Celebrity
Alicia Vikander Gigih Menembus Hollywood

19 Apr 2016


Foto: ImageCollect/StarMaxWorldwide

Bisa dikatakan, perjalanan karier Alicia Amanda Vikander (27) tak ubahnya mesin diesel. Butuh pemanasan yang cukup lama. Tapi, begitu sudah ‘on’, dia pun menjelma sebagai salah satu ‘it girl’ Hollywood. Aktingnya yang luwes membuat para kritikus film langsung menyukainya. Puncaknya, saat ia membawa pulang Best Supporting Actress Oscar 2016 untuk perannya sebagai Gerda, yang tetap mendampingi sang suami yang memilih menjadi transgender di film The Danish Girl. Namun, akting memikat hanyalah salah satu dari pesona yang dimiliki wanita yang lahir di negeri asal penjelajah laut Viking ini.

“Perasaan saya campur aduk. Senang mimpi saya jadi nyata, sekaligus takut, apakah akting saya cukup layak,” ungkapnya serius. Jelas, gelar ini tidak tanpa penilaian ketat dari para juri. Setidaknya dalam setahun ke belakang ada tujuh film yang dibintanginya.

Masing-masing film yang dibintanginya berhasil menarik perhatian para kritikus film. Bahkan, saat film The Fifth Estate mendapat penilaian yang tidak terlalu bagus, akting Alicia sebagai anggota Pirate Party di film ini justru menuai pujian. Alicia merasa  bahwa tekad kuat dan keseriusannya dalam merintis karier di seni peran ini terbentuk sejak ia belia.
Alicia lahir di Kota Göteborg, Swedia, 3 Oktober 1988, dan dibesarkan oleh ibunya, Maria Vikander, seorang aktris teater. Alicia kecil memulai karier aktingnya sendiri lewat pertunjukan Kristina from Duvemåla yang ditulis oleh Björn dan Benny dari ABBA pada usia 7 tahun.

Daya tarik di dunia seni ini berlanjut dengan keputusannya untuk belajar balet. Di usia 15 tahun, ia adalah salah satu murid dari Royal Swedish Ballet School yang cukup prestisius. “Kesempurnaan adalah sebuah keharusan dalam balet. Kesalahan terkecil bisa membuat koreografi tarian yang indah menjadi berantakan. Rasanya dunia seperti runtuh di depan mata,” jelasnya filosofis.

Tiga tahun berlatih balet, Alicia tertarik untuk mengikuti jejak ibunya sebagai aktris. Namun, dua kali mencoba, dua kali pula ia gagal masuk sekolah drama yang diinginkannya Royal Academy of Stockholm. Ia tidak patah arang. Salah satu kesempatan itu datang lewat sebuah peran dalam drama TV Swedia, Andra Avenyn. Namun, kariernya tidak juga berkembang.

Kegigihannya mulai mendapat apresiasi lewat perannya sebagai Katarina, gadis putus sekolah yang terpesona oleh musik Mozart di film Pure. Tidak hanya mendapat kritik positif, aktingnya juga memenangkan penghargaan Aktris Terbaik di Guldbagge Awards, ajang apresiasi pekerja film di Swedia, yang setaraf dengan Oscar. Sejak saat itu, pintu kesuksesan pun mulai terbuka di depannya. Tawaran demi tawaran membintangi film produksi Hollywood mulai berdatangan. Beberapa di antaranya, perannya sebagai Kitty di film Anna Karenina bersama Kiera Knightley, menjadi Putri Carolina Mathilde dalam Royal Affair bersama Mads Mikkelsen, dan tampil dalam biopic Julian Assange, The Fifth Estate bersama Benedict Cumberbatch.

Dalam tiga tahun terakhir, jadwal syuting Alicia sambung-menyambung, bahkan bertumpuk. Ketika masih syuting The Man from U.N.C.L.E, misalnya, ia harus mengambil waktu untuk audisi peran di film The Danish Girl, dan meninggalkan lokasi syuting untuk mendatangi lokasi film lainnya, The Light Between Oceans. Kesibukannya ini membuat Alicia merasa seperti tidak punya rumah. Namun, keinginan kuat meraih impian membuatnya menjadi pribadi yang selalu total. Termasuk saat mendalami tiap karakter yang dipercayakan kepadanya.

“Kita harus memahami sisi manusia dari karakter yang kita mainkan,” ujar Alicia. Ketika karakter itu melakukan kesalahan yang membuatnya dihakimi masyarakat, maka ia akan bersimpati padanya. Ketika karakter itu begitu sempurna, maka ia akan mencari sisi kelemahan manusiawi untuk membangun jembatan emosional dengan tokoh yang diperankannya. “Akting kita akan sukses jika mampu menampilkan kedua sisi tersebut,” lanjutnya.

Alicia senang mendapatkan kesempatan memerankan tokoh wanita berkarakter kuat di beberapa film yang dibintanginya. Hal ini membuatnya sadar bahwa wanita membawa dampak yang kuat dalam industri film. “Di Hollywood, saya mulai melihat film-film menampilkan tokoh utama wanita dengan karakter kuat seperti dalam The Hunger Games dan Divergent. Ini adalah perubahan bagus, dan saya ingin menjadi bagian dari perubahan itu,” tutur Alicia dalam wawancaranya dengan The Guardian.
 


Topic

#AliciaVikander

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?