
Kisah sebelumnya <<<
Arung tidak tahu bahwa tangan Laksmi bergetar saat melambai padanya, pagi itu di gerbang sekolah. Pagi itu Arung mengeluh pusing, tapi menggeleng saat ibunya menawarinya untuk tidak masuk sekolah. Tidak biasanya Arung diantar lengkap oleh ayah-ibunya. Ayub, yang wajahnya selalu serupa akuarium, tidak dapat menyembunyikan kegugupannya. Ia menundukkan kepala dan memandang ke arah lain saat menerima helm yang sebelumnya dikenakan Arung.
Di kepalanya, Ayub merasa seperti ada sekawanan semut berkerumun dan membuat gaduh. Berjualan! Seumur hidup, Ayub tidak ingat pernah menjual satu pun benda kepada siapa pun. Kakeknya guru sekolah rakyat, bapaknya adalah guru sekolah menengah. Seumur hidup mereka hanya kenal satu sumber pendapatan: gaji yang didapat tiap bulan hingga pensiun. Tidak kenal untung rugi, omzet, neraca, apalagi proyeksi.
Berjualan, bagi Ayub serupa ajakan untuk menyeberang jurang dengan bergelayutan pada seutas tali, tanpa kepastian akan tiba ke seberang, atau adakah yang akan menangkap ketika ia tergelincir jatuh. Namun, terus bersandar hidup pada Laksmi juga tidak kalah buruk. Selama menganggur Ayub merasa hanya duduk diam di dasar jurang dan membiarkan istri dan anaknya berjalan memutar mencari seutas tali untuk naik ke atas tebing. Ayub mencuri pandang pada istrinya yang tengah menatap ke arah lain. Apakah ia sedang… tersenyum? Ayub bertanya dalam hati.
Laksmi tampak senang, seperti biasa. Sementara Ayub seperti sedang merasakan debaran jantung yang setara detik menjelang sidang skripsi. Oh tentu saja, Laksmi terbiasa membantu menakar beras dan kopi, menerima pembayaran dan memberikan kembalian. Toko kelontong keluarga Laksmi di pasar besar tidak pernah sepi pembeli. Ayub berdialog dengan dirinya sendiri.
Ayub tidak tahu, ingatan Laksmi sebenarnya sedang singgah pada potongan kupon segi empat warna putih dengan pinggiran merah. Kupon-kupon itu, pada suatu masa, selalu ia kantongi sambil melangkah keluar dari toko buku. Di kurun waktu saat usianya tujuh hingga sebelas, setidaknya sebulan sekali, bapaknya mengajaknya ke toko buku. Ia boleh memilih dua buku apa saja untuk dibeli. Saat itu selalu dinanti-nanti Laksmi. Bukan saja karena bukunya, tetapi juga karena potongan kupon yang didapat di tiap pembelian buku.
Tiap tahun, kupon itu diundi. Ada tiga pemenang yang kemudian mendapat hadiah berbeda. Lima puluh pemenang sisanya mendapat hadiah hiburan, payung atau tas. Tetapi, ada satu hadiah yang selalu ada: sepeda gunung. Sepeda yang selalu diinginkan Laksmi. Sebenarnya ia sudah punya sepeda. Sepeda usang bekas bapaknya saat masih remaja. Tapi, Laksmi ingin yang modelnya lebih trendi, sama seperti milik teman-temannya.
Ia menantikan tanggal pengumuman pemenang tiap tahun seperti menanti hari ulang tahunnya. Tetapi, kali itu, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, hingga 50 nama pemenang hiburan yang ditelusurinya, tak ada nama sang bapak. Laksmi kecewa. Ia tak ingat punya teman yang keluarganya lebih rajin dari mereka dalam hal mengunjungi toko buku. Dan, kalaupun ke toko buku, sering akhirnya mereka tak jadi membeli buku, tapi membeli perlengkapan lain seperti alat tulis.
Hari itu, usai makan malam, saat duduk di kursi panjang di teras rumah, sambil menyandarkan kepala di pundak bapaknya, Laksmi bertanya, “Kenapa, ya, Laksmi enggak pernah menang undian?" Laksmi merasakan telapak tangan bapaknya yang kasar, menggenggam tangannya. Tangan pria yang tidak jarang ikut menurunkan karung-karung beras dari truk, masuk ke gudang tokonya. "Laksmi, kamu harus ingat. Dalam sejarah keluarga kita, tidak ada yang mendadak makmur karena menang undian. Semua didapat dengan kerja keras…."
