
Foto: Shutterstock
Ada satu peristiwa yang sampai sekarang masih membuat saya merasa bersalah, meskipun sudah lama berlalu. Ceritanya begini, suatu kali saya jalan-jalan berdua bersama suami ke Roma, Italia. Seperti biasa, tiap punya kesempatan bepergian ke mana pun, saya selalu mempersiapkan segala hal tentang kota itu. Mulai dari situasinya, objek wisata, keunikan tempat tersebut, hingga pengalaman orang-orang yang pernah bepergian ke kota itu. Mudah saya dapatkan tentang itu, tinggal browsing internet.
Nah, kata kebanyakan orang, Roma adalah kota turis yang banyak copetnya! Banyak oknum warga setempat yang suka menipu dan memanfaatkan situasi. Misalnya, memaksa turis untuk membeli jualan mereka, atau memotret turis tanpa minta izin lalu meminta bayaran yang sangat mahal. Ngeri juga, ya. Apalagi buat saya yang cenderung porno ini.
Jadi, sebelum berangkat, saya benar-benar mempersiapkan diri agar terhindar dari kemungkinan dicopet. Sampai ke hal-hal kecil, seperti tas yang akan saya pakai. Saya pakai tas murah saja, bukan tas branded! Biar kalau kecopetan dan tasnya robek, saya enggak sampai nangis! Ha… ha… ha…! Lalu tasnya harus ada ritsleting dan mudah dibuka-tutup.
Selain itu, isi dompet yang penting-penting dipisah. Uang ditaruh di kantong doraemon alias di balik baju (ini ajaran ibu saya), begitu pula kartu identitas dan ATM. Yang lain disimpan di dompet. Terakhir, saya menyiapkan diri untuk selalu waspada dan mata awas. Siap lahir batin pokoknya, ha…ha...ha…!
Kebetulan kami memulai perjalanan hari Kamis, sehingga keesokan harinya, suami harus melaksanakan ibadah salat Jumat. Ada satu masjid terbesar di Italia yang berada di Roma. Tempatnya agak jauh dari pusat kota, agak di pinggiran, sekitar 30 menit berkereta. Tapi, kami tetap mengejar salat ke tempat ini karena rasa penasaran juga.
Masjid ini memang besar sekali, berhalaman luas, bertingkat, dan sangat indah arsitekturnya. Tidak hanya difungsikan untuk tempat beribadah, tapi juga untuk ruang pertemuan. Tempat salat berada di lantai dua. Suasana masjid saat itu tidak terlalu ramai. Mungkin karena besar sekali sehingga terasa lengang dan kami tiba jauh sebelum masuk waktu salat Jumat.
Suami langsung menuju tempat berwudu. Saya memilih menunggu di pelataran depan masjid, duduk bersandar di pilar sendirian. Tiba-tiba… dari kejauhan terlihat seseorang berperawakan tinggi besar, berkulit sangat gelap, dan berambut gimbal, mendekati saya perlahan-lahan. Waduh, jantung saya mau copot. Dia mau apa, ya? Jangan-jangan… jangan-jangan…. Saya langsung pasang kuda-kuda siap kabur, kalau dia adalah pencopet atau penipu atau sejenisnya. Tapi, masa, sih, di masjid ada copet? Haloo… mungkin saja, ini kan Roma! Pikiran buruk pun berkecamuk. Hati saya ciut. Duh, suami di mana, ya?
Belum terlalu dekat, dia sudah mengajak saya bicara, “Excuse me… Can you help me?” Lalu terdengar lanjutan kalimatnya yang tidak begitu jelas maksudnya, atau mungkin lebih tepatnya saya sudah tidak bersedia mendengarkan karena sangat takut.
Saya langsung memberi gestur tidak nyaman dan menolak, namun dengan nada sopan, “Sorry, Sir, but I have to go….” Saya pun buru-buru pindah ke pilar yang lebih jauh, mendekati tempat wudu suami. Saya lihat wajah orang itu sedikit kecewa. Ah, yang penting dia tidak bisa ‘ngapa-ngapain’ saya.
Tidak lama kemudian suami selesai berwudu. Saya cepat-cepat mengadukan kejadian itu kepada suami. Dia lalu meminta saya untuk menunggu persis di depan pintu masjid, supaya dia bisa melihat saya. Saya menurut. Suami masuk ke dalam masjid.
Tiba-tiba suami saya keluar lagi dari dalam masjid. Loh, kok, dia bersama dengan pria hitam tadi? Saya menduga dia adalah orang Afrika. Dari jauh, saya melihat mereka berdua berbicara. Saya mengamati dengan rasa waswas. Pria itu menyodorkan kamera kepada suami. Lalu dia berpose, berdiri tegap tepat di depan masjid yang memang indah arsitekturnya ini. Suami saya memotretnya. Sekali lagi dia bergaya bak pemain bola, duduk dengan menekuk satu lutut, lutut lainnya dipegang erat. Senyum terkembang di wajahnya. Setelah beberapa kali jepretan, dia tampak berkali-kali mengucapkan terima kasih sambil tersenyum ramah kepada suami saya.
Oalaaa…. Saya salah sangka rupanya! Ternyata, dia cuma minta tolong saya untuk memotretnya. Duh! Menyesal sekali rasanya. Ketika saya menghampiri suami, pria itu menyadari bahwa saya adalah istri dari orang yang memotretnya. Dia pun melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah kami berdua.
Duh, Roma. Ini akibat keparnoan saya. Roma yang katanya begini, yang katanya begitu…. Ternyata, Roma enggak gitu. Lain kali waspada harus, tapi prasangka baik tetap dijaga. (f)
Afrilla Dwitasari - Karlsruhe, Jerman
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail ke kontak.femina@pranagroup.id
Baca Juga:
Gado-Gado: Baju Koko
Gado-Gado: Fenomenama
Gado - Gado: Guru Privat
Topic
#gadogado, #fiksi, #fiksifemina


