Bagian 3 (Tamat)
Kisah sebelumnya:
Nisa dan Sam, seorang wartawan freelance, pergi ke pelosok Kediri untuk meneliti petilasan-petilasan Kerajaan Kediri, termasuk Sendang Pamotan, yang dipercaya sebagai tempat Ken Dedes menampakkan sinar wanita utama. Nisa dan Sam yang pasangan kekasih ini juga belajar mengenai legenda dan mitos yang berkembang di masyarakat. Namun, diam-diam Sam mulai tertarik pada seorang wanita lokal.
Tiga
Jalan Tak Terduga
Goa Selomangleng di lereng Gunung Klotok tidak luas. Hanya cukup untuk duduk dua orang. Sekarang sehari-hari tempat itu ramai dikunjungi wisatawan. Tetapi, jika aku membayangkan kira-kira 800 tahun yang lalu, suasananya pasti sangat sepi. Goa itu pasti dikelilingi pohon-pohon besar. Tidak sembarang orang berani datang. Gunung Klotok pun masih memiliki hutan lebat, tidak gundul seperti sekarang. Jadi, tidak keliru jika putri Prabu Airlangga yang bernama Sanggramawijaya memilih Goa Selomangleng untuk tempat bertapa. Sebagai pertapa, ia menanggalkan nama kebesaran seorang putri raja dan berganti nama menjadi Dewi Kilisuci.
“Kelak Dewi Kilisuci tidak meninggal dunia, tapi langsung moksha. Seperti Prabu Jayabaya,” kata Nisa, setelah puas merekam goa dan bukit karang di sekitarnya.
“Hmm... berarti Jawa Timur mencatat dua raja yang moksha, Prabu Jayabaya dan Prabu Brawijaya V. Raja Majapahit terakhir itu meninggalkan jejak di Alas Ketonggo, Ngawi, berupa mahkota kerajaan dan pakaian kebesaran. Setelah melepas simbol-simbol kebesaran duniawi itu Prabu Brawijaya V lalu menuju ke Gunung Lawu sendirian. Di sana beliau moksha.”
“Hebat, hebat....”
“Tiba-tiba melintas dalam benakku untuk tinggal di Kediri.”
Nisa membelalakkan matanya seolah tidak percaya dengan omonganku.
“Aku serius. Tertarik tinggal di kota tua ini. Bayangkan, 1.000 tahun yang lalu kota-kota lain masih berupa hutan belantara tanpa penghuni, tapi di Kediri sudah ada sistem pemerintahan yang tertib. Ada raja, patih, adipati, akuwu, pasukan bhayangkara, dan tentu saja para pangeran. Kurang hebat apa?”
“Tinggal saja di sini sendiri!” kata Nisa, dengan nada kurang senang.
“Kita tinggal di sini,” kataku, dengan nada merajuk.
“Tidak!” semprotnya cepat. “Saya tidak ingin meninggalkan Jakarta sebelum anak-anak jadi sarjana dan memperoleh pekerjaan! Ini prinsip. Tidak bisa diganggu gugat.
“Kalau aku ingin tinggal di sini?”
“Silakan. Kita pisah. Cari saja Ken Dedes dari Jenggala, ha… ha… ha….”
“Serius?”
“Kalau Mas Sam serius, saya juga harus serius.”
Aku menelan ludah. “Nanti sore aku ke Surabaya. Tawaran Pak Johan kuterima. Aku akan jadi redaktur pelaksana majalah yang akan diterbitkan. Pak Johan masih menimbang-nimbang, kantornya di mana baiknya. Pilihannya ada tiga: Surabaya, Malang, atau Kediri.”
“Kenapa tidak di Jakarta?” tukas Nisa cepat.
“Aku ikut yang punya modal.”
“Minta saja kantornya di Jakarta!”
“Sulit. Pak Johan tidak tertarik.”
“Lalu?”
“Di antara tiga kota tadi, aku akan milih Kediri. Kota tua, penuh mitos dan legenda. Jadi kuharap bisa memperoleh aura positif di sini. Dan mungkin akan jadi satu-satunya majalah yang terbit di sini.”
Nisa menggeleng-gelengkan kepala. “Saya mengagumi kota ini, tapi tidak ingin tinggal menetap selamanya di sini. Kalau bukan Jakarta, tinggal di Yogyakarta tidak apa-apa. Asal jangan di Jawa Timur.”
