Fiction
Orang orang Pasar Malam [1]

10 Apr 2016


Bagian 1  2  3

Dunia Kebalikan
Orang-orang itu memulai saat sebagian besar orang berhenti. Pada pekan kedua di bulan Maria jelang tengah tahun, setelah semua isi kotak kardus dari rumah sebelumnya sudah ditata rapi di lemari dan rak-rak, Laksmi baru benar-benar menyadarinya. Tirai jendela tetangga seberang dan kanan kiri baru akan terbuka menjelang pukul 12 siang, saat ia memanasi mesin motornya, hendak menjemput Arung di sekolah.
Tiap pukul empat sore, saat ia menyapu teras, sebagian warga, termasuk pasangan suami istri di rumah sebelah dan anak gadis mereka, barangkali baru berumur empat tahun, pergi meninggalkan rumah bersama mobil boks abu-abu mereka yang penuh barang tertutup terpal biru. Dahi Laksmi berkerut ketika pukul satu dini hari, saat ia mematikan laptopnya, terdengar suara celoteh si anak empat tahun memasuki rumah. Mereka sekeluarga baru tiba, entah dari mana.

Laksmi menahan diri untuk menghakimi. Sebagai penerjemah, ia terbiasa membiarkan hal-hal di hadapannya melintas sebagaimana adanya. Menerjemahkan, bagi Laksmi, adalah cara membantu orang untuk lebih memahami, bukan mengkritik. Pun ketika rangkaian kejadian itu berulang keesokan harinya, dan esok harinya lagi. Begitu seterusnya.

"Bu RT mengundang arisan di siang hari. Hari kerja pula. Apa ibu-ibu itu enggak ada yang ngantor?" Laksmi meletakkan selembar kertas setengah A4 itu di atas kulkas. Ayub menggedikkan bahu. Sejak kepindahan mereka ke perumahan itu, pria itu hanya mengucap beberapa patah kata sekadarnya  tiap kali istrinya mengajak bicara. Ayub sudah memutuskan tak akan suka berada di rumah kontrakan itu, bahkan sebelum mereka tiba di sana. Ia sudah membenci frase ‘rumah kontrakan’ sejak ide itu masih berupa kata pada bibir Laksmi.
Perumahan yang lebih suka disebut Ayub sebagai kampung itu tak terlacak oleh pemindai lokasi di telepon genggamnya. Mereka perlu melintasi satu perumahan mewah dan satu permukiman padat penduduk untuk tiba di sana. Luas rumah kontrakan itu sendiri sebenarnya hanya sebesar ruang tamu di rumah ibunya di desa.
Kamar di belakang sedikit lebih lapang, tapi lebih gelap, tak dapat sinar matahari. Selain dua kamar, hanya ada satu ruangan lain yang mau tak mau berperan sebagai dapur, ruang makan, sekaligus tempat mereka meletakkan mesin cuci. Satu-satunya hal yang sedikit ia suka dari rumah itu hanya kloset jongkoknya. Ayub tak suka kloset duduk. Selebihnya tak ada.

Tadinya, setelah pindah dari rumah mendiang mertuanya yang lapang, Ayub  berangan-angan hanya akan tinggal barang dua tiga tahun di satu rumah kontrakan saja, sembari mengumpulkan dana awal untuk membeli rumah sendiri. Itu setelah habis masa beberapa tahun mereka mendanai biaya berobat sang ibu.
Bulan ke-20 sudah terlampaui di rumah kontrakan sebelumnya. Harusnya saat itu mereka memiliki, bukan menyewa sebuah rumah lagi. Apalagi rumah itu jauh lebih kecil dari rumah kontrakan mereka sebelumnya. Jika semua berjalan normal, harusnya uang muka sudah terkumpul.
Cicilan kredit perumahan akan dibayar dengan gaji Ayub dari perusahaan tempatnya bekerja. Dua tahun terakhir, ia pindah bekerja di sebuah perusahaan yang menjanjikan pendapatan 100% lebih tinggi dibanding sebelumnya. Gaji tinggi itu benar adanya. Ayub berencana bekerja di perusahaan itu hingga pensiun. Tak akan ia membuat surat pengunduran diri lalu pindah ke kantor lain. Selain segala hal baru membuatnya jengah, ia payah dalam beradaptasi.  Rencananya begitu.

