
Kisah Sebelumnya
Luri, penari yang terpilih menjadi penari utama dalam acara Srawung Candi, jatuh cinta kepada Rajang, wartawan yang meliput acara tersebut. Sementara, Luri juga mendapatkan perhatian dari Panji, pasangan menarinya. Namun, Luri jadi galau ketika Rajang tiba-tiba mendekati wasti, rekan sesama penari.
Malam itu aku disambut Nenek dengan senyum menghangatkan, tetapi kubalas dengan senyum yang kupaksakan. Bahkan, saat selesai mandi, saat aku berbaring di bangku panjang kayu jati tempat dulu ibu menyusui aku atau mendongeng untukku, Nenek duduk di tepinya. Aku terpejam. Sebagai tanda penolakan kehadiran Nenek karena aku sedang ingin sendiri, ingin membaca dan mencerna kesedihanku.
“Kamu capek, Lu,” kata Nenek, dengan suara bergetar. Tangannya dingin memijit-mijit telapak kakiku. Jujur, aku merasa lebih nyaman. Bahkan beban berat yang mengimpit dadaku menit yang lalu, sudah jauh berkurang. Ajaib sekali.
“Lu, tadi ada seorang laki-laki datang ke sini. Sopan. Eemm… anaknya tampan.”
Aku membuka mata.
“Siapa, Nek? Meninggalkan pesan apa tidak?”
“Ya. Tunggu sebentar.”
Aku melebarkan mata. Nenek berjalan ke arah rak buku yang selalu terjaga rapi olehnya. Tangan keriput itu meraih bungkusan kecil, lalu kembali mendekat padaku.
“Dia menitipkan ini.”
Aku menerimanya, dan sedikit terburu kubuka bingkisan kecil itu. Nenek masih memijit-mijit kakiku saat aku sibuk dengan bingkisan itu. Sebuah jam tangan. Dan ada sesobek kertas di dasar kotaknya.
Semoga kamu suka, Naluri. Ini sebuah kado untukmu. Untuk mengingatkan soal waktu. Maksudku, kapan kamu punya waktu untuk kita main ke Candi tanpa tim menarimu dan segala tetek bengeknya? Jadi hanya kita berdua saja. Oiya, ngomong-ngomong, Gada benar, kamu penari nomor satu yang dimiliki kota ini. Aku sudah membuktikannya. Rajang.
Aku kaget, mengamati jam tangan itu. Rajang. Dari mana dia tahu rumahku? Dan tawaran itu, rasanya ingin aku menemui sekarang juga, lalu ke sana… ke Candi Sukuh.
“Apakah dia calon cucuku, Lu?” Nenek bertanya, ada sedikit senyum disunggingnya. “Itu wajahmu langsung bersinar-sinar,” kata Nenek setengah canda, setengahnya lagi misteri.
“Nenek suka kalau dia jadi cucu Nenek?”
Nenek tertawa sumbang, setidaknya begitu terdengar di telingaku. Begitu ganjil tawa itu. Tetapi tangannya tetap memijat kakiku. Namun, keganjilan itu tak mengurangi gembiraku oleh kejutan indah yang mewujud pada jam tangan dan pesan pendek yang kubaca berulang-ulang. Ah, kecurigaanku kepadanya terlalu akut, membabi buta. Kesedihanku telah merampas menit-menit yang seharusnya bersikap tenang. Wasti dan Rajang tidak pergi bersama-sama. Aku yakin itu.
Akhirnya kesepakatan terjadi setelah Rajang meneleponku pada malam sebelum aku tidur. Menanyakan apakah suka dengan jam tangan pemberiannya. Aku tahu, cupid telah melepas anak panahnya. Meskipun dengan mata tertutup ia tak keliru melesatkan anak panah asmara hingga menembus persis jantungku dan jantungnya. Lalu aku mulai menangkap hari-hari murung di wajah Panji, meskipun ia sembunyikan di balik tawa atau kalimat-kalimat tangkas dalam tiap diskusi usai atau menjelang latihan. Teman-teman sibuk menduga sebab-sebabnya.
