Foto: Dok. Femina
“Seketika aku panik, “Ya Tuhan, jangan-jangan Ocha mendekati sumur dan terjebur.”
Mempunyai hewan peliharaan merupakan suatu kebahagiaan untuk sebagian orang. Apapun jenis hewan peliharaannya, yang penting mereka sayang dan mengurusnya dengan sepenuh hati. Omong-omong soal hewan peliharaan, aku pun memelihara seekor anak kucing yang baru berumur empat bulan. Anak kucing ini kuberi nama Moccha, biasa kupanggil Ocha dan dia penghuni halaman belakang rumah.
Soal anak kucing ini, ada sedikit pengalaman memalukan yang aku alami. Sore itu sekitar pukul 15.00 ada dua orang pria masuk ke pintu belakang rumah, yang ternyata mereka disuruh ayahku untuk menangkap ular yang ada di dalam sumur. Pada saat dua pria itu datang, Ocha kabur karena memang kurang bersahabat dengan orang asing. Makanya, setiap ada yang datang ke rumah selain keluarga, dia langsung bersembunyi.
“Bu, tadi Ocha kabur kemana ya?” tanyaku kepada ibu setelah selesai memasak.
“Paling ke samping rumah seperti biasa,” jawab ibuku sambil menutup tudung saji.
“Oke, baiklah.” kataku sambil berjalan ke ruang teve.
Setelah setengah jam menonton teve, aku pun ke dapur dan ibuku bilang bahwa Ocha tetap tidak ada di halaman belakang. “Kok Ocha belum balik ke halaman belakang ya?” kata ibuku. “Hah?” balasku dengan bingung.
Aku pergi ke samping rumah untuk mengecek Ocha dan ternyata tidak ada. Mencari ke sekeliling pun tidak ada sampai aku melihat penutup sumur itu masih terbuka padahal dua orang pria yang menangkap ular itu sudah pulang. Seketika aku panik, “Ya Tuhan jangan-jangan Ocha mendekati sumur dan terjebur.” gumamku dengan muka sedikit memanas.
Aku bergegas ke dapur dan bertanya kepada ayahku. “Yah, Ocha gak ada, jangan-jangan terjebur ke sumur!,” kataku dengan panik. “Gak mungkin, barusan ayah dari sana, kalaupun dia nyebur ke sumur, udah ayah tolongin.” jawab ayahku dengan tenang. Nanti jam 17.00 juga dia akan datang buat makan,” tambah ibuku dengan yakin
Saat pukul 17.00 aku kembali ke halaman belakang sambil membawa makan untuk Ocha dan Belang, salah satu kucing penghuni halaman belakang juga. Tapi Ocha belum nampak juga. Sambil panik dan berderai air mata, aku kembali ke dapur untuk memberitahu ayah dan ibuku.
“Ocha tetap nggak ada.” ucapku sambil sesenggukan. “Dia belum bisa kemana-mana kan belum bisa manjat benteng rumah.” kata ibuku menanangkan. “Tapi aku takut Ocha terjebur ke sumur, bu,” jawabku sambil terus menangis. “Duh, jangan ngomong gitu dong,” dan ibuku pun sekarang sama paniknya denganku.
“Mungkin dia sudah bisa manjat benteng dan mau main keluar.” kata ayahku. “Haduh, sebenarnya Ocha kemana sih?” Aku menjadi kalang kabut dan ku cari lagi Ocha di samping rumah dan hasilnya tetal tidak ada. “Bagaimana kalau induknya pulang, terus Ocha tidak ada, aku tidak bisa membayangkan betapa sedihnya dia dan semua ini karena kelalaianku menjaga Ocha,” Gumamku dalam hati.
“Belang, kamu lihat Ocha nggak?” “Meooong!” Ya ampun, kenapa aku malah bertanya sama kucing, sungguh konyol. Tanpa buang waktu aku bergegas ke depan rumah siapa tahu Ocha mencoba untuk main kesana dan ternyata Ocha tidak disana. Kutanyai anak-anak yang sedang bermain bola dan ibu-ibu yang sedang mengasuh anak-anaknya. “Dek, lihat kucing warna hitam putih disini gak?” tanyaku penuh harap. “Gak lihat kak.” jawab mereka. “Oke makasih.” kataku.
Lalu kuulangi pertanyaan yang sama kepada ibu-ibu itu dan lagi lagi-lagi jawabannya sama, mereka tidak melihat Ocha. Pencarian dilanjutkan dengan mengecek ke rumah tetangga sebelah dan kujumpai seekor kucing berwarna abu menatapku dengan kebingungan. “Aku gak bakal tanya kamu kok meng.” kataku kepada kucing abu itu lalu aku kembali ke rumah karena tidak ada tanda-tanda Ocha ada disana.
“Gak ketemu.” kataku dengan lesu kepada ibuku. “Ya sudah mending beri makan dulu si Belang, dia sudah gak sabar mau makan.” jawab ibuku. Lalu aku beri makan dulu si Belang lalu mengecek lagi ke samping rumah karena penasaran. Setelah sampai di samping rumah, tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak dari bawah tumpukan baju bekas yang ada di atas tumpukan batu bata dan sesuatu yang bergerak-gerak itu pun seketika meloncat.
“Ochaaaa kamu disini rupanya, tadi aku cari kok ga ada, aku pikir kamu terjebur ke sumur!” kataku berteriak histeris tetapi perasaanku menjadi lega karena Ocha baik-baik saja. Ocha hanya menatapku dengan wajah polos tanpa dosa seakan-akan dia tidak melakukan sesuatu yang menghebohkan seisi rumah. Aku segera memangku Ocha dan dan berlari ke arah dapur.
“Tadaaa, Ocha ketemu di tumpukan baju bekas!” seruku kepada ayah dan ibu. “Oalaah ternyata kamu sembunyi disana, Cha. Tadinya ibu mau ikhlasin saja kamu kalau tidak ketemu.” ibuku berkata dengan perasaan lega. “Tuh kan ayah bilang apa, Ocha gak bakal kemana-mana,” timpal ayahku.
Setelah itu, Ocha pun makan bersama Belang dan lega rasanya Ocha sudah ketemu. Tapi kok tadi aku tidak mencarinya ke tumpukan baju bekas ya? Malu rasanya sudah heboh cari sana sini tanya sana sini sambil berderai air mata padahal yang dicari tidak kemana-mana. Benar kata orang, panik membuat kita tidak bisa berpikir dengan jernih. (f)
Nisya Aprilia Rahmawati, Bandung
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail ke kontak.femina@pranagroup.id
Baca Juga:
Gado-Gado: Parno di Roma
Gado-Gado: Baju Koko
Gado - Gado: Guru Privat
Topic
#fiksifemina, #gadogado


