Foto: shutterstock
“Aduh, Biyung, sakit,” keluhku. Biyung tak menggubrisku, terus menggosok punggungku dengan batu. Sesekali disapukannya sabun untuk melicinkan kulit agar tak terasa terlalu sakit. Namun, tetap saja rasanya sakit. Aku tidak suka. Aku benci digosok dengan batu.
***
Keponakanku, Astrid, akan melangsungkan pernikahan. Kami sekeluarga yang ada di Jakarta pulang kampung ke Jawa Tengah. Ia anak kakak sulungku yang meninggal setahun lalu. Dalam sakitnya, Kang Rusman berpesan supaya kelak jika meninggal jenazahnya disemayamkan di tanah kelahirannya. Anak semata wayangnya itu --yang aku tak habis piker-- ingin menikah dekat dengan pusara papanya. Hanya untuk akadnya saja, sementara pestanya sendiri akan dilakukan di Jakarta, sesuatu yang menurutku kurang praktis dan efisien.
Kami sudah lama meninggalkan kota itu. Bermula ketika Rama berhenti dari pekerjaannya dan memutuskan menjadi seorang wirausaha di Semarang, saat umurku belum lagi sebelas tahun. Waktu itu Kang Rusman baru saja lulus kuliah. Sebagaimana adatnya keluarga yang menjadi pendatang, kami berusaha menyesuaikan diri. Kami selalu mandi di kamar mandi, meskipun kadang-kadang rindu menceburkan diri ke kali. Saudara-saudaraku yang lain mulai mengganti kata sapaan untuk Biyung dan Rama menjadi Bapak dan Ibu, kecuali aku dan Kang Rusman.
Satu dari beberapa kebiasaan yang masih dipertahankan oleh orang tuaku adalah mandi dengan batu. Biyung bilang, daki bisa hilang jika digosok dengan batu. Biyung sering melakukan itu. Saat mandi, Biyung sering kali akan memanggil-manggilku, memintaku untuk menggosok punggungnya yang lebar dengan batu apung yang berukuran kecil dan sedikit berongga-rongga --yang didapat dari tepi sungai-- lalu menyikatnya dengan sikat plastik. Biyung tak akan menyuruhku berhenti, kalau punggungnya belum merah.
Saat kembali menjejakkan kaki di kampung itu, aku teringat Biyung dan Rama. Musim kemarau sedang berlangsung, sungai-sungai mengering. Meskipun kampung itu telah banyak dipengaruhi teknologi, banyak dari masyarakatnya yang masih suka menggunakan sungai untuk banyak keperluan mereka. Sering kali saat aku sedang berjalan-jalan pagi, aku berpapasan dengan wanita-wanita desa yang memakai kemban dan membawa ember kecil untuk keperluan mencuci dan mandi.
Kami menginap di rumah seorang bibi dari saudara jauh. Rumah joglonya besar, berkamar lima dengan ruang tamu yang dijadikan satu dengan ruang keluarga. Sementara itu, keluarga dari pihak mempelai laki-laki menginap di sebuah hotel di pusat kota. Meskipun bukan aku yang akan menikah, tampaknya akulah yang paling gelisah. Gundah, resah, seperti ada suatu perasaan tak nyaman yang nyaris selalu muncul ketika aku menghadiri acara serupa. Aku sudah mengalaminya bertahun-tahun, sejak Biyung tak ada.
***
Saat aku kecil, aku pernah bertanya kepada Biyung, apakah kulit kami tidak akan hilang jika terus-menerus digosok dengan batu. Biyung hanya tertawa geli, lalu katanya, kami adalah keluarga berkulit tebal. Lagi pula, toh, kami hanya melakukannya tiap beberapa minggu sekali. Biyung juga sering kali berujar --untuk menambah ceritanya-- orang Jawa banyak melakukan hal-hal tradisional dan sederhana untuk menjaga kesehatan dan kecantikan.
“Oalah, Ratna, kamu baru gosok badan pakai batu saja sudah mengeluh. Orang-orang dulu kalau mau rambutnya lebat, mesti pakai merang1), kalau mau giginya kuat, ya, mesti nginang2), gosok gigi saja pakai batu bata. Masih ada, kok, orang-orang yang pakai cara itu sampai sekarang. Kenapa mesti malu kalau kamu mandi pakai batu? Wong tidak ada yang lihat juga, kok.”
