Fiction
Dua Tamu Pernikahan

5 Feb 2016


 
Audra masih antara percaya dan tidak ketika saat ini ia menatap sahabatnya, Elise, yang sedang berdiri di teras La Maltese  Estate dengan status sebagai istri orang. Elise tampak begitu cantik dengan gaun putih menjuntai, rambut cokelatnya digelung ke atas, dan senyumnya begitu cerah menyamai kecerahan langit Santorini di atas sana.
Audra berdecak takjub. Elise telah menjadi seorang istri dari pria berkebangsaan Yunani yang ditemuinya saat pelesiran ke Raja Ampat, tempat pria itu bekerja sebagai pengelola salah satu resort di sana. Wanita yang pernah bersumpah tidak akan pernah kawin dengan bule itu kini tengah memeluk mesra Zander, pria asal Yunani itu.Beberapa kali Zander membisikinya sesuatu yang membuat pipi Elise memerah.Jelas sekali hatinya tengah berbunga-bunga. Rona kemerahan yang sama dilihat Audra ketika Elise menyampaikan kabar itu, pada suatu sore di tengah obrolan sambil minum kopi.
“Aku akan menikah bulan depan,  Audra,” senyum Elise tak putus-putus.
“Menikah? Kau serius?”
    Elise mengangguk malu. Kedua tangannya yang tertangkup di atas meja mengonfirmasi berita itu. Sebuah cincin emas melingkar di jari manis kirinya.
    “Dengan siapa?”
    “Namanya Zander. Tapi dia masih di Yunani sekarang, pulang ke rumah orang tuanya.”
    “Zander itu pria yang kau temui waktu liburan?” Audra masih tak percaya.
    “Wah, ternyata kau masih ingat.”
    “Tentu saja aku ingat. Kalian kan…”
    “Audra, jangan dilanjutkan,” potong Elise cepat. Dia memandang ke sekeliling kafe. Memastikan tak ada orang yang ia kenal di sini. “Soal itu, cukup kau yang tahu, oke?”
    Ketika itu Audra cuma mengangguk, tak berani berkomentar banyak. Sebab baru sebulan sebelumnya Elise mengumumkan rencana pernikahan namun dengan pria yang berbeda. Pria yang belum sempat diketahui namanya oleh Audra karena keburu kabur entah ke mana.
    Semenjak kejadian ditinggal lari oleh calon suaminya itu, Elise seperti patung tak bernyawa. Tatapannya seringkali kosong. Meski semua sahabat-sahabatnya---termasuk Audra, sebisa mungkin menemaninya ke mana pun, mengajaknya jalan-jalan, bahkan sesekali menginap di rumahnya, tapi tak satu pun mampu mengembalikan senyum di wajahnya.
    Elise wanita yang baik, cantik, dengan karier yang sudah mapan. Di usianya yang menginjak 23 tahun, dia telah menjabat sebagai sales executive sebuah perusahaan dealer otomotif. Teman-teman wanitanya dibuat iri. Apalagi saat rencana pernikahannya terdengar, tak ayal semua bertanya-tanya pria macam apa yang dipilih wanita dengan selera seperti Elise. Audra merasakan hal yang sama. Dibuat penasaran setengah mati bahkan hingga detik ini. Tidak pernah ada yang tahu siapa laki-laki yang waktu itu akan dinikahi Elise dan mengapa rencana pernikahan itu tiba-tiba batal.
    Munculnya nama Zander telah melenyapkan semua praduga. Siapa nama lelaki yang kabur meninggalkan Elise tidak pernah lagi dipertanyakan. Termasuk apa motif kepergiannya.


