
Foto: Nurulita (@nurulitanuli)
Mengawali karier sebagai reporter di Metro TV, Zackia Arfan menapaki kariernya di dunia broadcasting sebagai salah satu news anchor yang membawakan program berita prime time. Dunia jurnalistik yang tidak menentu dan banyak menyita waktu tidak mematahkan tekadnya untuk terus bertahan. Merasa pencapaiannya kini baru setengah dari targetnya di dunia broadcasting, ia masih ingin belajar banyak hal. Kepada femina, Zackia menceritakan bagaimana dunia ini memberikan banyak warna dalam hidupnya.
Mengasah Kepekaan
“Mungkin kebanyakan orang melihat menjadi jurnalis televisi itu enak, bisa muncul di televisi, pergi ke berbagai kota bahkan hingga ke luar negeri, bisa bertemu tokoh-tokoh penting. Sepertinya menyenangkan,” cerita Zackia, di sela-sela pemotretan sampul femina.
Wanita berdarah Arab-Cina ini juga tak menyangkal daya tarik itu pula yang membawa langkahnya masuk ke dunia broadcasting. Tahun 2007, ketika Metro TV membuka lowongan untuk posisi reporter, berdasar informasi seorang teman, Zackia ikut melamar. Padahal, lulusan Computerized Accounting, Bina Nusantara, ini tidak memiliki background jurnalistik sama sekali. “Saya nekat saja melamar. Ternyata saya lulus seleksi dari delapan hingga sembilan rangkaian tes yang harus dijalani saat itu,” ungkap wanita yang sempat bekerja sebagai accounting staff ini.
Bekerja di balik meja selama satu setengah tahun setelah lulus kuliah membuat Zackia ingin mencari tantangan baru. “Saya merasa bosan. Saya ingin pekerjaan yang lebih dinamis, tidak monoton 9 to 5,” katanya. Maka, ia pun sangat antusias ketika mendapat posisi reporter di Metro TV.
“Saat itu, Metro TV baru membuka Jurnalist Development Program. Saya angkatan pertama bersama 14 orang lainnya. Kami mendapat pelatihan jurnalis selama satu bulan. Bagi saya yang tidak punya pengalaman jurnalis sama sekali, ini permulaan yang baik karena kita dilatih dasar-dasar broadcasting, dari teknik wawancara hingga on cam. Setelah itu, turun lapangan,” tambahnya.
Menjalani tahun pertamanya, Zackia merasakan broadcasting sebagai dunia yang tangguh. Ia dituntut bisa liputan dalam berbagai macam kondisi, dari mewawancarai tokoh besar, berhadapan dengan preman, hingga bencana alam. Meski awalnya sempat kaget, wanita yang bertugas meliput acara pemakaman mantan presiden Soeharto ini justru ‘kecanduan’ dengan adrenalin rush saat ia harus mengejar berita.
“Saya jatuh cinta pada dunia ini. Walaupun secara fisik capek, jam kerjanya panjang dan challenging, saya puas. Pengalaman di lapangan memperkaya jiwa dan pikiran saya dalam melihat sesuatu secara berbeda,” katanya, dengan raut wajah serius.
Tahun 2009, ketika gempa Padang terjadi, Zackia yang saat itu sedang tugas di biro Pekanbaru, menjadi tim pertama Metro TV yang tiba di lokasi bencana. Saat itu mereka langsung ke Padang, padahal satu hari sebelumnya mereka masih liputan arus mudik Lebaran selama 14 hari di Sumatra Barat dan sekitarnya. “Tiba di Padang, kami melihat bangunan hancur dan korban-korban yang belum dievakuasi. Dalam suasana duka dan kalut, kami harus tetap bekerja melaporkan kondisi Padang secara live dengan fasilitas terbatas,” cerita Zackia, yang harus bertahan dalam kondisi serba sulit, tanpa air, listrik, dan minim sinyal komunikasi.
Rasa letih dan cemasnya pun sirna ketika ia berhasil membuka Facebook di ponselnya dan mendapati ratusan pesan dari orang-orang yang berusaha mencari tahu sanak saudara mereka hingga mereka yang mengapresiasi kerjanya dengan mengucapkan terima kasih karena telah melaporkan kondisi di Padang.
“Ketika liputan bencana, tantangannya bukan hanya fisik, tapi juga mental. Dalam situasi kita bertemu dengan banyak orang yang kehilangan sanak saudara, dan kita bersentuhan langsung dengan bencana seperti itu, yang tergelitik adalah rasa kemanusiaan kita. Secara emosional kita bisa terlibat,” katanya.
Pengalaman mengejar berita di lapangan selama hampir empat tahun, diakui Zackia telah mengasah kepekaannya melihat sebuah peristiwa. “Mau tidak mau saya harus lebih peka dan kritis melihat hal-hal yang mungkin orang lain anggap biasa. Insting akan terasah tanpa disadari,” kata penggemar sushi ini.
Selain itu, dunia broadcasting juga telah mengubah sosoknya, dari seorang gadis pemalu yang cenderung tidak percaya diri saat bertemu orang, menjadi lebih percaya diri dan terbuka saat bertemu dengan orang baru. “Banyak keuntungannya. Termasuk menjadi bagian dalam menyampaikan informasi bermanfaat dan wawasan baru kepada masyarakat. Ini jadi kebanggaan tersendiri,” ungkap Zackia, yang mengaku networking-nya makin terbuka.