“Kenapa?”
“Entah. Hanya tidak sreg saja.”
Aku tertawa kecil.
“Saya serius!”
Wajah Nisa memang tampak serius dan tegang. Padahal, apa yang kukatakan tadi kuanggap hal yang biasa. Tidak untuk memancing perdebatan. Namun, rupanya ia menanggapi serius. Perkenalan lima bulan belum cukup bagiku untuk mengenali watak asli wanita kelahiran Temanggung dan hidup di Jakarta itu. Dalam waktu lima bulan baru tiga kali bertatap muka. Selebihnya komunikasi lewat SMS, telepon, BBM, WA, dan media sosial.
Sarana komunikasi itu telah membuat hubungan kami jadi makin dekat. Tetapi ternyata, itu hanya dekat di permukaan. Secanggih-canggihnya alat komunikasi yang kita gunakan, tetap belum mampu mendeteksi watak asli seseorang. Semua jadi agak terbuka manakala sudah bertatap muka. Baru akan terbuka semuanya setelah kita hidup serumah.
“Sekarang kita ke mana?” tanya Nisa.
Tiba-tiba aku ingat permintaan tamu Pak Lolo tadi malam. Robi, Tety, dan Vona pagi ini akan melakukan ritual di Sendang Pamotan. Mereka tidak ingin terganggu kedatangan orang lain. Untuk menghormati tuan rumah, maka aku harus mengajak Nisa pergi.
“Pulang atau putar-putar?”
Aku menggeleng. “Untuk apa pulang?”
“Siapa tahu sudah kangen sama Ken Dedes dari Jenggala!”
Aku tertawa untuk menetralisasi situasi yang mendadak serius dan tegang. “Kita ke Gurah!” ajakku.
“Gurah?” Nisa mengernyitkan dahi.
“Melacak peninggalan Calon Arang!”
“Calon Arang? Bukankah itu ada di Bali?”
“Banyak yang meyakini bahwa Calon Arang aslinya dari Kediri, lalu dibawa para pelarian Majapahit ke Bali. Di sana kisahnya berkembang. Sebagian masyarakat Bali lalu meyakini Calon Arang asli Bali.”
“Menarik!”
“Maka kita ke sana sekarang.”
Tidak begitu jauh jarak dari Goa Selomangleng ke tempat yang kami tuju, yakni Kecamatan Gurah. Nama Gurah konon berasal dari Girah, desa tempat tinggal Calon Arang. Entah kenapa akhirnya dari Girah menjadi Gurah.
“Di Bali, Calon Arang dikenal sebagai makhluk halus yang jahat, kadang menghisap darah korbannya,” ucap Nisa di tengah perjalanan.
“Masih menjadi tanda tanya sebenarnya, Calon Arang itu benar-benar ada atau sekadar mitos. Aku pernah membaca bahwa aslinya Calon Arang itu merupakan cerita rakyat Jawa dan Bali abad ke-12. Jadi, ketika Kediri di bawah pemerintahan Raja Airlangga.”
“Kalau cuma cerita rakyat, bagaimana mungkin ada bekasnya yang bisa dilihat mata?”
“Itulah kehebatan mitos di Pulau Jawa!” sahutku. “Meski hanya mitos atau cerita rakyat yang sebenarnya fiktif, tidak sedikit yang meyakini bahwa hal itu benar-benar pernah ada. Lalu sulit membedakan antara sejarah, mitos, dan legenda. Kalau sejarah diajarkan di bangku sekolah, sedang mitos dan legenda diajarkan dari generasi ke generasi berikutnya.”
“Kita ambil arah ke Surabaya atau yang ke Malang?”
“Ke Malang. Gurah itu sebelum Pare. Kalau Pare ke kanan arah Kandangan, Pujon, Batu, Malang.”
Nisa mengerti. Ia membanting setir ke kanan, melintas jembatan Kali Brantas, lalu belok ke kiri. Papan penunjuk arah jelas: Pare/Malang.
“Sudah tahu tempatnya?” tanyanya kemudian.
“Nanti kita tanya. Semua orang pasti tahu Gurah, lokasi petilasan Calon Arang.”
“Pernah dengar kisahnya?”
