Fiction
Legen

20 Jan 2016


   AKU MENELUSURI jalanan setapak menuju ke kebun kelapa dekat rumah. Beberapa kali kakiku menginjak rumput tapak liman yang tumbuh menyemak. Pohon kelapa yang dulu berjumlah puluhan batang itu kini tinggal tersisa lima. Beberapa pohon yang sudah berumur memang sengaja ditebang. Sebagian dijual, sebagian lagi untuk membenahi atap rumah yang mulai keropos dimakan waktu. Sementara untuk peremajaan pohon kelapa agar siap kembali dipanen niranya, butuh waktu yang lama. Dulu Simbok punya beberapa penderes (pengambil nira). Sekarang  tinggal Lik Midi yang bertugas nderes (mengambil nira) sebelum pukul 8 pagi dan setelah pukul 4 sore.
    Dulu, sewaktu pohon kelapa masih puluhan batang,  dalam sehari Simbok bisa nitis (memasak nira menjadi gula merah) sampai menghasilkan 30 kilogram gula merah dalam sehari. Kini, bisa menghasilkan 8 kilogram saja sudah merupakan berkah.
    Suara motor yang memasuki halaman  membuat Simbok meneriaki aku agar kembali ke rumah.
    “Ni, Warti bakul jamu sudah datang. Katanya tadi kamu mau membeli kunir asem sama beras kencur!”
    Kutatap sekilas Simbok yang masih asyik mengumpulkan kayu-kayu kering dari pelepah daun kelapa. Kayu-kayu yang sengaja dijemurnya agar bisa untuk memasak nira. Meskipun sekarang sudah ada kompor gas, Simbok tetap setia memakai tungku. Katanya, kalau apinya tidak konstan dan besar, nira yang dimasak akan tetap menjadi legen, tanpa pernah bisa menjadi gula.
    Aku menangkap aroma tembakau dari ruang tamu, saat langkah kakiku memasuki teras rumah. Rupanya ada Mas Pur. Ia melemparkan tatapan dan senyum sinis. Aku menganggukkan kepala  sedikit sebagai basa-basi penghormatan kepada saudara yang lebih tua, meski pemantik api dalam hatiku sudah mulai menyala.
    Kujumpai Simbok yang masih membenahi nyala kayu di dalam tungku. Sesekali tangannya mengaduk nira yang mulai menguarkan aroma manisnya legen.
    “Mas Pur mendesak lagi?” tanyaku hati-hati.
    “Iya, Ni….”
    “Tapi surat tanah itu kan masih dipegang sama Simbok?”
    “Pur menyewa pengacara, Ni. Mereka membawa surat tanah yang asli. Kata mereka, surat tanah kita palsu. Simbok ini bisa apa to Nduk?”
    Aku menghela napas panjang. Menangkap kepahitan dalam kata-kata Simbok.
“Kamu mau minum legen? Mungkin ini adalah legen terakhir. Karena besok tak akan ada lagi….”

Aku mengangguk pelan. Dulu, waktu kecil, aku suka sekali minum legen. Aku senang menunggui Simbok yang memasak air nira sambil bermain wayang-wayangan dari tangkai daun singkong. Simbok mengaduk-aduk air nira itu, sambil sesekali menengok ke arahku. Saat jenuh bermain, aku akan meminta legen kepada Simbok. Air nira yang belum mengental itu bila dicampur dengan irisan daging kelapa muda  sungguh menjadi minuman paling istimewa.