***
Iuran arisan di perumahan itu dua puluh ribu rupiah sebulan. Seperempat dari jumlah yang perlu dibayarkan Laksmi pada arisan perumahan sebelumnya. Sajian di kediaman tuan rumah adalah bihun goreng tanpa lauk. Hanya ada kerupuk bulat kecil warna-warni. Acar pun tidak ada. Minumnya teh tawar hangat.
Tetapi arisan pukul 12 siang di hari kerja itu lebih ramai daripada arisan akhir pekan pukul 17 di perumahannya dulu. Laksmi membantu mengedarkan sebuah piring dengan jajaran roti sambil mencuri dengar obrolan dua ibu tentang persiapan kulakan baju koko untuk Lebaran. Oh, jadi sebagian besar warga di sini adalah pedagang, bisik Laksmi dalam hati.
Roti-roti beraneka bentuk dan taburan itu masih hangat. Saat membantu membawa piring-piring bekas makan ke dapur, wanita itu baru tahu bahwa roti-roti itu benar-benar baru keluar dari panggangan. Empat oven kuno berjajar memenuhi ruangan sempit semi-terbuka di bagian belakang rumah. Sebuah mesin pengaduk besar belum dibersihkan dari sisa adonan.
 “Letakkan saja di situ,” kata Bu Marta, tuan rumah. Wanita itu berambut cepak dengan bayi dalam gendongannya, yang tidak bersedia dibantu lebih banyak. Laksmi mengangguk, tapi dalam hati tidak mengiyakan. Ia pernah melihat keluarga ini beberapa baris di depan bangku gereja tempat ia dan Ayub duduk mengikuti misa. Sang ibu jarang keluar rumah. Laksmi senang mendapati rumah mereka ternyata berdekatan.
Seorang gadis kecil berambut keriting diikuti anak lelaki yang lebih kecil kembali menyelinap di sela orang-orang dewasa yang mondar mandir membawa piring kotor dan kemasan bekas air mineral. Rupanya mereka adalah dua dari lima anak Bu Marta.
“Sebenarnya anaknya tiga. Yang dua paling kecil anak dari saudara di kampungnya yang nggak mampu,” seorang tetangga yang baru dikenal Laksmi berbisik. Laksmi terkesima. Kerepotannya mengurus Arung menjadi seperti setipis kertas dibanding kesediaan Bu Marta mengurus dua anak tambahan.
Laksmi menyalakan keran air setelah tuan rumah keluar dari dapur. Perlahan ia mencuci piring-piring kotor dan mengemas tumpukan gelas plastik dalam kantong. Seorang ibu lain datang sambil menyingsingkan lengan bajunya, ikut membantu Laksmi.
 “Aduh, Bu…. Nanti repot!” Bu Marta menyibak tirai yang sekaligus beperan sebagai pintu dapur sambil berujar nyaring, berusaha mengalahkan suara tangis bayi dalam gendongannya yang sepertinya minta disusui. Di tangan kanannya, seorang balita yang digandeng, meraung minta naik ke gendongan juga. Laksmi hanya tersenyum sambil terus mencuci. Diam-diam membayangkan keseharian Bu Marta membuat roti diselingi keriuhan kelima anaknya.
Seorang pria dengan tongkat berjalan perlahan memasuki rumah setelah tamu-tamu pulang dan semua tikar telah selesai digulung. Pukul tiga sore. Laksmi juga bersiap pulang. Laki-laki itu menggapai-gapai sesuatu yang mungkin biasa ada di dekat pintu. Suami Bu Marta buru-buru meletakkan sebuah kursi di sisi kaki pria itu. Ia kemudian duduk perlahan. Tongkatnya ia sandarkan pada kaki kursi.
 Laksmi beberapa kali melihat tunanetra itu melintas di depan rumahnya. Rupanya ke sinilah ia menuju. “Sebentar ya, To,” ujar Bu Marta bergegas berjalan menuju meja dengan empat nampan roti yang sudah dianginkan. Lalu dengan sigap, ia memasukkannya satu persatu ke dalam plastik.
 “Siap-siap mau jualan sore, Bu, keliling kompleks sebelah-sebelah, terus lanjut ke pasar malam,” Bu Marta mengangsurkan sekantong penuh roti pada Laksmi, yang kemudian dibalas dengan gelengan.
“Buat anak-anak saja, Bu,” Laksmi menepis halus kantong itu. Tetapi akhirnya ia melangkah keluar pintu sambil menenteng kantong itu setelah Bu Marta memaksa. Laksmi berjalan pulang menggandeng Arung sambil memikirkan frase itu: pasar malam!
Itu jawabannya. Para tetangganya adalah penghuni dunia kebalikan. Hari mereka baru dimulai saat orang lain bersiap istirahat. Mendadak Laksmi merasa bersalah pernah berpikir buruk tentang tetangga sebelahnya yang baru pulang pukul 1 dini hari itu.

