
SUCI MEMERIKSA lembaran cuti dari beberapa karyawan yang telah disetujui atasan masing-masing. Vira mengambil cuti tiga bulan. Kandungannya sudah sangat besar. Buyung mengambil cuti seminggu. Ia mungkin liburan dengan keluarganya. Bambang akan menikah minggu depan, ia juga mengambil cuti seminggu. Sementara Lola cuti mendadak, kakeknya yang tinggal di Yogya meninggal tadi pagi.
“Kapan, ya, aku terakhir kali ambil cuti?” pikir Suci. Bapak manajer SDM masuk ruangan. Ia serahkan seluruh pengajuan cuti tersebut ke mejanya.
***
SUCI MEMANGGIL ADI, office boy yang sedang menyapu lantai di depan ruangan. Ia meminta obat sakit kepala. Sejak bangun tidur tadi pagi ia merasa pusing dan badannya terasa panas dingin. Karena ia merasa belum selesai memeriksa perhitungan gaji dan lembur karyawan serta pekerjaan lainnya, ia paksakan diri untuk masuk kerja.
“Kenapa enggak istirahat saja di rumah, Bu. Berobat. Minta surat dokter,” ujar Nia, sambil memeriksa CV calon karyawan baru, “Atau ambil hak cuti. Bu Suci jarang banget ambil cuti. Tahun ini Ibu belum ambil cuti sama sekali, ‘kan? Jangan sampai seperti tahun lalu, cuma dipakai sekali cutinya.” Nia mengelompokkan beberapa CV calon karyawan yang ia anggap sesuai untuk dipanggil tes lusa.
“Saya sedang banyak kerjaan, Nia,” Suci masih memijit-mijit kepalanya, “Masa harus ditinggal.”
“Enggak tiap waktu juga kali, Bu pekerjaan padat, masih ada waktu-waktu senggang,” sambung Nia.
“Ya, pokoknya enggak bisa begitu saja ditinggal,” Suci tidak mau kalah. Ia lepaskan punggungnya ke sandaran kursi. Ia tarik napas dalam-dalam, lalu melepaskannya sekaligus, seperti berusaha melepaskan sejumlah beban. “Mending kalau cuti ada yang pijitin di rumah, atau ada yang temenin,” gumamnya, getir.
Nia menghentikan kegiatannya. Ada dua sikap yang bertubrukan di dada. Kadang-kadang ia menertawakan nasib Suci yang di usianya hampir setengah abad belum juga memiliki pasangan, apalagi keturunan. Di sisi lain, ia turut prihatin dengan nasib penyelianya itu. Suci tinggal sendiri di rumahnya. Orang tua dan saudara-saudaranya ada di Bandung. Ia pun tidak mempekerjakan asisten rumah tangga.
“Apa mau saya bilang Pak Rahmat supaya nemenin Ibu?” canda Nia.
“Hus... kamu...,” sungut Suci. Pak Rahmat sang duda baru memang sering jadi bahan candaan belakangan ini untuk wanita-wanita di kantor yang masih sendiri.
“Jangan-jangan kamu yang mau deketin Pak Rahmat,” balas Suci.
“Ya, ampun, Bu, suami saya masih greng,” balas Nia, genit.
“Dasar kamu!” Suci tersenyum getir. Ia biasa melakukan itu. “Sarah di mana? Belum datang dia?”
“Sarah lagi ke bank, Bu, mencairkan cek buat training.”
“Zainal?”
“Kayaknya dia lagi periksa persiapan buat family gathering.” Nia seketika merasa salah mengucapkan sesuatu. Family gathering.
Suci memijit kepalanya lagi. Poni rambutnya makin tak teratur.
Nuri, karyawan yang baru bekerja setahun di bagian sumber daya manusia perusahaan industri mekanikal tersebut, masuk ruangan. Ia baru saja mengantarkan beberapa dokumen ke manajer keuangan. Ia langsung duduk di bangkunya, lalu menyibukkan diri dengan berkas-berkas karyawan yang ada di meja. Ia sempatkan diri bertanya kepada Suci tentang keadaannya yang terlihat tidak sehat. Suci tetap berkilah ia baik-baik saja.
Nuri cukup antusias masuk kerja hari ini. Ia telah resmi mendapatkan hak cuti di perusahaan tersebut. Teman-temannya mengajaknya backpacking ke Lombok akhir minggu ini. Rencana itu membuat suasana hatinya luar biasa cerah. Ia telah mencari tahu banyak hal tentang Lombok dan berbagai tempat wisatanya di internet. Bahkan, ia membaca sebuah blog backpacker berulang-ulang. Apalagi banyak teman-temannya yang mengunggah foto-foto jalan-jalan mereka di media sosial. Itu makin menguatkan tekad Nuri. Liburan bisa menjadi sebuah gengsi dan menaikkan derajat seseorang, pikirnya. Ia tidak mau kalah dengan teman-temannya. Meskipun gajinya tidak seberapa, bukan masalah. Ia harus punya foto-foto yang bisa dibanggakan di media sosial.
