“TAK PERLU KAU BAWAKAN aku kota dengan gereja di jantungnya dan sepasang cemara kecil yang menjadi pintu pekarangan tiap rumah penduduknya. Tanpa itu pun kita sudah bersaksi tentang apa itu rumah,” begitulah Aya menutup surat terakhirnya yang aku terima.
Aku tersenyum saat membacanya, membayangkan Aya menulisnya di meja dekat jendela di kamarnya, di mana dulu kami sering menghabiskan sore sambil melihat pasangan-pasangan berjalan menuju taman kota. Aku percaya di meja itu masih ada benda yang dulu kuberikan sebelum meninggalkannya.
“WAKTU DAN JARAK menjadi musuh sekaligus teman bagi dua orang yang saling memikirkan,” sambil menyodorkan kotak berbungkus kain kuning, aku menatap mata Aya lebih dalam.
Matanya seakan tersenyum. Bibirnya mengatup. Garis-garis yang serupa sungai-sungai kering di wajahnya seakan tiba-tiba dipenuhi luapan air ketika ia mengelus kotak berbungkus kain kuning di tangannya. Ia diam cukup lama, memerhatikanku dari ujung kaki hingga kepala sebelum memberi kecupan lalu berpaling ke jendela.
Dari jendela itu kami seakan selalu bisa melihat semesta; langit dan bumi yang saling mengintip, demi mencari apa yang ada dan tak ada pada diri mereka. “Kau tahu mengapa?” Aya bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari bangku-bangku taman yang mulai tampak menguning terkena cahaya lampu.
Aku menatapnya. Ia menoleh. Kugerakkan kedua bahu. Ia kembali menatap keluar. Suara napasnya terdengar lebih berat. Ia eratkan syal kuning yang menutupi jenjang lehernya. “Karena dengan begitu semesta menjaga dirinya.”
Berada di kamar itu adalah satu dari sedikit hal yang sangat kusukai. Hal lainnya, tentu saja memetik anggur bersama ayah dan ibunya yang tidak pernah mampu menutupi tatapan cemas tiap melihat kami bercanda.
“Kau pasti tahu, orang-orang percaya bahwa orang tua selalu punya cara untuk menyayangi. Kita tak akan bisa memaksa mereka mencintai kita dengan cara yang paling kita inginkan.”
Entah kau tahu atau tidak, sudah berapa kali orang tuamu memintaku untuk tidak menemuimu, sesuatu yang tentu saja tidak bisa aku lakukan sejak melihatmu sore itu. Seorang gadis kecil dengan rambut kemerahan berdiri menatap taman kota dari jendela. Gadis itu menatap dengan mata yang seperti sedang menatap cermin saat merias dirinya dan menemukan betapa tidak ada yang istimewa pada dirinya. Mata gadis itu seperti berisi jalan sunyi yang di ujungnya terdapat sebuah kursi di mana ia sedang duduk sendiri memainkan biolanya. Aku begitu tenggelam dalam sepasang mata itu sebelum ia menghilang saat tirai jendela tiba-tiba tertutup.
Sejak sore itu aku selalu menunggu kesempatan melihat tatapan itu. Sebuah tatapan yang tak berubah dari waktu ke waktu. Tak peduli musim sudah berganti-ganti warna. Sepasang mata itu selalu begitu, seakan tidak ingin berhenti mencari seseorang untuk mendengarkan gadis kecil di dalamnya memainkan biola.
“Namanya Aya, dan ia tak pernah ke mana-mana. Penyakitnya membuat ia dianggap terkutuk dan hanya bisa keluar pada musim memetik anggur,” seorang perempuan pemetik anggur akhirnya memberi tahuku.
“AKU SELALU BERMIMPI tentang sebuah kota yang hanya memiliki satu musim di mana kau dan aku duduk di rerumputan taman sambil mencari-cari letak mata langit dan bumi. Lalu sesekali kita berjalan melintasi pohon-pohon cemara untuk menuju gereja.”
Tiap kapal hendak berlayar, aku teringat perkataanmu. Mungkin karena itu aku selalu sempat menengadah ke langit mencari-cari bintang paling besar yang mungkin bisa kusebut mata langit. Mataku selalu sempat menyelam ke dasar laut untuk mencari lubang hitam yang mungkin bisa kusebut mata bumi. Tapi sampai sekarang aku tak juga menemukannya.
Memang aku tidak pernah menjanjikan untuk menemukan kota dengan satu musim itu, kota yang selalu datang dalam impianmu. Namun dalam surat terakhir yang kukirim; dari pelabuhan terakhir yang kami singgahi, aku sudah telanjur menceritakan semuanya kepadamu.
“Mungkin aku tidak akan menemukan mata langit dan mata bumi, tapi mungkin aku akan menemukan sebuah kota yang hanya memiliki satu musim dan bisa kau tempati dengan mata yang lebih bersemangat, pun begitu dengan Ayah dan Ibu.
Di pelabuhan itu seorang ahli membaca langit bercerita tentang sebuah kota yang hanya memiliki musim memanen anggur. Untuk menemukannya kami harus terus berlayar ke selatan sampai melihat gunung dengan puncak kemerahan.