***

Mulanya tugas Ayub adalah mengkliping berita-berita di media massa cetak sesuai permintaan dari berbagai divisi. Pekerjaan yang menurutnya bisa dilakukan anak magang itu diberi judul ‘humas’. Yang lebih tidak ia mengerti lagi adalah divisi itu digabungkan dengan sebuah area yang tidak pernah ia kuasai: hukum. Hukum dan humas. Dua kata penuh kuasa.
Lepas tiga bulan, tugasnya kemudian menjadi sangat berbeda dan  makin tidak ia pahami. “Mengurus data dan dokumen mitra berkaitan dengan pencairan pinjaman, mengurus mitra-mitra yang bermasalah setelah mendapat bantuan kredit. Menyediakan dokumen yang dibutuhkan oleh auditor, juga yang dibutuhkan oleh bagian-bagian lain yang akan mengunjungi mitra dalam rangka monitoring dan evaluasi, pengendalian piutang…,” Ayub berhenti berujar ketika melihat dahi Laksmi berkerut.
    “Kau seperti…tidak sedang menjelaskan dirimu,” Laksmi tidak punya kalimat yang lebih baik, meski dalam hati ia ingin mengatakan yang lebih buruk. Pikiran Ayub hinggap pada ruang-ruang kelas Ilmu Komunikasi di kampusnya. Jurusan yang ia banggakan. Begitu juga Laksmi, yang mengingat Ayub dan matanya yang bercahaya setiap kali bicara tentang humas. Mata Laksmi mencari cahaya itu lagi di mata Ayub. Redup.
    “Yang penting dapat penghasilan,” Laksmi tercekat mendengar kalimat Ayub yang beranjak bangkit dari kursi meja makan. Kalimat yang lebih terdengar  putus asa dibanding menarik kesimpulan. Ayub pun tidak mengerti bagaimana ia tiba pada titik yang ia sangka tak pernah ia tuju.
Yang penting digaji? Apa yang terjadi dengan ‘bekerja adalah berkarya’? Apa kabar dengan melakukan pekerjaan yang membahagiakan? Tapi apakah  kebahagiaannya masih penting? Apakah mendapat uang sekaligus bahagia itu terlalu mahal? Tidak satu hari pun terlewatkan tanpa Ayub memikirkan setidaknya satu dari pertanyaan-pertanyaan itu.
Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian seperti terbungkus rapi dalam balon udara yang siap membawanya terbang tak tentu arah. Penerbangan yang sekejap pertama tampak indah tapi hampir pasti akan mengempaskannya ke dalam jurang.
Semua bermula ketika sebuah benda asing tak bertanda terima tiba di mejanya. Sepucuk amplop berisi lembar-lembar seratus ribuan yang tak disangka-sangka tapi kemudian datang lagi dan lagi. Ayub tak pernah menyangka ia mendapat lebih dari yang ia butuhkan. Tapi benarlah jika banyak yang berujar, segala yang berlebihan itu tidak wajar dan membuat gusar.
 Awalnya ia mendengar kata anggaran, lalu realisasi. Lembar-lembar yang ada dalam amplop itu, kata rekan-rekan di kantornya yang juga mendapat yang sama, adalah selisih dari realisasi dan anggaran. Anggaran untuk apa? Kenapa sisa? Dan kenapa sisanya ada di mejanya? Balon udara itu lepas ke udara, tersulut api yang membara. Ayub tidak siap dan tidak mau terbawa.

