Pekan Mode Semasa Pandemi
Tanpa terasa, salah satu perhelatan mode terbesar dan terpenting di Indonesia, Jakarta Fashion Week (JFW) telah memasuki tahun ke-14. JFW kembali tahun ini selama 4 hari dengan 16 pagelaran dari 70 desainer yang terdiri dari perancang muda dan murid sekolah mode—kombinasi talenta yang umum ditampilkan JFW selama bertahun-tahun.
Didesak pandemi untuk migrasi sepenuhnya ke ranah digital tahun lalu, semua pagelaran dan diskusi mode tahun ini pun direkam sebelum ditayangkan di kanal khusus JFW dan Youtube. Salah satu tantangan terberat pagelaran busana secara daring adalah menjembatani mata kamera dengan mata pemirsa. Dalam aspek ini kinerja kamera JFW lebih baik dibanding tahun lalu. Lebih sedikit waktu dihabiskan untuk menyoroti alur koreografi, dialihkan untuk menangkap detil produk mode yang dibawakan model.
Pencahayaan juga lebih enak untuk pemirsa di balik gawai, menghindari permainan teatrikal yang lebih cocok untuk pemirsa langsung di hadapan runway. Tentu masih banyak celah untuk perbaikan, dan bila JFW akan mempertahankan penyajian digital maka ada kesempatan tahun depan untuk tetap meningkatkan kualitas.
Didesak pandemi untuk migrasi sepenuhnya ke ranah digital tahun lalu, semua pagelaran dan diskusi mode tahun ini pun direkam sebelum ditayangkan di kanal khusus JFW dan Youtube. Salah satu tantangan terberat pagelaran busana secara daring adalah menjembatani mata kamera dengan mata pemirsa. Dalam aspek ini kinerja kamera JFW lebih baik dibanding tahun lalu. Lebih sedikit waktu dihabiskan untuk menyoroti alur koreografi, dialihkan untuk menangkap detil produk mode yang dibawakan model.
Pencahayaan juga lebih enak untuk pemirsa di balik gawai, menghindari permainan teatrikal yang lebih cocok untuk pemirsa langsung di hadapan runway. Tentu masih banyak celah untuk perbaikan, dan bila JFW akan mempertahankan penyajian digital maka ada kesempatan tahun depan untuk tetap meningkatkan kualitas.
Ketangkasan dan Keberlanjutan
Agak pelik menyodorkan konsep mode, sebuah keinginan sekunder atau kadang malah tersier, saat sebagian besar konsumen harus fokus pada kebutuhan primer karena tekanan ekonomi pandemi. Dalam laporan tahunan The State of Fashion, perusahaan konsultansi global McKinsey memproyeksikan penjualan di Eropa baru akan bangkit ke tingkat pra-pandemi pada kuartal ketiga 2022, dan bahkan kuartal pertama 2023 bagi Amerika Serikat. Cina diproyeksikan bangkit lebih cepat, namun tidak bisa dijadikan patokan bagi keseluruhan benua Asia. Di Indonesia sendiri, walau pertumbuhan ekonomi mulai meninggalkan rentang negatif pada kuartal ketiga tahun ini, dan baik persentase maupun jumlah pengangguran per Agustus 2021 agak menurun dibanding periode yang sama sebelumnya, pengangguran terbuka masih tercatat melewati 9 juta kepala.
Menarik untuk diperhatikan bahwa agility (ketangkasan) adalah salah satu tagar yang diputar berulangkali di layar JFW tahun ini. Menghadapi pasar yang lesu dan target pasar yang teralihkan oleh isu lain, desainer memang harus tangkas berakrobat membaca konsumen dan menangkap peluang—bukan sekedar menawarkan sehelai desain, tapi juga narasi.
Danjyo Hiyoji, misalnya, menawarkan koleksi uniseks dalam garis dan motif berani, dengan palet warna kontras, Didukung oleh TikTok, media sosial utama Generasi Z, koleksi ini dimaksudkan sebagai ekspresi kepercayaan diri untuk tampil menonjol sekaligus perlawanan terhadap perundungan melalui media sosial (cyber bullying).
Narasi sosial lainnya adalah mode berkelanjutan (fashion sustainability), topik yang diangkat JFW sejak jurnalis Lucy Siegle didatangkan pada tahun 2015 untuk mendiskusikan fenomena fast fashion dan memutarkan film dokumenter The True Cost. Pada jumpa pers tahun ini, desainer-desainer di balik jenama Kami dan NurZahra terbuka membagikan realita lapangan dalam menyiapkan koleksi yang sepenuhnya aman lingkungan.
