
Foto: Denny Herliyanso
Demi kampanye dampak buruk global warming, Nadine Chandrawinata (32) rela terpeleset berkali-kali di Puncak Jaya Wjaya, di Pegunungan Sudirman, Papua, karena landasan tebing yang licin akibat es mencair. Bukannya menyerah, justru makin membuatnya gencar melancarkan gebrakan peduli bumi.
Pemanasan Global
“Sedih rasanya saat tahu salju abadi yang kita punya sudah tidak ada!” ucap Nadine kepada femina, saat membuka percakapan tentang ekspedisi terakhirnya menaklukkan Puncak Jaya, Mei 2016 lalu. Mimik wajahnya serius. Suaranya pun terdengar dalam, seolah menyiratkan kekhawatiran yang besar terhadap dampak global warming, yang makin keras menampar karena ulah manusia.
Sebagai pencinta lingkungan hidup, Nadine memang sudah dikenal dengan aktivitasnya menyelam di laut lepas. Namun, sejak tahun 2010, ia menjajal aktivitas mendaki gunung yang tak kalah menantang. Mengaku bukan seorang pendaki, tapi dalam kurun waktu 6 tahun ia sudah meninggalkan jejak kaki di puncak beberapa gunung di dalam dan luar negeri. Di antaranya, Gunung Merapi, Gunung Gede, Gunung Prau di Dieng, Gunung Gokyo di Nepal, dan Gunung Everest, meski hanya sampai kaki gunungnya saja. Begitu pula Puncak Jaya atau dikenal dengan nama Piramida Carstensz, dengan tinggi 4.884 meter di atas permukaan laut, yang masuk dalam daftar kesuksesan pendakiannya.
Padahal, untuk sampai ke puncak ini ia harus menembus hutan rimba, melewati hamparan pohon pakis di alam terbuka, mengalami perubahan tekanan udara di tiap 500 meter, menanjak di tengah kegelapan, hingga terpeleset dan menghantam terjalnya tebing. “Saya baru tahu bahwa kepanikan dapat membuat orang kesulitan bernapas. Itu saya alami saat kandungan oksigen di puncak sudah menipis,” katanya, mengenang.
Pendakian yang dilakukan Nadine bersama tim Aksa 7 ini sebenarnya bukan sekadar melampiaskan hobi. Ini sebuah perjalanan yang direkam dan kini sedang dalam tahap penggodokan untuk dijadikan film dokumenter. Film yang bercerita tentang 7 gunung tertinggi di Indonesia, merupakan bagian dari kampanye global warming yang ternyata sudah memberi efek negatif kepada ketujuh gunung ini. “Salah satunya Puncak Jaya, yang benar kata orang sudah tidak sedingin dulu,” ucapnya, prihatin.
Bahkan, kata mantan Puteri Indonesia 2005 ini, akibat pemanasan global, hujan salju yang menutupi puncak gunung tidak mampu merekat lama karena cepat mencair. Kalaupun ada sisa salju, paling hanya sekitar 20 persen saja. Itu pun bukan lagi di puncak piramida, tapi di pegunungan sekitarnya yang lebih rendah. Mengenai hal ini, ia berusaha keras mengingatkan perilaku manusia untuk lebih peduli lingkungan.
“Mungkin bagi warga kota dampak global warming kurang begitu terasa. Namun, kita harus lebih sensitif lagi terhadap perubahan alam saat ini, seperti cuaca panas yang ekstrem, penurunan volume salju, dan penambahan volume air di Benua Antartika akibat es mencair,” tambahnya, dengan suara tegas.
Untuk lebih mendorong kampanye peduli lingkungan, bintang film Sagarmatha ini juga mencetuskan gerakan Sea Soldier, yaitu gerakan menyebarkan virus ramah lingkungan dengan melakukan kegiatan peduli dan mengunduhnya di akun Instagram masing-masing. “Saya berharap gerakan yang sudah berjalan sejak Maret 2015 lalu ini bisa mengubah tren selfie menjadi tren aksi yang menginspirasi,” tambahnya lagi.
Bagi Nadine, gerakan Sea Soldier yang saat ini anggotanya sudah mencapai 500 orang, bukan berati hanya peduli tentang laut. Malah yang utama, harus dimulai dari kebiasaan di darat. Logikanya, air mengalir dari hulu ke hilir. Hulu yang dianggap sebagai perkotaan saat ini sering menghibahkan sampah yang tidak diharapkan ke hilir yang adalah lautan.
“Sebagai penyelam, saya melihat sendiri sampah mengambang di permukaan, di bawah laut, termakan penyu, hingga tersangkut di tepi pantai. Karena itu, hentikan penggunaan kantong plastik dan styrofoam. Jangan enggan membawa botol minum sendiri, mematikan AC dan lampu saat keluar rumah, serta menutup keran air yang menetes,” ujarnya, berharap.
Terapi Hingga ke Luar Kota
Sebagai penyelam dan penakluk beberapa gunung, kekuatan fisik menjadi modal utama Nadine selain mental. Ia bersyukur sejak Januari hingga Mei lalu, pekerjaan bertubi-tubi yang dilakukan nonstop, yaitu membawakan program televisi My Trip My Adventure dan film dokumenter berjudul Aksa 7, tidak sekali pun membuatnya jatuh sakit. Padahal, dirinya harus terjun ke lokasi syuting, berhadapan dengan alam yang medannya berbeda-beda, ditambah kondisi cuaca yang terkadang tidak bersahabat.
“Semua karena doa dan dukungan dari teman-teman yang mengingatkan saya untuk selalu menjaga makanan, istirahat cukup, serta olahraga,” ucapnya.
Nadine termasuk orang yang suka menjalani yoga, boxing, ataupun lari outdoor di Gelora Bung Karno, Senayan. Selain itu, kekuatan ekstranya juga datang dari minum air jahe dan suplemen tubuh. Ia juga sesekali memanjakan tubuh ke salon agar relaks. “Ditambah dengan selalu berpikir positif dan lebih banyak bersyukur agar hal seberat apa pun bisa dijalani tanpa perlu mengeluh,” ucapnya.
Namun, di balik kekuatannya itu, wanita yang mengaku merasa hidup kalau bisa melakukan sesuatu untuk lingkungan ini mengaku sering terserang penyakit migrain. Penyebabnya bukan karena permasalahan hidup, pikiran, atau pekerjaan, melainkan tingginya polusi udara di ibu kota dan meningkatnya suhu udara menjadi lebih panas dari biasanya akibat pemanasan global.
Beruntungnya, solusi penyembuhan Nadine tidak sampai harus mengonsumsi obat-obatan. Menurut dokter, cukup cari udara segar dan rajin berolahraga. “Makanya, saya suka ke luar kota mencari udara segar untuk diving atau mendaki gunung. Bahkan, sampai di Bogor saja, migrain saya langsung hilang. Herannya, seminggu setelah balik dari luar kota, migrain saya bisa kumat lagi. Karena itu, kalau lagi di Jakarta, siang hari saya sering mencari taman sejuk,” jelasnya. (f)
Topic
#NadineChandrawinata