Minggu itu aku dan Rajang pergi berdua saja ke Candi Sukuh untuk proyek pribadi. Melintasi hamparan kebun teh, menatapi punggung Gunung Lawu yang kelabu. Tebing-tebing yang menggemakan doa-doa nan lirih dan dalam. Bermotor menembus kabut tipis. Sejuk menyegarkan. Semua begitu jernih di mataku. Awan-awan berarak itu, mengapa menjadi begitu indah melebihi biasanya.
Satu tanjakan pamungkas. Dan kami sampai di pelataran Candi. Rajang memarkir motornya di dekat warung yang masih tutup ketika aku mendahuluinya mendekat pada gapura di sebelah utara. Di sisinya ada relief raksasa menelan manusia. Ketika aku masih mencermati relief itu, Rajang sudah berdiri di sebelahku.
“Kupikir kamu pacarnya Panji.”
Aku tersenyum.
“Kamu tersenyum, tidak menjawab ya atau tidak.”
“Jika aku punya hubungan istimewa dengan Panji, aku tak akan berada di tempat ini bersamamu.”
Ia tertawa. Cukup keras, hingga mengagetkan perdu-perdu.
“Pelanlah kalau tertawa,” aku menghardik. “Ini tempat bukan sembarangan.”
“Kenapa? Kamu takut patung-patung batu dan relief itu bangun lalu membawa kita masuk untuk bergabung di dunianya? Membuat kita menjadi relief-relief seperti dirinya? Jika memang demikian, aku tak keberatan. Artinya, kita berdua bakal abadi.” Rajang menggodaku. Aku tidak tertarik. Tidak lucu!
“Yang fana adalah waktu, kita akan abadi** -menjadi relief-relief itu.” (**puisi dari Sapardi Djoko Damono)
“Tidak lucu kataku!” Kupukul lengannya, ia makin tertawa.
“Maaf, Lu. Tapi memang tempat ini sangat menakjubkan. Mana ada candi yang sevulgar candi ini. Bagiku ini bukti spiritualisme tinggi.…”
“Itu betul. Aku sepakat. Menurutku Candi Sukuh adalah satu-satunya candi yang merepresentasikan gambaran Tuhan ketika menciptakan manusia. Laki-laki dan perempuan adalah setara. Menjalankan fungsinya menjadi bagian dari siklus kehidupan di bumi.”
“Kamu bukan hanya pandai menari, Lu, tetapi juga cerdas.”
“Kamu gegabah. Hanya karena aku bisa mengatakan itu, kamu sudah menarik kesimpulan tentang kecerdasan seseorang.” Ia tertawa lagi.
Lalu sepanjang siang itu Rajang memotretku, bahkan segala tingkah polahku. Saat duduk di atas kura-kura, atau berjalan menyambangi panel-panel. Lalu saat aku mulai menaiki telundak candi, Rajang menyejajariku.
“Persis seperti ini yang ingin aku lakukan bersamamu, Lu.”
“Maksudmu?”
“Mendaki telundak, lalu menuju puncak. Dan aku memilih candi ini bukan candi yang lain karena beberapa alasan.”
“Lanjutkan!”
“Pertama. Di sini terpampang jelas peran perempuan dalam kehidupan dan kelangsungan dunia dan aku berpendapat bahwa perempuan mempunyai andil besar sebagai penentu kehidupan dalam skup besar atau seseorang saja. Kedua, intensitas candi ini digunakan sebagai wadah ekspresi. Bukan hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga membuka kemungkinan pengenalan akan diri kita, sejarah kelahiran kita, asal mula manusia dan segala derita dan segala nestapa. Aku ingin mengajakmu mengenal diri dan sejarah kita, kau dan aku.” Rajang melirikku. Kubalas dengan mata kukedip-kedipkan seperti mata boneka.
“Ketiga.” Rajang diam cukup lama, aku menanti tanpa niat menduga apa yang ketiga itu. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya pelan ketika sampai di puncak candi. Sebuah bidang terbuka. Bebas menatap segala penjuru, dan cemara-cemara itu masih melambai-lambai membelai hatiku. Rajang masih utang satu pernyataan padaku.
