Kelompok paduan suara baru saja menuntaskan lirik terakhir lagu Syukur. Bergegas gadis kecil itu merangsek ke depan, membaur di antara kerumunan keluarga wisudawan yang lain. Tangan mungilnya menggenggam erat sebuket mawar merah muda. Mawar segar yang dibeli bersama ayahnya tadi pagi dari penjual bunga seputar kampus. “Siapa yang wisuda, Nak?”
Spontan ia menoleh, mata bulatnya mencari sosok yang menyapa. Sejurus kemudian, perhatiannya kembali ke depan. Seolah tak peduli.
Lelaki tinggi tegap itu membungkukkan badan, “Nak, menunggu siapa?” tanyanya ulang.
“Ibunya, Pak. Anak saya lagi menunggu ibunya,” seorang lelaki muda menyahut. “Ayo, Dinda. Ditanya Pak Satpam, kok, diam saja. Jawab, dong, Sayang.”
Dinda melirik sekilas, mulutnya masih terkunci. Ayahnya hanya bisa menggeleng melihat putri kecilnya itu teramat tak acuh dengan sekitar.
“Maaf, ya, Pak. Anak saya lagi enggak mau diganggu.”
Petugas ramah itu pun mengangguk, sembari tersenyum mafhum.
Doa penutup baru saja usai. Barisan para wisudawan mulai berjalan pelan, beriringan meninggalkan kursinya masing-masing. Roman Dinda makin menekuk. Ibunya tak tampak dalam barisan awal.
“Ayah, Ibu mana? Lama banget, sih?” protesnya kesal.
Permadi mengelus rambut ikal Dinda, “Sabar, ya, Nak. Sebentar lagi Ibu akan sampai sini....”
“Kenapa tadi enggak masuk ke dalam saja, Pak?”
“Bapak dan Ibu mertua saya yang masuk. Undangannya kan hanya untuk dua orang....”
“Iya, ya, Pak. Ya, sudahlah ditunggu saja. Paling tak sampai setengah jam,” pungkas satpam berkumis itu menenangkan. Sigap, ia kembali mengatur barisan yang mulai semrawut.
“Yang Ti!” teriak Dinda lantang. Seorang perempuan sepuh berkebaya menoleh. Bersisian, lelaki berjas rapi dengan rambut kembang jambu tampak semringah menyambut cucunya. “Ibu mana, Yang?” tanya Dinda tak sabar.
“Ibumu masih di belakang, Sayang. Kita tunggu saja di sini.” Yang Ti menggandeng tangan Dinda, mengajak ke tepi. Bocah delapan tahun itu menengadah, memandang sang nenek, meminta kepastian.
“I... iya, sebentar lagi...,” Yang Ti tergeragap. “Dinda sudah tak sabar mau ngasih mawar itu ke Ibu, ya?” Dinda mengangguk cepat.
“Dinda haus? Kalau haus kita beli minum dulu. Mau?” Permadi yang berdiri di samping mencoba mengalihkan perhatian.
“Enggak mau!” tukas Dinda galak.
“Ya sudah, kalau gitu kita nunggunya di pinggir saja. Kalau bergerombol di sini, nanti dimarahi Pak Satpam, karena menghalangi jalan.”
Setengah jam berselang, wisudawan yang keluar pintu tinggal beberapa barisan. Keempat pasang mata itu menatap tak berkedip. Tapi, sampai barisan terakhir melintas, sosok yang ditunggu tak jua menampakkan batang hidung. Dinda pun kembali merajuk.
“Sabar Sayang, Ayah telpon Ibu dulu, ya....”
Beberapa kali panggilan, nihil, tak bersambut. Hanya mesin penjawab otomatis yang merespons. Kegelisahan mulai berkecambah.
“Ayah masuk dulu ya, Sayang. Mungkin Ibu lagi foto bareng teman-temannya di dalam....”
“Dinda ikut...!”
“Enggak usah. Dinda tunggu di sini saja, bertiga sama Yang Kung dan Yang Ti...,” cegah Permadi sembari bergegas melangkah. Abai dengan teriakan putri semata wayangnya. Tak lama punggungnya lenyap di balik pintu balairung. Kini tinggallah kedua eyang Dinda yang sibuk merayu cucunya yang merajuk. Perasaan mereka tak nyaman. Segumpal firasat aneh tiba-tiba menyelinap....
Satu setengah tahun silam...
Lestari membuka kelopak mata. Cuaca mendung membuat pemandangan pagi tampak remang. Seperti yang sudah-sudah, ia memakai jasa travel untuk bepergian. Hampir sepanjang perjalanan Madiun–Surabaya, dirinya terlelap. Efek pil penghilang rasa nyeri yang ditenggak, hingga tak menyadari hanya dirinya penumpang yang tersisa.
