
Foto: Fotosearch
Penelitian dari Future Workplace tentang Multiple Generations @ Work mengungkap bahwa selama perjalanan karier mereka millennial akan memiliki sekitar 15-16 pekerjaan. Jauh dari baby boomer yang rata-rata hanya memiliki 2-3 pekerjaan seumur hidup. Kenapa gen Y bisa melompat sesering itu?
Karena egosentris – itulah kenapa majalah Time menyebut mereka sebagai ‘me me me generation’ -- gen Y dilihat tidak memiliki komitmen tinggi dan loyalitas, termasuk dalam karier. Ketika tempat kerja dianggap tidak lagi menarik, mereka tak segan-segan mencari tempat kerja baru, dan tanpa perlu pikir panjang.
Yang dinilai menarik oleh mereka bisa diterjemahkan ke dalam banyak hal, tergantung keinginan dan kebutuhan mereka pada saat itu. Antara lain, pekerjaannya rutin dan membosankan, terlalu sering lembur sehingga tidak punya waktu untuk diri sendiri, tidak punya kesempatan untuk belajar dan berkembang, atau merasa terikat oleh terlalu banyak aturan perusahaan yang menurutnya tidak masuk akal.
Selain itu, sama seperti abege, pendapat peer dipandang sebagai hal yang penting bagi gen Y. Jika teman-teman satu gang-nya menilai bahwa dia nggak asyik karena tidak waktu lagi untuk hang out akibat terlalu sibuk, ia bisa langsung berpikir untuk resign. Saat peer-nya menganggap suatu pekerjaan sudah outdated, tidak keren, tidak hits, mereka akan segera mencari tempat baru. Apalagi, mereka memang senang mencoba hal baru. Jangankan pindah ke tempat baru, menjajal pekerjaan yang sama sekali baru, yang bukan merupakan bidang keahlian mereka pun tidak masalah. Bisa saja sekarang ia jadi sekretaris, besok jadi asisten desainer, dan lusa jadi analis.
Lalu, bagaimana nasib CV para gen Y? Mereka tidak terlalu repot memikirkan betapa panjang sejarah karier yang sudah mereka capai dalam waktu sekejap. Perusahaan yang budayanya mau terbuka terhadap kebutuhan gen Y, umumnya tidak mempermasalahkan loyalitas mereka. Kalau gen Y itu dianggap sangat kompeten, mereka justru menyusun strategi untuk mempertahankannya Namun, perusahaan yang konvensional tidak akan cocok bagi gen Y. Kalaupun mereka nekat melamar dan perusahaan berani ambil risiko untuk menerima, perusahaan harus siap kehilangan mereka setiap saat.
Veronica Wahyuningkintarsih