Saat itu usia Laksmi sebelas. Ia berhenti mengisi kupon undian, tapi tidak pernah berhenti menggenggam erat perkataan bapaknya. Kata-kata yang selalu ia putar kembali tiap ia berpikir untuk berhenti berusaha. Senyum Laksmi makin mengembang saat ia membenahi letak helmnya, pagi itu.
Seketika, dari sudut pandangannya, Laksmi menangkap lengkungan indah di langit. “Ayub! Lihat itu! Pelangi!” Laksmi memekik. Ayub melihat Laksmi melalui kaca spionnya, lalu melirik ke arah yang dituju.
Pelangi. Semua tentang pelangi mengingatkan mereka pada masa sekolah dan lagu-lagu gereja. Guru sekolah minggu Ayub pernah berkata, pelangi adalah busur panah Tuhan, janji bahwa Ia tidak akan meninggalkan manusia. Tiap kali melihat pelangi, Ayub kecil tertawa lepas dan melompat-lompat. Kini ingatan itu membuat wajahnya sedikit lebih cerah, meski jantungnya masih berdebar.
Debaran itu makin kencang saat mereka tiba di tempat yang dituju: stasiun. Selain menjajakan roti dari kompleks ke kompleks rumah dan pasar malam, para pedagang roti Bu Marta biasanya akan mangkal di stasiun. Beberapa stasiun di sekitar kontrakan rumah mereka telah menjadi tempat langganan mereka berjualan. Laksmi dan Ayub mau tak mau harus berjualan di stasiun yang lebih jauh, di Serpong.
Stasiun Serpong sebenarnya bukanlah stasiun yang ideal untuk berjualan. Selain saat itu stasiun tersebut masih terhitung baru, tidak banyak perumahan kelas menengah di sekitarnya. Tidak seperti stasiun-stasiun setelah dan sebelumnya. Penumpang-penumpang yang turun naik di sana hampir pasti lebih memilih untuk sarapan sepiring nasi seharga tujuh ribu daripada dua bungkus roti dengan harga sama.
Laksmi memikirkannya sambil menurunkan kotak roti dengan hati-hati. “Ayub, bagaimana kalau kita menjual roti ini lebih cepat, tapi dengan keuntungan lebih sedikit?” Ayub yang sedang menghitung recehan yang disiapkan untuk kembalian, menatap istrinya. “Maksudnya?”
“Biasanya roti ini dijual 3.500. Nah… bagaimana kalau kita jual sepuluh ribu tiga saja?” ujar Laksmi, setelah mengalkulasi angka-angka di kepalanya dengan cepat. Tentu saja itu mengurangi jumlah uang yang dapat mereka bawa pulang. Laksmi sudah khawatir Ayub tak akan setuju. Tapi pria itu dengan cepat melepaskan recehan yang tadi dihitungnya dari genggaman ke dalam tas pinggangnya, “Ok… Lebih mudah juga untuk memberikan kembalian.”
Berdua mereka membawa dua kotak penuh roti ke jalan keluar penumpang. Masing-masing kotak plastik tebal seukuran dua kali kardus mi instan. Kotak pinjaman dari Bu Marta yang harus mereka jaga baik-baik. Hanya ada dua pedagang kaki lima selain jajaran lapak semipermanen. Tetapi tidak ada tempat teduh untuk menempatkan dua kotak roti dagangan mereka.
Kalaupun ada area teduh, itu adalah teras lapak semipermanen milik orang. Laksmi menempatkan roti-roti cokelat dan krim yang mudah lumer di kotak kedua di bawah, sambil berharap panas matahari tidak merusak penampilan roti-roti itu.
Kereta pertama setelah pukul 7 hampir tiba. Kaki-kaki calon penumpang berjalan bergegas dengan wajah-wajah menatap ke depan. Pandangan mata yang isi-isi kepalanya sedang berpikir, bukan yang sedang berniat memperhatikan sekitar. Saat menyadari itu, Laksmi baru berpikir untuk membuat penanda, entah papan atau karton, untuk memberi tahu penumpang yang lewat, bahwa mereka sedang menjual aneka roti. Tapi, pagi itu mereka harus mengandalkan suara mereka.