“Menurut yang pernah kudengar, Calon Arang itu seorang janda.”
“Punya anak dua, ya?”
Aku tertawa. “Cerita ini benar. Anaknya cuma satu bernama Retna Manggali. Meski cantik, ia sulit mendapat suami karena ibunya ahli sihir. Ilmunya sangat tinggi, dan sering dipakai untuk menyantet orang.”
“Ohh.”
“Raja Airlangga mendengar itu ikut prihatin. Dia tidak ingin rakyatnya jadi takut oleh Calon Arang. Maka, ia minta bantuan Mpu Baradah dari Bali. Mpu Baradah punya akal cerdik. Ia menyuruh muridnya yang bernama Bahula untuk melamar Retna Manggali. Lamaran diterima. Setelah cukup lama jadi menantunya, suatu hari Bahula mencuri kitab sihir milik ibu mertuanya itu, lalu diserahkan kepada Mpu Baradah. Berbekal kitab sihir itulah bisa diketahui kelemahan Calon Arang. Maka, dengan mudah Mpu Baradah mengalahkannya.”
“Licik juga, ya, Mpu Baradah!”
“Cerdik menurutku.”
“Licik. Tidak berani mengajak tanding satu lawan satu dengan Calon Arang. Saya tidak suka cara-cara licik seperti itu.”
“Demi ketenteraman rakyat Gurah, kenapa tidak?”
“Itu hanya menunjukkan bahwa pada dasarnya laki-laki itu memiliki sifat-sifat licik di dalam hatinya. Sayang sekali jika kelicikan itu hanya dipakai untuk memperdaya wanita.”
“Hmmm....” Aku tidak menanggapi.
“Pak Lolo juga laki-laki yang licik. Dia membuat peraturan, kalau ada wanita melakukan ritual berendam di Sendang Pamotan, tidak ada orang lain yang boleh melihat, termasuk istrinya. Dengan begitu, hanya dia sendiri yang bisa menikmati punggung dan dada mulus para wanita yang berendam di sendang itu. Mengapa ia tidak mengajak istrinya? Ya, karena dia licik!”
Aku diam. Tidak ada untungnya mendebat atau membela Pak Lolo. Apalagi sampai tidak mengakui bahwa laki-laki memiliki sifat-sifat licik. Sebenarnya wanita pun bisa memiliki sifat-sifat licik. Tapi sekali lagi, untuk apa berdebat. Aku malah tidak kuat menahan kantuk. Karena praktis hanya tidur beberapa jam saja. Mungkin baru jam dua dini hari aku memejamkan mata. Untuk meredam emosi Nisa, aku memejamkan mata.
Hmm....
* * * * *
Pulang dari Gurah sudah pukul tiga sore. Ternyata, petilasan Calon Arang benar-benar diyakini masyarakat ada di Dusun Butuh, Sukorejo, Kecamatan Gurah. Petilasan yang tersisa semua terbuat dari batu berupa bekas fondasi rumah, lumpang untuk menumbuk padi, lempengan batu dan tonggak dari batu juga. Semua berada di tengah persawahan. Hanya satu dua orang yang mengunjungi. Mungkin mereka panasaran.
Sampai di rumah Pak Lolo, aku segera berkemas karena besok pagi harus rapat bersama Pak Johan dan calon anggota redaksi yang lain. Nisa masih ingin tinggal barang dua hari lagi karena belum puas mengumpulkan bahan-bahan berkaitan dengan Ken Dedes. Sebuah penerbit besar di Jakarta katanya sudah siap menerbitkan buku yang akan ia tulis.
“Masih ada keinginan untuk tinggal di Kediri?” tanyanya, ketika mengantar ke sub-terminal tidak jauh dari Jenggala.
Aku mengangguk. “Entah kenapa aku jatuh cinta pada kota tua ini.”
“Emm….”
“Keberatan?”
Nisa mengangkat bahu. “Saya tidak punya hak mengatur hidup Mas Sam.”
“Bukankah suatu saat nanti kamu akan mengatur hidupku? Seandainya kita berjodoh.”
“Seandainya kita tidak jodoh?” tukasnya cepat.
Aku belum menjawab ketika kernet angkutan pedesaan teriak-teriak, “Minal! Minal! Terminal! Segera berangkat!”
