Blog
Ramadan dan Perkara Melepaskan

11 Jun 2016

Foto: Stocksnap.io
 
Pekan pertama Ramadan begitu cepat berlalu. Seolah tak memberi waktu banyak bagi mereka yang sudah terlanjur menyia-nyiakannya dengan urusan yang tak bermanfaat. Saya selalu gembira menyambut Ramadan. Bayangan serunya berburu takjil saja sudah bisa menciptakan sepercik rasa riang. Bahkan, saat mendengar azan magrib sehari sebelum puasa, ada haru terbit dalam diri.

Di dalam kepala, ingatan tentang Ramadan di masa kecil otomatis terputar ulang. Langsung muncul bayangan dapur keluarga yang selalu riuh, sibuk menyiapkan beragam sajian untuk berbuka puasa. Saat itu, keluarga saya tinggal di paviliun rumah orang tua ayah. Jadilah, setiap hari saya bisa mengintip dapur nenek yang sangat pandai memasak dan membuat kue.

Saat masih SD, saya biasanya ikut terlibat (baca: ngerecokin) di dapur menjadi asisten nenek; memetik daun pandan atau daun suji di halaman belakang untuk bahan pewarna alami kue, membantu memotong-motong pepaya untuk dijadikan manisan, atau sekadar jalan-jalan ke warung untuk membelikan bumbu atau bahan.

Dongeng-dongeng kakek seusai tarawih juga menjadi sesi yang ditunggu-tunggu. Lewat hikayat para nabi dan kaum cerdik cendekia Muslim, kakek memperkenalkan saya pada wajah Islam yang sarat sosok intelektual, membebaskan, dan ramah pada wanita. Ayah baru akan mengajak pulang begitu saya sudah mengantuk. Ramadan kala itu sungguh tak tergantikan.

Saat kuliah dan bekerja, saya tak lagi tinggal di rumah dan punya kesempatan lebih sedikit bersama dengan keluarga. Mudik paling banyak setahun dua kali. Kebiasaan nonton, diskusi (dan berantem) seru bersama ayah berganti dengan midnite akhir pekan atau maraton serial drama bersama sahabat-sahabat semasa kuliah. Ramadan serta-merta tereduksi menjadi rentetan buka puasa bersama teman dan kolega, juga sahur dengan lauk-pauk praktis. Ah, betapa saya merindukan masakan hangat ibu yang dimasak langsung sebelum sahur!

Namun, tujuh tahun lalu, ingatan menyenangkan itu berganti dengan suasana rumah sakit yang sarat dengan wajah penderitaan. Tangis adik bungsu saya meledak saat dokter menyatakan ayah sudah tiada. Itu bukan sekadar syok biasa. Ayah meninggalkan kami tepat di sore hari kesepuluh Ramadan. Ia akhirnya menyerah pada kanker prostat yang telah lama berdiam di dirinya, mengakhiri malam-malam yang penuh dengan perih dan sakit.

Mungkin, inilah patah hati saya yang pertama. Jika kematian tidak bisa mengubah seseorang (entah ke arah yang lebih baik atau buruk), maka saya tak tahu lagi apa yang bisa. Kehilangan membuat keluarga kami tumbuh bersama dalam ikatan yang lebih kuat. Seusai pemakaman ayah, ibu mengenakan kemeja ayah untuk tidur. Dari raut wajahnya, yang meski tampak kuat, saya tahu, ia merindukan kekasihnya.

Tahun-tahun berikutnya, setiap dari kami mencari cara sendiri-sendiri untuk menaklukkan duka. Saya menenggelamkan diri dalam rutinitas, berusaha untuk selalu produktif, meski masih ada mimpi buruk yang sesekali singgah dan membuat saya terjaga menjelang subuh. Di malam-malam saya sangat merindukan ayah, saya akan mendengarkan musik sambil menulis atau membaca. Biasanya The Beatles, yang juga favorit beliau.

Sekali waktu, mimpi membawa saya kembali ke malam terakhir giliran menemani ayah di rumah sakit. Beliau terbangun dari tidurnya dan bertanya. “Jam berapa ini? Kamu belum berangkat sekolah?” Memorinya tampak sudah campur baur. Mungkin ia merasa ada di rumah, seperti permintaan terakhirnya, ingin istirahat di rumah, yang tak sempat dipenuhi keluarganya. Saya lalu menawarkan beliau untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat suci, dan ia tak menolak. Lalu kembali memejamkan matanya, menyimak sejenak lalu tertidur. Dingin dari lorong-lorong rumah sakit malam itu masih terasa membekas di kulit saat saya terbangun dengan dada yang sesak.

Atau suatu kali saya berpikir, bagaimana jika esok pagi giliran saya tak lagi bangun, dan adik menemukan saya sudah tiada di tempat tidur? Siapa yang akan mengurus keluarga kami? Pertanyaan-pertanyaan klise tentang hidup menyerbu saya. Ada begitu banyak hal yang saya cemaskan, terus-menerus diciptakan dengan giat oleh imajinasi.

Tapi lalu saya belajar tentang melepaskan. Perlahan-lahan, saya melatih diri untuk tidak terikat dengan banyak hal. Sesederhana dengan membiarkan banyak benda favorit; buku, baju, hingga perkakas rumah disambut gembira oleh pemiliknya yang baru. Saya juga mengurangi hobi mengoleksi benda-benda memorabilia, termasuk dengan menahan diri untuk hanya membeli satu atau dua benda sebagai penanda tiap perjalanan.

Toh, semua hanya sementara. Orang-orang yang kita cintai hari ini bisa pergi dan terpisah dengan kita dalam sekejap. Hari ini kita segar bugar, bukan mustahil esok kita terbaring tak berdaya. Pekerjaan yang kini mengambil porsi terbesar dalam keseharian mungkin esok bisa dengan mudah digantikan oleh orang lain atau… robot.  (Errr, welcome to the machine era!)

Saya juga merekonstruksi ulang definisi kebahagiaan. Memilah dan menyusun ulang prioritas pribadi. Memberi ruang dan fokus lebih banyak untuk keluarga. Dan yang tersulit, memberi lebih banyak maaf. Untuk diri sendiri dan orang lain. Tak ada lagi mimpi-mimpi buruk. Saya juga tak lagi mudah merasa terganggu dengan hal-hal remeh-temeh di sekitar saya. I choose my battles and fight for what actually matters.

Dan tanpa saya sadari, saya menjalani hari-hari dengan langkah yang jauh lebih ringan dan memandang hidup lebih positif. Melepaskan ternyata juga memberikan banyak ruang untuk hal-hal baru yang menanti di luar sana. Perjalanan-perjalanan dan pengalaman baru.

Saya pun memaknai doa-doa Ramadan lebih dalam. Setiap tahun, layanan pesan-pesan instan menyampaikan ucapan dari sahabat dan kerabat di awal dan akhir Ramadan. Sekilas, pesan-pesan itu terasa datar, apalagi jika yang mengirim hanya sekadar ‘meminjam’ pesan dari chat group sebelah, lalu meneruskannya begitu saja, tanpa pesan yang personal. Apa pun, mari kembali menyelami maknanya sebagai pengingat di perjalanan yang sejatinya teramat singkat ini. Selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga kita berhasil meraih kemenangan dan masih tetap dipertemukan di Ramadan mendatang. (f)


Topic

#blogeditor

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?