“Roti, Bu, sepuluh ribu tiga. Ada rasa cokelat, keju, sosis, kacang, abon, selai. Silakan dipilih,” Laksmi bersuara nyaring. Ayub hanya berdiri di sisi kotak roti sambil memperhatikan orang lalu-lalang. Raut wajahnya tegang. Laksmi mengulang kalimat-kalimat yang ia ucapkan dengan berbagai variasi. Sebagian besar tidak melirik, beberapa orang menoleh, satu dua melongok ke dalam kotak roti, tapi hingga penumpang terakhir melintas, belum ada yang membeli roti mereka.
Laksmi dan Ayub saling pandang tanpa suara. Laksmi tersenyum tipis sambil mengambil napas panjang. Ia sudah mengunduh jadwal kereta jalur Serpong terbaru. Ada tiga lagi kereta yang akan datang sebelum pukul 9.00. Selepas jam itu, roti mereka sudah harus diungsikan jika tidak ingin rusak karena panas sinar matahari. Lagi pula, setelah jam itu sudah tidak banyak penumpang yang naik.
Ayub terdiam memikirkan situasi yang sedang ia hadapi. Mereka sudah memberikan 250.000 kepada Bu Marta sebagai deposit. Itu uang Laksmi, pendapatannya mengerjakan terjemahan, dua pekan lalu. Jika tak laku, bagaimana ia dapat mengembalikan uang itu? Dan akan dikemanakan 80 roti ini? Ayub gamang.
Beberapa detik kemudian Ayub terkejut ketika ada tangan dengan tampilan serupa terulur mengambil salah satu rotinya, lalu meraih roti lain lagi. Kepala Ayub mendongak. Seorang wanita tua sedang memilih-milih roti dagangan mereka. Laksmi sedang pergi ke kamar kecil. Ayub harus menghadapinya seorang diri.
Topinya yang lusuh menutupi wajah perempuan yang penuh gurat keriput itu. Warna kaus birunya sudah pudar di bagian leher. Satu, dua, tiga. Wanita itu memisahkan roti pilihannya dan memberikannya pada Ayub. “Untuk anak-anak di rumah. Sepuluh ribu tiga, ‘kan?” ia bertanya. Suaranya serak dan dalam. Ayub hanya mengangguk. Rupanya wanita itu dari tadi telah mendengar suara Laksmi menjajakan roti.
Satu roti keju dan dua roti stroberi. Ayub mengambil roti-roti itu, sementara tangan kirinya menggapai-gapai ke dalam tasnya, meraih sehelai kantong kresek putih. Ayub memperhatikan wanita itu mengeluarkan lima lembar dua ribuan usang satu per satu dari saku celana kotak-kotaknya. Transaksi itu berlangsung dalam diam. Ayub terlalu malu berujar, sementara si pembeli pun tampak tak berniat membuka suara. Ayub menatap takjub lembaran uang yang diangsurkan si wanita ke tangannya.
Wanita itu berlalu sambil membawa kantong berisi roti dengan hati-hati dengan tangan kanannya, seakan-akan roti-roti itu serupa telur yang rentan pecah. Ayub memperhatikan wanita itu memanggul sebuah karung besar pada punggung dan menyangganya dengan tangan kiri. Isinya penuh gelas dan botol plastik bekas air minum kemasan. Pembeli pertama dagangan mereka ternyata adalah seorang pemulung.
Untung Seribu
Ketika tiba di ujung jalan, Ayub mendekap kembali kata-kata yang telah ia putar ulang sepanjang siang tadi. Bahwa orang-orang pasar malam akan selalu menerimanya asal ia berbeda. Asal ia menawarkan dagangan yang lain dari yang sudah ada. Orang-orang pasar malam hidup dari perbedaan dan karenanya selalu merayakan ketidaksamaan.
Tadi pagi di stasiun, roti dagangan Laksmi dan Ayub terjual 20 dari 80 bungkus. Sesuai rencana, jika roti itu tidak terjual hingga setengahnya di pagi hari, maka mereka akan mencoba menjualnya di pasar malam. Laksmi sudah mencatat nama-nama dan lokasi pasar malam tempat rekan Bu Marta menjual roti-rotinya. Ia dan Ayub tidak akan menjual roti di sana.
