Blog
Menyoal Salam Tempel

29 Jun 2016


Foto: Stocksnap.io

Beberapa waktu lalu, salah satu grup chat saya tiba-tiba ramai di pagi hari. Apa pasal? Ternyata seorang teman mau titip menukarkan uang untuk salam tempel kepada teman lain yang bekerja di bank sentral. Jadilah, teman-teman yang lain ikut mau titip. Jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung. Maklum, ada saja yang berasal dari keluarga besar dan punya keponakan banyak.

Budaya salam tempel di Hari Raya memang begitu mengakar di masyarakat kita. Sampai-sampai diakomodir oleh bank sentral dengan layanan penukaran uang resmi. Saya ingat, ketika masih kecil, ibu selalu memilihkan baju lebaran yang sama dengan adik perempuan saya. Entah itu terusan atau setelan, tapi hampir selalu dilengkapi dengan tas selempang kecil. Buat apa lagi kalau bukan untuk mengumpulkan salam tempel, he… he…he…  Meski belum paham betul soal uang, menerima salam tempel dari para paman dan bibi saat silaturahmi selalu seru. Usai lebaran, ibu akan mengumpulkan uang itu dan dimasukkan ke tabungan di sekolah. Atau dibelikan perhiasan untuk saya dan adik.

Di keluarga besar saya, yang dapat jatah salam tempel biasanya tidak hanya bocah, tapi juga para remaja dan… para pencari kerja, ha! Jadi, selama belum bekerja, masih boleh terima salam tempel. Kadang meski sudah tak dapat jatah, sesekali kami bercanda bahwa salam tempel adalah bentuk doa dan berkah dari tetua yang memberi.

Tradisi itu masih berlangsung hingga kini. Tapi, setiap tahun saat mudik, saya mendapati sesuatu yang mengganggu. Sebagian besar orang tua cenderung membiarkan anak-anak ‘berpesta’ dengan uang salam tempelnya. Jadilah, begitu bubaran salat Ied, bocah-bocah menghambur ke toko mainan. Segerombolan bocah dengan boneka baru atau senapan mainan (yang langsung ditembakkan ke siapa pun yang lewat di depan mereka, dan kadang saya jadi korbannya) menjadi pemandangan biasa saat mereka melewati rumah saya. Mainan yang menurut para orang tua mereka, hanya dimainkan satu-dua hari lalu dilupakan. Kalau kata sepupu saya, "Toh, uangnya bukan dari ibunya, biarkan saja mereka habiskan sesukanya."

Sesi pembagian salam tempel juga sering jadi ‘ajang kompetisi’. Saat ibu si A membuka amplop yang diterima anaknya, terdengar seruan, “Wah, Tante Nila royal sekali. Ibu jadi susah, nih, membalasnya. Jadi enggak enak.” Padahal, bukankah ini seharusnya jadi ajang berbagi yang menyenangkan untuk semua orang? Atau harus jadi ajang pamer kemampuan menggelontorkan uang sebanyak mungkin?

Sejak saya memiliki penghasilan, saya tidak tergiur ikut dalam kompetisi itu. Saya memilih jalan lain. Anak-anak takkan mendapatkan salam tempel dari saya dan adik-adik, tapi hanya dari ibu saya. Gantinya, mereka akan menerima buku sebagai hadiah lebaran. Awalnya, bukan kesengajaan. Saya dan adik-adik masih sering iseng jajan komik, baik lokal maupun impor. Apalagi sekarang buku anak lokal makin menarik, baik dari segi cerita maupun ilustrasi. Tanpa sadar, sudah menumpuk tinggi dan harus buru-buru diwariskan.

Yang menarik, setelah beberapa kali mudik, ternyata hadiah buku ini menjadi sesuatu yang ditunggu oleh anak-anak. Senang rasanya mendengar si kecil Caca, putri sahabat saya langsung bertanya saat bertemu, “Tante, bawa buku apa buat Caca?” Dan begitu diberikan buku, ia langsung membacanya saat itu juga. Melupakan godaan permen warna-warni dan cokelat seketika.

Kurasi buku yang tepat tentu jadi andalan saya. Mereka boleh memilih sendiri atau jika mata-mata kecil itu bingung seolah ingin mengambil semua buku, saya akan memilihkan satu dan memberikan sedikit teaser tentang isinya. Mau cerita apa? Dongeng dunia, komik lucu, atau komik ensiklopedia? Saya selalu menanyakan pada para bocah tentang kesukaan mereka, agar hadiah dari saya tidak berakhir hanya didiamkan. Apa gunanya buku jika tak dibaca?

Kebiasaan ini juga sejatinya berasal dari lingkaran kebaikan di masa kecil saya. Seorang bibi yang bekerja di sebuah penerbitan nasional hingga akhir hayatnya dengan murah hati selalu rutin mengirimi kami aneka bacaan. Dari komik, novel, majalah hingga ensiklopedia. Dua dekade lalu, seingat saya, di kota kecil kami hanya ada dua toko buku dengan koleksi terbatas. Kiriman rutinnya membuka akses bacaan bermutu yang lebih luas untuk keluarga kami. Saya berusaha melanggengkan tradisi berbagi bacaan ini.

Kini, tentu saja akses itu sudah terbuka lebar. Jaringan toko buku nasional sudah ada. Membeli buku lewat toko buku daring pun semakin mudah. Sayangnya, buku masih belum jadi banyak sahabat keluarga pada umumnya, tergeser oleh materi yang lain. Tak heran, jika sebagian anak yang saya temui begitu antusias diberikan hadiah buku. Bahkan, ada beberapa keponakan saya yang saling bertukar buku hadiah mereka jika sudah selesai dibaca. Laporannya tentu sampai kepada saya di Jakarta, karena mereka menagih komik yang lebih banyak, ha… ha… ha…

Mungkin saja, suatu hari nanti, salah satu dari mereka akan meneruskan kebiasaan ini dan memberikan kegembiraan yang serupa pada generasi selanjutnya. Mungkin saja. (f)

Baca juga blog sebelumnya:
Ramadan dan Perkara Melepaskan


Topic

#blogeditor

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?