
Foto: Shutterstock.com
Sepuluh tahun full menjadi ibu rumah tangga membuatku suntuk. Apalagi situasi keuangan keluarga sedang memburuk. Aku mulai mencari-cari info lowongan kerja di surat kabar, namun rasanya tak ada yang cocok buatku. Usiaku tiga puluh lima tahun dan tak memiliki pengalaman kerja yang sesuai dengan ijazahku: sarjana manajemen perusahaan dilengkapi sertifikat kursus komputer dan bahasa Inggris. Pengalaman kerjaku hanya pernah menjadi guru honorer di sebuah SMP swasta sebelum melahirkan anak pertama.
Setelah lama berpikir, muncul ide untuk menjadi guru privat. Profesi ini mungkin sesuai untukku, lagi pula tidak mensyaratkan batasan usia. Kutelepon lembaga bimbel dan privat yang terkenal di kotaku. Mereka ternyata berminat, dan memintaku datang ke kantornya untuk wawancara dan tes. Nyatanya, aku diterima! Yang akan menjadi murid-muridku adalah anak-anak SD kelas 5 yang sedang mengikuti kelas akselerasi.
Aku menjalani profesiku dengan riang. Murid-murid merasa cocok denganku, begitu juga para orang tuanya. Mungkin menjadi guru memang jalanku untuk mulai masuk ke dunia kerja lagi. Tapi ternyata, kesempatan yang kuterima dengan senang ini tidak berjalan mulus.
Sistem penggajian di lembaga ini, sesuai kesepakatan di awal kerja, adalah dengan memotong 20% dari gaji yang akan diberikan setelah satu bulan bekerja, jika orang tua siswa memperpanjang kontrak. Aku sempat mendengar kabar tak sedap tentang hak-hak guru yang tak terlalu diindahkan di lembaga bimbingan belajar ini. Ada yang gajinya ditahan. Wah….! Sejujurnya, aku tak mau mengalami hal itu. Apalagi aku memang sangat membutuhkan uangnya.
Ternyata, aku menjadi salah satu korban. Gajiku tak dibayar! Bayangkan, pengorbanan biaya, waktu, dan tenaga yang sudah dikeluarkan. Ada dua orang tua murid yang merasa prihatin pada keadaanku. Mereka melepaskan kesepakatan dari bimbingan belajar ini dan memilih langsung menggajiku di awal bulan, dengan catatan aku tetap bisa mengajar anak-anak mereka. Aku pun keluar dari lembaga itu, tanpa digaji. Malah aku dituduh mencuri murid. Kesal dan kecewa.
Tapi, rezeki memang tidak ke mana. Setelah keluar dari bimbingan belajar itu, para orang tua yang prihatin merekomendasikan aku kepada orang tua lainnya. Jadi, aku punya beberapa murid les privat secara door to door.
Suka duka sebagai guru door to door ini juga banyak. Suatu kali, untuk melayani anak, sebutlah Arni, yang rumahnya jauh aku meminta suami bolos kerja agar bisa mengantarku dan menjemput kembali setelah jam les selesai. Sekalian menghemat biaya transportasi juga. Pukul 12 siang yang panas aku berangkat setelah menitipkan anak-anak kepada pengasuh.
Eh, anaknya ternyata pergi bersama ayahnya dan baru sore kembali. Kesalnya minta ampun. Perjalanan yang sungguh sia-sia. Kenapa mereka tidak SMS dulu, sih? Jadi, aku bisa menggantikan jadwalnya untuk mengurus murid yang lain. Aku hanya mengurut dada.
Tidak ada pilihan, kutelepon suami untuk menjemput, Namun, nomor ponselnya tidak aktif. Bolak-balik menelepon suami, tak ada nada sambung. Jengkel, kesal, sedih. Berjalan kaki dengan sepatu berhak tinggi tentu pegal. Entah, sudah berapa ribu langkah menyusuri jalan, tiba-tiba aku merasa ingin ke masjid di dekat situ. Maksudnya untuk beristirahat nyaman sambil menunggu kalau-kalau suamiku menyusulku dari tempat muridku, Arni.
Langkahku terhenti melihat sosok di teras masjid. Suamiku sedang rebahan dan matanya terpejam. Perasaanku campur aduk….(f)
Komala Sutha - Bandung
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail ke kontak.femina@pranagroup.id
Baca Juga:
Gado-Gado: Salah Paham
Gado-Gado: Nyampah!
Gado-Gado: Hong Kue, Hong Guan
Topic
#gadogad0, #fiksi


