Teknologi digital internet memang bisa menjadi sumber tak berbatas bagi pembelajaran para murid dan guru. Namun, di sisi lain, belantara internet juga bisa berdampak buruk bagi penggunanya. Sebab, di situ juga bercokolan para pedophile, materi pornografi dan kekerasan, serta berbagai informasi yang tidak terverifikasi dengan baik, sehingga bisa menyesatkan.Sebagai pengamat dan penggiat pendidikan kreatif, Agus menyadari dualisme internet ini. Menurutnya, kepala sekolah dan guru harus benar-benar melek digital dan internet untuk meyakinkan para orang tua. Bahwa, lebih banyak manfaat baik yang bisa didapatkan anak-anak dengan keberadaan teknologi tersebut.
“Harus ada komunikasi dua arah antara pihak sekolah dengan para orang tua,” ungkap Agus. Hal ini bisa dilakukan dengan mengundang mereka ke seminar-seminar tentang penggunaan TIK dalam proses belajar-mengajar. Seperti yang dilakukan oleh sekolah tempat Purvy mengajar. “Kami mengadakan seminar bagi orang tua tentang cara memfilter penggunaan gadget di rumah masing-masing,” ujar Purvy.
Tameng terhadap konten jahat ini juga berlangsung di lingkungan sekolah. Semua gadget sekolah harus sudah difilter. Sehingga, semua kata kunci yang menjurus ke arah seks, pornografi, atau kekerasan, tidak bisa diakses. “Kami juga membuat kontrak kesepakatan antara pendidik, orang tua, dan siswa. Pasal tentang pornografi dan plagiarisme ada di dalamnya,” lanjut Purvy.
Saringan serupa dilakukan juga di SD Mentari, tempat Reini mengajar. Di sini penggunaan internet hanya pada jam-jam tertentu. “Orang tua siswa juga dibekali pelatihan penggunaan software parental controlling, atau netnanny,” ujar Reini.
Menurut Agus, guru juga harus dibekali keterampilan teknis untuk mampu mengoptimalkan fitur-fitur internet. Misalnya, bagaimana mengoptimalkan kata kunci di situs pencarian, bagaimana memberdayakan anak-anak melalui forum-forum di internet yang mendidik. Tempat anak-anak bisa ikut berpendapat atau mengekspresikan diri secara positif. Apakah itu di forum ilmiah atau kesenian.
“Sebab, tanpa banyak diketahui oleh guru, forum internet ini bukan hal yang awam lagi bagi anak-anak. Banyak anak yang bergabung dengan forum online game. Jadi, guru bisa mengarahkan anak untuk mengikuti forum-forum yang lebih positif,” papar Agus.
Dengan asumsi lama sewa internet minimal satu jam, maka keterlibatan aktif anak-anak di berbagai komunitas online yang membangun akan mengisi kekosongan waktu antara usai pencarian kepentingan tugas. Sehingga, waktu sisa usai pencarian demi kepentingan tugas yang selesai dalam hitungan menit itu tidak memancing anak ‘iseng’ membuka situs internet yang tidak-tidak.
“Anak SD juga tidak disarankan untuk mencari materi secara langsung di internet. Guru harus memberikan link alamat tertentu sebagai sumber. Perlakuan seperti ini disarankan berlanjut hingga SMA. Jadi, gurulah yang pegang kendali,” tambah Agus. Ia juga menyarankan para guru untuk menggunakan fitur social bookmarking untuk mendapatkan link situs yang dibagikan dan direkomendasikan oleh orang-orang tepercaya. (f)
Topic
guru