“Ketiga…,” tangannya meraihku. Mendekatkan pada dadanya hingga kami berada pada garis lurus dengan relief percintaan nan vulgar. “Aku mencintaimu, Lu. Mencintamu karena berbagai alasan.” Kurasa ia terlalu banyak alasan. Mungkin apa pun dan segala yang ia lakukan sekecil apa pun, pasti ada alasan yang serius ia pikirkan. Tetapi, hatiku terlalu gemuruh untuk memahami alasannya. Darahku berdesir-desir dan bunga-bunga hatiku bermekaran.
“Lu, aku mencintaimu. Mencintai seorang Naluri. Penari nomor satu yang dimiliki kotamu. Seperti yang dikatakan Gada.” Aku luruh. Rajang telah melamar hatiku di tempat pemujaan ini.
“Kamu mau menerimaku?” Aku mengangguk. Selebihnya waktu terlewat dengan berlipat indahnya. Demikian mudahnya. Demikian simpelnya. Tak ada tawar-menawar, apalagi pura-pura memikirkan. Untuk apa jika semua itu memang aku harapkan? Pertanyaan dan pernyataan itu mendesak-desak dadaku. Tetapi, aku mengabaikannya.
“Aku akan membuat laporan dan tulisan serta foto-foto yang keren pada acaramu nanti. Srawung Candi. Semata untuk kupersembahkan padamu. Itu tulisanku yang kugarap dengan banyak alasan, termasuk sebuah alasan yang pribadi.” Ia berkata dengan senyum yang rasanya lebih indah dari yang tadi.
“Terima kasih. Aku bahagia sekali hari ini.”
“Kalau kamu, bagaimana candi ini menurutmu?” Aku kaget oleh pertanyaan itu. Ia membanting topik pembicaraan tanpa jeda. Aku masih dilanda pesona yang dihadirkan oleh kata-katanya. Oleh pengakuan cinta yang sudah kunanti cukup lama. Tiba-tiba ia mengembalikan pada apa yang ada di hadapanku. Perwujudan candi ini.
“Rupanya ketika bersamamu, aku harus selalu siap segalanya. Termasuk siap dengan pembicaraan yang melompat-lompat seperti kodok.” Rajang tertawa.
“Eemm… candi ini memang istimewa setidaknya menurut penilaian subjektifku.” Dia berhenti tertawa lalu menolehku, menatap serius kepadaku.
“Jika kita perhatikan, semua telundak di beberapa candi, misalnya Borobudur, Prambanan, Mendut, Pawon, menuju pada ruang tertutup rapat, bahkan di Pawon malah untuk menyimpan abu jenazah. Tetapi tidak untuk Candi Sukuh ini. Kita menaiki telundaknya untuk menuju ruang terbuka, bebas. Merdeka. Keterbukaan yang menawarkan banyak pilihan. Kita menuju merdeka sebagai manusia.” Rajang makin tajam menatapku, meneliti jengkal wajahku lalu turun ke kaki, lalu menatap lagi wajahku seolah aku ini patung Jongrang yang menit lalu dihadirkan oleh kutukan Bandung Bondowoso.
“Kamu luar biasa mengejutkan, Lu. Kamu sangat reflektif,” katanya kemudian. Keheningan mengiringi langkah kaki kami hingga aku dan dia berdiri di dekat patung dua kura-kura. Berhadapan, lalu tiba-tiba ia tersenyum dan hatiku lega karenanya.
“Lu, satu lagi yang kuingin agar kamu tahu.”
“Apa itu?”
“Sebenarnya aku sudah menguntitmu sejak dulu. Bahkan aku menyimpan foto-fotomu ketika kamu menari di lereng Pegunungan Dieng. Setahun sebelum aku menemuimu di Sendratari Ramayana. Benteng Vastenburg.”
Aku kaget. Itu dua tahun lalu. Dan itu debutku sebagai penari utama.
“Menurutmu, baguskah aku menari saat itu?”
“Sangat bagus, sehingga aku memutuskan untuk mencari tahu siapa kamu dan makin hari makin terpesona saja. Telinga dan mataku sangat tajam jika menyangkut kamu. Ketika itu aku baru tahu, sebuah tembang, gending, dan tari, jika suasana dan semua peraganya pas, itu bisa membuat hati penikmatnya turut hanyut dalam pementasan. Turut nestapa hatiku saat itu.”
