
MATA GADIH BUNGO menatap langit malam penuh kesenduan. Gelisah membuatnya sulit memejamkan mata belakangan hari. Riuh racauan Berambai saat berperan sebagai alim-alim dalam upacara mlangun masih mengiang di telinga. Di atas panggung kayu seluas delapan meter dan tinggi satu setengah meter, mantra-mantra dibacakan. Makin lama makin keras. Kesurupan. Semuanya pun mendengarkan apa nasihat roh yang telah merasuk itu; di mana babi hutan, rusa, dan kancil berada, serta ke mana Anak Rimbo harus pindah.
“Kau tak ikut?” tanya Marni heran. Wajar saja perempuan paruh baya itu turut berbenah. Si Uk –suaminya-- adalah wakil tumenggung, tangan kanan Berambai dalam segala urusan kelompok suku. Meski Marni cuma istri ketiga, di mana pun langit dijunjung dan bumi dipijak, betino adalah ekor dari jantan-nya.
“Apa yang kau tunggu di sini?” Marni masih membujuk. “Kedulat?” lanjutnya, dengan nada mengancam.
Gadih Bungo masih belum bisa menjernihkan pikiran, meski tahu apa yang telah terjadi. Musibah itu terjadi beberapa hari lalu. Salah seorang kawan Lokoter Hendra telah menebang pohon tenggeris tempat Barambai pernah menitipkan ari-arinya. Pohon setubung dan tenggeris adalah dua pohon yang dikeramatkan lantaran dahan-dahannya adalah tempat untuk menitipkan ari-ari bayi yang baru lahir. Bila kelak meninggal, ruh seorang Anak Rimbo akan kembali ke ari-ari itu. Itulah sebabnya, si pemilik pohon langsung murka, lantaran penebangan setubung atau tenggeris sama saja dengan pembunuhan dirinya. Bencana akan datang begitu hal itu terjadi. Lebih-lebih bagi yang ari-arinya tertanam di pokok pohon tersebut. Dan, kematian Iroih --salah satu putri kecil Barambai-- menjadi puncaknya.
Bungo sudah menjelaskan bahwa teman Lokoter Hendra tak sengaja dengan perbuatan itu. Lantaran butuh sedikit kayu untuk membangun gubuk sekolahan, ia pun sengaja memilih sebuah pohon tua yang sudah hampir sekarat. Sama sekali tak tahu bahwa tenggeris itu sudah milik orang lantaran tak bertanda.
“Iroih bisa jadi kena penyakit lain,” ujar Baserong, yang langsung ikut urun suara ketika mendengar kabar kematian itu. Kalaulah cuma pulot, bocor, domom, atau betuk, masih bisa diindra oleh alim-alim atau mata kebanyakan Anak Rimbo. Tapi konon, kata Baserong --yang sekarang telah berganti nama Muhammad Amin-- ada banyak penyakit lain yang tak terindra. Konon, ia pernah mengantarkan seorang gadis kecil Anak Rimbo ke rumah sakit ibu kota provinsi lantaran kena tuberkulosis, serta seorang balita dari kawasan Bulangan yang keracunan insektisida dan akhirnya meninggal dalam perawatan.
Sayangnya, Baserong sudah tak dipercaya lagi oleh orang-orang sejak memutuskan keluar dari lingkungan Anak Rimbo. Jalan yang ia tempuh sudah milik masing-masing. Tiap perkataannya yang tak sejalan dengan adat Anak Rimbo, hanya dianggap mengacau.
Bungo mendesah, mengingat bahwa Baserong setipe dengan Lokoter Hendra. Dan jujur, perlahan ia mulai percaya dengan segala omongan lelaki muda itu.
“Semua orang akan pindah besok pagi. Lokoter muda itu juga akan pergi kalau muridnya tak ada,” suara Marni, seolah tahu apa yang tersembunyi dalam benak Gadih Bungo.
“Jangan kau terus-teruskan panjang lamunmu, oi betino mudo. Kau ini seperti sengaja memanggil bala. Kedulat kau!”