Ia ingin mengajukan cutinya sekarang, tapi kondisi Suci membuatnya ragu.
“Ini anak telat lagi!” keluh Nia, sambil memperhatikan sebuah kartu absen yang terdapat banyak angka merah. Ia menggelengkan kepala. “Seminggu hampir tiap hari, lho, dia telat. Gila, nih, orang. Enggak disiplin banget!”
“Siapa, Nia? Afif?” tebak Suci.
“Siapa lagi?” Suara Nia makin tinggi. Ia ambil gagang telepon di mejanya. Ia tekan nomor sambungan ke bagian keuangan. Setelah tersambung ke karyawan bernama Afif, ia luapkan segenap emosi. Suci paham watak Nia yang tidak segan memarahi siapa pun karyawan yang melanggar. Berbeda darinya, yang masih bisa berbicara dengan lebih halus. Ia bersyukur punya rekan sepertinya. Tapi, di satu sisi sikap Nia tersebut mengundang banyak protes karena sering mengeluarkan kata-kata kasar dan marah karena hal kecil.
Nia membanting gagang telepon.
“Tenang...,” Suci menasihati. Ia berjanji nanti mereka bicarakan bersama Pak Amar, sang manajer HRD dan manajer keuangan.
Mendengar Nia marah-marah seperti itu, Nuri menunduk dan fokus pada pekerjaannya saja. Ia pernah mendapat omelan Nia beberapa kali. Hal yang tidak mengenakkan, Nia akan terus membawa kemarahannya bukan cuma di ruangan itu saja, kalimat-kalimat kesalnya akan terus mengudara di mana pun ia berada. Nuri menahan lagi keinginannya untuk mengajukan cuti kepada Suci.
Seseorang tiba-tiba mengetuk pintu. Belum sempat ketukan dijawab, pintu itu telah dibuka. Seorang lelaki paruh baya muncul dari baliknya.
“Eh... Pak Gani...,” Nia langsung menyapa dengan semringah seorang lelaki dari divisi purchasing di perusahaan tersebut, “Gimana liburannya, Pak?”
“Ah... biasa saja, bukan liburan juga, sih. Lha, wong anter anak masuk kuliah, kok,” jawab Gani. Ia menenteng dua buah tas kertas. Lalu ia serahkan satu tentengannya tersebut kepada Nia. Ia langsung membukanya. Beberapa kotak bakpia bertuliskan aneka angka, ia keluarkan.
Gani berjalan beberapa langkah ke arah meja Suci. “Apa kabar, Bu Suci?”
Suci sempat diam sejenak menatap monitor berisi data karyawan yang akan ikut pelatihan di Bogor. Lalu ia mengalihkan pandangan ke arah Gani perlahan. “Baik, Pak.”
“Bu Suci tidak enak badan dari tadi, Pak,” sambar Nia. Ia pernah mendengar cerita, dulu Suci dan Gani pernah punya hubungan khusus ketika muda. Mereka berdua masuk ke perusahaan tersebut hampir dalam waktu yang bersamaan, dua puluh tahun lalu. Mereka sempat dekat beberapa tahun sehingga banyak orang yang mengira mereka pasti akan menikah. Tapi, entah ada permasalahan apa, Gani malah menikah dengan orang lain dan sekarang punya anak perawan yang mulai kuliah di Universitas Gadjah Mada.
Suci menatap Nia tajam. “Enggak Pak. Saya baik-baik saja. Cuma memang agak pusing sedikit,” jelas Suci.
“Wah... Bu Suci harusnya istirahat saja. Jangan terlalu rajin. Kan di sini ada Nia, ada Sarah, Zainal, ada Nuri juga,” ujar Gani, lembut. Nia menimpali bahwa ia sudah menasihati Suci agar berobat atau cuti sekalian, tapi Suci tetap saja masuk.
Gani dan Suci selalu bertemu pandang seperti ini; pandangan yang ragu dan tidak mungkin mereka hindari. “Istirahatlah, wong, perusahaan sudah ngasih hak, kok,” kata Gani, memberikan perhatian. Ia lalu mohon diri untuk bertemu Pak Amar di ruangan sebelah dan menyerahkan oleh-oleh padanya. Suci memandang punggungnya lekat. Nia menyimpan senyumnya sambil menunduk.
***
SETELAH ISTIRAHAT SIANG, Nuri memberanikan diri melangkah ke meja Suci. Ia berdiri di depannya beberapa menit tanpa memulai satu kata pun. Hingga Suci menutup dokumen yang ia periksa dan mendapati Nuri telah berdiri di depannya. Wajah Suci masih terlihat pucat. Ia pun tidak enak makan tadi.
“Ada apa, Nur? Kok, berdiri di situ?” tanya Suci.
Kedua telapak tangan Nuri saling menggenggam erat. Ia menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Ia sempat ingin mengurungkan niatnya tersebut karena ia tidak enak. Tapi, ia sudah telanjur membeli tiket pesawat promo. Ia tidak bisa melewatkan kesempatan ini.
