Fiction
Menang

10 Dec 2015

Mataku tak bisa lepas darinya, walau hanya sedetik. Seperti bocah yang asyik membaca komik baru favoritnya, bergerak saat dipanggil makan oleh ibunya. Aku seperti sedang berkencan dengan artis idolaku yang selalu berpenampilan keren.

Matahari mulai memudar. Langit memucat sebelum gelap. Kami berdua duduk di dekat jendela sebuah kedai kopi di mana orang yang berlalu-lalang dapat melihat kami seperti pajangan dalam etalase. Matanya cokelat. Rambutnya pendek, hitam. Bedaknya tipis saja. Lesung pipit dan rona merah pipinya membuatku gemas ingin mencubitnya. Ia memakai kacamata, yang membuatnya terlihat cerdas dan seksi. Kemeja putih dan celana jins menggambarkan pembawaannya yang santai namun rapi. Tak lupa, ia mengenakan sepatu kets bergaya old school. Namun, hal yang terpenting adalah aroma mawar selalu tercium dari tubuhnya.

Mbak Anne adalah idolaku. Tipe gadis cantik dengan dandanan tomboi yang selalu berhasil merebut perhatian semua orang di sekitarnya. Aku suka gayanya. Sangat berbeda denganku yang terlalu feminin. Karakternya itulah yang menjadi daya tariknya. Suaranya agak serak. Menghipnotisku untuk selalu mendengarkan  tiap kata yang meluncur dari bibir mungilnya.

“Jadi, kapan kamu akan nikah, Put?” tanyanya sambil terkekeh.
“Yang jelas, kamu duluan, Mbak. Tak sopan mendahului orang tua!” balasku.
 “Sialan kamu!” Ia melempar tisu bekas ke arahku. Lalu kami berdua menertawai obrolan iseng itu.

Maklum saja. Aku dan Mbak Anne adalah orang yang paling santai jika ditanya urusan pernikahan. Masih banyak hal penting lain yang harus kami pikirkan terlebih dulu. Urusan nikah selalu jadi nomor dua. Bukan karena tidak laku, kami hanya tidak mau terburu-buru. Tentu akan sangat repot bukan, jika sampai terjebak dengan orang yang salah selama bertahun-tahun sisa hidup kita. Itulah, kami selalu heran mengapa orang-orang bisa  menikah pada usia muda.

“Eh, coba lihat arah jam sembilan!” ujar Mba Anne. Aku menengok, mengikuti perintahnya. Terlihat seorang wanita berkulit gelap --terlalu matang untuk dikatakan eksotis-- dengan riasan tebal dan lipstik semerah cabai, berpegangan mesra dengan seorang pria asing.

“Ada yang salah dengan seleranya,” lanjut Mbak Anne. “Namanya juga bule, Mbak. Sukanya memang model-model begitu!” balasku. Kami selalu penasaran dengan selera orang asing terhadap wanita Indonesia. Mungkin suatu hari kami akan melakukan penelitian ilmiah mengenai fenomena ini.

Bicara soal selera, Mbak Anne memiliki standar yang sangat tinggi. Ia tak pernah sembarangan memilih pria. Sangat berbeda denganku yang suka asal-asalan menentukan pilihan. Aku sering kali diceramahinya untuk urusan ini. Menurutnya, aku harus berpikir masak-masak sebelum mengambil keputusan. Aku mencoba menuruti petuahnya, tapi sering kali gagal, terlebih jika menyangkut kata diskon. Asal ada diskon aku pasti tergoda untuk belanja. Pendirianku memang gampang goyah. Untuk urusan penampilan, aku selalu mengikuti tren. Berbeda dengannya yang konsisten dengan gayanya sendiri.

