Tata panggung dengan teknik mirroring visual dan penggunaan layar reflektif, tontonan megah yang tetap cair. Foto: IG @afgan__Sejak lagu Misteri Dunia dari album Retrospektif (2025), membuka konser, lebih dari 4.000 penonton langsung ‘panas’ untuk menyaksikan selebrasi 18 tahun berkarya seorang Afgan.
Afgan Retrospektif: The Concert mengajak para pencinta musik Indonesia untuk menyusuri perjalanan kreatif Afgan yang telah memantapkan diri di deretan solois terpopuler di industri musik Tanah Air, sejak debut tahun 2018 semasa SMA.
Digelar di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), konser yang diselenggarakan Seven Star Production ini terdiri atas empat babak mewakili fase musikalitas Afgan, melalui 30 lagu pilihan yang diaransemen dengan iringan Erwin Gutawa Orchestra.
Berkonsep Grand Symphonic Universe, konser ini menghadirkan sebuah pertunjukan yang menggabungkan pengalaman musik, visual, dan cerita.
Konsep panggung dengan struktur konstruksi tampil terbuka—elemen yang biasanya disembunyikan dalam sebuah pertunjukan—jadi metafora perjalanan Afgan yang ingin tampil jujur dan membuka dirinya kepada para penggemar yang telah menemaninya selama hampir dua dekade.
Pengalaman visual dinikmati penonton melalui teknik mirroring visual dengan penggunaan layar reflektif dan inverted projection, lengkap dengan lighting, tata artistik dan desain panggung untuk memperkuat alur cerita di setiap babak.
Selebrasi perjalanan karier Afgan selama 18 tahun yang digarap serius. Foto: Dok. Seven Star Production
“Setelah hampir satu tahun menjalani proses kreatif dan berbagai persiapan, rasanya sangat membanggakan melihat seluruh kerja keras tersebut akhirnya terwujud di atas panggung,” ungkap Dolly Sartika, CEO dan Founder Seven Star, promotor konser ini.
Suara hilang jelang konser
Misteri Dunia dibawakan Afgan bersama The Gandarians, grup yang menurut Afgan telah menemaninya di ribuan panggung. Afgan juga mengajak salah satu kolaborator dalam konsernya yang juga sahabatnya, Petra Sihombing, untuk bernyanyi lagu Tak Ada Rencana, dalam alunan sendu gitar akustik Petra.Menuju babak kedua, Erwin Gutawa Orchestra muncul dan langsung disambut gemuruh tepuk tangan penonton. Setelah overture megah mengangkat mood konser, Afgan hadir membawakan Jalan Terus.
Di panggung, Afgan bercerita bahwa beberapa minggu menjelang konser, kondisi fisiknya menurun bahkan sampai total kehilangan suara. Sempat terpikir untuk membatalkan konser, namun dukungan dari seluruh tim dan orang tuanya membuat Afgan bangkit dan perlahan suaranya mulai kembali, hanya beberapa hari sebelum konser.
Afgan pun menyampaikan permohonan maaf kepada para penonton jika suaranya masih belum pulih maksimal. Namun hal tersebut langsung dibantah kompak oleh para penonton.
Babak kedua menampilkan lagu-lagu bertema patah hati yang dipopulerkan Afgan. Mahalini memukau penonton saat duet dengan Afgan membawakan Sadis, lagu debut dan salah satu lagu paling ikonik dalam diskografi Afgan. Kemudian, Petra Sihombing naik panggung lagi dengan Peluk diiringi gitar akustik dan paduan suara Paragita Universitas Indonesia.
Duet Sadis, yang memang sama-sama ‘sadis’ kualitas vokal Mahalini dan Afgan. Foto: Dok. Seven Star Production
Para penonton serempak menyalakan flashlight ponsel mereka, mengubah Plenary Hall bermandi cahaya berkelap-kelip. Momen tersebut jadi salah satu momen berkesan untuk penonton karena konser mendadak memberi suasana mellow.