“Apa kemoterapinya enggak bisa diundur, Dik?” tanya Permadi, ketika keduanya beranjak tidur kemarin malam. Lelaki yang hampir sepuluh tahun menjadi suaminya itu menatap dengan raut cemas. Permadi berhalangan, tidak bisa menemani seperti biasa. Besok, ia harus mendampingi muridnya mengikuti olimpiade fisika SMA tingkat kabupaten.
“Bagaimana bisa cepat sembuh, Mas, bila kemoterapinya tak teratur?” tanya Lestari balik.
Permadi mengembuskan napas dalam. “Seandainya saja ya, Dik. Waktu itu tak terlambat....”
“Sudahlah Mas, semua memang telah diatur oleh-Nya. Sekarang saya mesti belajar legowo,” tutur Lestari berusaha meredam gejolak. Jujur, ada rasa kehilangan mendalam ketika bibirnya berucap. Hatinya masih kelu. Saat itu dunia serasa runtuh. Segenap jiwa raganya limbung.
Bagaimana tidak, saat gairahnya membubung untuk menyelesaikan program magister yang tinggal satu semester, kenyataan pahit datang. Kanker stadium tiga telah merenggut paksa payudaranya sebelah kanan. Ia harus rela kehilangan simbol kebanggaan tiap kaum hawa tersebut. Lalu, apa yang mesti dibanggakan dari seorang perempuan yang hanya memiliki payudara sebelah?
“Sebaiknya kamu berhenti kuliah saja ya, Dik?”
“Apa Mas? Berhenti kuliah?” respons Lestari spontan. Tak menyangka ide itu keluar dari kepala Permadi. “Mas, yang saya butuhkan sekarang ini adalah dukungan. Bukan sikap pesimistis seperti anjuran, Mas....”
“Maaf, Dik, bukan maksud Mas untuk menyurutkan semangat. Justru saya merasa kasihan. Orang sehat saja belum tentu lancar menempuh studi. Apalagi sekarang, Dik Tari sedang sakit,”
“Tolong, Mas. Saya bukan tipe perempuan yang suka dikasihani. Justru saya ingin membuktikan bahwa sakit bukanlah penghalang untuk menuntaskan studi. Mas tahukan, tidak semua orang berkesempatan mendapatkan beasiswa seperti saya?”
Permadi terdiam, enggan mendebat lagi. Lelaki itu hafal betul tabiat istrinya. Lestari tak akan surut langkah bila telah berniat.
“Mas, saya mau bertanya, boleh?” suara Lestari merendah. Permadi mengangguk. “Pertanyaan apa, Dik?”
“Sekali lagi, apakah Mas Permadi tak kecewa mempunyai istri cacat?”
“Berapa kali Mas harus menjawab, Dik? Tak tebersit sebiji sawi pun rasa menyesal atau kecewa. Bukankah tadi kamu bilang, semua adalah kehendak Yang Kuasa,”
“Saya tahu, Mas Permadi pasti bosan dengan pertanyaan itu. Entah, perasaan perempuan tak bisa dibohongi. Selalu muncul kekhawatiran Mas Permadi meninggalkan saya.”
Permadi memiringkan badan, direngkuhnya raga istrinya yang kian tipis. “Dik, tolong jangan berpikiran macam-macam lagi tentang diri Mas. Sebaiknya, konsentrasi saja pada kemoterapi dan tesis biar cepat rampung.”
“Terima kasih, Mas...,” Lestari tersenyum haru, berusaha sembunyikan kegamangan yang tiba-tiba menyerbu.
“Bu, kita sudah mau sampai...,” tegur sopir, menyadarkan Lestari dari lamunan.
“Eh... Iya, Pak. Seperti biasa ya, turunkan saya di depan lobi.”
“Baik, Bu...,” ujar si sopir pendek. Lelaki empat puluh tahunan itu melihat dari spion. “Kok, tumben sendirian? Biasanya kan diantar Masnya....”
“Suami saya sedang sibuk, Pak.”
“Oh ya, Ibu pulangnya naik travel lagi? Kalau iya, kita bisa bareng....”
“Enggak Pak, saya dijemput suami. Lagi pula, saya dua hari di Surabaya. Terima kasih lho, sudah diantar.”
Hawa atis menyergap ketika Lestari membuka pintu mobil travel. Matanya mengerjap, menepis sisa kantuk. Sembari merapatkan jaket ia melangkah pelan. Bau karbol menusuk hidung saat kakinya menjejak lantai lobi rumah sakit yang hampir setahun ini diakrabi. Arloji di pergelangan tangan kirinya menunjuk pukul delapan. Masih ada waktu kurang lebih satu jam untuk mempersiapkan diri sebelum menjalani kemoterapi.
