The Rizkianto meluncurkan koleksi debutnya di pasar Indonesia, bertajuk Easthedra. Foto: Dok. The Rizkianto
Namanya mungkin belum di kalangan pencinta fashion Tanah Air, tapi jenama fashion The Rizkianto telah punya tempat tersendiri di pasar internasional.
Setelah membangun jenamanya di Italia, kini sang desainer muda berbakat, Dery Rizkianto, kembali ke Indonesia.
Sebagai Direktur Kreatif The Rizkianto, Dery yang menempuh pendidikan mode di Milan, Italia, itu mengasah visinya, membentuk identitas desainnya, dan membangun fondasi The Rizkianto. Jenama ini dikenal dengan estetika yang sleek, modern, namun tetap memiliki sentuhan personal yang kuat.
Prestasinya di Italia telah membuka jalan bagi karyanya untuk dikenal di panggung global. Kini, Dery merambah pasar fashion Indonesia dengan meluncurkan koleksi debut bertajuk Easthedra.
Acara peluncuran yang berlangsung di Lomma, Jakarta, awal Juli lalu itu menjadi langkah besar bagi The Rizkianto, sekaligus sebuah selebrasi kekayaan warisan budaya Indonesia melalui kolaborasi apik bersama Cita Tenun Indonesia.
Direktur Kreatif The Rizkianto, Dery Rizkianto, di acara peluncuran koleksinya. Foto: Dok. The Rizkianto
Koleksi Easthedra menghadirkan sembilan desain yang memadukan keanggunan tailoring bergaya Eropa dan sentuhan monokromatis khas The Rizkianto dengan keelokan kain tenun Nusantara.
“Cita Tenun Indonesia yang memperkenalkan saya pada kepiawaian perajin tenun serta keindahan kain tradisional dari beberapa daerah. Dalam sembilan koleksi ini, saya banyak menggunakan tenun atau songket Padang. Kebetulan ibu saya berdarah Padang,” kata pria, yang desainnya telah dipakai oleh para brand ambassador dari jenama internasional seperti Swarovski, serta tampil di beberapa majalah mode dunia seperti Vogue.
Dalam setiap desain, Dery memberikan narasi visual tentang fleksibilitas tenun sebagai warisan budaya tak lekang waktu, serta daya pikat globalnya sebagai bahan kontemporer dalam rancangan couture. Hasilnya adalah koleksi yang dengan indah memeluk alami tubuh perempuan.
Dery mengeksplorasi berbagai teknik tailoring yang tidak mudah dan memadukannya dengan tenun. Foto: Dok. The Rizkianto
Setiap potongan dalam busaya yang dihadirkan menunjukkan kejelian Dery dalam mengangkat siluet tubuh perempuan. Ia pun tampak mengeksplorasi berbagai teknik tailoring yang tidak mudah. Salah satunya dalam koleksi jas yang ia akui sebagai desain tersulit yang pernah ia buat karena tanpa potongan atau jahitan di bagian tangan.
Bagi Dery, koleksi Easthedra bukan hanya sekadar karya seni, melainkan refleksi mendalam dari perjalanan hidupnya. “Ini sangat menggambarkan kisah hidup saya,” ungkap Dery.
“Saya mencintai Indonesia, ini adalah rumah. Saya ingin merayakan keindahannya dan memperkenalkannya kepada dunia, budaya kita, warisan desain kita, dan keterampilan yang abadi. Di sisi lain, Milan telah menjadi tempat saya bertumbuh dan membentuk saya menjadi desainer seperti sekarang,” kata desainer yang besar di Surabaya ini.
Kolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia semakin memperkuat komitmen The Rizkianto dalam melestarikan tenun. Foto: Dok. The Rizkianto
Melalui Easthedra, The Rizkianto berhasil menciptakan sebuah jembatan budaya, mempertemukan warisan tenun Indonesia dengan sofistikasi couture Eropa.
Kolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia semakin memperkuat komitmen The Rizkianto dalam melestarikan dan mengangkat kekayaan tenun Nusantara ke tingkat lebih tinggi.
Dengan peluncuran perdana ini, The Rizkianto menegaskan kembali bahwa mode adalah bahasa universal yang merayakan keindahan dari berbagai penjuru dunia, sembari tetap berakar kuat pada identitas dan warisan budaya. Kita tentu tak sabar menantikan gebrakan The Rizkianto selanjutnya! (f)
Baca juga:
Cap Bali Memadukan Harmoni Budaya, Elegansi Tropis, dan Pemberdayaan Perempuan
STUDIOMORAL Luncurkan Collection: 05, Selebrasi Ekspresi Gaya Personal
Kolaborasi 2 Mai x Fuguku, Gaya Maksimal yang Berkelanjutan
Faunda Liswijayanti
Topic
#desainer, #fashion, #fashionlokal


