Foto: unsplash.com
Badan Pusat Statistik memperkirakan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2020 mencapai 271 juta jiwa dan proporsi terbesar adalah generasi milenial (usia 20 – 40 tahun) sebanyak 34% dari total prediksi jumlah penduduk atau sekitar 83 juta jiwa.
Sesuai dengan karateristiknya, generasi milenial memiliki karakter unik ditandai dengan peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Namun sayangnya, ketika berbicara tentang kontrasepsi, wanita Indonesia dan wanita Asia cenderung tidak memiliki kebebasan mutlak untuk tubuh dan alat reproduksinya.
Selama ini, faktor pasangan, keluarga, dan budaya telah membatasi wanita dalam menentukan perencanaan keluarga yang berhubungan dengan kelahiran anak. Salah satunya, menurut Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si, psikolog adalah adanya tuntutan masyarakat bagi pasangan yang baru menikah untuk segera memiliki anak, bahkan segera menambah jumlah anak. Padahal jarak kehamilan ideal secara psikologis rentangnya 2-5 tahun.
Menghadapi tuntutan sosial tersebut selayaknya seorang wanita berdaya untuk memilih apakah dan kapan ingin hamil dan memiliki anak. Dengan memilih, maka ia jadi lebih bertanggung jawab dalam menjalankan konsekuensinya.
“Kehamilan tidak direncanakan dapat memberikan berbagai risiko buat ibu dan anak. Cukup sering terjadi penolakan kehamilan atau ketidaksadaran bahwa dirinya hamil. Stres ibu juga menjadi lebih tinggi selama kehamilan. Kondisi kehamilan seperti demikian membuat tumbuh kembang janin terhambat. Demikian pula setelah lahir, kasih sayang antara ibu dan bayi (attachment) kurang berkembang optimal, sehingga tumbuh kembang psikologis anak jadi bermasalah,” ungkap Anna, disela-sela acara peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia 2019 yang diselenggarakan PT. Bayer Indonesia pada Kamis (26/9) lalu.
Dengan merencanakan jarak kehamilan, ibu dapat mengembangkan dirinya, mengurus keluarga secara lebih optimal, dan menjadi lebih bahagia. Setiap anak yang dilahirkan juga dapat menjadi lebih diperhatikan sehingga perkembangannya lebih optimal. Tentu saja, untuk mewujudkan perencanaan keluarga ini, perlu adanya dukungan penuh dari suami sebagai mitra.
“Peran suami sangat penting sebagai mitra dalam perencanaan keluarga. Berbagai hambatan yang muncul dari sisi ibu maupun dari lingkungan. Dengan adanya keterlibatan suami, hambatan ini bisa diminimalisasi dan diatasi. Dengan demikian keluarga dapat mengurangi terjadinya kehamilan tidak direncanakan, dan sebaliknya dapat menciptakan keluarga yang lebih bahagia,” tutup Anna. (f)
Baca Juga:
Tingkatkan Percaya Diri Dengan Peremajaan Vagina
Dampak Polusi Udara Pada Ibu Hamil Dan Janin
Mood Sering Naik Turun Saat Hamil? Mungkin Hormon Ini Penyebabnya
Faunda Liswijayanti
Topic
#kontrasepsi, #HariKontrasepsiDunia, #keluarga, #kontrasepsimodern