“Nanti atau besok akan kujawab pertanyaanmu. Terima kasih sudah mengantar,” kataku, sambil membuka pintu mobil jenis niaga yang kami sewa di Yogyakarta. Aku bergegas masuk ke angkutan pedesaan yang lebih sempit dan tidak nyaman. Apa boleh buat. Kasihan Nisa kalau harus mengantarku ke terminal Kediri. Lumayan jauh.
Seandainya kita tidak jodoh?
Kalimat itu terus mengiang-ngiang di telinga sepanjang perjalanan dari Kediri menuju Surabaya. Beruntung masih ada bus patas sehingga aku bisa istirahat dengan nyaman. Ternyata tidak mudah bagi seorang duda jika ingin memperistri seorang janda. Bagi yang hanya melihat, mereka akan bilang: duda dapat janda, cocok! Apa lagi yang harus ditunggu? Ternyata, tidak semudah itu.
Nisa hadir sebagai teman dekat setelah hampir setahun aku hidup seperti layang-layang putus. Seorang teman rela jadi makcomblang, memperkenalkan kami. Untuk urusan selanjutnya teman itu tidak mau ikut-ikutan lagi. Kami dianggap sudah sangat tahu apa yang harus dilakukan setelah pertemanan antara duda dan janda menjadi makin dekat.
* * * * *
Tidak mudah bisnis penerbitan di tengah menjamurnya media online seperti
sekarang ini. Kami semua sepakat hal itu. Penerbit-penerbit besar ada yang tumbang, ada yang mulai sempoyongan. Karena itu, aku usul bahwa majalah yang akan kami terbitkan nanti lebih banyak memuat feature, bukan tulisan-tulisan yang bersifat aktual. Kalau yang dijual isu-isu aktual jelas kalah telak dengan media online. Mereka tidak menunggu proses editing, lay out, cetak, edar, langsung menyebar ke masyarakat.
Hanya feature yang menurut pengamatanku tidak banyak muncul di media online. Karena sifat media online itu informasi instan, cepat namun tidak lengkap, bahkan terkadang juga kurang akurat. Sementara, tulisan berupa feature tidak kenal basi, bisa dibaca kapan saja, pembaca tidak terburu-buru, tapi membutuhkan keahlian khusus bagi penulisnya. Itulah hasil rapat selama sehari penuh. Tentu saja masing-masing juga mengemukakan pendapat dan usulan.
Namun ternyata, Pak Johan setuju dengan usulanku. Begitu juga akhirnya calon anggota redaksi yang lain. Meski untuk itu mereka perlu diberi pelatihan secara intensif lebih dulu. Aku mengusulkan dunia wayang, keris, batik, sejarah, mitos, kuliner tradisional, dan kearifan lokal yang jadi sajian utama. Alasanku sederhana saja. Belum ada majalah yang secara khusus menyajikan tulisan dengan tema-tema tersebut.
“Kita adakan pelatihan dan uji coba selama dua bulan. Setelah itu majalah harus segera diluncurkan di pasar,” kata Pak Johan selaku pemodal tunggal. Orangnya idealis untuk hal-hal yang berkaitan dengan budaya.
“Kantornya di mana Pak Johan?” tanyaku.
“Kemarin sudah kuajukan tiga opsi, Surabaya, Malang, atau Kediri. Silakan ditentukan. Bangunan kantor sudah ada, kalian bisa langsung masuk dan bekerja.”
“Aku pilih Kediri!”
“Alasannya?”
“Kediri termasuk kota tua. Menyimpan banyak peninggalan dari nenek moyang berupa candi, petilasan, mitos dan legenda. Tidak habis kita gali untuk sepuluh edisi!” jawabku.
“Bagaimana yang lain?” tanya Pak Johan kepada teman-teman anggota redaksi.
“Setuju!” jawab mereka serempak.
“Bisa pulang kampung!” celetuk Anwar, calon fotografer kami.
“Ok, ok, aku juga setuju. Siapa tahu nanti kita mudah mencari sponsor dan iklan dari para pengusaha di sana,” kata Pak Johan.
