Family
Mengajarkan Tanggung Jawab pada Anak Selama #dirumahaja

9 Apr 2020

Foto: Pixabay


Periode work from home dan learn from home membuat orang tua memiliki lebih banyak waktu di rumah bersama anak-anak. Namun, tak sedikit orangtua yang bingung memberikan kegiatan untuk anak-anaknya agar tidak bosan di rumah. Apalagi kalau dihitung, sudah hampir tiga minggu anak-anak tidak sekolah dan bermain dengan teman-teman mereka. Rasa bosan bisa membuat mereka menjadi mudah merengek dan pada akhirnya menyulut emosi orang tua. 

Pemberlakukan PSBB oleh pemerintah DKI Jakarta yang akan dimulai, Jumat pekan ini dipastikan akan menambah lama waktu untuk kita semua beraktivitas hanya di dalam rumah saja.

Menurut Jane Cindy Linardi, M. Psi, Psi, CGA, Psikolog dari RS Pondok Indah – Bintaro Jaya ada banyak aktivitas seru yang bisa dilakukan orang tua bersama anak, seperti mengajarkan tanggung jawab.

“Tanggung jawab adalah perilaku yang menentukan bagaimana seseorang bereaksi terhadap situasi setiap hari, yang memerlukan beberapa keputusan yang bersifat etis atau sesuai dengan etika umum yang berlaku di tengah masyarakat. Apabila anak dapat berperilaku dan berbuat sesuai dengan norma yang diterima masyarakat, maka lingkungan di sekitar akan merasakan dan mendapatkan manfaat,” jelas Jane. 

Sama halnya, ketika si kecil sudah dapat bertanggung jawab, artinya ia sudah dapat membedakan mana tindakan yang baik dan kurang baik. Nantinya, ia dapat menentukan keputusannya sendiri dengan lebih bijak.

Banyak manfaat yang dapat dirasakan anak bila ia sudah dapat bertanggung jawab atas apa yang ia kerjakan, di antaranya:
1/ Melatih daya juang anak, karena anak tidak terbiasa dibantu orangtua, sehingga ia memiliki motivasi internal untuk berusaha menyelesaikan segala sesuatu sendiri. 

2/ Menumbuhkan kemampuan problem solving skill, misalnya minuman tumpah, maka penyelesaiannya adalah dengan membersihkan/ mengelap. Contoh lain misalnya, ketika ia menghilangkan mainan milik temannya, maka penyelesaiannya adalah mengganti mainan tersebut.

3/ Menumbuhkan efikasi diri (self-efficacy) pada anak, yaitu kepercayaan anak akan kapabilitas dirinya untuk melakukan sesuatu, yang akhirnya akan mengarah pada tumbuhnya rasa kepercayaan diri

Anak sebenarnya sudah mulai bisa dilepas dalam menentukan keputusannya sendiri sejak kecil. Misalnya dalam menentukan mainan, pakaian/ sepatu, dan makanan yang ingin dikonsumsi. Namun, pendampingan orangtua masih diperlukan. Misalnya, saat hendak melatih anak mengambil keputusan sendiri terhadap pakaian yang akan ia pakai, maka Anda dapat membantu menjabarkan bahwa tempat yang akan dikunjungi memiliki suhu atau temperatur yang dingin. Dengan itu, anak dapat bertanggung jawab dan menyesuaikan keputusannya dengan kondisi atau situasi yang akan dihadapinya.

Sejak umur 2-3 tahun, anak sudah dapat mulai dilatih untuk bertanggung jawab. Latihan dimulai dari memberi tanggung jawab yang kecil terlebih dahulu, misalnya, merapikan mainan bersama-sama setelah selesai bermain. Anda tetap dapat ikut membantu, namun perlu dipastikan anak juga turut merapikan. Setelah anak sudah terbiasa, maka kurangi peran Anda dalam membantu, dan latih anak untuk merapikan mainannya sendiri. 

Setelah itu, level tanggung jawab dapat ditingkatkan dengan mulai belajar tanggung jawab terhadap diri sendiri, seperti mengurus dan merapikan barang-barang pribadi yang dimiliki. Ajarkan anak untuk meletakkan pakaian kotor di keranjang setelah dipakai, membuang bungkus makanan atau minuman di tempat sampah, dan merapikan tas sekolah. Penguatan berupa pujian dan afirmasi dapat diberikan setelah anak berhasil menuntaskan tanggung jawabnya sendiri.

Setelah anak dapat bertanggung jawab untuk mengurus barang-barang pribadi yang dimiliki, tingkatkan lagi dengan cara memberi anak tanggung jawab di rumah, seperti misalnya mematikan lampu, AC, TV setelah digunakan, meletakkan piring makan yang telah dipakai di wastafel dapur, membersihkan/mengelap makanan atau minuman yang tidak sengaja ditumpahkan. Anak juga dapat dilatih untuk mengerjakan satu tanggung jawab untuk membantu menyiapkan piring dan peralatan makan untuk semua anggota keluarga. 

Sebelum memberikan tanggung jawab kepada anak, jangan lupa untuk memberikan contoh langsung kepada anak agar anak lebih mudah menerapkannya. Misalnya, tanggung jawab anak terhadap PR dan tugas sekolah dapat diajarkan dan dilatih dengan cara menyediakan “waktu bekerja” bersama-sama antara anak dan orangtua. Dalam satu meja yang sama, anak dapat mengerjakan PR, Anda dapat menyelesaikan pekerjaan/ project. Melalui aktivitas ini, anak dapat belajar secara langsung dari contoh konkret yang dipraktikkan langsung oleh orangtua.

Lalu, bagaimana bila si kecil sudah beranjak besar, namun kurang dapat memperlihatkan rasa bertanggung jawab? Bila itu terjadi, maka Anda perlu merefleksikan kembali pola asuh yang diterapkan, apakah selama ini masih terlalu banyak “in charge” atau mengambil alih semua tanggung jawab anak atau tidak. Misalnya, ketika merapikan buku sekolahnya, menyiapkan seragam, membantu mengerjakan tugas/ project sekolah anak, merapikan mainan dan kamar anak, dan sebagainya. Jika hal tersebut masih terjadi, maka cara untuk melatihnya adalah dengan segera mengurangi peran dan bantuan yang Anda berikan. 

Mulailah menumbuhkan rasa percaya diri si kecil sejak dini dengan memberikan kepercayaan si kecil untuk melakukan tugas-tugas sederhana. Perilaku anak yang bertanggung jawab akan berdampak positif bagi dirinya dan lingkungan sampai ia besar. (f)


Baca Juga: 

4 Cara Membuat Anak Fokus Belajar Di Rumah
Pesan Kak Seto: Orang Tua Harus Kreatif untuk Bantu Anak Lewati Masa Pandemi COVID19
Tip Anti Stres Saat Mendadak Jadi Guru di Rumah




 

 

Faunda Liswijayanti


Topic

#corona, #polaasuh, #dirumahaja

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?