
Foto: Ifan Hartanto
Wajahnya tentu tidak asing bagi Anda yang rajin menyimak layar kaca. Sejak Oktober 2016, serial remake Jinny Oh Jinny Datang Lagi yang ia bintangi mulai tayang di salah satu stasiun TV swasta Indonesia. Akting Brianna Simorangkir (24) sebagai Jinny, jin cantik nan baik hati, cukup mencuri perhatian. Padahal, awalnya ia justru memasuki dunia entertainment lewat jalur musik. Mulai dari menjadi penyanyi kafe, berkolaborasi dengan band beraliran punk rock, Superman is Dead (SID), hingga bersolo karier. Perlahan tapi pasti, ia berteguh pada cita-citanya: menembus industri musik Eropa, Australia, dan Amerika.
Berani Bersuara
Setelah tujuh tahun menuntut ilmu di Sydney, Australia, Brianna kembali ke kampung halamannya, Bali. Di situ, ia memulai kariernya di dunia musik sebagai penyanyi di beberapa kafe bersama band yang dibentuknya, Freedom Jazz, yang beraliran jazz dan blues. Sering kali, ia juga tampil bersama Suicidal Sinatra, band beraliran psychobilly asal Bali.
Meski penikmat musiknya masih terbatas tamu kafe, Brianna selalu tampil optimal saat di atas panggung. Sepertinya, pesona itulah yang membuat Bobby Kool, gitaris dan vokalis SID, mengajaknya berkolaborasi. Tanpa pikir panjang, Brianna langsung menerima tawaran itu.
“Bukan karena popularitas mereka. Saya justru nyaman nyanyi bareng SID karena mereka banyak menyampaikan suara kaum minoritas lewat lagu,” ujarnya. Sunset di Tanah Anarki yang menyampaikan kritik terhadap pembungkaman yang dilakukan penguasa negeri ini, dan Burn For You yang berkisah tentang cinta, adalah dua lagu yang Brianna nyanyikan bersama SID.
Bagi wanita kelahiran Denpasar, 27 Mei 1992, ini, momen tampil bersama SID adalah saat-saat yang tak terlupakan, baik suka maupun duka. Salah satunya saat Barry,vokalis grup band Saint Loco disiram air keras di sebuah hotel di Malang. Peristiwa itu terjadi persis setelah mereka konser bersama. Belakangan mereka ketahui, sebenarnya sasaran penyiraman itu adalah Jerinx, drummer SID.
“Kala itu suasana memang sedang panas-panasnya, terkait aksi tolak reklamasi Teluk Benoa, Bali, yang ikut kami suarakan,” ujar Brianna, memutar kenangan. Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Bali, batinnya sangat terusik bila tanahnya dirusak atas nama pembangunan yang hanya akan menghilangkan ciri khas Bali sebagai destinasi wisata alam dan spiritual.
Setelah pindah ke Jakarta untuk mengembangkan karier, wanita berdarah campuran Batak dari ayah, Berman Simorangkir, dan Australia dari ibu, Katrina, ini pun tetap memberikan dukungannya. Beberapa kali ia ikut turun ke jalan melakukan aksi bersama dengan ForBALI, forum masyarakat Bali yang menolak reklamasi. “Saya juga aktif menyuarakan penolakan lewat akun pribadi saya di media sosial, seperti Instagram dan Twitter,” tutur pemilik akun @8rianna_ ini.
Sikapnya yang kritis dan berani dalam menyuarakan pendapat, meski sebagai minoritas, ternyata hasil didikan kedua orang tuanya. “Selain mengenalkan musik, ayah dan ibu saya juga memberikan contoh untuk hidup disiplin dan untuk selalu speak up kalau ada hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani. Fight for what's right, itu yang mereka ajarkan sejak saya kecil,” ujar alumnus Junior School Pymble Ladies College di Sydney, Australia, ini.
Antara Musik dan Akting
Ingin karier musiknya terus berkembang, Brianna memilih keluar dari SID untuk bersolo karier di Jakarta. Bagi pendatang baru seperti Brianna, solo karier memang keputusan yang sangat berani. Namun, di sisi lain, hal itu merupakan wujud ucapan terima kasihnya kepada SID yang telah memperkenalkan dirinya kepada para pencinta musik Indonesia. Ia ingin membuat personel SID bangga dengan bersolo karier dan menciptakan lagu-lagu sendiri, bukan sekadar penyanyi berstatus featuring.