Ketika semua sudah pasti, kantor majalah positif ada di Kediri, aku telepon Nisa, memberitahukan hal itu. Aku berharap dia mau mengerti bahwa hal itu bukan keinginanku semata, tapi didukung teman-teman dan pemilik modal. Dari seberang Nisa tidak memberi reaksi. Tapi, tiga jam kemudian dia mengirim SMS: “Kita memang tidak jodoh. Besok saya kembali ke Yogya kembalikan mobil, langsung ke Jakarta. Bye....“ Setelah itu, teleponnya tidak bisa kuhubungi lagi.
Kita memang tidak jodoh?
Ah!
* * * * *
Untuk mempertanyakan nasib karena tiga kali gagal menjalin cinta, aku sendirian duduk di Pantai Kenjeran Surabaya. Ajakan teman-teman untuk karaoke kutolak. Aku ingin sendiri. Ingin bertanya kepada Sang Pencipta, kenapa tidak mudah menemukan jodoh setelah tidak muda lagi ini.
Seorang pedagang asongan menyodorkan koran sore. “Berita menarik, Om. Ada perahu tenggelam di Kali Brantas!” kata pengasong itu sambil menunjuk headline koran sore yang diletakkan di meja persis di depanku. Aku memang jadi tertarik membeli. Juga tertarik membaca berita tersebut. Jantungku hampir copot setelah membaca sekilas dan mengamati fotonya. Pak Lolo ikut jadi korban bersama seorang penumpang wanita. Mayat keduanya ditemukan tim SAR dua kilometer dari tempat tenggelamnya perahu. Kali Brantas banjir mendadak dan Pak Lolo mungkin salah memprediksi.
Esok harinya aku meninggalkan Surabaya langsung menuju Kediri. Di tengah perjalanan hatiku tidak tenang. Hari itu rencana penguburan jenazah Pak Lolo. Waktunya tidak bisa mengejar agar aku bisa melihat terakhir kali jenazah laki-laki yang tiga hari lalu mengantarku dan Nisa ke Sendang Pamotan. Ingin rasanya aku punya sayap dan terbang langsung ke Kediri, menukik di Desa Jenggala!
Bus yang melaju bagai dikejar setan pun terasa jadi lambat. Aku memang sengaja memilih bus yang sopirnya dikenal sangat ugal-ugalan di jalan. Keinginanku hanya satu, segera sampai di Desa Jenggala. Keinginan tinggal keinginan. Baru pukul sepuluh aku sampai di terminal Kediri, lalu ganti angkutan desa yang menuju ke Jenggala.
Rasanya aku naik siput. Apalagi angkutan desa itu sering menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat. Akhirnya baru pukul satu siang aku tiba di rumah Pak Lolo. Jenazah sudah dikuburkan tadi pukul sepuluh pagi.
Mbak Sekar menyambutku sambil menangis. Okta malah tampak tabah.
“Aku benar-benar ikut sedih atas musibah yang menimpa Pak Lolo,” kataku sambil menjabat tangan Mbak Sekar.
“Ya, ya Mas Sam, terima kasih. Mungkin sudah jadi kehendak Sang Pencipta,” kata Mbak Sekar sambil menyeka air matanya.
Malam harinya aku ikut mendoakan arwah Pak Lolo bersama warga Desa Jenggala. Esoknya aku pamit, tapi berjanji akan sering dolan ke Jenggala.
“Kantorku ada di timur Kali Brantas. Jadi bisa sering dolan kemari,” kataku.
“Mbak Nisa?”
“Kembali ke Jakarta.”
“Mas Sam sendiri di Kediri?”
“Ya,” kataku.
Pada peringatan 40 hari arwah Pak Lolo kembali kepada Sang Pencipta, aku datang dan ikut mendoakan. Ketika aku akan pulang, keluarga Mbak Sekar menahanku. Mereka minta agar aku mau menginap di rumah duka, sekalian untuk menguatkan hati orang yang baru saja ditinggal pergi suami tercinta untuk selama-lamanya. Aneh! Mengapa mereka memintaku untuk menguatkan hati Mbak Sekar?
“Akhirnya benar-benar ketemu Ken Dedes, ya? Maka ngotot mau tinggal di Kediri. Kita memang tidak jodoh. Jodohmu Ken Dedes dari Jenggala, bukan dari Ponowijen… eh Jakarta!”
Itu kalimat Nisa yang dikirim lewat WhatsApp Messenger.
Aku tidak membalas. (Tamat)
Topic
#FiksiFemina