“Bu, saya sudah boleh cuti, ‘kan?” akhirnya ia mengeluarkan kegelisahannya.
“Sudah, dong. Kamu sudah setahun di sini. Kamu sudah dapat hak cuti dua belas hari,” jawab Suci. “Kamu mau ambil cuti?”
“Iya, Bu.” Nuri mulai bersemangat. Ia yakin akan disetujui. Jika Suci setuju, Pak Amar pun akan setuju. Ia pun bilang ingin mengajukan cuti mulai Senin besok selama tiga hari.
Tiba-tiba Nia masuk ruangan. Ia biasa makan siang di kantin ketika jam istirahat.
“Nia, kamu jadi cuti Senin besok?” Suci langsung bertanya.
“Jadi, Bu,” jawab Nia sebelum ia duduk di bangkunya. “Kenapa, Bu?”
“Ini Nuri juga mau ambil cuti Senin besok,” jelas Suci. “Sarah juga kan mau cuti, jadi enggak mungkin, dong, saya berdua dengan Zainal di ruangan ini.”
“Lho, kok mendadak, Nur?” Nia heran. Dia tidak jadi duduk di bangkunya, lalu mendekat ke arah Nuri. Semangat Nuri yang tadi melambung, kini mulai kempis. Ia tidak tahu kalau Nia juga akan cuti Senin besok.
“Ada apa, Nur?” tanya Nia, penasaran.
“Mmm... saya ada urusan kuliah, Bu. Ujian,” Nuri terpaksa berbohong.
“Ah... jangan bohong kamu!” Nia mulai ketus. “Ujian apa? Kamu kan kuliah kelas ekstensi Sabtu-Minggu, masa ujiannya hari biasa?”
“Iya, Bu. Kali ini ujiannya bersamaan dengan kelas reguler,” nyali Nuri makin ciut.
“Ala... bohong kamu, kamu sebenarnya ada keperluan apa? Kamu mau ke mana? Kita enggak bisa kamu bohongin!” Nia makin ketus. Sementara Suci memperhatikan dengan pandangan mengambang.
Nuri sebenarnya tidak tahan oleh sikap Nia yang sering sok jadi atasan, sering marah-marah tidak keruan.
“Ibu tidak percaya sama saya?” Nuri mulai geram.
Nia tidak mau kalah, “Kamu berani membentak saya!”
Suci berdiri dari tempat duduknya mencoba menenangkan, tapi kepalanya makin terasa berat. Ruangan terlihat burai dan pecah di matanya. Ia akhirnya terjatuh.
***
SUCI TIDAK MAU ke dokter ataupun pulang ke rumah. Ia bersikeras merasa baik-baik saja, cuma agak kecapekan. Sepanjang sisa hari ia beristirahat di ruangan salat. Ia sempat tetap ingin menyelesaikan pekerjaannya, tapi Pak Amar melarang. Biarkan Nia yang melanjutkan, katanya. Sepanjang sisa hari pula Nuri dan Nia tidak saling lihat dan tidak mengatakan satu kata pun.
Suci baru pulang setelah bel seperti karyawan yang lain. Sopir kantor mengantarkannya. Ketika sampai, ia langsung masuk kamar dan merebahkan diri. Kamar yang lengang dan ia sendiri. Tidak ada suara decit ataupun gesekan. Kehidupan seolah berhenti dan suara-suara ditelan dinding kamar yang dingin. Suci tidak mengubah posisi berbaringnya sedikit pun hingga senja tumpah di sudut kamar.
Pada saat hari telah gelap dan lampu-lampu belum dinyalakan, seseorang membuka pintu kamar. Suara langkahnya terdengar perlahan. Ia duduk, lalu beringsut berbaring di balik punggung Suci. Suci dapat mendengar napas orang tersebut mengalir di telinganya. Ia tetap tidak mengubah posisinya. Hingga orang tersebut merangkulnya dari belakang. Tubuh Suci bergetar, ada beban yang terdesak keluar melewati kerongkongan yang sempit, berdecit dengan berat. Suci memegang telapak tangan orang itu. Telapak yang ia kenal sejak dua puluh tahun lalu. Ia genggam terus dengan erat, seolah ia tidak akan melepaskannya lagi.
NIA DAN SARAH mengambil hak cuti Senin itu, Zainal keluar sebentar melihat mesin absen yang rusak, dan Nuri tidak ada kabar berita kenapa ia tidak masuk kerja. Suci sendirian di dalam ruangan. Matanya terpaku pada kaca di depannya. Hanya terlihat seorang office boy yang sedang mengepel lantai. Lalu ia mengalihkan pandangan pada jam dinding di sebelah kiri. Masih pukul sepuluh pagi. Ia raih mouse komputer, lalu mulai menyentuh keyboard. Ia telah terbiasa berdampingan dengan keheningan. Satu hal yang ia sesali hari itu, untuk apa ia ambil cutinya untuk istirahat Jumat kemarin. (f)
***
Ali Satri Effendi
Topic
#FiksiFemina