Mungkin aku harus banyak belajar darinya. Belajar bagaimana agar dapat dilirik oleh pria. Terhitung, ada empat pria yang meliriknya dari tadi. Padahal, belum ada sepuluh menit kami duduk di sini. Namun, para pria sebaiknya pikir-pikir dulu sebelum mendekatinya. Syarat utama calon pendamping bagi Mbak Anne adalah harus kaya. Bukan berarti ia materialistis. Hanya saja, dari pekerjaannya sebagai penyiar radio terkenal, ia sudah mendapat semua yang ia butuhkan. Perhiasan. Mobil. Rumah. Ia hanya ingin pasangannya kelak melebihi dirinya. Kalau tidak, untuk apa menikah? Prinsip yang bikin aku geleng-geleng kepala.

Kami memang dekat. Mbak Anne adalah teman indekos yang tinggal persis di depan kamarku. Aku bertemu dengannya pertama kali saat pindah ke sini tiga tahun silam, ia membantuku mengangkat lemari. Kami cepat akrab. Aku mengaguminya sebagai seorang kakak. Ia sering menceritakan hal-hal tentang dirinya yang membuatku tertarik. Prestasi-prestasi di sekolahnya. Pernah juga ia meninju teman laki-lakinya. Masalahnya terdengar sepele. Temannya itu menjadi juara kelas, padahal selalu menyontek. Ia yang selalu menjadi nomor satu dalam segala hal tentu tak bisa menerima hal itu. Bagaimanapun, ia harus menang, walaupun dengan menghajar temannya itu.

Pernah suatu hari aku mampir ke kantornya di Sarinah karena harus mengantarkan kacamatanya yang tertinggal di kamarku. Meja kerjanya rapi, dengan beragam penghargaan yang terlihat mencolok. Ia bangga dengan berbagai prestasi yang diraihnya.

           “Aku selalu mendapatkan apa yang aku mau, Put,” pamernya.
           “Berlaku untuk masalah percintaan juga, Mbak?” ledekku.
           “Tentu, harus!” jawabnya mantap.

Aku tentu saja percaya. Saat kuliah Mbak Anne pernah berpacaran dengan Reno, pria pertama yang disukainya. Reno memenuhi semua kriteria Mbak Anne. Namun, ia terkenal playboy. Mereka berpacaran hanya beberapa bulan. Saat kutanya alasan mereka putus, ia tidak menjawab. Setelah kudesak terus-menerus, ia pun mengaku, ia hanya dijadikan taruhan oleh Reno dan teman-temannya karena terkenal sulit didapatkan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana harga diri Mbak Anne saat itu. Dengan bodoh aku menanyakan apa yang ia lakukan setelah itu. Ia tersenyum tipis dan balik bertanya, “Menurutmu?” Aku tak berani memikirkannya.
Tak terasa, malam sudah larut. Aku segera menghabiskan minumanku yang sudah mendingin. Kami pun pulang.

***

Sudah sepuluh hari aku tak bertemu dengannya, sejak pertemuan di kedai kopi. Pekerjaanku sebagai auditor memaksaku bepergian ke beberapa kota di luar Jawa. Lama juga aku meninggalkannya. Biasanya, hampir  tiap malam kami mengobrol hingga menjelang tengah malam. Ia pun sepertinya sedang sibuk karena tidak menghubungiku sama sekali.

Sebagai seorang teman yang baik, aku membawakannya pancake durian. Yang kubeli di salah satu toko oleh-oleh di bandara. Durian adalah buah favoritnya. Bertolak belakang denganku. Aku selalu pusing mencium aromanya. Kalau bukan demi Mbak Anne, mungkin aku tidak akan pernah membelinya.

Baru saja hendak membayar, terdengar nada panggilan dari telepon genggamku. Dari Mbak Anne. Kebetulan sekali, batinku.
“Ada  apa, Mbak?” sapaku.
“Aku mau menikah, Put,” selanya, sebelum aku selesai bertanya. Aku masih belum sadar dengan apa yang ia katakan.
“Nikah? Sama siapa?” tanyaku seperti orang linglung.
“Reno,” jawabnya tegas.
“Kok bisa?” tanyaku lagi polos.
“Nanti aku ceritakan semuanya kalau kita ketemu.” Ia pun menutup telepon.