Dari tetangga sebelahnya yang selalu berangkat menjelang senja itu, Laksmi sudah punya daftar tujuh pasar malam lain tak jauh dari tempat tinggal mereka. Ternyata pasar malam digelar di tempat berbeda pada hari yang berbeda-beda juga. Hari Senin di lapangan Perumahan Alamanda, Selasa di dekat Stasiun Bintaro, Rabu di jalan masuk Perumahan Puri Laksana, Kamis di lapangan bola belakang Masjid Ar-Rahmah, Jumat di lapangan belakang SD Pembangunan, Sabtu di area samping puskesmas, dan Minggu di lapangan seberang pasar besar.
Laksmi memandangi kertas dengan daftar nama pasar itu dengan takjub seperti anak SD menatap rapor sekolahnya yang penuh angka 9. Sementara wajah Ayub seperti biasa, tegang. Mereka sudah membicarakannya. Hanya Ayub yang akan berjualan di pasar malam karena tentu saja Laksmi harus mendampingi Arung belajar di rumah. Lagi pula, Arung makin sering mengeluh kepalanya pusing.
Perlahan Ayub turun dari sepeda motornya yang penuh muatan, lalu berjalan menuntun motor bebeknya dengan canggung, bergabung dengan kelompok-kelompok manusia yang melangkahkan kaki melintasi jajaran lapak. Di depannya, berjalan sepasang laki-laki dan perempuan dengan balita yang sudah terlalu berat dibawa dalam gendongan usang. Kepalanya doyong ke kanan kiri, mengantuk.
Lambat-lambat, mata Ayub menelusuri deretan dagangan di sisi kanannya. Jajaran pakaian dalam dan kaos kaki dengan gantungan tulisan ‘Rp10.000’, gelas-gelas plastik pendek berisi jagung pipil yang dituangi susu cair, buku-buku Iqro’ dan buku mewarnai. Tatapannya lalu perlahan merangkak naik ke mata para pedagang di belakang tiap lapak. Ia mencari sesuatu, entah apa dalam mata mereka. Sesuatu yang bisa ia pinjam, tiru, atau ciptakan sendiri. Mungkin bernama harapan.
Makin jauh memasuki keramaian, Ayub makin tersadar bahwa dirinya terlambat. Harusnya ia datang saat ruas jalan itu belum dikepung kerumunan pejalan kaki, calon pembeli. Bahkan mestinya ia datang sebelum para pedagang lain membentangkan lapak dan tenda. Namun, sore tadi kekhawatiran berhasil menyekapnya cukup lama.
Makin dipikirkan, Ayub makin menyadari bahwa ia, sarjana, akan berada pada derajat yang sama dengan para pedagang itu. Menggelar dagangan, dengan dua kemungkinan: berhasil atau tidak, tanpa jaminan apa pun peluang pertama akan terjadi. Bagaimana jika tak laku? Apa yang harus ia katakan pada Laksmi? Dan berapa untung yang ia dapatkan untuk tiap roti yang terjual? Seribu rupiah. Total 104 ribu rupiah jika 80 roti terjual semuanya. Itu sebelum dipotong biaya lain yang belum mereka perkirakan. Angka itu serupa recehan dibanding gaji, apalagi isi amplop-amplop yang pernah diterimanya.
Hanya wajah Laksmi dan Arung yang membuat Ayub terus menuntun sepeda motornya. Kini matanya dengan sigap mencari celah. Ia hanya butuh sebuah area yang tidak luas. Barangkali cukup satu rentangan tangan. Beberapa menit kemudian, langkahnya terhenti di seberang sebuah sekolah berpagar hijau. Ada sepetak tanah lowong, semeter dari dekat pintu pagar.
Beberapa langkah dari pintu itu, tergelar lapak panjang berisi tumpukan sepatu dan sandal tak beraturan. Seorang pria berkemeja biru duduk di belakang jajaran sepatu, di bawah temaram lampu. “Sandalnya…dua puluh ribuan…,” kata pria itu tiap kali ada yang melintas.
Jantung Ayub berdegup kencang ketika tangannya menggerakkan kemudi motornya mendekat, seperti sedang meniti sebuah jembatan menyeberang jembatan rapuh. Sesampai di sisi lapak sepatu, dengan suara parau dan bergetar, Ayub bertanya, "Uda, boleh saya jualan di sini?" sambil menunjuk area kosong di depannya.