Berbekal pengalaman nyanyi dari panggung ke panggung bersama SID, Brianna menjalani liku-liku membangun karier di industri musik nasional, yang ternyata sangat tidak mudah. Selama hampir setahun setelah pindah ke Jakarta pada tahun 2014, nasib kariernya hampir tidak jelas dari label yang mengontraknya.
Brianna harus menunggu lama untuk bisa mulai rekaman. Padahal, sudah banyak lagu yang ia tulis dan sampaikan ke produser. “Selain lagu saya, waktu itu ada juga lagu orang lain. Tetapi, mereka bilang tidak cocok untuk saya nyanyikan,” ujarnya.
Karier yang tidak jelas membuat persediaan uangnya menipis, sementara ia tidak diizinkan untuk mengambil tawaran pekerjaan dari pihak lain. Ia berusaha bertahan dalam kondisi itu dengan makan seadanya, bahkan ia sering minum air yang banyak untuk mengganjal perut. “Belum lagi harus bayar uang kos tiap bulan. Harapan saya sempat hilang dan ingin pulang ke Bali. Tetapi, saya harus tetap bertahan karena sudah telanjur tanda tangan kontrak,” ungkapnya, sedih.
Kabar baik datang. Ia pun berhasil menelurkan album perdananya berjudul Istana pada tahun 2015. Di dalam album yang berisi 8 lagu tersebut, ada tiga lagu yang ia tulis, yaitu Oh… LYF, Not Into You, dan Protocol. Sayangnya, beberapa bulan setelah album itu diluncurkan, label tersebut tutup. Brianna pun pindah ke C&J Management, tempat sekarang ia bernaung. Tawaran pekerjaan terus mengalir kepadanya. Tohpati bahkan memercayakan lagu gubahannya yang pernah dipopulerkan Reza Artamevia, Cinta Kita, kepadanya. Lagu tersebut masuk dalam album kompilasi Born To Be Singers yang kini sedang dipasarkan di salah satu restoran cepat saji.
Pintunya ke dunia film turut terbuka. Lewat casting, ia pun membintangi Gokil 2 bersama Indro Warkop pada tahun 2016. “Seni itu luas dan saya merasa terlahir untuk seni, baik itu menyanyi, menulis lagu, menari, maupun akting. Saya tidak mau menutup diri,” kata wanita bertinggi 153 sentimeter dan berat 45 kilogram ini, tegas.
Seni, khususnya musik, bukanlah hal baru baginya. Darah seni yang mengalir di tubuhnya diwarisi dari sang ayah yang merupakan musikus grup vokal bernama Trio The Kings, dan pendiri sebuah manajemen artis. Brianna juga kerap melihat dan mendengar aktivitas bermusik, baik di acara komunitas masyarakat Batak maupun di rumah.
Tiap pagi adiknya, Khalisha Simorangkir (13), latihan biola atau piano. Bahkan, ada kalanya mereka sekeluarga menyanyi bareng. “Saya main piano, Ayah menyanyi, adik mengiringi dengan biola. Ibu saya kadang-kadang merekam aksi kami menggunakan kamera,” tuturnya, bahagia. Salah satu lagu favorit mereka adalah What A Wonderful World.
Kemampuan aktingnya mulai terasah saat ia sekolah di The McDonald College, Australia, di jurusan performing arts. Arahan dari sutradara Cuk FK di film pertama juga sangat membantu Brianna mengeksplorasi kemampuan aktingnya. “Saya diarahkan untuk lebih lepas, berimprovisasi, dan tidak takut jelek. Saya juga rajin mengamati rekan-rekan sesama pemain saat sedang take,” ujar penyuka film klasik hitam putih ini.
Kini, walau sibuk syuting kejar tayang, Brianna tidak pernah meninggalkan musik. “Passion saya tetap musik. Saya akan kembali membuat solo album dan ingin berkarier sebagai musikus pop di luar negeri,” ujar Brianna, yang ikut dalam Bali Songwriting Invitational sejak tahun 2010, acara tahunan di Bali yang mempertemukan berbagai musikus muda dengan orang-orang dari industri musik. Di sana, ia berkesempatan untuk bekerja sama dengan banyak musikus luar negeri. Salah satunya, Brian Lee, penulis lagu asal Amerika, lewat lagu Brush It Off.
Niatnya berkarier di luar negeri bukan hanya untuk kepentingan pribadi. “Saya ingin Indonesia lebih dikenal sebagai negara yang kreatif dan produktif, punya musikus yang berkualitas,” ujar wanita yang mengidolakan Amy Winehouse ini. Namun, Brianna dan pihak label masih harus bersabar hingga kontrak sinetron sebanyak 500 episode berakhir. (f)
Topic
#BriannaSimorangkir


