
Foto: Fotosearch
Menjadi anak baru di kantor memang serbasalah. Terlalu bawel disangka cari perhatian, diam saja dianggap kurang inisiatif. Berikut beberapa masalah newbie di tempat kerja yang sering terjadi. Simak jawaban dari Ratih Puspitasari, HR Generalist, untuk mengatasinya.
Kasus 1
T: Apakah ada aturan atau batasan bila rekan kerja melakukan pdkt ke saya?
J: Sebenarnya pria atau wanita bisa membatasi diri apakah mau terlibat secara emosional dengan rekan kerja atau tidak. Yang jelas jika memang sudah terbaca gelagat rekan melakukan pendekatan, kalau memang tidak tertarik berikan sinyal bahwa hubungan yang memungkinkan hanya sebatas rekan atau pertemanan di tempat kerja. Seandainya memang sama-sama suka dan ingin dilanjutkan, batasnya adalah behaviour ethic yang secara umum berlaku di tempat kerja. Misalnya tetap bekerja di jam kerja, bukannya ketawa-ketawa atau bisik-bisik berdua.
Kasus 2
T: Saya nggak nyaman dijodoh-jodohkan dengan seorang rekan kerja. Memang, sih, saya naksir, tapi dia sudah punya pacar. Bagaimana solusinya?
J: Jika Anda tidak mau dicap sebagai perusak hubungan orang, segera batasi diri dari rekan kerja yang dijodohkan. Orang semakin senang bereaksi jika Anda juga beraksi. Sebaliknya jika Anda tidak terpengaruh, maka ‘perjodohan’ ini akan berlalu. Lain soal, ya, jika selanjutnya si gebetan ini putus dari pacarnya dan mulai curhat ke Anda. Pakailah prinsip atau batas behavior ethic yang secara umum berlaku di tempat kerja.
Kasus 3
T: Saya dan pacar yang kebetulan rekan kerja sengaja ‘backstreet’ dari rekan kerja yang lain. Soalnya saya nggak terlalu yakin bagaimana dengan kelanjutan hubungan kami. Namun, lama-lama saya capek menjalaninya karena kami harus berpura-pura di kantor. Bagaimana solusinya?
J: Sebenarnya tidak terlalu masalah jika Anda dan pasangan memilih backstreet. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana perilaku dan mood Anda tidak berubah di tempat kerja—terutama bila sedang ada masalah dengan pacar. Jangan sampai, nih, gara-gara hubungan tidak mulus lantas kinerja juga menurun.
Kasus 4
T: Saya baru tiga bulan bekerja di kantor sekarang dan berniat mengundurkan diri lagi untuk pindah ke perusahaan yang memberi gaji lebih tinggi. Sebaiknya, alasan apa yang saya katakan kepada atasan mengenai kepindahan saya?
J: Tidak masalah jika Anda memberikan alasan yang sebenarnya, asal caranya lebih halus. Katakan saja kalau kepindahan Anda karena mendapat peluang lebih baik dan mencari pengalaman baru. Dengan alasan ini, atasan juga sudah pasti paham kalau ’peluang’ baru yang Anda maksud adalah kenaikan gaji. Biasanya jika memang prestasi Anda di kantor sangat baik, atasan akan mencoba mempertahankan Anda dengan cara menaikkan gaji. Hal ini memang membuat dilema, tapi sebaiknya tidak Anda tanggapi. Kalau Anda memilih tetap tinggal dan membatalkan pengunduran diri, nilai loyalitas Anda tampak sangat cacat.
Kasus 5
T: Saya dan pacar bekerja di kantor yang sama. Sebentar lagi kami akan menikah dan salah satu dari kami harus mengundurkan diri. Kami sepakat kalau saya yang akan mengundurkan diri. Ternyata, saat saya mengajukan surat pengunduran diri, atasan menolak dan mengatakan agar saya saja yang bertahan. Apakah yang harus saya lakukan?
J: Hal pertama yang harus dipikirkan saat memutuskan untuk mengundurkan diri adalah kemudahan mencari pekerjaan di tempat lain. Jadi, bukan berarti karena Anda wanita maka harus Anda yang resign. Selain itu, pertimbangkan juga prospek karier—siapa pun yang bertahan. Jika atasan tidak menerima pengunduran diri Anda, bisa jadi karena kinerja Anda dinilai lebih baik. Ini menjadi keuntungan tersendiri karena kemungkinan karier Anda di perusahaan akan menanjak. Tanyakan saja secara mendetail kepada atasan. Kalau kemungkinan besar Anda akan mendapat promosi, sebaiknya memang pacar Anda yang mengundurkan diri. (f)
Topic
#rekankerja


