Fiction
Cerita Pendek: Burung-Burung Yang Bersarang di Dalam Kepala

27 Jul 2019

Dok: Shutterstock


Sssh! Sssh!” Nana berdesis keras agar burung-burung itu berhenti berbunyi. Namun, mereka tak berhenti.

Nana ingat mata ibunya yang kosong saat menelepon teman dan kerabat mereka untuk mengabarkan acara yang urung.


Dan Gi. Pria itu. Apakah ia sadar bencana apa yang sudah ia ciptakan di dalam hidup Nana?

Saat itu pertengahan Oktober. Langit mendung dan udara gerah meninggalkan jejak keringat yang lengket di kulit. Aroma buah jambu biji yang matang di pohon dan pecah karena gigitan hewan malam memenuhi udara.

Nana berbaring, seperti mati rasa. Ia tak bisa mengenyahkan ingatan tentang satu hari saat tanah merah memeluk jasad ibunya. Angin kering membawa debu masuk ke matanya, dan lalu-lalang manusia menatapnya iba. Di pemakaman itu, ia tak bisa mengeluarkan air mata. Namun, di keheningan kamarnya, pertahanan dirinya perlahan retak. Lalu, serupa gelas kristal yang ia lemparkan ke dinding, ia juga merasakan tubuhnya ikut terbelah. Berserakan hingga menjadi serpihan-serpihan kecil.

Sepertinya, Nana sudah melolong cukup lama. Ia tak bisa memastikan. Ketika ia masih memilih untuk tetap tersedu-sedu, saat itulah suara ramai pekikan burung pecah di dalam kepalanya.
Cri-ii, pit-pit, cri-ii, pit-pit, cri-ii.

Nana seketika berhenti menangis. Ia menajamkan pendengarannya, dan dengan heran menyadari ada yang sedang berlompatan di dalam kepalanya. Ia mulai menghitung. Satu. Dua. Tiga. Empat burung bergerak cepat, memantulkan suara bising yang memekakkan  telinga. Tubuh Nana mulai gemetar, dan kepalanya berdenyut keras.

Sssh! Sssh!” Nana berdesis keras agar burung-burung itu berhenti berbunyi. Namun, mereka tak berhenti. Ia mulai menjambaki rambutnya dan membenturkan kepalanya ke dinding untuk menghalau burung-burung itu. Namun, mereka tak pergi. Nana marah, lalu mulai melolong lagi. Pintu kamarnya terbuka, dan ayahnya muncul dengan sorot mata gelap dan suram.

“Ayah tak akan percaya ini. Ada empat burung yang sangat berisik di dalam kepalaku!” Nana mulai histeris. “Oh, suruh mereka berhenti menjerit dan melompat-lompat, Ayah! Demi Tuhan, usir mereka pergi sekarang juga!”

Ayahnya mendesah. “Bukankah seharusnya kau tidur saja, Nana? Mungkin saat matahari terbit, kira-kira satu jam lagi, mereka sudah menghilang.”

Nana sangsi. Ia membenamkan bantal ke wajahnya untuk meredam kebisingan. Tapi, pekikan mereka tak juga berkurang. Nana kembali tersedu-sedu. 

“Ayah akan meminta Lira untuk menemuimu lagi. Semoga saja ia ada waktu,” kata ayahnya, sebelum kembali menutup pintu.

Nana menggeleng keras. Bukan Lira yang ia harapkan saat ini. Ia tak suka bau obat dan aroma rumah sakit yang menguar dari tubuh sepupunya itu (membuat Nana selalu membayangkan kematian). Hubungan mereka tak terlalu dekat. Namun, belakangan ini, Lira kerap mengunjunginya. Meski tak banyak bicara, gadis itu selalu berhasil membuat Nana menelan apa pun yang ia sodorkan ke dalam mulutnya. Sebagai akibatnya, ia akan merasa seperti kehilangan kuasa atas tubuhnya sendiri. Dan Nana tak suka itu. Tapi, mungkin, Lira mengetahui cara untuk mengeluarkan burung-burung dari dalam kepalanya. Bukankah gadis itu seorang dokter yang pintar? Pemikiran itu membuat Nana sedikit tenang. Ia lalu mencoba memejamkan mata di antara riuh suara-suara.

****

“Gambarkan seperti apa rupa burung-burung itu,” Lira berkata sambil menyodorkan sehelai kertas HVS dan pensil.

Itu mudah, pikir Nana. Mereka kecil. Kepala, leher, sayap dan ekor mereka berwarna gelap. Hitam, atau mungkin cokelat. Dada dan perut mereka putih bersih. Mereka selalu berkelompok dan gemar melompat-lompat. Tangan Nana dengan cepat melukis makhluk yang sudah menjadikan hari-harinya tak normal.

Lira memperhatikan goresan di kertas dan mengaguminya. “Bondol jawa. Nama Latin-nya
Lonchura leucogastroides. Jenis burung pemakan padi dan biji-bijian. Kau beruntung aku pemerhati burung. Untuk apa mereka bersarang di dalam kepalamu?”

“Mana kutahu?” Nana merespons kesal. “Mereka datang tiba-tiba dan bertahan di sana. Kupikir kau tahu bagaimana cara mengeluarkan mereka.”

Lira memiringkan kepalanya, tampak berpikir. “Aku tak tahu. Mengapa tidak kau tanyakan saja kepada mereka?”

Nana menatap curiga. Mengapa Lira tiba-tiba memintanya bertanya kepada burung-burung itu? Apakah sepupunya itu tahu, beberapa kali ia mendengar mereka memanggil namanya? (Nana sempat berpikir ia mulai gila). Bila burung-burung itu mampu menyapanya, bukan mustahil mereka juga akan sanggup mengajaknya berbincang-bincang di waktu lain. Pikiran aneh itu seketika buyar ketika Lira dengan cepat melesakkan sesuatu ke dalam mulut Nana untuk ditelan. 

 

***



Topic

#cerpen, #fiksi

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?