Aku sangat bersemangat mendengarnya dan, anehnya, semangat yang sama kulihat di mata kaptenku. Saking semangatnya membayangkan kota itu, kami tak memedulikan cerita tentang ular-ular raksasa dari dasar laut yang siap membakar siapa saja yang mendekati kota itu. Cerita tentang ular-ular raksasa itu terasa seperti penggalan cerita yang sengaja dibuat untuk menakuti kami, dan tentu kami tak perlu merisaukan cerita itu.
Aku percaya kami akan menemukan kota itu karena aku bersama orang-orang yang tepat untuk menemukannya. Seluruh awak kapal adalah orang-orang tangguh yang sudah menghabiskan usianya di seluruh lautan. Lebih dari itu, aku punya salah seorang teman yang sangat percaya dan menyayangiku. Ia kerap memintaku bercerita tentang mata langit dan mata bumi serta kota dengan satu musim. Ia selalu mendengar ceritaku dengan bersemangat. Sesering apa pun aku menceritakannya ia tak pernah merasa bosan. Bahkan tak jarang semangatnya mampu menjadi penyemangatku untuk terus menceritakan dan menjaga apa yang kau impikan. Ia juga selalu menjadi pembelaku dari orang-orang yang jengkel mendengar ceritaku, termasuk Kapten kapal, kakaknya.
Kakaknya yang tambun dan berkumis tebal itu selalu berusaha mencari jalan untuk menghina ceritaku. Pernah ia memanggilku ke ruangannya dan memintaku bercerita tentang mata langit dan bumi serta kota satu musim di hadapan rekan-rekannya. Sempat kukira ia mulai berpikir untuk percaya padaku, namun kenyataannya ia malah menjadikan ceritaku sebagai bahan tertawaan.
Beruntung ada adiknya yang selalu menyemangatiku. Ia bahkan membelikanku seperangkat alat tulis yang sangat baik keadaannya agar aku bisa menulis surat dengan baik kepadamu. Dan ia memintaku untuk mulai menuliskan ceritaku. Ia mengatakan, sebuah cerita yang baik bisa menjadi hadiah terbaik.”
“KURASA KITA TIDAK akan pernah sampai ke kota itu. Sebuah kota yang hanya memiliki musim memanen anggur, di mana gadisku dan gadismu pasti bisa berjalan-jalan di taman sambil tersenyum seperti bulan,” kaptenku berbicara dengan nada yang lebih berat dari biasanya.
Kami tidur telentang, melihat bintang-bintang di langit yang seperti sedang berkumpul pada satu titik dan sedang mengadakan ritual terakhir. Kapten kapalku sedang dalam keadaan mabuk, pun begitu denganku. Suara ombak yang menampar sisi kiri kanan kapal terdengar makin keras. Angin yang tadinya terasa bersahabat kini terdengar seperti laju segerombol perompak yang datang dengan teriakan penuh keinginan membunuh. Suara-suara teriakan awak kapal yang tadinya memenuhi sekitar kami, perlahan raib seakan tertelan ke dasar laut paling dalam.
Aku memalingkan pandangan, melihat wajah pria yang selama ini selalu mencibir ceritaku. Ia tidak pernah menceritakan alasannya tidak menyukai cerita-ceritaku. Namun, malam itu ia terus bercerita tentang seluruh hidupnya seperti bayi yang tidak bisa menghentikan tangisnya.
“Kau tahu,” katanya perlahan.
“Ketika kau bercerita tentang kedua orang tua gadis yang menunggumu itu, aku seperti melihat diriku pada kecemasan mereka,” sambungnya.
“Memiliki sesuatu yang berharga namun tak pernah membuat kita merasa berharga karena tak pernah mampu memberikan apa-apa, adalah hal yang sungguh membuat menderita,” suara napasnya makin berat.
“Tak ada manusia yang terkutuk. Dunia inilah yang terkutuk karena menganggap mereka terkutuk!”
Bersamaan dengan berakhirnya kalimat itu, suara tiang layar yang roboh terdengar menggelegar, disambung suara langit yang seperti sedang dalam kegilaan. Kaptenku tertawa dengan suara keras yang tak pernah kudengar sebelumnya. Ia berteriak menantang langit yang seakan sedang menertawai kami.
Suara-suara kayu patah dan terbelah makin memenuhi sekitar kami. Tiba-tiba udara yang sebelumnya asin terasa menjadi lebih manis. Aku memejamkan mata, membayangkan kau masih duduk di meja dekat jendela sambil menulis. Sesekali kau tersenyum sambil melihat ke luar jendela ke arah taman di mana pasangan-pasangan sedang bercengkerama. Sesekali pula kau akan melihat arloji kecil yang terselip di gaunmu, mungkin kain kuning yang membungkusnya kau simpan di laci. Mungkin di belakangmu sedang berdiri Ayah dan Ibu yang ikut membaca surat-surat yang kukirimkan. Mungkin kalian membayangkan aku sedang berdiri di sebuah pelabuhan di mana gunung berpuncak kemerahan itu berada. Mungkin kalian membayangkan aku sedang berjalan berkeliling di ladang anggur sambil menulis surat selanjutnya.(f)
********
Budi Afandi
Budi Afandi