Si pria kemeja biru menoleh, sejenak menatap Ayub, lalu melongok roti yang menyembul dari kotak yang dibawanya di atas sepeda motor. Kemudian matanya kembali menatap Ayub yang terlihat betul sedang menanti, antara harap dan putus asa. Sedetik, dua detik… Ayub hampir tak percaya ketika akhirnya pria yang dipanggilnya ‘uda’ itu mengangguk singkat. "Biasanya ini tempat pedagang siomay. Tapi ini sudah minggu ketiga dia enggak datang," ucap penjual sandal.
Ayub hanya mengangguk kikuk. "Nanti kalau dia datang, geser saja, ya," katanya lagi. Ayub mengangguk kembali sambil memarkir sepeda motornya, lalu membuka tali penahan dua kotak roti. Ia merapatkan kotak rotinya ke sisi lapak sandal, demi mendapat sedikit cahaya dari salah satu bohlam lampu si pedagang.
Ayub menata roti dengan rapi. Terlalu rapi. Lima baris dengan enam roti di tiap deretnya. Tiga puluh roti di atas nampan. Di dalam kotak, masih ada 30 bungkus roti lagi. Perlahan, ia lalu mengeluarkan selembar kertas karton seukuran A3. Di atasnya, ada tulisan Laksmi dengan spidol besar: ‘Beli 3 Rp10.000’.
Ayub belum sempat mengeluarkan kantong plastik wadah roti ketika seorang ibu yang menggendong dan menggandeng dua anaknya mendekat dan menyisihkan tiga, kemudian enam roti. “Dua puluh ribu, ‘kan?” ucapnya, sambil mengeluarkan dua lembar sepuluh ribuan yang dilipat empat dari kantong celananya. Ayub tergagap, “I… iya.”
Seorang bapak dengan balita di pundaknya mendekat, bersamaan dengan dua remaja perempuan yang kemudian segera memilih tiga roti pizza. Penuh keheranan dan takjub, Ayub meraih kantong demi kantong plastik dan sibuk menerima uang. Lima menit kemudian seorang pria berseragam hansip dan dua pria bertopi datang meminta uang retribusi kebersihan dan keamanan, masing-masing 10.000 rupiah. Ayub sempat menoleh pada sang pedagang sandal yang kemudian mengangguk mengiyakan.
Setengah jam kemudian, dua roti terakhir ia jual dengan harga tujuh ribu kepada seorang anak muda bertopi yang kembali untuk membeli roti sosis lagi. Enak, katanya. Ayub merasakan matanya berair. Pria itu tak menyangka bisa menghidupi keluarganya dari berjualan. Hasilnya tentu tak seberapa dibanding gajinya, tapi setidaknya Laksmi dan Arung tidak akan kelaparan.
***
Orang-orang pasar malam menerima alur hidup mereka yang tidak seperti orang kebanyakan. Mereka baru akan tidur meringkuk pada dini hari, bangun menjelang siang, dan baru mulai membentangkan tenda saat sebagian besar orang akan mengakhiri hari. Mereka bekerja lebih keras di akhir pekan dan baru melonggarkan ikat pinggang sejenak di hari Senin.
Pasar malam tiap hari berpindah, tapi sebagian pedagangnya adalah orang-orang yang sama. Setelah Uda Faisal, nama si pedagang sandal, berkata, “Sampai jumpa minggu depan,” kepada Ayub terakhir mereka bertemu, tiga hari kemudian ternyata mereka bertemu dan berdagang bersisian lagi di pasar malam dekat stasiun.
Keduanya berjabat tangan seperti kawan lama. Pasar mulai sepi dan dagangan Ayub tinggal lima roti ketika Faisal duduk di sebelah Ayub, berujar setengah berbisik, “Berdagang adalah hobi saya.”
“Hobi?” Ayub takjub. Baginya, berdagang adalah pilihan terakhir yang terpaksa ia ambil. “Di dunia ini ada banyak hal yang lebih penting daripada uang, ‘kan?” Uda Faisal tersenyum. Tentu saja, kata Ayub dalam hati, justru uanglah yang menjadi alasan ia keluar dari kantornya.