Kami acap terbentur material aman lingkungan namun tidak nyaman, sehingga dikhawatirkan malah mendorong konsumen membeli pakaian baru lain sebagai pengganti. NurZahra, yang motor kreatifnya baru beregenerasi, memilih mengolah dari stok material sendiri selain menggunakan scarf pembatik Cirebon yang tersendat penjualannya karena pandemi.
Murid-murid tahun terakhir LaSalle College memilih wastra tradisional, mulai dari tenun Nusa Tenggara Timur sampai tenun Bentenan dari Sulawesi Utara. Dilakukan sebagai kriya tangan yang memerlukan proses produksi lama dan masih sering menggunakan pewarna alam, wastra tradisional mulai ditawarkan di Indonesia sebagai opsi slow fashion, kebalikan dari fast fashion yang serba instan.
Khas didikan sekolah mode, tiap koleksi memiliki benang merah dan keberanian bereksperimen dengan elemen desain. Telah berpartisipasi dalam JFW sekitar sedekade, LaSalle College nampak kian nyaman dengan format pagelaran pekan mode.
Bateeq memadukan salah satu wastra tradisional, lurik, dengan katun Bemberg, serat selulosa hasil regenerasi yang cepat menyerap warna, mudah dibatik, dan didapuk mudah terurai secara hayati.
Untuk koleksi JFW tahun ini, Sejauh Mata Memandang memilih katun primisima dan Tencel, salah satu jenama rayon ramah lingkungan. Di luar lingkup JFW, tahun ini Sejauh Mata Memandang juga bekerjasama dengan Rekosistem dalam mengumpulkan sampah mode dan gaya hidup dari masyarakat untuk didaurulang. Walau sempat terhenti karena pembatasan pandemi, gema acara cukup dirasakan—ramai pemerhati lingkungan dan pencinta mode sukarela membawakan sampah dari rumah mereka.
Bijak dalam penggunaan material agar tak menyisakan banyak limbah ditempuh oleh Sean Sheila kali ini, selain menggunakan Terylene (salah satu jenama polyester) yang telah didaur-ulang. Tetap mengandalkan pola bagus, bordir indah, dan eksekusi keseluruhan yang kuat, koleksi siap-pakai dalam palet warna seimbang antara hitam dan menyala ini lebih membumi walau sama menawannya dengan koleksi pagelaran mereka biasanya.
Byo memilih memfungsikan-ulang (repurpose) limbah kulit dalam memproduksi koleksi tas untuk Dewi Fashion Knight tahun ini, pagelaran pamungkas JFW tiap tahun. Jejeran tas sandang berukuran sedang dan bertali lebar, dalam pilihan warna dari gelap ke teramat cerah terlihat menarik dan sesuai selera jaman-- tanpa meninggalkan jejak teknik Byo yang sudah dikenal pasar.
Kembali ke aspek ketangkasan, beberapa desainer jeli menangkap potensi pasar baru dengan berkolaborasi dengan talenta lain di luar mode. Untuk koleksi keduanya, Danjyo Hiyoji menggandeng Bunga Yuridespita, seniman berbasis di Bandung yang dikenal dengan karya grafis geometris abstrak.
Setelah sukses menelurkan koleksi wearable art dengan seniman Abenk Alter pada JFW lalu dan dengan seniman Muklay pada awal tahun ini, kali ini CottonInk berkolaborasi dengan pesohor Nagita Slavina. Tanggap terhadap gaya berbusana santai selama pandemi dan berbareng dengan kehamilan sang pesohor, koleksi kolaborasi ini bersiluet longgar dalam motif cetak abstrak modern berwarna meriah.
Menarik untuk diperhatikan bahwa agility (ketangkasan) adalah salah satu tagar yang diputar berulangkali di layar JFW tahun ini. Menghadapi pasar yang lesu dan target pasar yang teralihkan oleh isu lain, desainer memang harus tangkas berakrobat membaca konsumen dan menangkap peluang—bukan sekedar menawarkan sehelai desain, tapi juga narasi.
