
Foto: unsplash.com
Orang tua perfeksionis cenderung menuntut anak melakukan sesuatu secara sempurna. Mereka bahkan cendrung memaksakan kehendak dan menaruh harapan tinggi pada sang anak. Tetapi ambisi berlebihan orang tua belum tentu sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan kepribadian anak. Sehingga bisa berdampak buruk pada perkembangan psikologis dan intelektual anak.
Pada awalnya sang anak mungkin akan termotivasi dan terpacu semangatnya untuk mencapai harapan-harapan orang tua. Namun seiring waktu anak akan menyadari bahwa ia tidak mampu mencapainya. Di samping itu, sang anak juga akan merasakan bahwa ambisi orang tuanya tak sesuai dengan bakat, minat, dan kepribadian. Sehingga motivasi anak akan melemah.
Anak akan merasakan kecemasan berlebih jika tak mampu penuhi harapan orang tua. Sebaliknya, saat anak berhasil meraih prestasi, ia justru cemas dan khawatir bahwa prestasi tersebut tak sesuai dengan keinginan orang tua.
Selain itu, anak cendrung memiliki sifat rendah diri. Ini timbul karena anak merasa tidak mampu, tidak berguna, dan tidak dapat dibanggakan jika sedikit saja meleset dari ekspektasi orang tua.
Hasil penelitian terbaru Dr. Paul L. Hewitt, Ph.D., pengajar psikologi di Universitas British Columbia dan seorang ahli perfeksionisme, sangat mengkhawatirkan. Mereka yang perfeksionis sejati dikatakan memiliki peningkatan risiko depresi klinis, gangguan makan, dan bunuh diri. Yang lebih buruk lagi, mereka jauh lebih resisten terhadap pengobatan, karena mereka tidak ingin terlihat lemah.
Menurut Katherine Lee, seorang psikolog anak asal New York, banyak ibu yang tidak menyadari bahwa pengasuhan yang ia terapkan sudah mengarah pada tanda-tanda ‘ibu perfeksionis’. Lantas seperti apa ciri-ciri ibu yang perfeksionis? Apakah Anda salah satunya? Beberapa tanda berikut ini menurut Katherine terdapat pada ibu perfeksionis:
1/ Ekspektasi Tinggi
Ekspektasi ibu terhadap apa yang diyakini dan dilakukannya begitu tinggi. “Kesempurnaan jadi tujuan utama dalam mengurus anak. Mulai dari hal terkecil, seperti makanan, pakaian, tontonan, hingga pendidikan,” ungkap Lee.
2/ Mudah Emosi
Ketika terjadi hal yang tak sesuai ekspektasi dan rencananya, emosinya mudah meledak.
3/ Tidak Butuh Bantuan Orang Lain
Ia selalu menyiapkan seluruh kebutuhan anak dan tak membiarkan anak mencoba sendiri. Ia akan merasa terganggu jika anak melakukan atau menyelesaikan sesuatu yang tak sesuai dengan caranya.
4/ Khawatir
Si ibu senantiasa merasa khawatir dan takut pola asuh yang diterapkannya tidak maksimal dan berakibat pada masa depan anak.
5/ Mengkritisi Diri Sendiri
Cara ia mengkritisi diri sendiri adalah membandingkan dirinya dengan orang lain.
6/ Menyalahkan Diri Sendiri
Jika (dari hasil perbandingan itu) ia menilai dirinya gagal atau apa yang dilakukannya tidak sesuai ekspektasi, ia akan menyalahkan diri sendiri. Ada satu momen ia akan larut dalam ruminating, yakni suatu keadaan seseorang merenungkan kesalahan atau kegagalan yang dilakukannya (sekalipun itu sangat kecil) secara mendalam, berulang kali, dan habis-habisan.
7/ Stres, Stres, tertekan, Lalu Depresi
Orang tua yang perfeksionis juga cenderung mudah stres dan tertekan dalam tiap aspek kehidupannya. Ketika ada masalah atau gagal, mereka bisa sangat kecewa, bahkan menjadi stres dan depresi. Level kecemasannya pun begitu tinggi. (f)
Baca Juga:
Lagu-lagu Ini Ingatkan, Jangan Lupa Cintai Diri Sendiri
Cara Efektif Cegah Perundungan, Rawat Kesehatan Mental
Kompak Siapkan Diri Jadi Ayah - Bunda
Faunda Liswijayanti
Topic
#psikologi, #perfeksionis, #anak