AUDRA MASIH DUDUK dengan perasaan takjub. Di dekatnya, ada sebuah etalase kaca terletak di tengah-tengah venue untuk berdansa. Dari kursinya, Audra bisa melihat kilauan kalung permata di dalamnya. Pantulan mentari di langit Santorini membuat permukaannya berpendar-pendar. Indah dan memabukkan.
    Kalung itu hadiah pernikahan untuk Elise dari Zander. Kabarnya bernilai hampir 700.000 dolar AS. Audra tidak tahu apakah orang Yunani biasa memajang hadiah pernikahan seperti ini. Seperti memajang barang lelangan. Tapi yang jelas, Audra beberapa kali tak berkedip saat menatapnya, meski hanya dari kejauhan.
    Mungkin ia hanya iri pada Elise.Sebulan terpuruk menangisi pria yang entah siapa itu kini ia dapat Zander sebagai gantinya. Pria tampan dan kaya yang memanjakannya dengan barang-barang mewah.
    Kau bayangkan jadi diriku. Duduk di sini, melihat semua ini, hanya sebagai tamu. Hanya penonton.
    Audra mengulang-ulang kalimat itu dalam hatinya. Meski begitu, dia juga merasa berbahagia. Elise telah mendapatkan pria yang lebih baik, yang sungguh-sungguh menyayanginya.
    “Minum, Kyria ?”
Audra mengalihkan mata. Seorang pelayan berdasi kupu-kupu menyodorkan nampan berisi dua gelas cocktail.
“Efhari sto .” Audra mengambil gelas itu.
“Paraka lo .” Si pelayan balas tersenyum.
“Aku juga,” sambar seseorang yang tiba-tiba duduk di samping Audra, dan mengambil satu-satunya gelas yang tersisa dari nampan.
“Efhari sto, Tuan…,” ia melirik badge nama si pelayan, “... Andreas,”  lanjutnya sambil tersenyum ramah.
Pelayan bernama Andreas itu balas tersenyum sebelum berbalik pergi. Meninggalkan Audra bersama si pria asing di sampingnya.
    “Hallo. Ya ssas,” sapa pria itu.
    “Ya ssas.” Audra tersenyum singkat, lalu meneguk minumannya.
    “Teman mempelai pria atau wanita?”
     Audra menoleh lagi. Diamatinya pria itu sejenak. Postur tubuhnya tinggi, persis Zander. Kulitnya kecokelatan, hidungnya mancung, dan bola matanya sebiru batu safir. Seminggu berada di Yunani, Audra sudah tak lagi kaget melihat jelmaan-jelmaan Akhilles berkeliaran bebas.Begitu biasa, banyak, ada di mana-mana. Audra masih lebih takjub melihat kalung permata itu.
    “Hei, Nona. Apa kau mendengarku?”
    “Hmm...  sorry, but I don’t speak Greek.” Audra tersenyum sungkan. Seminggu ini ia cuma tahu bahasa Yunani untuk kalimat sapaan dan,  “Aku tersesat, apa kau bisa bahasa Inggris?”
    “English? Okay with that?” tawar pria itu dengan bahasa Inggris sekenanya.
    “Okay.” Audra menahan tawa. “Tadi apa yang kau tanyakan?”
    “Are you friends with the bride or the groom?”
    “The bride. Dengan mempelai wanita,” sahut Audra, sambil menoleh ke arah Elise. “Aku dan Elise bersahabat.”
    Kedua mata saphire itu membulat. “Berarti kau juga dari Indonesia?” katanya, setengah takjub.
    “Ya. Dulu aku dan Elise kuliah di kampus yang sama.” Audra mengangguk singkat. Diputar-putarnya gelas koktail yang isinya tinggal setengah. “Kalau kau? Temannya Elise atau Zander?”
    “Aku adiknya Zander.”
    Kini, giliran mata Audra yang membelalak kaget. “Oh, maaf. Aku tidak terlalu mengenal Zander. Kami baru bertemu hari ini.”
    Pria itu tertawa-tawa. “Tidak apa-apa. Berani taruhan, sebagian besar tamu di sini juga pasti tidak tahu kalau aku adiknya Zander.”
    “Kenapa kau bilang begitu?”
    “Aku sudah lama pergi dari rumah.”
    Audra terdiam. Diamatinya ekspresi pria itu yang tiba-tiba berubah. Keceriaannya lenyap, berganti muram.
    “Sejak lulus SMA, aku memutuskan pergi ke Argentina dan tinggal di sana. Sebagai fotografer. Hal yang paling ditentang oleh ayahku.” Pria itu menoleh sekilas, mencoba tersenyum. “Ayah punya banyak bisnis pariwisata. Pulau, hotel, resort, kapal pesiar... dan aku disuruh meneruskan bisnisnya, tidak usah kuliah. Supaya kakakku bisa melanjutkan kuliah S3-nya di Prancis, sementara bisnisnya tetap ada yang menjalankan. Tapi aku tidak mau. Aku menolak keinginannya. Aku punya keinginanku sendiri.”
    “Menjadi fotografer?”
    Pria itu mengangguk. Kedua matanya berbinar seperti anak kecil yang antusias begitu ditanya soal cita-cita kalau sudah besar nanti.
    “Sejak lulus SMA, baru kali ini kau pulang?”
    Pria itu menggeleng pelan. “Terakhir kali aku kemari waktu ayahku meninggal.”
    “Oh, maafkan aku....”
    “Tidak apa-apa.” Pria itu tersenyum. Sesaat kemudian ia menjulurkan tangan kanannya. “Oh, iya, aku Konstantinos. Panggil saja Kostas.”
    Audra tersenyum sambil menyambut tangan itu. “Aku Audra dan... itu sudah termasuk nama panggilan.”
    Kostas terbahak. Selanjutnya, obrolan mereka mengalir seperti keran galon martini yang terus mengucur di pesta ini. Meskipun sesekali Audra butuh usaha ekstra untuk mengerti bahasa Inggris Kostas, mereka tetap merasa nyaman. Ditambah hobi Audra yang sebulan sekali menjelajah daerah di Indonesia untuk hunting foto membuat Kostas makin tertarik.
Sedangkan Kostas bercerita tentang pengalamannya menyusuri pedalaman Argentina, sebulan menginap di Patagonian, sampai  pertemuan dengan seorang fotografer terkenal asal Inggris saat ikut sebuah milonga  di Buenos Aires.
Satu jam. Dua gelas koktail. Setengah nampan mini choux pastry. Audra dan Kostas bukan lagi orang asing. Kostas sudah tahu apa yang membuat Zander dan Elise buru-buru menikah, sementara Audra tahu berapa persisnya harga kalung permata dari Zander.
Pantas saja Elise rela menyerahkan apa pun.
Audra melirik dua pasangan berbahagia itu sekali lagi.Strangers in the night... exchanging glances... something in your eyes was so inviting.... Suara Frank Sinatra mengalun lembut. Audra tersadar. Kostas sedang berdiri di hadapannya, menyodorkan tangan.
“Mau berdansa?” pintanya lembut.
“Bukan tango, ‘kan?” canda Audra, lantas menggapai tangan itu. Mereka berdiri saling berhadapan. Saling bertukar senyum.
“Tentu saja bukan. Hari ini, kita ciptakan tarian kita sendiri.”
Perlahan, Kostas membimbing Audra ke lantai dansa dan bergabung di tengah-tengah tamu undangan yang lain.
    Matahari makin tinggi. Memantulkan cahaya ke permukaan rumput, gelas-gelas di atas meja, juga kalung permata biru yang diberi nama “Elisephire” itu. Audra menundukkan wajah di dada Kostas, menahan kilauannya.