Danjyo Hiyoji, misalnya, menawarkan koleksi uniseks dalam garis dan motif berani, dengan palet warna kontras, Didukung oleh TikTok, media sosial utama Generasi Z, koleksi ini dimaksudkan sebagai ekspresi kepercayaan diri untuk tampil menonjol sekaligus perlawanan terhadap perundungan melalui media sosial (cyber bullying).
Narasi sosial lainnya adalah mode berkelanjutan (fashion sustainability), topik yang diangkat JFW sejak jurnalis Lucy Siegle didatangkan pada tahun 2015 untuk mendiskusikan fenomena fast fashion dan memutarkan film dokumenter The True Cost. Pada jumpa pers tahun ini, desainer-desainer di balik jenama Kami dan NurZahra terbuka membagikan realita lapangan dalam menyiapkan koleksi yang sepenuhnya aman lingkungan.
Kami acap terbentur material aman lingkungan namun tidak nyaman, sehingga dikhawatirkan malah mendorong konsumen membeli pakaian baru lain sebagai pengganti. NurZahra, yang motor kreatifnya baru beregenerasi, memilih mengolah dari stok material sendiri selain menggunakan scarf pembatik Cirebon yang tersendat penjualannya karena pandemi.
Murid-murid tahun terakhir LaSalle College memilih wastra tradisional, mulai dari tenun Nusa Tenggara Timur sampai tenun Bentenan dari Sulawesi Utara. Dilakukan sebagai kriya tangan yang memerlukan proses produksi lama dan masih sering menggunakan pewarna alam, wastra tradisional mulai ditawarkan di Indonesia sebagai opsi slow fashion, kebalikan dari fast fashion yang serba instan.
Khas didikan sekolah mode, tiap koleksi memiliki benang merah dan keberanian bereksperimen dengan elemen desain. Telah berpartisipasi dalam JFW sekitar sedekade, LaSalle College nampak kian nyaman dengan format pagelaran pekan mode.
Bateeq memadukan salah satu wastra tradisional, lurik, dengan katun Bemberg, serat selulosa hasil regenerasi yang cepat menyerap warna, mudah dibatik, dan didapuk mudah terurai secara hayati.
Untuk koleksi JFW tahun ini, Sejauh Mata Memandang memilih katun primisima dan Tencel, salah satu jenama rayon ramah lingkungan. Di luar lingkup JFW, tahun ini Sejauh Mata Memandang juga bekerjasama dengan Rekosistem dalam mengumpulkan sampah mode dan gaya hidup dari masyarakat untuk didaurulang. Walau sempat terhenti karena pembatasan pandemi, gema acara cukup dirasakan—ramai pemerhati lingkungan dan pencinta mode sukarela membawakan sampah dari rumah mereka.
Bijak dalam penggunaan material agar tak menyisakan banyak limbah ditempuh oleh Sean Sheila kali ini, selain menggunakan Terylene (salah satu jenama polyester) yang telah didaur-ulang. Tetap mengandalkan pola bagus, bordir indah, dan eksekusi keseluruhan yang kuat, koleksi siap-pakai dalam palet warna seimbang antara hitam dan menyala ini lebih membumi walau sama menawannya dengan koleksi pagelaran mereka biasanya.
Byo memilih memfungsikan-ulang (repurpose) limbah kulit dalam memproduksi koleksi tas untuk Dewi Fashion Knight tahun ini, pagelaran pamungkas JFW tiap tahun. Jejeran tas sandang berukuran sedang dan bertali lebar, dalam pilihan warna dari gelap ke teramat cerah terlihat menarik dan sesuai selera jaman-- tanpa meninggalkan jejak teknik Byo yang sudah dikenal pasar.
Kembali ke aspek ketangkasan, beberapa desainer jeli menangkap potensi pasar baru dengan berkolaborasi dengan talenta lain di luar mode. Untuk koleksi keduanya, Danjyo Hiyoji menggandeng Bunga Yuridespita, seniman berbasis di Bandung yang dikenal dengan karya grafis geometris abstrak.
Setelah sukses menelurkan koleksi wearable art dengan seniman Abenk Alter pada JFW lalu dan dengan seniman Muklay pada awal tahun ini, kali ini CottonInk berkolaborasi dengan pesohor Nagita Slavina. Tanggap terhadap gaya berbusana santai selama pandemi dan berbareng dengan kehamilan sang pesohor, koleksi kolaborasi ini bersiluet longgar dalam motif cetak abstrak modern berwarna meriah.