Tiga kantong cairan kimia merah muda dan bening itu akhirnya sukses berbaur dengan darahnya. Lestari meringis, terasa ngilu ketika jarum infus dilepas. Maklum, lebih tiga jam benda runcing itu menancap di pembuluh vena lengan kanannya.
“Bulan depan kemoterapi yang terakhir, ya, Bu. Usahakan kondisi badan tetap fit. Jangan sampai tekanan darahnya naik-turun,” nasihat Dokter Gunawan sembari mencatat di buku perkembangan pasien.
“Baik, Dok, Saya janji....”
“Setelah itu kita cek di lab. Apakah sel kankernya sudah bisa dilumpuhkan atau perlu tambahan kemoterapi lagi,”
“Kemoterapi lagi, Dok?” sergah Lestari cemas. Berharap tak ada lagi tambahan kemoterapi yang akan dijalaninya. Jujur, perempuan itu sudah bosan dan capek dengan tusukan jarum dan rasa mual yang mendera selama kemoterapi.
“Ya, Bu. Tapi kalau hasilnya bagus ya enggak usah. Ibu tinggal istirahat cukup dan menjaga pola makan,” jelas Dokter Gunawan bijak. “Oh, ya. habis ini Ibu langsung ke kampus?” buru-buru dokter ahli kanker itu mengalihkan fokus. Ia tahu, Lestari selalu antusias bila diajak bicara tentang perkembangan studinya.
“Ya, Dok. Konsultasi ke dosen pembimbing. Targetnya semester ini selesai. Jadi tinggal konsentrasi mengajar. Kasihan murid-murid sering saya tinggalkan.”
“Saya salut lho sama semangat belajar Bu Tari,” puji Dokter Gunawan tulus. “Kalau saya seperti Bu Tari, belum tentu bisa nglakoni.”
“Dokter terlalu berlebihan. Saya hanya...,” kalimat Lestari tersendat. “Sa... saya hanya ingin memanfaatkan sisa waktu sebaik-baiknya, Dok. Saya ingin memberi kebanggaan kepada keluarga sebelum....”
“Bu... tak ada jaminan Tuhan mengambil umur hamba-Nya waktu dalam keadaan sakit atau tidak. Orang sehat pun kalau sudah takdirnya...,” Dokter Gunawan menghentikan ucapan. Ia mesti menjaga psikologis pasien seperti Lestari yang terkadang gamang dengan kondisi penyakitnya. “Apa yang Bu Tari lakukan sekarang sudah tepat. Penyakit harus dilawan dengan fokus pada satu tujuan. Dengan demikian hasrat untuk sembuh akan kuat. Dan saya yakin, Bu Tari pasti sanggup!”
Lestari terharu, merasa diperhatikan. Dokter sepuh itu mirip bapaknya, bersikap ngemong dan selalu sabar mendengar keluh kesahnya. Dulu, ia beranggapan seorang dokter peduli terhadap pasien hanya sebatas menjalankan profesi saja. Dan didapatinya beberapa oknum bersikap kurang bersahabat. Tapi, Dokter Gunawan salah satu pengecualian.
“Saya kira konsultasi hari ini sudah cukup. Silakan kalau Bu Tari mau ke kampus. Selamat berjuang!”
“Terima kasih, Dok....” Lestari menjabat tangan Dokter Gunawan dengan hangat. Siang itu, ditinggalkannya rumah sakit dengan tekad meruap. Menyelesaikan tesis secepatnya dan wisuda tepat waktu. Di pelupuk matanya, menari-menari roman bangga orang-orang terkasih.
PERMADI MELANGKAH TERBURU. Matanya menatap nanar kursi-kursi yang kosong. Tak dijumpainya pula sosok Lestari berfoto bersama dengan teman-temannya. Dalam kepanikan handphone-nya bergetar. Bergegas ia baca pesan pendek yang masuk.
Didobraknya pintu toilet. Lestari terduduk lemas menyandar pada dinding lembap. Wajahnya sepucat kapas dengan ponsel tergenggam.
“Ka… kamu kenapa, Dik?” tanya Permadi cemas. Lestari tak menjawab, badannya lunglai. “Kamu pasti kecapekan. Ayo, Mas gendong saja!”
Mata Lestari berkaca. Nyeri yang dirasakan tak tertahankan lagi. Seribu jarum serasa menusuk punggungnya.
“Mas... Mas... saya sudah enggak kuat lagi." Penglihatannya perlahan mengabur. Dalam ketidaksadaran, samar Lestari melihat Dinda berlari ke arahnya. Tangan mungil gadis kecil itu terjulur. Sebuket mawar merah muda, dengan kelopak yang kini telah layu.
***
Joko Rehutomo