    SEORANG PEREMPUAN tampak turun dari gazebo pengiring pengantin wanita. Jalannya tergesa-gesa. Satu perempuan lain yang baru saja bicara dengannya hanya bisa terduduk bingung di gazebo, sampai sesaat kemudian kembali merapikan kertas-kertas berisi daftar kehadiran tamu.
    Perempuan tadi, yang berjalan tak sabaran itu, kini tengah berdiri di beton pinggiran air mancur. Pandangannya menyapu halaman La Maltese Estate, tempat pesta pernikahan kakak perempuannya digelar. Dia mencari sosok itu. Pasti tidak susah menemukannya di tengah lautan manusia yang rata-rata bertubuh tinggi dan berambut pirang.
    “Elina!”
    “Aduh, ada apa lagi, sih?”
    Elina, perempuan itu, turun dari beton air mancur.
         “Kau sedang apa? Kenapa tadi tiba-tiba pergi?” tanya Lisbeth, perempuan yang tadi memanggilnya. Dia juga yang bertugas mencatat nama-nama tamu undangan yang hadir.
    “Aku sedang cari temanku. ”Elina masih tengok kiri-kanan.
    “Temanmu siapa? Dari Indonesia?”
    “Hmm... ya.”
    “Namanya?”
    “Audra Wulandari.”
    “Ada di buku tamu?”
    “Ada, aku lihat tanda tangannya.”    
    “Kenapa tidak kau telepon saja, Elina,” sahut Lisbeth.
    “Dia tidak menjawab teleponku. ”Elina berdecak tak sabar. Sudah seminggu ini ia tidak mendengar kabar dari Audra. “Dia juga belum bilang akan hadir di sini atau tidak.”
    “Kalau tanda tangannya ada, berarti dia ada di sini.” Lisbeth ikut melihat ke seluruh penjuru halaman La Maltese Estate. Panggung musik, lantai dansa, sampai meja keluarga masing-masing mempelai, tapi satu-satunya wajah Indonesia di sana hanyalah Nyonya Armandani, ibu dari Elise dan Elina. “Elina, kenapa tidak kau tanyakan saja pada Elise?”
    “Ah, iya!” Elina menepuk jidat. “Aku tak percaya kami belum ketemu lagi sejak aku tiba di sini.”
    Lisbeth terkekeh pelan. “Yah, kau kan baru tiba kemarin. Kau tidak sempat melihat kehebohan kakakmu menjelang pernikahan.”
    “Oh, tapi aku bisa membayangkannya, Lisbeth.” Elina balas terkikik. Dia melihat ke tengah barisan keluarga mempelai dan dengan cepat menemukan Elise di sana. Duduk di samping Zander. “Lisbeth, aku ke tempat kakakku dulu, ya?”