Aku memang tak pernah suka menggunakan batu untuk menghilangkan daki-dakiku. Aku memang berdaki. Memangnya siapa yang tidak? Di era yang sudah maju seperti saat itu, bagiku rasanya konyol ketika kau akan melangsungkan pernikahan dan bisa membeli body scrub yang bagus atau melakukan pre-wedding treatment di salon, tapi ibumu malah menggosok badanmu dengan batu. Bagiku, rasanya menggelikan sekaligus menyakitkan pada saat yang bersamaan. Biyung berargumentasi bahwa lulur hanya bisa menghilangkan daki di permukaan, sedangkan batu bisa mengangkat daki hingga ke lapisan paling bawah. Memangnya daki ada berapa lapis?
Aku masih ingat saat itu, sebelas tahun yang lalu, ketika aku akan menyongsong hari besarku. Biyung memandikan aku, didudukkannya aku di dalam bathtub kamar mandi penginapan, disemprotkannya air dingin dari atas kepalaku. Aku menggigil. Lalu, tiba-tiba ia menggosokkan sebuah batu kasar di tengkukku. Aku mengerang kesakitan dan melonjak marah. Dengan berdecak-decak, kulilitkan handuk ke sekeliling tubuh, lalu menghambur keluar kamar mandi meninggalkan Biyung yang tertegun sedih. Aku membuatnya terluka, bahkan di hari pernikahanku sendiri, bahkan setelah aku bersimpuh di bawah kakinya memohon restu.
***
Aku baru benar-benar terjaga saat ayam jago telah lama selesai berkokok. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Tatkala aku akan ke halaman depan mengambil kelompen untuk kubawa ke kamar mandi, aku berpapasan dengan Astrid. Wajahnya lesu, matanya sembap.
“Kenapa kamu?” tanyaku.
Ia hanya menggeleng lemah. Kurasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Jadi, kutuntun ia kembali ke kamarnya dan kududukkan di tepi ranjang.
“Aku kepengen ada Mama,” katanya, sendu.
Awalnya kupikir ia baru saja menangis karena khawatir dengan acaranya, takut dengan momentum itu, di mana ia akan meletakkan sebagian nasib hidupnya pada laki-laki yang sudah dipilihnya sendiri. Sejak jauh-jauh hari aku sudah mewanti-wanti dirinya agar tak sepenuhnya menggantungkan diri pada laki-laki. Perempuan sudah seharusnya mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Aku telah melihat banyak pernikahan yang tak selamat dan sebagian besar dari akibat itu adalah penderitaan perempuan –perjuangan finansial, sosial, emosional. Aku tak mau ada perempuan dalam keluargaku yang harus mengalami itu. “Silakan kamu memercayai laki-laki, tapi jangan letakkan kepalamu di atas kakinya,” begitu kataku berulang kali.
Setelah mendengar pengakuannya, sekarang aku tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya –bukan tentang dirinya. Ia rindu mamanya. Aku rindu biyungku. Kuusap punggungnya, lalu kutarik sehelai tisu, kuusapkan di bawah matanya. Hal yang sesungguhnya sering kali muncul di dalam kepalaku tatkala menghadiri upacara pernikahan adalah kehadiran sosok ibu. Di acara pernikahanku dulu ada ibu. Namun, Astrid tak punya, di sini tak ada mamanya.
Tiap kali aku berpikir tentang orang-orang yang menikah, ada rasa sesal dan sesak yang muncul dalam dadaku. Seandainya dulu aku tak mengeluh, seandainya dulu aku tak membentaknya, tak menolaknya, tak meninggalkannya. Biyung tak pernah mengungkit-ungkit hal itu. Aku sendiri tak pernah mengutarakan penyesalan dan permohonan maafku. Tak sempat. Setelah aku meninggalkannya dengan batu itu di kamar mandi dan melangsungkan prosesi, kami bicara dan berfoto seperti tak pernah terjadi apa-apa. Padahal, aku tahu aku baru saja menyakiti hatinya. Aku belum menjadi ibu waktu itu, aku belum tahu bagaimana rasanya mendapat penolakan anakku atas apa yang aku lakukan atau aku berikan.
Aku dan keponakanku itu kini duduk berhadap-hadapan. Kulihat kamarnya masih rapi, tak ada barang berserakan. Setelah aku selesai membantunya membongkar koper, kuperhatikan tak banyak perawatan yang dibawanya. Barangkali ia tak ingin terlalu repot, barangkali ia sudah mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari. Ia memang terawat, terlalu bersih sampai aku sangsi sendiri kalau ia punya daki. Namun, tetap saja aku ingin melakukannya –membuatnya bersih sebersih-bersihnya.