Semburat Harapan Tahun Depan?
Pantone yang biasanya hanya mencanangkan 1-2 warna, mengeluarkan begitu banyak pilihan untuk 2022. Warna magenta dari bunga dahlia dan kuning dari bunga daffodil dalam rekomendasi Pantone terlihat mewarnai JFW tahun ini bersama beberapa nuansa cerah lainnya.
Semburat kecerahan, mungkin simbol harapan tahun depan yang lebih menjanjikan, diramu menarik oleh Major Minor dan Alex(a)lexa, dua jenama yang desainer-desainer di baliknya pernah dibina dalam program inkubator Indonesia Fashion Forward (IFF) dari JFW dan British Council.
Major Minor menarik inspirasi dari Through the Flower, lukisan sekaligus judul otobiografi perupa dan feminis Judy Chicago. Rongga diantara kuntum bunga disebut Judy sebagai undangan dan peluang untuk sesuatu yang lebih luas dan menjanjikan dari batasan-batasan yang mengurung wanita. Oleh Major Minor, detil bunga yang mengundang diposisikan sebagai aksen di antara potongan asimetris dan permainan warna bergaris yang menjadi ciri jenama ini selama ini. Sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, koleksi kali ini sepenuhnya keluar dari siluet terstruktur, memberikan keleluasaan sepenuhnya bagi sang pemakai.
Alex(a)lexa lebih jauh lagi, merujuk pada dunia utopia untuk koleksinya tahun depan. Menyajikan siluet ketat dalam gelembung kerutan (smocked) atau melayang melebar, semua dalam warna-warna cerah, Alex(a)lexa memberikan pilihan bagi gaya hidup apapun yang mungkin dilakoni konsumen pada 2022—come what may, apapun oke, selama semua dilakoni dengan harapan cerah.
Dan dalam kehidupan yang sudah tidak menentu selama dua tahun ini, dan mungkin masih limbung beberapa saat lagi, mungkin memang memelihara harapan cerah sudah merupakan utopia sendiri. 2022, mari kita lihat akan membawakan apa bagi dunia. (f)
(Lynda Ibrahim, penulis dan konsultan bisnis, kontributor, Jakarta)
Baca Juga
Parade Cinta Gucci
Catatan Penting dari Paris Fashion Week Spring 2022
6 Momen Penting di Milan Fashion Week 2022
Semburat kecerahan, mungkin simbol harapan tahun depan yang lebih menjanjikan, diramu menarik oleh Major Minor dan Alex(a)lexa, dua jenama yang desainer-desainer di baliknya pernah dibina dalam program inkubator Indonesia Fashion Forward (IFF) dari JFW dan British Council.
Major Minor menarik inspirasi dari Through the Flower, lukisan sekaligus judul otobiografi perupa dan feminis Judy Chicago. Rongga diantara kuntum bunga disebut Judy sebagai undangan dan peluang untuk sesuatu yang lebih luas dan menjanjikan dari batasan-batasan yang mengurung wanita. Oleh Major Minor, detil bunga yang mengundang diposisikan sebagai aksen di antara potongan asimetris dan permainan warna bergaris yang menjadi ciri jenama ini selama ini. Sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, koleksi kali ini sepenuhnya keluar dari siluet terstruktur, memberikan keleluasaan sepenuhnya bagi sang pemakai.
Alex(a)lexa lebih jauh lagi, merujuk pada dunia utopia untuk koleksinya tahun depan. Menyajikan siluet ketat dalam gelembung kerutan (smocked) atau melayang melebar, semua dalam warna-warna cerah, Alex(a)lexa memberikan pilihan bagi gaya hidup apapun yang mungkin dilakoni konsumen pada 2022—come what may, apapun oke, selama semua dilakoni dengan harapan cerah.
Dan dalam kehidupan yang sudah tidak menentu selama dua tahun ini, dan mungkin masih limbung beberapa saat lagi, mungkin memang memelihara harapan cerah sudah merupakan utopia sendiri. 2022, mari kita lihat akan membawakan apa bagi dunia. (f)
(Lynda Ibrahim, penulis dan konsultan bisnis, kontributor, Jakarta)
Baca Juga
Parade Cinta Gucci
Catatan Penting dari Paris Fashion Week Spring 2022
6 Momen Penting di Milan Fashion Week 2022
Petty S. Fatimah
Topic
#JakartaFashionWeek2022