    “KAU BEGITU BERMINAT pada fotografi, bahkan sampai melancong sebulan sekali untuk hunting foto. Kau tak berniat untuk lebih serius menekuninya?”
    Audra nyengir lebar mendengar pertanyaan Kostas. “Seperti yang kau tahu, aku sebulan sekali jalan-jalan ke luar kota untuk hunting foto. Apa aku masih terdengar kurang serius?”
    “Tidak, tidak. Kuakui, kau sangat serius untuk seorang dokter yang mengaku fotografi hanyalah hobinya.” Kostas tertawa.
“Kalau begitu, jangan meragukan keseriusanku lagi,” Audra pura-pura kesal. Tangan kiri Kostas turun ke pinggangnya. Sebelah tangan mereka yang terpaut terangkat ke atas, dan Audra berputar di bawahnya. Gerakan mereka bak pasangan Patrick Swayze dan Jennifer Grey di film Dirty Dancing.
“Audra?”
“Hmm?” Audra kembali merapatkan tubuhnya. Angin berembus pelan. Dan dari balik bahu Kostas, ia dapat melihat jajaran kaldera membentang di tengah Laut Aegea.
“Kira-kira, aku boleh menghubungimu lagi setelah semua ini selesai?”
Audra menarik kepalanya dari bahu Kostas. Pandangannya bertemu dengan tatapan cemas di wajah pria itu.
“Kalau memang kita ditakdirkan bertemu lagi, kita pasti akan bertemu lagi,” kata Audra, sama sekali tak menjawab pertanyaan pria malang itu.
Kostas tak tahu harus bilang apa. Bahkan ketika Audra kembali memeluknya, lalu bergerak pelan mengikuti irama Fly Me To The Moon, lagu kedua yang diputar.
“Aku tidak boleh tahu nomor teleponmu? Atau alamat e-mail, mungkin?”
“Itu rahasia, Kostas.”
“Audra, kumohon....”
“Kau tahu, apa yang membuat dua orang saling terikat?” potong Audra.
“Aku tidak tahu, Audra.” Kostas menghela napas berat.
“Tebak dulu.”
“Pernikahan?”
“Bukan.”
Kostas diam beberapa detik. “Utang?”
“Bukan, Kostas. Bukan itu.”
“Jadi apa?” sahut Kostas tak sabar.
Saat itulah Audra menarik kepalanya, lalu menatap Kostas lekat-lekat. “Rahasia….” Dipandanginya kedua mata saphire itu. “Saat salah satu dari kita mengetahui rahasia yang lain, maka selamanya kita akan terikat.”
“Kau... tidak ingin punya hubungan apa-apa denganku? Begitu maksudnya?”
Audra menahan senyum. “Kostas, aku hanya tidak ingin orang lain bersamaku karena dia tidak punya pilihan lain….”
“Kau tidak memaksa orang untuk bersamamu, Audra. Mereka yang ingin bersama denganmu.”
    Audra membisu. Gerakannya terhenti. Pinggulnya menyenggol etalase kaca.


“JANGAN CEMBERUT terus begitu, dong,” rajuk Zander. Sang istri masih duduk di sampingnya dengan muka ditekuk. Zander jadi menyesal karena menyebut-nyebut nama Audra, sahabat Elise yang harusnya jadi salah satu pendamping mempelai wanita.
    “Bagaimana aku tidak kesal, Zander! Audra adalah sahabatku yang paling dekat. Bisa-bisanya dia melakukan ini padaku.”
    Zander tak mampu bilang apa-apa lagi. Hanya mengelus-ngelus pundak istrinya dan menawari segelas anggur. Elina yang baru muncul langsung mengambil kursi di samping Elise.
    “Elise, kau lihat Audra tidak?”
    Elise langsung mendelik. “Jangan membuatku tambah kesal, ya.”
    “Kenapa, sih? Aku kan tanya baik-baik.”
    “Jelas-jelas dia tidak datang, mana mungkin aku melihatnya.” Wajah Elise makin masam.
    “Lho, aku lihat namanya di buku tamu, kok.”
    “Semua yang diundang memang ada di daftar tamu, Elina,” sela Zander.
    “Ya, tapi kulihat ada tanda tangannya juga.”
    Kali ini Elise terkejut. “Jangan bercanda, Elina. Dia tidak bisa datang karena ada tugas jaga di rumah sakit.”
    Elina terdiam. Dia yakin benar-benar melihat kolom tanda tangan Audra sudah terisi. Tidak. Tidak. Pasti ada yang salah.
    “Hei, Elina!”
    Terlambat, Elina sudah melesat pergi. Elise hanya geleng-geleng kepala. Tingkah adiknya itu selalu mengundang decak heran. Bicaranya suka ngawur. Jadi bukan hal baru lagi kalau Elina salah lihat, salah baca, atau salah dengar. Pikiran dan fisiknya sering tak bertemu. Ceroboh dan suka menghayal.
    “Kau bersedia menerimanya sebagai adikmu, ‘kan?” Tatapan Elise memelas pada Zander.
    “Tentu saja, Sayang. Aku bosan jadi anak tunggal.”


***

Selli Nisrina









 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?