“Ni, air gulanya sudah mulai mengental! Tolong alasi batok-batok kelapanya dengan daun singkong!” perintah Simbok.
Bergegas aku meninggalkan wayang mainanku, dan mulai mengalasi tempurung kelapa yang berjumlah puluhan itu dengan daun singkong. Lalu Simbok mulai menuangkan air nira yang sudah mulai mengental itu ke dalam cetakan-cetakan alami.
Dengan setia aku akan menunggu sampai semua cetakan itu terisi. Aku paling suka dengan tetes-tetes terakhir dari air gula yang masih tersisa di dalam panci. Bila dituang ke dalam tempurung kelapa, ia menjadi tetesan gula yang paling kental dan paling manis. Namanya kereng. Aku suka sensasinya saat mengulumnya lama-lama di mulut. Aroma kayu bakar seolah masih menempel pada kepingnya.
Ketika wayang-wayangan dari tangkai daun singkong itu rusak, aku mulai menangis. Simbok tak bisa berbuat apa-apa, karena hanya Bapak yang bisa membuatkan mainan itu, sementara Bapak hanya datang tiga hari sekali.
“Kenapa Bapak tidak bisa seperti bapaknya Sri dan Yuni yang  tiap saat ada di rumah?” tanyaku, suatu ketika.
Simbok hanya bisa tersenyum sambil mengelus rambutku. Pertanyaanku justru terjawab oleh salah seorang anak bapak dari ibu yang pertama. Namanya Mas Pur. Ia sering mengejekku sebagai anak haram jadah. Dulu kata-kata  itu tak bisa begitu saja aku pahami. Seiring bertambahnya usia, aku mulai bisa mengerti. Simbok adalah istri muda Bapak. Mereka hanya menikah secara siri. Bapak tidak pernah menafkahi Simbok. Nafkah Bapak hanya berupa kebun kelapa yang coba dikelola oleh Simbok agar bisa menghasilkan gula merah. Dari sanalah Simbok bisa membiayai sekolahku sampai hampir tamat kuliah.

“Kamu harus menjadi anak yang pinter, Nduk. Jangan seperti Simbok yang hanya berpendidikan rendah,” ucap Simbok, yang selalu diulang-ulangnya.
“Kenapa dulu Simbok mau diperistri Bapak?  Bukankah itu namanya Simbok merusak rumah tangga orang lain?” tanyaku, saat aku mulai remaja. Aku sangat geram dengan ejekan-ejekan Mas Pur saat aku pulang sekolah. Ia tidak hanya mengejekku sebagai anak haram. Ia juga mengejek Simbok sebagai perempuan murahan, gula-gula perebut suami orang.
“Simbok sudah mengira, suatu saat tidak hanya orang lain yang akan menghina Simbok. Tapi kamu, anak Simbok sendiri, juga akan melakukan hal yang sama.”
Ada titik bening di kedua mata Simbok. Tapi, air mata itu tidak berhasil membuatku luluh. Jiwa remajaku tidak bisa menerima kondisi keluargaku yang berbeda ini. Aku iri pada Yuni, yang selalu diantar jemput ayahnya saat berangkat dan pulang sekolah. Aku ingin seperti Sri, yang dimarahi bapaknya saat pulang pacaran terlalu larut. Bapak tidak bisa  tiap saat menemaniku belajar, karena Bapak punya dua rumah tangga yang menjadi tanggung jawabnya. Dan aku sangat membenci kenyataan itu.
“Maafkan Bapak, ya Nduk, Bapak tidak bisa menjadi seorang bapak yang baik,” ucap Bapak suatu ketika.
“Seandainya janin bisa meminta kepada Tuhan, kepada rahim siapa ia memercayakan kehidupannya,” ucapku, seolah kepada diriku sendiri.
“Kamu sudah besar, Nduk. Sudah pinter ngomong. Yang perlu kamu tahu, kamu itu tetap anak Bapak dan Simbok. Kami menikah sah secara agama. Jadi, tak usah kau hiraukan omongan masmu Pur yang menyakitkan itu!” Ada getar dalam suara Bapak. Getar yang kutangkap sebagai suatu penyesalan.
“Ni, tolong kau masukkan air gula ini ke dalam cetakan. Aku akan menemui si Pur!” ucap Simbok, menyadarkan aku dari lamunan.
Sambil menuangkan air gula, aku mencoba memasang telingaku agar bisa menangkap pembicaraan Simbok dengan Mas Pur.
“Bu Lik tahu, saya ini anak sahnya Bapak.”
“Ya, aku mengerti.”
“Kebun itu menjadi hak saya setelah Bapak meninggal.”
“Tanahnya bisa kau ambil. Tapi tolong, jangan ditebangi pohon kelapanya, ya, Le! Pohon-pohon itulah satu-satunya sumber mata pencaharianku.”
“Pohon-pohon kelapa itu juga sudah terlalu tua, Bu Lik. Nira yang dihasilkan pasti juga tidak sebanyak dulu. Berapa bumbung coba yang bisa dibawa turun Lik Midi dalam sehari?”
“Paling tidak, tolonglah kau tunggu sampai Ni lulus kuliah. Kau tahu, adikmu itu masih butuh biaya banyak untuk skripsi.”
“Tidak bisa, Bu Lik. Tanah itu akan segera aku kapling-kapling untuk aku bangun perumahan. Sudah ada beberapa orang yang memesan, baik secara kredit maupun membayar kontan.”
“Tapi….”
“Bu Lik mau perkara ini aku bawa ke pengadilan? Bagaimanapun, posisi Bu Lik lemah. Bukan hanya penjara yang akan menunggu Bu Lik. Mungkin juga uang denda yang tidak sedikit!” Kata-kata Mas Pur mulai bernada ancaman.
Setelah Bapak meninggal beberapa bulan lalu, kebun kelapa itu telah menjadi harta sengketa. Pihak keluarga Mas Pur sebagai keluarga dari istri sah Bapak, merasa berhak memiliki kebun kelapa itu.
    Aku menyeruput sisa legen yang ada di cawan putih. Kini legen itu terasa pahit.


