
Foto: 123RF
Selama ini orang berasumsi bahwa tipe kepribadian ekstrover lebih unggul ketimbang introver, baik dalam kehidupan sosial maupun karier. Benarkah seperti itu? Dua wanita berkepribadian introver ini berbagi kisah kepada femina bagaimana mereka mematahkan stereotip dan menjembatani hambatan
yang mereka rasakan dalam menjalani karier yang menuntut pergaulan luas.
Manusia terlahir dengan beragam karakter. Ahli psikologi Carl Jung membagi tipe kepribadian manusia menjadi tiga kelompok besar: ekstrover, ambiver, dan introver. Orang dengan kepribadian ekstrover dikenal sebagai individu yang bersifat terbuka, mudah bergaul, dan senang menjalin komunikasi dengan orang lain.
Mereka yang berkepribadian introver terlihat sebagai sosok yang tertutup, sulit bersosialisasi, penyendiri, dan lebih suka menjadi pendengar daripada berbicara.Sedangkan kepribadian ambiver berada di tengah-tengah antara ekstrover dan introver. Mereka menjadi seorang yang ekstrover, tapi di
lain waktu bisa menjadi introver. Tipe-tipe kepribadian ini mulai terdeteksi dengan jelas sejak seseorang masuk ke dunia sekolah. Bagaimana cara mereka menjalin interaksi dengan teman-teman di sekolahnya.
Mereka yang berkepribadian introver bukanlah tipe anak yang menonjol di sekolah, cenderung menarik diri dari pergaulan, tak memiliki banyak
teman, pemalu, dan tak banyak berbicara. Sedangkan yang ekstrover kebalikannya. Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan menjadi seorang yang berkepribadian introver. Hanya, kenyamanan itu bisa terusik tatkala mereka yang introver mulai memasuki dunia kerja dan kariernya mengharuskan mereka
berinteraksi dengan banyak orang.
Hal ini dialami oleh Meita Laksmiati (36), project coordinator di sebuah perusahaan kontraktor. Terlahir sebagai seorang introver, ia merasa nyaman-nyaman saja ketika semasa sekolah sosoknya tak terlalu menonjol atau dikenali orang. Dalam berteman pun, hanya segelintir yang bisa dekat dengannya. Baginya, menjadi ‘best friend’ bagi seseorang jauh lebih penting ketimbang menjadi orang yang dikenal punya banyak teman atau relasi.
Kebetulan dunia kerja yang pertama kali dijajaki Meita bergerak di bidang hospitality. Sebagai customer service sebuah rumah sakit swasta bertaraf internasional, ia harus berinteraksi dengan orang yang berbeda tiap hari. Padahal, karakter kepribadian introver cenderung meminimalkan kontak dengan
orang banyak.
“Ini yang jadi tantangan besar, karena pada dasarnya saya merasa malas ketika harus menghadapi orang yang tidak saya kenal. Saya tidak bisa langsung ‘cair’ ketika baru berkenalan. Sehingga, orang mungkin akan menilai saya sebagai pribadi yang terlihat sedikit kaku dan kurang ramah,” tutur wanita lulusan akademi sekretaris ini. (Baca juga : 5 Langkah Sukses Networking Bagi Si Introvert)
Begitu juga yang dirasakan oleh Intan M. Sukarna (35). Pekerjaannya saat ini sebagai Head of Fundraising Development di Marketing Division WWF Indonesia menuntutnya untuk tampil supel, piawai menjalankan lobbying dan banyak menjalin relasi dengan berbagai kalangan, mulai dari donor, pegawai pemerintahan, komunitas, media, hingga public figure.
Padahal, dirinya seorang introver. “Suka tidak suka, saya harus menghadiri banyak acara sosial. Padahal, itu yang terberat karena saya pemalu. Tiap
kali bertemu banyak orang, apa yang saya rasakan setelahnya adalah rasa capek yang luar biasa. Energi saya seperti terserap habis karena harus bergaul,” kata Intan.
Sering kali Intan sampai harus mengambil waktu beberapa hari untuk mengembalikan mood-nya. “Dalam waktu istirahat itu, saya biasanya menyepi sendiri. Mendengarkan musik, membaca, atau jalan-jalan keliling kota untuk menikmati kesendirian,” ujarnya.(f)
Topic
#karier, #introver, #psikologi, #tipkarier


