Blog
Selamat Datang Tahun Harapan, 2022

31 Dec 2021

Selamat tinggal 2021, selamat datang 2022 tahun penuh harapan!
Foto: Dok. Shutterstock


Tarik napas dalam dan rehat sejenak, Anda berhak atas jeda waktu itu untuk merenung. Sebelum jam 12 malam berdentang dan Anda mengganti kalender meja yang telah sampai pada halaman terakhirnya, mari bercermin sejenak, menyiapkan jiwa dan sanubari sebelum melangkah di tahun baru 2022.
 

Renungan di penghujung batas

Kita telah sampai di penghujung tahun 2021, sebuah tahun penuh perjuangan. Penuh ketidakpastian. Jadwal zoom meeting yang silih berganti dan pembatasan sosial yang mengikat orang untuk saling menjaga jarak. Femina yakin Anda sudah bosan membaca kalimat, “silahkan mengganti nama Anda sesuai format yang telah disediakan.” yang selalu pop up setiap kali memulai sebuah zoom meeting. Kita rindu berjumpa langsung dengan semua orang. Kita benar-benar merasakan betapa jabat tangan dan pelukan menjadi sesuatu yang begitu berharga.

Masa gelap ini membuat kita semua tersadar, betapa kecilnya seorang manusia di garis arahan sang Maha. Semuanya hanyalah makhluk sosial biasa yang terbelenggu dalam dua tahun terakhir. Para manusia ini menjalani fungsi sosialnya dengan penuh batasan.

Tak terhitung berita duka silih berganti hampir setiap minggunya. Hidup yang memang sudah berat, terasa kian mengikat. Tidak ada yang menyangka bila sewaktu kita bertatap muka dengan rekan terdekat, ternyata juga bisa menjadi pertemuan tatap muka terakhir kalinya.

Memanglah sesak. Bukan hanya mereka yang berjuang di balik mesin ventilator, kita yang bertahan hidup di balik maskerpun merasakannya. 2 ply, 3 ply, hingga masker berlapis, semua kita jalani dengan tujuan kesehatan. Sesak memang, terlebih saat tak ada pilihan. Ini bahkan belum menyentuh perihal maskne dan sakitnya telinga akibat karet masker. Sejauh apakah manusia dituntut untuk bertahan hidup?

Terkadang sesak yang dirasakan bukanlah sesuatu yang harafiah. Dari semuanya, rindu seringkali menjadi hal yang paling menyesakkan. Mereka yang memendam rindu melihat cucu, kekasih, sahabat, apalagi mereka yang tak bisa mudik di kala Lebaran. Salah apa sebenarnya kita hingga sungkem di kedua kaki orang tua saja menjadi sebuah kegiatan yang dilarang? Namun bila dilanggar, kita sendiri tak pernah tahu pasti harga mahal apa yang harus dibayar nantinya.

Banyak diantara kita yang beruntung tidak merasakan aneka virus COVID-19, tapi jelas merasakan sesaknya kondisi pasar dan ekonomi yang baik langsung ataupun tidak, berdampak pada lesunya pemasukan. Dikala semua harus #Dirumahsaja, semua kegiatan seakan berubah tak berarti. Cekak yang mencekik, tak sadar membuat kita sering memandangi jam dinding menghitung detik demi detik sembari membatin, “kapan ini semua berlalu?”.
 

We are survivor!

Satu hal yang perlu kita sadari dua tahun terakhir ini adalah betapa besarnya kemampuan manusia berjuang keras untuk bertahan hidup. Betapa hal yang dulu dianggap remeh-temeh, menjadi sesuatu hal yang amat berharga. Sebuah kecupan bisa menjadi pembuktian rasa percaya dan berserah diri seluruhnya.

Anda semua sosok pejuang kehidupan di masa yang berat. Selamat, kita semua penyintas pandemi. Ada yang memang penyintas COVID-19, sempat merasakan betapa naasnya kehilangan indra penciuman disertai panas tinggi. Namun permasalahan kesehatan hanyalah pucuk kecil gunung es dengan berjuta permasalahan sistemik di bawahnya.