***

Laksmi teringat kelima anak Bu Marta ketika menggoreng sesisir pisang sore itu. Ia memisahkan sepiring di meja makan, dan menempatkan sebagian lagi, dua piring, di atas nampan. Ketika membuka pintu, ia tertegun sesaat. Laksmi melihat pria tunanetra itu melintas lagi. Ia berjalan di belakangnya saat mereka menuju ke rumah yang sama. Tak sengaja langkah Laksmi menjadi seirama dengan bunyi ketukan tongkat sang bapak tunanetra.
Tahu-tahu Laksmi sudah memperhatikan Sapto, nama pria dengan tongkat itu, perlahan menempatkan roti-roti yang sudah dibungkus rapi dalam sebuah keranjang persegi sambil berujar, “Ketiadaan penglihatan saya bukan peluang untuk hidup meminta-minta.” Laksmi terenyak. Kalimat itu terdengar serupa tabuhan genderang di telinga dan ruang hatinya.
“Baru sebulan dia jualan di pintu stasiun dekat kontrakannya. Dua hari sekali kemari, ambil 50 roti. Hampir selalu habis. Tapi kalau Sabtu Minggu dia nggak jualan, dipanggil nyanyi di kawinan,” Bu Marta membantu Sapto sambil menimpali. Sejenak Laksmi mencoba memahami bagaimana orang-orang yang hidup dalam gelap itu justru dapat menemukan, bahkan menyalakan cahaya. Lidah Laksmi kelu bahkan untuk mengeluarkan kalimat kekaguman.
Laksmi melangkah keluar dapur Bu Marta sambil membawa piring yang tetap terisi penuh. Jika sebelumnya ia membawakan pisang goreng, kini ia pulang membawa sepiring oseng kangkung. “Saya masak terlalu banyak. Ternyata dua anak saya nggak makan siang di rumah,” sahut Bu Marta sebelum Laksmi sempat menolak. Ia kembali mengalah. Tidak tahu apakah Bu Marta berbohong atau jujur. Tetapi jauh setelah itu, Laksmi baru tahu bahwa tidak ada kebaikan di tempat itu yang tidak segera dibalas dengan kebaikan.
    Kembali ia berjalan pulang. Satu meter di depannya, Sapto berjalan perlahan membawa sekeranjang roti yang tersusun rapi, dikalungkan di dada. Kali ini bunyi ketukan tongkatnya –di telinga Laksmi-- serupa tongkat Musa yang membelah lautan.

***

Amlop-amplop yang tidak ditunggu itu terus datang. Kadang bahkan sang kepala bagian sendiri yang membagi-baginya, seakan-akan itu kemurahan hatinya belaka dan datang dari kantongnya sendiri. Pernah sekali, Ayub menolak menerima amplop itu dengan sikap tersopan yang bahkan tidak pernah ia tunjukkan ke guru atau orangtuanya sendiri.
Rekan-rekan kerja di sekitarnya terbelalak, sebagian menatap sinis. Suara tawa tertahan terdengar di ujung ruangan. Supervisor Ayub segera memanggil dan menegurnya keras, seakan-akan pria itu sudah melanggar sebuah aturan tertulis yang akan membuahkan surat peringatan.
“Terima saja. Kalaupun tidak kau gunakan sendiri kan bisa disumbangkan ke gereja,” ujar pria itu ringan sebelum ia mempersilakan Ayub kembali ke mejanya. Ayub merasa dadanya seperti dihantam martil berapi. Apa arti memberikan sesuatu yang bahkan bukan miliknya ke rumah Tuhan?
Gosong. Dadanya serasa hangus membayangkan relasi antara amplop tak bertanda terima dan gereja. Hingga berbulan-bulan, amplop-amplop itu masih ia biarkan begitu saja di laci meja kerjanya. Yang ia buka hanya yang pertama kali ia terima, itupun karena ia menyangka isinya surat edaran. Selepas itu, amplop-amplop itu ia biarkan saja di sana. Tidak tahu untuk apa.
Amplop-amplop itu hanya sebagian dari dana yang ia tidak tahu persis sumbernya. Di rekeningnya, sekali sebulan uang masuk tiba-tiba dengan nominal berbeda-beda. Menurut informasi, itu realisasi perhitungan lemburan per bulan. Ayub tercengang setiap kali melihat saldo. Perhitungan itu jelas rekayasa. Ada suatu masa saat Ayub mencoba untuk tidak lembur sepanjang bulan, tapi masih tetap ada transfer lebih dari kantornya. Bahkan nominal per bulannya justru melebihi angka yang tertulis pada slip gaji resmi Ayub.  
“Tidak. Kita tidak akan menggunakannya serupiah pun,” Laksmi menggeleng kencang ketika keduanya duduk di meja makan, mencari dana untuk membeli pengganti lemari pendingin yang sudah tidak menguarkan  dingin. Ayub sepakat. Dalam situasi apa pun, dana tak berjudul jelas itu dianggap tidak ada.
 