    HARI ITU, gula-gula terakhir yang dibuat Simbok telah aku keluarkan dari cetakan. Lalu aku tata dalam keranjang yang beralaskan klaras (daun pisang kering), bersama gula-gula lain yang sudah kami buat hari-hari sebelumnya. Namun, Simbok tak juga mengantarkannya ke pengepul.
    “Mau Ni bantu mengantar gula-gula ini ke Budhe Darsih?” tanyaku, menawarkan bantuan.
    Simbok menggeleng pelan. Ditatapnya keranjang gula itu dengan tatapan sendu.
    “Sepanjang hidup Simbok telah membuat gula-gula yang manis. Simbok tidak mengerti kenapa akhirnya justru kepahitan yang Simbok peroleh.”
    “Mungkin kita harus belajar ikhlas, Mbok,” jawabku, dengan mata menerawang.
    Suara riuh orang-orang yang menebang pohon kelapa di kebun sebelah rumah terdengar seperti lagu paling buruk yang pernah kudengar. Seolah makin menyadarkan  kami bahwa gula-gula dalam keranjang itu adalah benar-benar gula-gula terakhir yang bisa kami buat.

    “Kamu tahu kenapa bibit kelapa yang Simbok tanam selalu mati?”
    Aku menatap Simbok dengan tatapan penuh tanya. Seingatku, saat kecil dulu,  tiap kali ada satu pohon kelapa ditebang, Simbok pasti menanam sebuah bibit kelapa. Untuk peremajaan, begitu kata Simbok. Namun, bibit-bibit kelapa itu segera mati sebelum tingginya mencapai dua meter. Sampai akhirnya pohon kelapa di kebun kami tinggal lima batang.

    “Pur telah menuangkan minyak tanah, tepat di ujung daun yang baru mulai tumbuh, juga pada akarnya. Lik Midi yang bercerita kepada Simbok,” suara Simbok menyerupai bisik.

    Simbok mengelus gula-gula yang ada di dalam keranjang bambu, sambil berkata lirih, ”Aku akan tetap mengolah gula-gula merah Nduk, menjadi gula kacang dan juga geplak. Jadi jangan khawatir, kamu tetap bisa menyelesaikan kuliahmu.”
    Kutatap mata Simbok dengan haru. Mungkin pohon-pohon kelapa di kebun kami sudah habis ditebangi oleh Mas Pur. Tapi, akan ada seribu pohon kelapa yang sekarang sedang tumbuh di hati Simbok. Semuanya akan menghasilkan legen yang manis, karena hati Simbok lebih luas dari samudra. (f)


Utami Panca Dewi




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?