“Sebentar, ya,” kataku kepadanya, lalu segera menghilang di balik pintu. Kutuju sebuah sungai yang sekarang tak seberapa lebar, tak jauh dari rumah joglo. Ada beberapa perempuan sedang mandi dan mencuci pakaian. Mereka menyapa ramah, layaknya orang desa.
“Nuwun sewu, kula bade pados sela,”3) kataku.
“Oh, ya,” kata seorang perempuan paruh baya yang adalah tetangga bibiku.
Perempuan itu membantuku mencari batu. Ia menyodorkan hasil buruannya. “Ini halus, tidak terlalu kasar.”
Setelah bercakap-cakap sebentar, aku berterima kasih dan berpamitan pulang. Setibanya aku di rumah, kutemukan Astrid hendak ke kamar mandi, menggamit sebuah pouch di salah satu lengannya. Ia menerima tawaranku untuk membantunya dengan anggukan pasti. Kuikuti ia dari belakang, merasa senang sekaligus bimbang, khawatir akan penolakan yang akan datang.
Tak kukira, keponakanku itu mau menerima uluran batuku dengan gembira. Ia perempuan modern, lahir dan tumbuh dewasa di kota besar. Aku perempuan desa yang baru merasakan hidup di kota saat akan beranjak remaja. Namun, ia dengan senang hati dan tanpa malu-malu melakukan sesuatu yang ndeso, sesuatu yang dilakukan orang-orang kuno –menggosok lengannya dengan batu. Aku melihatnya duduk di lantai kamar mandi dengan santai dan sesekali mengguyurkan air. Kulitnya memerah, dakinya mengelupas menjadi suatu kumpulan yang mirip dengan kotoran penghapus kertas. Ia menyodorkan batu, memintaku menggosokkan punggungnya.
Ada perasaan malu dan sedih yang menguasaiku. Aku ingat Biyung. Aku ingin kembali ke masa bertahun-tahun lalu, saat Biyung ingin menghilangkan daki dari tubuhku. Aku ingin menerima uluran batunya. Aku ingin Biyung menggosok punggungku.
Sembari menatap daki yang jatuh terguyur air, aku merenung. Mengapa menolak pemberian atau perlakuan dari seseorang dapat menjadi beban yang begitu berat, dapat menumbuhkan penyesalan yang amat dalam? Perkara tak ingin digosok dengan batu bagiku adalah sesuatu yang sederhana, tetapi barangkali tidak bagi Biyung. Kebiasaan itu sudah berurat akar di dalam dirinya, diturunkan dari nenek moyangnya, dilakukannya dengan kepatuhan yang setia. Ia ingin aku mengikutinya, ia ingin aku menirunya. Namun, aku menolaknya, aku mengecewakannya.
Bagaimana kita dapat meminta maaf kepada orang yang sudah tak dapat dimintai maaf? Biyung tak pernah marah, tapi aku tahu ada kepedihan di dalam matanya. Dalam tahun-tahun penuh penyesalan itu aku sering kali berandai-andai, jika saja dulu aku menurutinya, untuk yang terakhir kalinya, sebelum aku meninggalkan rumahnya dan menjadi nyonya untuk rumahku sendiri. Namun, waktu tak bisa kita putar sesuka hati, keadaan tak bisa kita balik semau kita sendiri. Biyung sudah lama pergi.
Setelah aku selesai membantu keponakanku itu di kamar mandi, kupanggil tukang rias yang akan membantunya berdandan, sementara aku sendiri bersiap-siap. Kubangunkan Lala, kuajak ia mandi bersama. Di dalam bak plastik besar yang berisi air hangat, kugosok punggungnya dengan batu apung yang digunakan oleh Astrid sebelumnya.
“Mama kayak Nenek,” katanya, lalu terkikik geli.
“Iya, Mama kayak Nenek,” jawabku sembari tersenyum.
***
1) Merang: Kulit gabah atau bagian luar padi yang sudah menguning kemudian dikeringkan.
2) Nginang: Mengunyah sirih dengan campuran buah jambe dan air kapur.
3) “Permisi, saya mau mencari batu.” (f)
Eko Purwatiningsih – Malang
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/
Baca Juga:
Cerita Pendek: Hamil Bunga Mawar
Cerita Pendek: Yang Tertinggal di Praha
Cerita Pendek: Jendela Tanpa Cahaya
Topic
#cerpen, #fiksifemina


