Fiction
Gado - Gado: Guru Privat

25 Aug 2019


Foto: Shutterstock.com


Sepuluh tahun full  menjadi ibu rumah tangga membuatku suntuk. Apalagi situasi keuangan keluarga  sedang memburuk. Aku mulai  mencari-cari info lowongan kerja di surat kabar, namun rasanya  tak ada yang cocok buatku. Usiaku tiga puluh lima tahun dan tak memiliki pengalaman kerja yang sesuai dengan ijazahku:  sarjana manajemen perusahaan dilengkapi sertifikat kursus komputer dan bahasa Inggris. Pengalaman kerjaku hanya pernah  menjadi guru honorer di sebuah SMP swasta sebelum melahirkan anak pertama. 

Setelah lama berpikir, muncul  ide untuk menjadi guru privat. Profesi ini   mungkin sesuai untukku, lagi pula tidak mensyaratkan batasan usia. Kutelepon  lembaga bimbel dan privat yang terkenal di kotaku.  Mereka ternyata berminat, dan memintaku datang ke kantornya untuk wawancara dan tes. Nyatanya, aku diterima!  Yang akan menjadi murid-muridku adalah  anak-anak SD kelas 5 yang sedang mengikuti  kelas akselerasi. 

Aku menjalani profesiku dengan riang. Murid-murid merasa cocok denganku,  begitu juga para orang tuanya. Mungkin menjadi guru memang jalanku untuk mulai masuk ke dunia kerja  lagi. Tapi ternyata, kesempatan yang kuterima dengan senang ini tidak berjalan mulus. 

Sistem penggajian di lembaga ini, sesuai kesepakatan  di awal kerja, adalah dengan memotong 20% dari gaji yang  akan diberikan setelah satu bulan bekerja, jika orang tua siswa memperpanjang kontrak. Aku sempat mendengar kabar tak sedap tentang hak-hak guru yang tak terlalu diindahkan di lembaga  bimbingan belajar ini. Ada yang gajinya ditahan. Wah….! Sejujurnya, aku tak mau mengalami hal itu. Apalagi aku memang sangat membutuhkan uangnya. 

Ternyata, aku menjadi salah satu korban. Gajiku tak dibayar!  Bayangkan, pengorbanan biaya, waktu, dan tenaga yang sudah dikeluarkan.  Ada dua orang tua murid yang merasa prihatin pada keadaanku. Mereka melepaskan kesepakatan  dari bimbingan belajar ini dan memilih langsung menggajiku di awal bulan, dengan catatan aku tetap bisa  mengajar anak-anak mereka. Aku pun keluar dari lembaga itu, tanpa digaji. Malah aku dituduh mencuri murid. Kesal dan kecewa.

Tapi, rezeki  memang tidak ke mana. Setelah  keluar dari bimbingan belajar itu,  para orang tua yang prihatin merekomendasikan aku  kepada orang tua lainnya. Jadi, aku punya beberapa murid  les privat secara
door to door. 

Suka duka sebagai guru door to door ini  juga banyak. Suatu kali, untuk melayani anak, sebutlah Arni,  yang rumahnya jauh aku meminta suami bolos kerja agar bisa mengantarku dan menjemput kembali setelah jam  les selesai. Sekalian menghemat biaya transportasi juga. Pukul 12 siang yang panas aku berangkat setelah menitipkan anak-anak kepada pengasuh. 

Eh, anaknya ternyata pergi bersama ayahnya dan baru sore kembali.  Kesalnya minta ampun. Perjalanan yang sungguh sia-sia. Kenapa mereka tidak SMS dulu, sih? Jadi,  aku bisa menggantikan jadwalnya untuk mengurus murid yang lain.  Aku hanya mengurut dada.

Tidak ada pilihan, kutelepon suami untuk menjemput, Namun, nomor ponselnya  tidak aktif. Bolak-balik menelepon suami, tak ada nada sambung. Jengkel, kesal, sedih. Berjalan kaki dengan sepatu berhak tinggi tentu pegal. Entah, sudah berapa ribu langkah menyusuri jalan, tiba-tiba aku merasa ingin ke masjid  di dekat situ. Maksudnya untuk beristirahat nyaman sambil menunggu kalau-kalau suamiku menyusulku dari tempat muridku, Arni.  

Langkahku terhenti melihat sosok di teras masjid.  Suamiku sedang rebahan dan matanya terpejam. Perasaanku campur aduk….(f)
 

Komala Sutha - Bandung 

Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail ke kontak.femina@pranagroup.id 

 

Baca Juga: 
Gado-Gado: Salah Paham
Gado-Gado: Nyampah!
Gado-Gado: Hong Kue, Hong Guan

 


Topic

#gadogad0, #fiksi

 


MORE ARTICLE
polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?