Jarum jam menuju angka sepuluh saat Ayub mengemasi kotaknya yang tinggal berisi dua roti yang tidak kunjung terjual. Dalam perjalanan pulang, Ayub sesekali tersenyum mengingat kisah Uda Faisal yang ternyata adalah seorang manajer di perusahaan multinasional. Gajinya tentu tidak kurang untuk membuka toko di pusat perbelanjaan besar. Ia menyebut pasar malam adalah ‘kegembiraan tanpa kewajiban’.
Saat berhenti sebelum lampu merah dalam perjalanan pulang, Ayub melihat Sapto, tunanetra bertongkat, hendak menyeberang jalan. Seketika ia melompat turun dari motornya dan mengundang pria itu naik untuk mengantarnya pulang. Ini kedua kalinya mereka bertemu tak sengaja di perempatan yang sama. Sapto pulang sehabis memijat di rumah sebuah keluarga langganannya.
Di kali kedua itu, Ayub sudah hafal belokan-belokan gang sempit menuju rumah Sapto. Rumah kontrakan bedeng sempit yang hanya terdiri dari satu ruangan yang dihuni lima pria, semuanya tunanetra. Mereka mendirikan sebuah grup orkes keliling yang terkadang juga pentas di pasar malam, malam Minggu, jika sedang tidak ada panggilan untuk menghibur di resepsi pernikahan. “Apa pun, asal tidak mengemis, Bang,” Sapto tertawa sambil turun dari motor, memperlihatkan deretan giginya yang tidak rata. Seketika Ayub merasa malu pernah putus asa.
***
Laksmi membaca kembali surat itu, meletakkannya, kemudian ganti Ayub yang membaca kemudian menaruh surat itu lagi di meja makan. Dilihat berapa kali pun, angka yang tertera di sana tetap sama: 400.000. Arung memerlukan uang sejumlah itu untuk wisata edukasi akhir tahun ajaran sekolah, bulan depan.
Seribu adalah keuntungan bersih yang mereka dapat dari menjual satu roti. Itulah satuan yang mereka gunakan selama dua bulan terakhir untuk menghitung kebutuhan sekaligus target penjualan. Dua puluh ribu untuk makan sehari untuk bertiga. Berarti makan mereka sehari akan tercukupi setelah menjual 20 roti. Dalam sehari, rata-rata ada sekitar 80 roti terjual. Empat puluh roti di stasiun, pagi hari, dan 40 sisanya di pasar malam. Bagaimana jika yang dibutuhkan 400 ribu? Itu berarti hasil penjualan selama 5 hari, sebelum dikurangi ongkos bensin dan uang belanja harian.
Demi mendapatkan dana wisata Arung, Laksmi dan Ayub berencana datang lebih pagi ke stasiun dan menambah jumlah roti yang mereka jual. Namun, kabar yang tidak ditunggu itu tersiar. Stasiun akan disterilkan dari pedagang. Para pedagang lapak sudah mengemasi barang-barangnya. Kabar itu ditegaskan dengan berita resmi di televisi dan koran.
Dua hari kemudian, mereka tiba di suatu pagi, saat lapak-lapak semipermanen mendadak sudah rata dengan tanah. Belasan petugas keamanan bersenjata berjaga di pintu stasiun. Tanpa sempat memarkir sepeda motornya, Laksmi dan Ayub bergegas pulang sambil membawa dua kotak yang masih penuh 80 roti. Ayub berjanji untuk menjual seluruh roti itu malam harinya.
Namun sore itu, mendung bersemayam di langit, makin pekat hingga sebentar kemudian Laksmi mendengar atap seng di atas dapurnya beradu dengan tetes air hujan. Hujan adalah serupa lampu merah yang sia-sia diterobos. Tidak ada yang akan berangkat berdagang saat hujan. Tidak ada juga yang akan keluar rumah untuk membeli apa pun di pasar malam. Laksmi memperhatikan Ayub yang menyibak tirai rumah dengan gusar, memperhatikan tetesan air yang melompat-lompat di jalanan.
Sementara, Arung keluar dari kamar, bangun dari tidur siangnya, dengan girang melompat-lompat melihat bapaknya tidak keluar rumah di sore hari, tidak seperti biasa. Seketika Ayub mencoba menelan lenyap gundahnya. Senja tiba, lalu Ayub berusaha memusatkan pikirannya mendampingi Arung mengerjakan PR matematikanya. Satu jam kemudian, Arung kembali mengeluh kepalanya pening. Laksmi mengernyitkan dahi, lalu mengajaknya tidur.