Bungo tahu niat Marni menasihati. Banyak ibarat dan pengalaman yang telah dicontohkannya, sebab Gadih Bungo memang sudah tak memiliki orang tua. Perwaliannya akan selesai ketika ia sudah memutuskan siapa lelaki yang akan jadi suami. Ia tengah menimbang-nimbang sebuah perasaan sekarang. Dan ia belum bisa memutuskan.
Gadih Bungo sudah terbiasa hidup sendiri. Andai ia hijrah jadi warga orang terang, seharusnya ia takkan menyakiti hati siapa pun. Marni tentu tahu batas-batasnya sebagai wali. Perempuan itu juga harus sadar diri bahwa Bungo punya hak menentukan jalan hidup sendiri. Tak seperti kebanyakan kaumnya, pagi itu Gadih Bungo hanya mematung menyaksikan kesibukan mereka yang hendak mlangun jauh ke dalam hutan. Begitulah adatnya.
Diam-diam, sebenarnya Bungo mulai lebih percaya dengan Lokoter Hendra yang pernah bilang bahwa penyakit atau bahkan kematian memiliki beberapa penyebab yang terkadang bisa dicegah dengan tindakan tertentu. Seperti halnya mengapa akar selusuh bisa membantu persalinan menjadi bak belut dari genggaman tangan. Lokoter Hendra bilang ada zat-zat tertentu yang dikandung akar-akaran tersebut. Dan keputusan Bungo untuk tetap tinggal, tentunya kini telah membuat semua orang tahu. Apalagi keputusan tersebut sempat mencengangkan Barambai.
“Akey nak belajor teruy biar jedi tokang kalu,” jawab Bungo ketika Barambai bertanya alasan. “Akey lah tokang baco tuliy.”
Sontak orang-orang berdengung. Barambai geleng-geleng kepala. Mereka mulai mempermasalahkan lagi kenapa dulu Bungo diizinkan masuk ke genah orang-orang terang. Meskipun statusnya masih gouing-gouing, bukankah lambat laun Bungo akan jadi betino?
Seorang betino --apalagi yang belum bersuami-- amat dilindungi di dalam suku. Gadis Anak Rimbo pantang dilihat orang asing. Bila ketahuan, Barambai akan menjatuhkan hukuman denda 500 lembar kain atau tusukan tombak kepada sang wali. Itulah yang membuat kegusaran Marni tak pernah sembuh hingga kini. Hingga akhirnya ia mengadu ke Barambai dengan tujuan memutuskan perwalian itu. Dulu, niat Marni memungut Bungo hanya berlandas kasihan. Bila hal itu sekarang justru hendak mencelakainya, tentu tak maulah ia.
Untunglah kemudian ada Marit Tuo yang membela Bungo. Lelaki itu bahkan sedia membayar denda kain itu seraya mengambil alih perwalian. Marit Tuo memiliki banyak tumpukan kain di genah-nya. Konon, jumlahnya mencapai lima ribuan lebih (ini Bungo ketahui dari Memang, anak Marit Tuo yang juga ikut sokola Lokoter Hendra). Katanya, lelaki itu juga memiliki dua batu akik sakti seharga dua kilo jerenang di jari manis kanan kiri. Ia berbisnis jerenang dengan orang-orang terang. Sejak mahir baca tulis, Memang kemudian menjadi asisten ayahnya dalam menghitung penghasilan.
Bungo bersyukur ada orang sebaik Marit Tuo. Lelaki itu memang lebih berpikiran terbuka dari yang lainnya. Ia membiarkan beberapa anaknya mengikuti sokola milik Lokoter Hendra. Meski turut melakukan mlangun, ia tak turut kaumnya masuk lebih jauh ke dalam hutan. Ia hanya pindah di dekat-dekat sini juga. Tak peduli berisik mesin dan ribut orang-orang perkebunan sawit kadang terdengar sampai ke dalam genah.
Dengan gamang Bungo memperhatikan segala gerik Lokoter Hendra saat menerima pamit beberapa muridnya yang turut mlangun. Hatinya berdebar ketika membayangkan kelas yang pasti akan berubah sepi. Tapi kini ia harus lebih bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Selain belajar, ia juga harus cari makan.