***

Sambil mengaduk kopinya perlahan, Laksmi memperhatikan Ayub menandai lowongan-lowongan kerja di laman pencari kerja. Hanya orang bodoh yang berhenti bekerja sebelum mendapat pekerjaan di tempat lain dan tidak menggenggam amunisi untuk membuka usaha sebagai pengganti sumber nafkah. Tapi kata Ayub, biarlah mereka menjadi bodoh daripada menjadi gila.
 Ayub mengajukan surat pengunduran diri setelah seorang atasan memintanya melakukan hal mustahil: mengganti angka utang sebuah perusahaan agar layak mendapat pinjaman kedua. Surat itu memang sudah lama ia simpan dalam komputernya. Hampir semua rekannya berkata ia tak berpikir panjang. Memang, kata Ayub dalam hati. Jika berpikir panjang, ia yakin sudah mengundurkan diri di hari saat ia menerima amplop pertama.  
Laksmi menyesap kopinya perlahan. Pahit. Rupanya ia mengaduk tapi lupa membubuhkan gula. Tapi pikirannya tidak menyelam ke dalam cangkir kopinya yang pekat. Sudah dua hari ia menyimpan pertanyaan yang tak kunjung terlontar, khawatir akan reaksi Ayub atas pertanyaan itu. Laksmi sadar, sebagian diri Ayub menjadi tertutup, menarik diri, dan barangkali menganggap dirinya sebagai rival.
Itu pekan keempat seluruh kebutuhan rumah tangga mereka sepenuhnya dipenuhi dari pendapatan Laksmi. Pendapatan penerjemah lepas yang naik turun sesuai ada tidaknya tugas dari penerbit. Tadinya pendapatan itu sekedar untuk tabungan tambahan. Tetapi dua bulan terakhir, menabung bagi keluarga itu adalah sebuah kemewahan. Seakan sebuah bel peringatan dan penguatan, suara ketukan tongkat Pak Sapto, sang tunanetra, kembali terdengar, melintas perlahan di jalan depan rumah. Laksmi berdeham.
“Ayub… Kamu… mau coba berjualan?” Laksmi bicara pada punggung Ayub yang membelakanginya. Ayub melepaskan tangannya dari tetikus, lalu terdiam sejenak. Laksmi merasakan jantungnya berdebar. Ayub memutar badannya. Laksmi sudah siap jika mendapat jawaban sekadarnya, atau bahkan reaksi ketus.
Namun tatapan Ayub berkata sebaliknya. “Aku sempat berpikir begitu. Yang pasti aku tidak mau hidup dari pendapatanmu saja. Tapi… aku tidak tahu akan berjualan apa, dan kita tidak punya modal…,” jawab Ayub putus-putus. Mata Laksmi berbinar. Ia bergegas duduk di sebelah Ayub dan mulai bercerita, di sisi meja makan yang berimpitan dengan mesin cuci.