Sebelum membukakan buku cerita untuk Arung, Ayub kembali menyibak tirai, menatap hujan yang belum juga reda, sambil bergumam resah. Arung memperhatikan, lalu mengucap hal yang terlintas di kepalanya, “Ayah, kenapa kesal? Hujan kan anugerah Tuhan….” Laksmi menggigit bibirnya. Ayub berusaha tersenyum dan mengelus kepala Arung. Setelah mengurai rambutnya, Laksmi teringat untuk memindahkan dua kotak besar penuh 80 roti di ruang tamu agar tidak menempel pada dinding. Saat hujan, retakan dinding atas kadang-kadang bocor dan membuat lantai bawahnya sedikit tergenang.
Bola Ganas
Hujan tidak turun pada hari-hari kemudian. Tetapi pasar malam lebih sepi di bulan puasa. “Lebaran kali ini bersamaan dengan kenaikan kelas dan anak masuk sekolah,” Faisal berujar sambil menata ulang sandal-sandal dan sepatu dagangannya yang belum tersentuh pembeli. Laksmi terdiam. Saat itu malam Minggu, Laksmi dan Arung ikut Ayub berdagang.
Biasanya malam akhir pekan adalah hari tersibuk saat Ayub tidak berhenti mengambilkan roti untuk pembeli. Tapi sepekan terakhir, hampir tiap hari Ayub membawa pulang sekotak penuh 50 roti yang tidak terjual. Bahkan pasar malam di dekat perumahan yang selalu menjadi andalan Ayub dan sebagian besar pedagang karena keramaiannya, saat itu pun tidak seramai sebulan lalu.
Laksmi tersentak ketika Arung yang sejak tadi duduk termenung tiba-tiba berbalik badan, setengah berlari mendekat ke got, kemudian muntah-muntah. Ayub melompat dari kursi lipatnya. Uda Faisal dan pedagang cilok di kanan lapak roti segera berdiri, berebut menawarkan tisu dan kantong plastik. Arung tidak berhenti mengeluarkan isi perutnya hingga setidaknya setengah menit kemudian. “Pusing… pusing…,” katanya lirih, tubuhnya terhuyung-huyung. Ayub menopang dan membawanya duduk di tikar. Uda Faisal kemudian menawarkan mobil baknya untuk mengantar Arung pulang.
“Tidak mungkin kan dia dalam kondisi ini naik motor berimpitan bersama dua kotak besar itu di atas motor?” Uda Faisal tidak bertanya, tapi meyakinkan Laksmi dan Ayub yang jelas tampak cemas. Laksmi sebenarnya sudah lama ingin membawa Arung ke dokter. Ia bukannya tidak menyadari bahwa sudah terlalu sering Arung mengeluh sakit kepala. Tapi belum ada biaya.
Saat itu belum ada jaminan bernama BPJS Kesehatan. Saat Ayub masih bekerja kantoran, ini bukan masalah karena tiap biaya berobat ditanggung perusahaan. Dan mereka bukan tergolong warga miskin. Setidaknya tidak di atas kertas.
Sedetik, Laksmi menyesal menyemangati Ayub untuk keluar dari kantornya. Tapi kemudian ia menggeleng sendiri pada suara di kepalanya. Wanita itu teringat akan uang yang nyaris genap 400 ribu yang sudah ditabungnya 3 pekan terakhir dengan susah payah. Sebagian adalah honor terjemahannya yang akhirnya cair. Dana yang seharusnya dibayarkan untuk wisata edukasi Arung. Tapi Laksmi tahu, putranya tidak akan berangkat ke manapun kalau masih terus-terusan pusing.
“Kita harus memeriksakannya ke dokter,” Laksmi mengomando suaminya. Ayub tampak risau. Laksmi tahu bahwa suaminya lebih kesal pada dirinya sendiri karena tidak sanggup melakukan hal paling mendasar: memenuhi kebutuhan anaknya untuk berobat. “Aku sudah menabung… Sebenarnya untuk wisata Arung. Tapi menurutku ini lebih mendesak,” ia berusaha menghalau keresahan di wajah Ayub. Laksmi, seperti sebagian besar istri, adalah pelindung bagi pria yang dinikahinya.
Cerita selanjutnya >>>>>
***
Lucia Priandarini
Lucia Priandarini