****
Dan hari-hari berlalu makin mendekatkan aku pada pementasan itu. Panji tampak sekali berkurang energi di saat-saat penentuan ini. Panji begitu terganggu pada kehadiran Rajang yang menurut dia begitu agresif menunjukkan nyaris seperti sebuah peringatan bahwa aku adalah miliknya.
Aku mencoba memahami Panji saat ia enggan kuajak makan malam bersama Rajang usai latihan yang panjang dan melelahkan.
“Lu, ingin sekali rasanya agenda ini lekas selesai dan tak perlu lagi aku melihat bagaimana Rajang bersikap kepadamu. Kau tahu aku mencintaimu, Lu, tetapi aku tahu kalau cintaku hanya pantas menghuni dadaku saja.”
“Panji, kita bisa bersahabat sampai tua.”
“Jangan berkata-kata klise seperti itu. Aku tak suka. Aku hanya ingin lekaslah hari-hari berlalu.”
Hingga tiba hari pementasan itu. Segala persiapan sudah dilakukan. Upaya pengakraban dengan candi yang menjadi kekayaan negeri ini mendapat sambutan bagus. Dibuka oleh Pak Sardono W. Kusuma Sang koreografer Opera Dipanegara yang ketika itu, aku masih awal remaja menjadi penari pembuka. Mas Gada dan Mbak Putik tegas menolak ketika ada usulan bagaimana kalau acara itu dibuka oleh Menteri Pariwisata.
“Tidak. Pak Sardono lebih pas. Ini tak sekadar urusan wisata.” Begitu tandas Mas Gada. Dan nyatanya memang pas. Bahkan pengunjung dari mancanegara, peneliti candi dan naskah-naskah kuna hadir dalam acara ini.
Saat geladi bersih kemarin, aku dan Panji terlihat begitu canggung. Panji menari dengan dingin tanpa roh. Ia tak memberi nyawa pada tiap gerak tubuhnya. Dan rasanya tarian Panji berdarah-darah tertumpah di panggung. Sepertinya aku pun sama, sehingga Mbak Putik dan Mas Gada terus-menerus menggelengkan kepala, bahkan mengurut dada. Kalau caranya begini, bagaimana jadinya besok? Mas Gada tampak putus asa. Bahkan Mbak Putih berani menaruh curiga bahwa telah ada yang dengan sengaja melempar sesuatu di antara kami sehingga kami demikian terpengaruh lalu kacau.
Tetapi entah daya apa yang membungkus aku dan Panji, sehingga apa yang kami takutkan tidak terjadi. Padahal, tadi saat persiapan, belum-belum hatiku sudah dibakar cemburu ketika melihat dengan sengaja Wasti bergenit-genit meminta dipotret secara privat oleh Rajang, dan aku merasa mereka sungguh akrab melebihi sewajarnya. Kini, baik aku maupun Panji, telah menyimpan kepedihan yang berbeda, tetapi akan berefek sama. Aku hanya lebih banyak menatap cemara-cemara yang menangkap angin, lalu memainkannya. Dan Panji, ekor mataku menangkap ia banyak menambatkan mata di puncak bangunan candi yang terbuka.
Tetapi begitu gending menabuh tubuh kami, segala cemas lewat. Angin pegunungan, bebukitan yang menelikung, cemara-cemara yang mendindingi tempat ini telah bersatu mengambil alih cemasku dan Panji. Sungguh aku bisa melihat ia begitu tenang saat menarikan tangannya, memainkan selendang dan tatapan itu memang tatapan layaknya Batara Kamajaya, putra Sang Hyang Ismaya menatap Dewi Kamaratih putri Bharata Soma.
Tetapi usai acara itu, ada yang beda. Setelah pada Malam Purnama usai pementasan Srawung Candi, aku makin didera kangen luar biasa karena Rajang jarang menemuiku, bahkan sudah tak seantusias dulu saat mengirim pesan. Barangkali sedang menyelesaikan tulisan tentang pementasan itu untuk majalah Swara Bumi yang terbit awal bulan ini. Hatiku berangsur tenang atas kesimpulan yang kubuat sendiri.