Tantangan Baru
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang datang pada tahun 2011 untuk menjadi news anchor di Metro TV, Zackia menepis keraguan yang sempat muncul di awal.
“Ternyata, ketika dijalani suka juga,” ujarnya, tersenyum. Ia pun menikmati tantangan menjadi pembaca berita di Metro News Tengah Malam dan Headline News Tengah Malam.
Namun, ia mengaku, tantangannya memang berbeda. Di lapangan, dengan melihat langsung situasinya, ia bisa merasakan langsung feel-nya. “Tapi kalau di studio, kita harus bisa menyampaikan feel berita yang dibacakan, karena news anchor bukan sekadar baca berita, tapi bagaimana menyampaikan berita agar pesan dan feel-nya bisa diterima dengan baik oleh pemirsa,” ungkap wanita yang kini menjadi presenter Realitas, program investigasi di Metro TV yang tayang tengah malam ini.
Dengan pengalaman lima tahun menjadi news anchor, ia telah memandu berbagai program berita dan acara di Metro TV, dari Metro Pagi, Metro Siang, Headline News, Top News, hingga soft news seperti 8 Eleven dan Wide Shot.
Agar bisa membawakan berbagai program berbeda, bagi Zackia kuncinya adalah terus belajar dan mengembangkan diri. Selain tentu saja persiapan yang matang sebelum tampil.
Untuk acara dialog yang ia bawakan, tak jarang setelah brainstorming dengan tim, ia akan menambah ‘amunisinya’ dengan riset tentang isu yang diangkat, hingga menelepon narasumber bersangkutan untuk mendapatkan insight. “Persiapan ini penting untuk membangun dialog dengan narasumber dan membuat pertanyaan-pertanyaan yang tepat,” kata wanita yang mengidolakan news anchor seniornya di Metro TV, Kania Sutisnawinata, karena gayanya yang cool dan pertanyaan-pertanyaannya yang tajam.
Dengan basic karakter suara yang cenderung high pitch, untuk tampil sebagai reporter apalagi presenter, wanita pemilik tinggi badan 157 cm dan berat 37 kg (baru turun 5 kg setelah sakit sinus) ini, harus melatih kualitas suaranya agar terkontrol high pitch-nya. Meski demikian, ia tidak merasa kualitas suaranya sebagai penghalang jalannya, justru ia merasakan ini menjadi ciri khas suaranya di layar kaca.
“Ada pemirsa yang mention di media sosial, katanya, kalau mendengar suara saya, tanpa harus melihat ke telivisi, dia sudah tahu siapa yang membawakan berita. Ada juga yang komentar, ternyata suara cempreng juga bisa jadi penyiar. Mungkin dia punya suara yang sama dengan saya, ya,” katanya, tergelak.
Kerap tampil di layar kaca dari pagi hingga malam hari tentu membuat dirinya dikenal banyak orang, termasuk penggemar yang tingkah polahnya beragam. Ada yang suka komentar di media sosial, hingga yang datang langsung ingin bertemu. Untuk semua tanggapan yang ia dapat di media sosial, wanita yang senang dengan potongan rambut panjang ini berusaha menanggapinya dengan positif.
“Biasanya, kalau komentarnya negatif tanpa alasan yang jelas, saya diamkan saja. Tapi, kalau masukannya positif, menjadi bahan introspeksi diri,” kata pemilik akun Instagram @zackiarfan dan @zackia_metrotv ini.
Di luar rutinitasnya di studio, wanita kelahiran 27 April ini mengisi waktunya dengan berbagai kegiatan, dari berkumpul bersama teman dan keluarga, nonton di bioskop, atau sekadar istirahat di rumah. “Saya juga beberapa kali diminta kampus-kampus yang memiliki jurusan broadcasting, untuk sharing dengan mahasiswa. Ini menyenangkan, karena seperti mendapat suntikan semangat baru dari anak-anak muda yang ingin tahu dunia ini,” katanya, senang.
Sejak memilih berkarier di dunia penyiaran, Zackia mengaku telah berdamai dengan jadwal kerja yang waktunya tak menentu: bisa harus berangkat pukul 3 pagi untuk siaran pukul 4.30, atau pulang dini hari karena siaran malam. Termasuk juga harus merelakan momen-momen istimewa bersama keluarganya. “Selama sepuluh tahun bekerja, mungkin baru dua kali saya Lebaran bersama keluarga. Belum lagi melewatkan buka puasa dengan keluarga, karena menjadi presenter untuk acara menjelang buka puasa,” kata Zackia, yang belakangan tertarik pada desain interior dan ingin kuliah lagi untuk mendalaminya.
Meski begitu, ia bahagia karena sang ayah, Hamid Arfan (alm), selalu mendukung pilihan kariernya ini. “Saya benar-benar bersyukur Abi (panggilan Zackia kepada ayahnya- Red) sangat support. Tak pernah sekali pun beliau melarang saya bekerja. Padahal, saya tahu ia cemas ketika saya pulang pagi atau harus liputan ke daerah yang mencekam. Tapi, Abi pesan, ‘Kalau memang kamu suka, lakukanlah yang terbaik,’” kata penyuka pantai ini. Pesan yang selalu Zackia ingat, apalagi setelah sang ayah meninggal dunia tahun lalu. (f)
Baca juga:
Temmy Rahadi Dari Presenter ke Balik Layar
Mengintip 4 Akun Instagram Presenter Travel
Grace Natalie, News Anchor yang Menjadi Politikus
Faunda Liswijayanti
Topic
#newsanchor, #presenter


