rumah itu, Ayub dan Laksmi barangkali akan terus tinggal di sana hingga waktu lama. Sulit untuk pindah dari tempat yang orang-orangnya sudah seperti kerabat itu.
Setahun berselang, tanah-tanah kosong tempat pasar malam biasa digelar lama kelamaan menyempit, digantikan perumahan-perumahan berpagar tinggi yang tak mengizinkan sembarang pedagang masuk. Makin lama, area pasar malam makin jauh ke pinggir kota. Beberapa tetangga memutuskan pindah mendekati area mereka berdagang.
Bu Marta pun pindah ke sebuah rumah toko agar dapat menampung lebih banyak oven baru demi memenuhi pesanan. Sebagian besar adalah pesanan rekanan Ayub. Uda Faisal tetap mengejar pasar malam yang masih ada, dan sebagian pasar pagi, masih berdagang untuk hal yang katanya lebih penting dari uang.
Di akhir pekan, Ayub dan Laksmi akan selalu kembali ke keriuhan pasar malam untuk membeli banyak benda.
Pada dasarnya, mereka memenuhi hampir semua kebutuhan mereka dari pasar malam, dari sayur hingga perabot. Kurang lebih begitu cara mereka berterima kasih atas kebaikan tak tanggung-tanggung yang pernah mereka terima. Tiap kali kembali, mereka akan menghabiskan berjam-jam untuk bicara dan mengenang suatu masa saat hidup mereka bergantung sepenuhnya pada keriuhan pasar malam.
(Tamat)
***
Lucia Priandarini
Lucia Priandarini