Tetapi saat majalah itu terbit, Mas Gada yang menyerahkannya padaku. Bukan Rajang yang kupikir akan menganggap momen penyerahan majalah itu menjadi begitu istimewa. Saat menerimanya dari Mas Gada, hatiku sudah menjadi patah. Ada apa? Apa salahku? Bahkan Rajang tak mau menerima teleponku.
Hingga tiba petang ini. Aku mendapat jawaban atas pertanyaan yang mengacaukan tidurku. Aku melihat Rajang bersama-sama dengan Wasti masuk ke sebuah restoran saat aku pulang menebus obat di apotek untuk Nenek. Mataku sulit memercayai. Kepahitan ini terlalu cepat datang. Apa yang menjadi kecurigaanku benar-benar terbukti. Teganya Rajang merajang-rajang hatiku. Pedih sekali.
Sesampai di rumah, ketika aku melayani Nenek minum obat, aku tak bisa menyembunyikan perasaanku. Aku terus menangis. Air mata ini sangat sulit dibendung.
“Semua orang tua akan mengalami seperti ini, Luri. Maafkan Nenek membuatku repot. Jangan menangis.”
Aku tak bisa berkata-kata. Nenek menyangka aku menangis karena melihatnya tergolek saja. Ia menyangka sakit tua yang ia derita, menjadi sumber kesedihanku. Aku hanya menangis di dadanya yang kering. Tumpah sudah segala sedih duka nestapa. Rajang, aku tak akan memaafkanmu! Sampai kapan pun aku tak akan memberimu maaf. Sudah selesai.
Di luar aku mendengar ketukan pintu cukup keras. Aku siap bertempur. Yang datang itu pasti Rajang. Baik! Urusan harus kuselesaikan sekarang juga. Malam ini juga. Dasar pembohong! Aku bergegas keluar menyambut si pengetuk pintu dan sudah menyiapkan apa yang akan aku serapahkan. Saat aku membuka pintu, lututku terasa lemas. Bu Raras datang seperti mendapat panggilan misterius. Terpana melihat wajahku bersimbah air mata.
“Kenapa nenekmu?”
Aku langsung menubruknya. Meminjam dadanya untuk meletakkan segala lelah dan duka lara ini.
“Ada apa, Luri? Di mana nenekmu?”
Aku tak menjawab, tetapi malah menangis makin keras hingga tubuhku terguncang-guncang. Bu Raras membantuku duduk, lalu bergegas menengok kamar Nenek. Hening. Bu Raras keluar lagi, memandangku tenang, lalu menuju dapur. Kembali ke ruang tengah membawa secangkir air putih.
Aku menimbang, apakah perlu aku menyampaikan sakit hatiku. Apakah aku perlu menceritakan bahwa tadi melihat Wasti bergandengan tangan dengan manja dengan Rajang. Tetapi, tanpa aku lelah menimbang, Bu Raras sudah membuka persoalan.
“Rajang?” aku mengangguk. Bu Raras tenang menyatukan telapak tangannya, menangkup di depan dada. Sorot matanya menelisik, tetapi berlimpah kasih sayang.
“Dia memutus hubungan denganmu?” Aku menggedikkan bahu.
“Jadi apa?”
“Dia tak mengatakan apa pun, Bu. Sejak Srawung Candi kemarin itu. Tidak menemuiku, mengirim pesan atau menelepon. Bahkan mengantar majalah itu pun tidak. Ia menitipkannya pada Mas Gada. Aku tak tahu salah apa aku ini.” Ada rasa canggung, tetapi lega. Canggung karena selama ini aku tak pernah membicarakan persoalan laki-laki seserius ini dengan Bu Raras.
“Justru untuk itu Ibu datang ke sini. Tetapi ternyata kamu sudah tahu. Sakit? Iya. Ibu percaya. Tetapi masih lebih baik sakit sekarang. Dan Ibu di sini akan menemanimu. Memang Ibu pikir sebaiknya kamu berpisah dengan Rajang. Maaf, kalau terlalu vulgar. Karena di luar sana, di sanggar kita sudah beredar kabar bahwa dalam waktu dekat mereka akan tunangan.”
“Siapa?”
“Rajang dan Wasti. Sudah jangan menangis.”
Aku menelan ludah kering.
“Berhentilah menangis.”