Selama beberapa jam di pesawat, aku tak bisa duduk dengan tenang. Ada rasa terkejut yang membayangiku. Timbul beragam pertanyaan di kepala. Apa yang terjadi? Mengapa tiba-tiba Mbak Anne mau menikah? Dalam kebingungan, ada sedikit rasa kesal yang menyeruak karena akhirnya ia akan menikah. Aku merasa dikhianati.

Kepalaku pun pusing karena menyantap pancake durian yang seharusnya kuberikan pada Mbak Anne. Aku melahapnya karena kesal. Sayang, akibatnya tubuhku malah tak keruan. Suasana hatiku  makin kacau. Aku bahkan sempat muntah di toilet bandara. Mengesalkan. Kuingat, terakhir kali aku kesal begini adalah saat Ibu memutuskan untuk menikah lagi dengan teman kuliahnya. Dengan polosnya aku mengira Ibu akan setia pada mendiang Ayah. Aku tertipu.

Sesampainya di kamar, aku menemukan secarik kertas dengan tulisan khas Mbak Anne. Pesannya menyebutkan bahwa ia akan menikah besok. Tak ada nama tempat ataupun waktu resepsi. Ini jelas bukan undangan. Hanya pemberitahuan. Bahkan, diundang pun aku tidak. Aku makin nelangsa.
Tak berapa lama, aku tertidur masih dengan pakaian perjalanan dinas hari itu.

***

Hari Sabtu. Matahari sudah meninggi, tapi aku masih mengantuk. Aku terbangun karena telepon genggamku yang berbunyi tiada henti. Ini hari pernikahan Mbak Anne. Aku berusaha tak memedulikannya. Diundang saja tidak. Untuk sekadar menelepon dan mengucapkan selamat pun belum terlintas dalam pikiranku. Lebih baik aku melanjutkan tidur. Rasa lelah karena perjalanan kemarin belum tuntas betul.

Aku melihat layar telepon genggamku. Sudah pukul sebelas lewat. Ada beberapa panggilan tak terjawab dan pesan masuk. Semua berasal dari Mbak Anne. Aku rasa ia ingin meminta maaf padaku. Aku terkejut membaca pesan terakhir. “Bangun. Aku ada di depan, buka pintu kamarmu, dong!”

Aku terkejut hingga rasa kantukku sekejap lenyap. Begitu kubuka pintu, ia segera masuk dan bertanya padaku, “Mengapa tidak datang ke acaraku?” Diundang saja tidak.
Sebelum aku menjawab, ia sudah menyela lagi. “Tapi, itu tidak penting lagi,” jelasnya singkat. “Mau tahu sesuatu yang lebih menarik?” sambungnya lagi.

Perlahan ia menceritakan semuanya dengan jelas. Pertemuannya dengan Reno lagi. Permintaan maaf dari pria itu. Pelukan yang erat. Ciuman yang hangat. Rayuannya yang menggoda. Ajakan untuk menikah. Mbak Anne menerimanya. Mereka akan menikah beberapa hari ke depan. Reno dibiarkan mengatur semuanya. Semua tampak baik-baik saja. Semua dirancang dengan baik. Hingga pada hari pernikahan, hari ini, Mbak Anne tak kunjung datang. Bahkan, tak satu pun keluarganya muncul menjelang prosesi akad. Ini akan menjadi hari terburuk bagi Reno. Mbak Anne sedang bersamaku menceritakan bahwa seharusnya ia berada bersamanya. Tapi, hal itu takkan pernah terjadi. Mbak Anne menutup cerita dengan seringai.

Mulutku terkunci. Tak tahu harus berkata apa.
“Putri,” ia menarik napas dalam-dalam, “kali ini aku yang menang.” (f)

Mahwari Sadewa Jalutama


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?