
Publik mengenal Han Geng (31) sebagai anggota boyband Super Junior (SUJU). Sejak tahun 2005, nama Han terus menanjak seiring dengan popularitas SUJU. Bersama boyband-nya itu, ia sering tampil di acara reality show, iklan komersial, dan film.
Pada 20 Maret 2008, karena kontribusinya menyebarkan bahasa Mandarin, Han dipilih menjadi salah satu pembawa obor Olimpiade Beijing. Di tahun yang sama, ia menjadi ketua SUJU-M, yang banyak menyanyikan lagu-lagu berbahasa Mandarin.
Pangsa pasar yang luas membuat Han mendapat banyak sekali tawaran untuk tampil solo di Tiongkok, padahal hal itu menyalahi aturan manajemen. Inilah alasannya keluar dari SM Entertainment (SME), agensi artis terbesar di Korea Selatan yang membawahi SUJU, pada tahun 2010.
“Hal terpenting bagi saya mengumpulkan uang, sehingga orang tua saya dapat hidup nyaman. Kebebasan warga asing yang bekerja di Korea sangat dibatasi. Saya tak bisa melakukan pemotretan iklan, sehingga saya kehilangan harapan untuk mengembangkan karier,” ujarnya kepada allkpop.com. Ironis memang. Pada tahun pertama, ia hanya berpenghasilan 4.000 yuan per bulan atau setara dengan Rp8.425.000.
Setelah hengkang dari SME, ia memulai proyek solo dengan meluncurkan album pertamanya, Geng Xin, pada Juni 2010. Album ini langsung menduduki puncak lagu di Tiongkok, Taiwan, Singapura, dan Thailand.
Album perdana Han ini terjual 350.000 kopi hanya dalam waktu 2 bulan sejak dirilis, dan lebih dari 1 juta kopi hingga saat ini. Selain meraih puluhan penghargaan, tiket konser solonya terjual habis dalam waktu 37 menit! Fantastis!
Album keduanya, Hope In The Darkness, yang dirilis pada Juli 2012, juga menorehkan sederet prestasi. Tahun 2012, ia memenangkan Best Asian Act pada MTV European Music Awards.
Pria kelahiran Mudanjiang, Tiongkok, 9 Februari 1984, ini menunjukkan bakat di bidang seni sejak usia 12 tahun. Di usia belia, Han meninggalkan keluarga dan kampung halamannya untuk menempuh pendidikan tari di Central University for Nationalities di Beijing.
Han dikenal oleh publik berkat keterampilannya menari. Kemampuan menarinya ini memang bukan main. Di akhir masa studinya, ia menguasai 56 tarian tradisional Tiongkok. Ia juga mahir menari balet dan menguasai martial arts. Tak salah jika publik menjulukinya Dancing King dan King of Popularity. Jam terbang Han sebagai penari patut diacungi jempol. Bahkan, dia pernah tampil membawakan tarian tradisional Tiongkok di Amerika Serikat dan Rusia.
Perjalanan Han di industri musik dan hiburan dimulai ketika ia mengikuti audisi pencarian bakat yang diadakan SME di Beijing pada Desember 2001. Hampir 8 bulan tak ada kabar, baru pada akhir Agustus 2002 Han dihubungi SME, dan ternyata ia lolos seleksi. Han menerima tawaran SME dan segera pindah ke Korea Selatan. “Saya mendapat pelatihan menyanyi, menari, akting, dan bahasa Korea,” ujar pria yang memiliki lebih dari 35 juta followers di Weibo ini.
Pernah merasakan hidup miskin, setelah sukses Han sangat aktif dalam kegiatan amal. Ia mendonasikan uangnya untuk korban gempa Sichuan pada tahun 2008. Dalam sebuah konsernya, dia melarang fans-nya (GengRice) memberinya hadiah. Ia menyerukan agar uang mereka dibelikan kebutuhan pokok untuk rakyat miskin. Karena itu pula, tiap ulang tahun Han, penggemarnya selalu berkumpul mengadakan aksi amal membagikan beras bagi keluarga yang tidak mampu. Han juga menjadi spokeperson, I Want to Go to School, Kappa 1200 Help the School Children Project, proyek amal untuk membantu anak-anak dari keluarga tak mampu di Tiongkok untuk melanjutkan sekolah. (f)