Unjuk musikalitas hingga momen emosional
Afgan menunjukkan eksplorasi musikalitasnya di babak ketiga. Medley Shallow Water dan Say I’m Sorry dari album berbahasa Inggris Sonder (2024) dan Wallflower (2021) memperlihatkan sisi musikal Afgan yang lebih modern dan eksperimental. Afgan juga mengaku terharu karena kedua album itu mendapat tempat khusus di hati Afganisme (sebutan untuk penggemar Afgan).Dalam babak ini, Afgan berduet dengan Kris Dayanti, sosok yang selama ini diakui Afgan sebagai salah satu inspirasinya dalam bermusik. Keduanya membawakan medley Kepastian, Kamu yang Kutunggu, Percayalah, dan Ada—seluruhnya dalam aransemen orkestra.
Kris Dayanti, salah satu inspirasi bermusik Afgan, ikut nyanyi medley. Foto: Dok. Seven Star Production
Di akhir babak ketiga, suasana kembali mellow ketika Afgan menyanyikan Sampai Jumpa yang ia dedikasikan untuk sahabatnya, mendiang Vidi Aldiano. Belakangan dikabarkan bahwa Sheila Dara, istri Vidi, juga menyaksikan konser Afgan dan memberikan pelukan haru seusai konser.
Suasana berubah penuh semangat di babak keempat, apalagi Dia Dia Dia, Panah Asmara, Kacamata dan Jodoh Pasti Bertemu sukses mengajak ribuan penonton bernyanyi bersama, sekaligus menonjolkan kualitas vokal Afgan.
Salah satu momen yang paling mencuri perhatian hadir di tengah penampilan Kacamata, musik mendadak berhenti dan Afgan bersama seluruh personel Erwin Gutawa Orchestra serempak melepas kacamata mereka, memicu riuh tepuk tangan dan sorakan penonton. Apalagi kacamata memang sudah jadi ciri khas tampilan Afgan sejak dulu.
Di konser ini, Afgan juga menghadirkan treatment yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu membawakan format mashup, penggabungan beberapa lagu menjadi satu rangkaian musikal utuh. Aransemen ini dirancang khusus untuk konser Afgan Retrospektif: The Concert sebagai simbol perjalanan karya yang saling terhubung dari masa ke masa.
Erwin Gutawa Orchestra melengkapi konsep Grand Symphonic Universe konser ini. Foto: IG @afgan__
“Setiap babak ini menjadi cerminan yang sangat penting dalam perjalanan hidup sekaligus karier saya di industri musik. Delapan belas tahun bukan sekadar tahun perjalanan bagi saya, tetapi juga bagi para fans yang selalu mendukung saya sejak awal,” kata Afgan.
Pengalaman bermakna
Konser ini menghadirkan pengalaman audio sinematik tersendiri melalui penerapan cinematic sound surround dengan detail suara yang terdengar jernih dan seolah mengelilingi penonton di sepanjang pertunjukan.Kolaborasi dengan sejumlah talenta kreatif ternama ikut menambah kemegahan konser ini.
Creative Director Shadtoto Prasetio merancang konsep Grand Symphonic Universe untuk menunjukkan sisi Afgan yang lebih personal, berani, dan artistik.
Stylist Ajeng Svastiari mengurasi seluruh penampilan Afgan di konser ini, yang mengedepankan karya desainer dan jenama Indonesia—Sapto Djojokartiko, Sean Sheila, Temma Prasetio, dan Alto Project.
Selebrasi bersama para pendengar yang telah melalui berbagai momen dalam perjalanan musik Afgan. Foto: IG @afgan__
Bagi Afgan, konser ini adalah selebrasi dari semua rasa yang ia lewati bersama para pendengarnya.
“Saya berharap penonton tidak hanya pulang dengan kenangan akan pertunjukan musik, tapi juga membawa pulang sesuatu yang lebih bermakna,” ucap Afgan. (f)
Baca juga:
Plaza Indonesia VIP Day 2026, Pengalaman Eksklusif bagi Seluruh Member PI ONE
18 Tahun Berkarya, Afgan Kembali Berkolaborasi dengan Erwin Gutawa
Cerita tentang Kopi Favorit Afgan, Syifa Hadju, Baskara Mahendra dan Sheila Dara
Bennita Luisa
Topic
#feminaindonesia, #feminapartnership