Dua Kesempatan

“Begini. Di satu sisi saya senang orang seperti Bu dan Pak Ayub mau berjualan roti kami. Tapi… masalah terbesarnya…,” kalimat Bu Marta terhenti saat meletakkan senampan roti yang baru matang di hadapan Laksmi dan Ayub. Semua anggota lingkungan Santo Yosef sudah pulang selepas doa Rosario.
“Masalahnya, Bu Laksmi, kami sama sekali tidak menggunakan pengawet pada roti ini,” bibir Bu Marta menyunggingkan senyum setelah melanjutkan, tapi matanya memancarkan keresahan. Laksmi dan Ayub saling pandang. Laksmi merasa  gagal memahami mengapa roti tanpa pengawet adalah masalah. Itu kelebihan dan nilai jual yang biasa dipampang di tempat-tempat dan kemasan makanan mahal.
Laksmi berusaha mereka-reka sambil memperhatikan jajaran roti yang sudah dikemas rapi dalam plastik-plastik berlabel satu nama: Manna. Roti-roti itu lebih beragam dan kaya taburan dibanding roti-roti yang dijajakan keliling yang biasa dilihat Laksmi. Roti panjang bertabur meses dan keju, roti tabur kacang dengan krim di dalamnya, roti tabur abon, roti dengan sosis utuh di tengahnya, dua roti berbentuk segitiga masing-masing dengan selai blueberry dan stroberi di dalamnya, roti cokelat pisang keju, dan satu roti pizza berbentuk bulat.
“Jadi apa masalahnya dengan roti tanpa pengawet ini?” Ayub ternyata sama tidak mengertinya dengan Laksmi. “Artinya Pak Ayub… jika Anda ingin menjualnya, Anda hanya punya dua kesempatan dalam sehari untuk menjual roti ini,” tatapan Bu Marta terlihat seperti tantangan di mata Ayub. “Sehari,” Bu Marta mengulang satu kata itu.
Tatapan Ayub meredup. Sebaliknya, Laksmi tersenyum. “Dua kali itu adalah pagi saat roti itu baru matang, dan sore saat roti itu masih layak santap. Besok paginya, roti itu sebenarnya masih bisa dikonsumsi. Tapi saya pribadi tidak tega menjualnya,” Bu Laksmi merapikan roti-rotinya kembali dengan hati-hati seakan-akan itu barang pecah belah. Laksmi dan Ayub belum bersuara.
    
“Sebenarnya konsumen kami kelas bawah yang tidak peduli hal-hal seperti pengawet. Syarat nomor satu berjualan di pasar malam adalah murah. Penjual kami memasang harga 3.500 rupiah,” wanita itu melanjutkan kembali. Benak Laksmi penuh tanda tanya, lalu mengapa ia bersedia repot membuat roti tanpa pengawet  tiap hari?
“Memang akan lebih untung kalau rotinya bisa tahan berhari-hari. Tetapi… anak-anak saya juga makan roti-roti ini tiap hari. Tiap membuat roti atau kue pesanan apa pun, saya tidak bisa tidak membayangkan penikmatnya seperti anak-anak saya sendiri. Tidak tega menambahkan setetes benda jahat. Biarlah meski untung bersih kami cuma seribu perak per satu roti,” suara Bu Marta menggema di ruang tamu kecil minim perabot itu.

Tatapan Ayub tak lagi redup. Laksmi bisa mendengar suara detak jantungnya seirama dengan gerak jarum jam dinding di bawah salib. Laksmi mendadak ingat roti-roti yang pernah ia beli dari toko besar, yang dapat bertahan tanpa jamur hingga lebih dari sepekan. Ia bergidik.
Keduanya berjalan pulang sambil meresapi apa yang baru saja mereka dengar. “Aku tidak berfokus pada ‘sehari’, tapi pada kata ‘dua kali.’ Dalam kehidupan nyata, kesempatan sulit datang dua kali. Dikejar pun, satu kesempatan belum tentu dapat. Dua kesempatan itu kemewahan.” Ayub memperhatikan Laksmi yang berujar penuh semangat sampai-sampai tangannya menggapai ke sana kemari. Laksmi tersenyum saat melihat suaminya akhirnya tersenyum sambil memasukkan kunci ke lubang pintu rumah kontrakan mereka.
Di pengujung hari, keduanya sepakat, setelah amplop-amplop penuh uang tak bertuan yang bertubi-tubi datang, tidak ada yang lebih membahagiakan dibanding bekerja sama dengan tetangga yang meraih  tiap seribu rupiah dengan susah payah, tanpa kehilangan martabat. 

Cerita Selanjutnya >>>>


 
***
Lucia Priandarini


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?