Baru saja Bungo berbalik badan, ia dikejutkan oleh seorang yang kelihatannya sudah menunggu sedari tadi. Marit Tuo tampak tersenyum dengan sebungkus nasi di tangan, yang pasti ia beli dari gubuk orang terang. Batu akik di jemari kirinya berkilatan tertimpa cahaya pagi.
TAK ADA YANG LEBIH menyenangkan daripada memandangi tebaran gemintang saat gelap berkuasa atas hutan. Sebab, dengan begitu ia bisa melakukan sesuatu yang sering disarankan Lokoter Hendra; membebaskan khayalan!
Bungo senang membayangkan jadi presiden. Kata Lokoter Hendra, presiden adalah manusia yang paling berkuasa di bumi. Konon, ia sanggup membeli lebih banyak kain melebihi Marit Tuo, bisa membangun rumah sakit dan sekolahan di mana-mana, bisa menyuruh siapa pun melakukan perintahnya, bahkan mungkin menghentikan orang-orang yang mengganti hutan dengan sawit yang tak menghasilkan apa-apa. Seorang presiden kekuasaannya mungkin hampir setara dengan dewo-dewo. Sesekali ia juga membayangkan dirinya menjadi lokoter, guru, pilot, masinis, atau artis.
Dunia yang digambarkan Lokoter Hendra benar-benar terdengar lebih menakjubkan dibanding dunia Anak Rimbo yang telah Bungo kenal sedari kecil; berburu, memetik hasil hutan, membuat rumah, kawin, beranak, dan begitu seterusnya. Bungo ingin hidupnya memiliki tujuan yang jelas. Atau setidaknya menjadi seorang yang berpengetahuan, seperti Lokoter Hendra dan kawan-kawan.
Misalnya saja pagi itu. Untunglah murid hanya tersisa lima orang. Bungo terkejut ketika ia merasakan sesuatu merembesi selangkangannya. Dan itu darah! Teman-teman Bungo --yang kesemuanya laki-laki-- tertawa-tawa jijik. Lokoter Hendra langsung saja menyuruh Guru Ratna membawa Bungo keluar. Gadih Bungo sedang mengalami haid pertamanya. Ah, sayang dulu Marni belum sempat memberinya pengertian tentang haid.
Tapi, Guru Ratna juga tak kalah pintarnya. Ia mengajari Bungo tentang pentingnya pembalut bagi seorang perempuan. Sesuatu yang bersih harus dilindungi dengan yang bersih pula. Meskipun saat haid sebenarnya kita sedang mengeluarkan kotoran, itu tak berarti bahwa kita kotor. Dari sanalah muara sebuah kehidupan baru akan dimulai. Yakni ketika seorang perempuan telah memproduksi telur (di dalam tubuh) yang nantinya akan dibuahi suami. Menjaga kebersihan diri saat sedang haid itu sama artinya dengan menjaga sebuah kehidupan baru yang akan datang.
Sebenarnya, Bungo lebih senang jika Lokoter Hendralah yang memberinya penjelasan. Suaranya selalu terdengar lebih enak dan membuat dadanya senantiasa hangat. Bungo pun yakin pengetahuan Lokoter Hendra lebih luas karena nyatanya ia kerap menjadi tempat bertanya teman-temannya yang lain. Dulu, lelaki itu juga kerap menyembuhkan beberapa orang yang sakit, dan memberikan nasihat ini itu, menyaingi kemampuan Barambai. Karena itulah, Bungo sering memberinya hadiah bunga-bunga cantik dari hutan. Membayangkan dapat hidup bersama orang pintar sungguh menggairahkan.
Lamunan Bungo tiba-tiba terhenti oleh suara yang mencurigakan. Saat malam bergulir sejauh ini, Memang tentulah sudah pulas di genah-nya sendiri. Ia pun meraih tombak mungil yang sandar di pojok ruangan. Meski tak pandai berburu, setidaknya ia harus menakut-nakuti babi liar atau mungkin monyet kelaparan dengan senjata di tangan.