Bagi Anda yang mendampingi buah hati belajar daring, Anda luar biasa. Membiasakan diri membagi waktu dengan lingkungan yang terbatas tidaklah mudah. Bagi Anda yang dirumahkan dan beralih bisnis kecil rumahan, selamat, mungkin ini akan menjadi pemasukan besar Anda nantinya. Bagi Anda pengusaha boga yang akhirnya memperkuat sistem mengejar bola dan pesan antar, selamat, ada perkembangan bisnis yang signifikan dari usaha Anda.

Di kala kesulitan mulai berakhir, barulah tampak satu demi satu berkah dan pelajaran berharga yang kita dapatkan. Siapa sangka ternyata bekerja tak harus datang ke kantor? Bahkan kita bisa menonton konser ataupun fashion show melalui layar gawai.

Tanpa adanya pandemi, mungkin kita tak akan akrab dengan IG Live, Zoom, QR Code, ataupun berbagai fitur menarik yang dimiliki Google dan tebaran e-commerce. Dengan Corona, kita semua mengerti pentingnya teknologi yang tercipta untuk memudahkan kehidupan umat manusia. Semua punya makna.
 

2022 tahun penuh harapan

Kini, kalender telah sampai di lembaran terakhir, penghujung tahun 2021 yang penuh kabut tebal ketidakpastian. Harapan besar disemat dalam hati untuk tahun yang lebih baik di 2022. Sisa-sisa kabut itu masih ada, masih tampak, belum hilang. Tapi, bersabarlah sedikit lagi.

Tak heran bila 2022 disebut-sebut dengan ‘The Year of Hope’. Tahun harapan dimana kondisi bisa kembali seperti sedia kala. Kebebasan untuk bertemu dengan siapa saja? Kebebasan untuk traveling ke mana saja? Kebebasan untuk kembali tak memakai masker? Atau berharap COVID-19 varian apapun hanyalah sebatas flu biasa? 

Harapan patut dikejar bila bisa memperbaiki kondisi kita sebagai manusia dalam berbagai aspek. Apa yang kita jalani dua tahun terakhir layaknya menjadi pelajaran berharga. Dalam dunia pendidikan, revolusi pendidikan yang nyata diharapkan mampu menciptakan generasi baru yang dapat bekerja remote tanpa mengurangi kecakapan mereka sebagai profesional muda. Dalam bidang bisnis, teknologi digital membuka kesempatan lebih banyak orang untuk menapaki bisnis, asal mampu berkreasi dan mau membuka diri. Dalam bidang lingkungan, berkurangnya polusi udara dan suara karena mobilias manusia yang tak lagi masif, menjadi pengingat apa prioritas kita dalam hidup ini.

Secara sosial, para penyintas pandemi harus sadar betapa pentingnya support system dan kemandirian itu harus berjalan selaras dan seimbang. Dalam hal finansial perorangan misalnya, mengatur keuangan dan investasi pada pendapatan pasif terbukti amat penting bagi kelangsungan hidup jangka panjang, begitupun dengan peran asuransi yang banyak membantu di kala pandemi.

Pandemi adalah revolusi kehidupan manusia dalam skala global. 
Banyak proses belajaran bersama yang relevan untuk diterapkan di masa depan. Jadi, sesaat sebelum Anda menutup mata dan mengucapkan selamat tinggal pada tahun 2021 yang penuh perjuangan. Yakinkanlah dalam sanubari Anda bahwa kita semua telah melakukan yang terbaik dengan segala keterbatasan yang ada. Mari kita sambut 2022, sebuah tahun penuh harapan dan berjuta rencana yang tertunda. Saatnya melompat setelah mundur selangkah, mari kita raih 2022 bersama-sama dengan tangan terbuka. 

Selamat tahun baru 2022, tahun harapan untuk kita semua. (f)
 

Baca Juga
Konser Guns N’ Roses Di Jakarta: Ketika Saya Begitu Pengertian Pada Axl
Mengapa Kebiasaan Membagikan Foto Korban Bencana Sebaiknya Dipikirkan Ulang
Cerita Tentang Bulan Karunia, Pemanah Bersama Presiden Jokowi Di Opening Asian Para Games 2018


Topic

#2022

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?