Di dalam kamar Nenek terbatuk-batuk. Tiba-tiba aku ingat ketika Nenek kutanya apakah ia suka jika Rajang menjadi cucunya, Nenek tertawa sumbang. Getir. Dan jam tangan itu, aku berdiri bergegas mengambilnya. Aku bertekad akan mengembalikannya. Tapi, bagaimana caranya?
“Jangan kamu temui, jika kamu tak ingin tersakiti lebih parah lagi.”
“Tapi aku tak mau menyimpan barang ini, Ibu. Aku ingin ia tahu aku sudah tak memberi arti pada benda ini.”
“Kirimkan ke alamat majalahnya. Biar Ibu yang kirim.”
Aku menyerahkan benda itu dan surat di dalamnya, yang sudah kuhafal tiap bentuk hurufnya.
Jika ada yang mengatakan kesedihan itu bisa mengeroposkan tulang melebihi penyakit osteoporosis, itu tak terlalu berlebihan. Karena aku mengalaminya. Sakit bukan main. Gairah hidup ini hilang dan tiap waktu dilanda ketakutan jika bertemu dengan mata Rajang.
***
Seorang diri Panji datang saat aku berbaring di rumah sakit. Sedikit kaget ia menatap mataku. Lalu tersenyum. Seikat kembang anyelir kuning dipadu daun cemara ia letakkan di meja kecil di sisi kasur bangsalku.
“Nenekmu menitip pesan agar kamu lekas sembuh.” Suaranya datar.
“Kamu dari sana?” Ia mengangguk. Lalu, dari tas ranselnya ia mengambil sebuah bungkusan. Menatapku sejenak, seolah memastikan aku akan siap menerima bungkusan darinya.
“Dari nenekmu, dan ibuku.”
“Maksudmu?”
“Aku juga kaget mendengar pengakuan Ibu bahwa beberapa hari ini beliau puasa penuh untuk kesehatanmu saat aku menceritakan bahwa kamu sakit usai Srawung Candi kemarin. Lalu hari ini ia meminta aku agar mengantar ini untukmu.”
“Apa yang dititipkan nenekku dan ibumu?”
“Ini dari nenekmu.” Panji membuka bungkusan dalam kardus cukup besar itu. Sepotong keluih mentah. Sepotong selendang yang sangat kukenal. Itu selendang milik Ibu yang dulu digunakan untuk menggendongku. Dan sebatang lilin tinggal separo. Ujungnya menyisakan gosong. Aku tahu, Nenek mengirimkan simbol-simbol kepadaku. Simbol-simbol semacam itu sudah menjadi kebiasaan Nenek untuk menyampaikan sesuatu yang bagi kami penting dan khusus.
“Panji, tolong saat pulang nanti, mampirlah ke rumahku. Temui Nenek, katakan aku berterima kasih untuk doa sembahyangnya untukku. Semoga aku menjadi seperti yang diharapkan Nenek.”
“Kamu tahu apa yang diharapkan dan didoakan Nenek melalui kiriman ini?”
“Keluih itu, Nenek mengharapkan aku memiliki cinta kasih yang linuwih, berlebih. Selendang itu juga cinta kasih yang tak pernah berkesudahan dari keluargaku. Dan lilin itu, Nenek mengharapkan aku tetap berpikiran terang. Jangan sampai dikuasai kegelapan.”
“Bagus sekali oleh-oleh dari nenekmu.”
“Semua bukan untuk dimakan, karena aku sudah mendapat jatah makan dari rumah sakit,” kataku sambil tersenyum. Ia juga. “Terus dari ibumu?”
“Hanya ini. Semangkuk agar-agar. Agar kau lekas segar. Tetap lembut tak mudah patah seperti ranting.”
Tanpa kumaui, air mata mengalir di sudut-sudut mataku.
“Ibuku sangat ingin kamu menjadi anaknya,” ucap Panji terbata. Lalu tangannya mengusap air mataku. Aku tak ingin mencegahnya, bahkan saat ia menundukkan wajah dan mendaratkan ciuman di keningku. (Bersambung)
Baca juga:
Cemara-Cemara, Bagian 3 (TAMAT)
***
Indah Darmastuti
Indah Darmastuti
Topic
#FiksiFemina