Baru saja sampai di ambang pintu, Bungo dikejutkan oleh bayangan yang tiba-tiba menyekap dari samping. Bebauan aneh menguar dari jari-jemari yang menyekap mulutnya itu, membuat kepala terasa pening nian. Yang Bungo ingat terakhir kali adalah kainnya ditarik, ia ditelentangkan paksa, dan ada benda licin menonjol tersemat di sela jemari kasar itu.
AIR MATA BUNGO terus saja leleh. Ada banyak suara berseliweran di liang telinganya. Suara tegas Marni yang berkali bilang bahwa ia akan kedulat. Suara dingin Marit Tuo yang berujar bahwa Bungo tak perlu menangis lantaran tak ada Barambai, bahwa kebutuhannya akan tercukupi seumur hidup, bahwa ia boleh masuk sokola kapan pun ia mau. Berganti-ganti dengan suara riang Lokoter Hendra saat bercerita tentang kehidupan orang-orang terang.
Langkah Bungo terhuyung. Sesekali ia berhenti untuk sandarkan tubuh, mengais napas, membuang sesak, menyusut air mata. Sebenarnya ia kebingungan. Apakah Lokoter Hendra masih akan sudi menerimanya andai tahu? Apakah orang-orang sukunya masih akan mau menerima dirinya andai…? Bungo jelas tak akan sanggup menerima sanksi badan atau denda.
Bungo juga ingin bertanya kepada Guru Ratna, benarkah betino yang sudah alami haid pertama bisa hamil? Adakah cara untuk membatalkan andai ia hamil nanti? Bungo pernah tak sengaja lihat Marni yang alami kejadian serupa dengan bala yang menimpanya tadi malam. Tapi, pelakunya Si Uk, suami Marni sendiri. Dan Marni terlihat menikmati perlakuan itu. Jelas berbeda dengan dirinya. Lagi pula, ia tak pernah memelihara pikiran bahwa Marit Tuo akan jadi suaminya. Ia hanya menyukai Lokoter Hendra. Marni tak pernah mengajari membatalkan kehamilan hasil perbuatannya dengan Si Uk. Meski tak seorang pun tahu, dewo pasti telah lihat bahwa Marit Tuo telah melanggar undang nan delapan dan teliti nan dua belas. Baru kali ini Bungo benar-benar takut kedulat!
Tak pernah ada yang tahu bahwa dalam mimpi-mimpinya belakangan, Gadih Bungo kerap bersua dengan Lokoter Hendra. Di dalam mimpi, lelaki itu tak hanya mengajarinya baca tulis. Tapi lebih. Sungguh menyenangkan rasanya. Bungo bahkan hafal betul warna suara Lokoter Hendra.
Seperti kali itu, ketika ia niat membasuh tubuh ke Sungai Licin. Ia seperti mendengar suara Lokoter Hendra entah dengan siapa. Bungo mengendap-endap. Dan benar saja. Di tengah landainya Sungai Licin yang berair jernih, Bungo melihat Lokoter Hendra yang tampak asyik bermain air dengan Guru Ratna. Kegembiraan yang terpancar dari wajah keduanya terasa tak sekadar memperlihatkan rasa senang. Bungo bisa merasakannya.
Bungo merasa ada yang remuk dalam dadanya. Rasa remuknya melebihi ketika ia melihat pohon demi pohon yang ditumbangkan orang-orang terang, setara dengan ketika ia melihat Marit Tuo mengepulkan asap rokok sambil menungguinya mengenakan kain lagi.
Di dalam dadanya, Bungo merasa ada ribuan pohon yang mati tersambar petir. Ia mulai percaya dengan Marni, dengan Barambai. Sepertinya Bungo harus turut melakukan mlangun. Ia pun berlari dan terus lari jauh ke pedalaman hutan. Meski tanpa disertai sebuah upacara, ia tahu bahwa ia harus pergi dari tempat tinggalnya yang sudah kedulat. Tapi, ia tak akan menyusul rombongan kaumnya. Ia ingin pergi ke sebuah tempat yang tak seorang pun bisa menyakitinya lagi.
***
Adi Zam Zam
Adi Zam Zam


