
Foto: Nicky Gunawan
Dengan keunikan struktur wajah dan kulit yang eksotis, hasil percampuran antara Ambon, Manado, Jerman, dan Austria, Michelle Tahalea mengaku sering mendapat ajakan untuk mengikuti kontes kecantikan mewakili daerah tertentu. “Saya anaknya kurang suka kompetisi, jadi saya tolak terus. Berhubung sekarang usia saya sudah lewat dari 25, batas usia untuk kontes putri-putrian, akhirnya yang mengajak
mundur sendiri,” ujarnya santai.
Mentang-mentang kakaknya, Monita, pernah menjadi finalis Indonesia Idol, ia pun kerap ‘dituduh’ bersuara merdu. “Saya pernah ikut lomba nyanyi, tapi di tengah lagu, saya lupa liriknya. Semua orang menertawakan saya. Gara-gara itu, saya menangis dan trauma enggak mau lagi nyanyi di depan umum,” ujarnya.
Apalagi, Michele juga mengaku bukan orang yang senang mengerjakan banyak hal sekaligus. Ia lebih suka fokus pada modeling dan bisnis desain kemasan sehingga masih bisa membagi waktu dengan leluasa. Dengan begitu, ia bisa santai menjalani hobi jalan-jalannya.
Hobi ini sebetulnya masih hitungan baru. Seperti pengakuan Michelle, ia tergolong orang yang tidak terlalu berani keluar dari comfort zone. Empat tahun lalu, ia dikenalkan pada petualangan baru. Tak tanggung-tanggung, anak kota ini diajak hiking menuju Ranu Kumbolo, danau di kawasan Gunung Semeru.
Walau di tengah jalan ia sempat merasa menyesal dan mempertanyakan keputusannya naik gunung, di lokasi tujuan tempatnya berkemah, ia seperti mendapat pencerahan. “Saya tidak pernah terpikir mampu berjalan sejauh itu. Lelah jalan selama berjam-jam terbayar dengan pemandangan yang luar biasa indah,” kenangnya. Jiwa petualangnya tiba-tiba muncul.
Sejak itu, tiap ada waktu luang yang cukup panjang, ia akan mendatangi tempat-tempat baru. Trekking untuk menemukan air terjun tersembunyi di Bali, berenang dan menikmati pasir putih di Ambon, hingga melakukan road trip di New Zealand pernah ia jalani.
“Yang paling berkesan adalah saat mengunjungi Yunani musim dingin 2014. Orang-orang mungkin pikir ngapain ke sana musim dingin… karena turis biasanya ke sana saat musim panas. Memang banyak toko yang tutup karena libur, tapi saya tetap senang, tuh," ceritanya
"Gaya liburan saya memang lebih sight seeing. Dan musim dingin tetap banyak yang bisa dilihat di sana. Trip ini berkesan banget karena ada suatu waktu saat menuju suatu kota, saya ketiduran di kereta sehingga kota tujuan saya terlewat. Akhirnya dari stasiun tempat saya turun, saya lanjutdengan taksi dengan ongkos lebih dari Rp2 juta. Ha…ha…ha…,” tambahnya, tersenyum.
Hingga kini, ia mengaku masih takjub dengan perubahan dirinya. “Bekerja di ranah seni, saya mendapat banyak inspirasi dari traveling. Tak secara langsung, tapi dengan melihat banyak hal baru di dunia saya mendapat banyak ide desain. Yang pasti membuat saya bisa menyadari kekayaan alam Indonesia dan menghargai keragaman dunia,” katanya.(f)
mundur sendiri,” ujarnya santai.
Mentang-mentang kakaknya, Monita, pernah menjadi finalis Indonesia Idol, ia pun kerap ‘dituduh’ bersuara merdu. “Saya pernah ikut lomba nyanyi, tapi di tengah lagu, saya lupa liriknya. Semua orang menertawakan saya. Gara-gara itu, saya menangis dan trauma enggak mau lagi nyanyi di depan umum,” ujarnya.
Apalagi, Michele juga mengaku bukan orang yang senang mengerjakan banyak hal sekaligus. Ia lebih suka fokus pada modeling dan bisnis desain kemasan sehingga masih bisa membagi waktu dengan leluasa. Dengan begitu, ia bisa santai menjalani hobi jalan-jalannya.
Hobi ini sebetulnya masih hitungan baru. Seperti pengakuan Michelle, ia tergolong orang yang tidak terlalu berani keluar dari comfort zone. Empat tahun lalu, ia dikenalkan pada petualangan baru. Tak tanggung-tanggung, anak kota ini diajak hiking menuju Ranu Kumbolo, danau di kawasan Gunung Semeru.
Walau di tengah jalan ia sempat merasa menyesal dan mempertanyakan keputusannya naik gunung, di lokasi tujuan tempatnya berkemah, ia seperti mendapat pencerahan. “Saya tidak pernah terpikir mampu berjalan sejauh itu. Lelah jalan selama berjam-jam terbayar dengan pemandangan yang luar biasa indah,” kenangnya. Jiwa petualangnya tiba-tiba muncul.
Sejak itu, tiap ada waktu luang yang cukup panjang, ia akan mendatangi tempat-tempat baru. Trekking untuk menemukan air terjun tersembunyi di Bali, berenang dan menikmati pasir putih di Ambon, hingga melakukan road trip di New Zealand pernah ia jalani.
“Yang paling berkesan adalah saat mengunjungi Yunani musim dingin 2014. Orang-orang mungkin pikir ngapain ke sana musim dingin… karena turis biasanya ke sana saat musim panas. Memang banyak toko yang tutup karena libur, tapi saya tetap senang, tuh," ceritanya
"Gaya liburan saya memang lebih sight seeing. Dan musim dingin tetap banyak yang bisa dilihat di sana. Trip ini berkesan banget karena ada suatu waktu saat menuju suatu kota, saya ketiduran di kereta sehingga kota tujuan saya terlewat. Akhirnya dari stasiun tempat saya turun, saya lanjutdengan taksi dengan ongkos lebih dari Rp2 juta. Ha…ha…ha…,” tambahnya, tersenyum.
Hingga kini, ia mengaku masih takjub dengan perubahan dirinya. “Bekerja di ranah seni, saya mendapat banyak inspirasi dari traveling. Tak secara langsung, tapi dengan melihat banyak hal baru di dunia saya mendapat banyak ide desain. Yang pasti membuat saya bisa menyadari kekayaan alam Indonesia dan menghargai keragaman dunia,” katanya.(f)
Topic
#Michelle Tahalea


