Family
Intip 3 Wajah Pondok Pesantren Kini

4 Sep 2017


 

Bahkan di era digital, lembaga pendidikan pesantren tak pernah kehilangan pamornya.  Selama ini, lembaga pendidikan Islam non-formal seperti pondok pesantren (pontren), menjadi pilihan kedua untuk mendapatkan pendidikan bagi anak. Baik karena kurikulum pendidikannya dianggap tak mengikuti standar pendidikan umum dari pemerintah ataupun karena lokasinya yang kerap terletak jauh dari perkotaan.

Namun, berdasarkan penelitian dari Kementerian Agama RI, animo masyarakat dan permintaan akan kebutuhan lembaga pendidikan Islam justru kian bertambah tiap tahunnya. (Baca juga: Pesantren Terus Berevolusi, Tumbuh Subur di Tengah Globalisasi)

Dengan perkembangan kurikulum yang diterapkan dan kian mengikuti zaman, memudarkan stereotip pontren sebagai lembaga pendidikan kelas dua.

1/ Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur

Didirikan tahun 1910, pondok pesantren di Kota Kediri, Jawa Timur, ini memegang teguh prinsip para pendirinya yang mengkaji literatur Islam klasik (kutubussalaf). Berjalannya waktu, Lirboyo tetap melestarikan metode ajaran Islam klasik yang relevan di era kini, tapi dipadu dengan metode kekinian yang dinilai lebih baik.

Pondok Pesantren Lirboyo memiliki karakter kuat dalam pembelajaran dan pendalaman kajian Islam, yang merujuk pada Kitab Kuning. Yang jadi ciri khas Lirboyo dalam menyebar ajaran Islam yang rahmatan lil alamin (sejuk dan lemah lembut), adalah menerjunkan para dai lulusannya ke tengah masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Program yang dibentuk oleh Lembaga Ittihadul Muballighin dan dinamai Safari Ramadan ini melakukan dakwah, kuliah subuh, pengajian, hingga seminar keagamaan untuk masyarakat setempat.

“Dengan bertemu masyarakat yang berasal dari berbagai macam latar belakang, kegiatan ini mengajarkan toleransi beragama,” tutur Nukman Abdul Ghoni, salah satu pengurus Lirboyo. Termasuk memudarkan citra pontren sebagai tempat menyebarkan radikalisme, dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa ajaran Islam itu santun.

2/ Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur

Didirikan tahun 1899, sang pendiri, K.H Hasyim Asy’ari berusaha mewariskan lima nilai penting, yaitu ikhlas, jujur, kerja keras, tanggung jawab, dan tasamuh (toleran dan menghargai perbedaan) yang sesuai dengan kaidah Islam. Prinsip-prinsip dasar tersebut pun dijadikan landasan dalam menjalani kehidupan di Pondok Pesantren Tebuireng.

K.H. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) Ulama NU & Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng mengatakan kemajuan dunia pontren belasan tahun belakangan terasa luar biasa. Jika dulu kebanyakan pontren memberikan pendidikan agama Islam secara tradisional saja (yang biasa disebut pondok pesantren salaf), kini makin banyak pontren yang mengombinasikan
pembelajaran ilmu agama dengan pendidikan kurikulum nasional secara seimbang.

Seperti pernyataan Gus Sholah bahwa penting bagi pondok pesantren untuk turut mengikuti zaman. Sehingga, jika di awal berdirinya Tebuireng materi keagamaan diberikan dengan sistem sorogan (individual learning) dan bandongan (collective learning) saja, seiring waktu berkembang dengan menambah kelas musyawarah, pengenalan sistem klasikal (madrasah), hingga akhirnya materi pengetahuan umum yang sudah dilakukan sejak tahun 1933.

“Sebagai salah satu tonggak pendidikan Islam yang berusia ratusan tahun mengawal nilai akhlak, pondok pesantren turut andil menunjang penggunaan sains, teknologi komputer dan informasi kini yang maju pesat,” tambah Gus Sholah, tentang pentingnya santri belajar ilmu agama dan umum secara seimbang.

Dengan berbagai perkembangannya dan upaya mewariskan nilai-nilai Islam yang toleran, kini Pondok Pesantren Tebuireng telah memiliki setidaknya sembilan unit pendidikan mulai dari tingkat SD, SMP, SMK, SMA hingga universitas.

3/ Pesantren Peradaban Dunia Jagat Arsy
Terbilang baru, pondok pesantren di daerah Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, ini lahir dengan konsep pendidikan kepesantrenan yang religius, intelek, cinta lingkungan dan berwawasan internasional. “Sehingga, untuk mewujudkan visi ini kami mengolaborasikan antara keilmuan klasik dengan modern,” tutur Ami Tata, Kepala Sekolah SMP & SMA.

Selain mempelajari pelajaran umum sesuai kurikulum nasional dan ilmu-ilmu berbau teknologi, para santri juga akan dikenalkan dengan tradisi pesantren salaf dengan mendalami tradisi keilmuan Islam klasik, lebih banyak membaca Alquran, belajar gramatikal Kitab Kuning, dan membiasakan diri menggunakan bahasa Arab dan Inggris. Sementara, untuk mewujudkan visi internasional, Pesantren Jagat Arsy mewujudkannya dengan bergabung sebagai sekolah binaan di organisasi global Initiatives of Change (berkonsentrasi pada keberagaman budaya, bangsa dan kepercayaan).

Salah satu aktivitasnya, Jagat Arsy kerap melakukan kunjungan ke luar negeri dan menerima tamu dari berbagai negara, seperti Australia, Belanda, Afrika, hingga Amerika untuk bertukar budaya sekaligus mengenalkan ajaran Islam khas pondok pesantren di Indonesia. (f)

Ikuti ulasan lengkapnya di topik #Pesantren.

Baca juga:
Kongres Ulama Perempuan Indonesia: Pendekatan Feminin untuk Hadapi Radikalisme Agama
Pelajaran dari Film Jihad Selfie, 5 Hal Yang Perlu Diwaspadai Orang Tua tentang Ancaman Radikalisme di Media Sosial
Orang Tua Harus Waspada, Radikalisme Kini Telah Menyentuh Anak-Anak


Topic

#pesantren, #pendidikananak, #pendidikan, #keluarga

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?