Blog
Kucing Desy

7 Jul 2016

 
Saya seorang dokter gigi dan suami berprofesi sebagai dokter umum. Kami menempati rumah yang merangkap sebagai tempat praktik. Tiap sore, dibantu oleh satu asisten, saya dan suami membuka praktik. Di daerah saya tinggal masih sedikit dokter yang mau tinggal dan mengabdi untuk masyarakat.  Mungkin karena letaknya jauh dari pusat kota. Masyarakat di sini baik dan ramah. Mereka sopan dan tertib menunggu antrean.

Sampai suatu sore, ada kucing kampung ‘berkunjung’  ke tempat praktik  kami.  Mulanya duduk selonjoran di rak sepatu anak saya. Kucing itu ternyata datang hampir tiap hari setelah kunjungan pertama itu.  Bahkan, sampai larut malam buntalan bulu itu selonjoran di rak sepatu..

Suami ternyata tertarik pada kucing putih berbelang kuning ini. Ia menghampiri dan mengelus-elusnya. Sejak mengelus-elus pertama kali, sepertinya suami mulai jatuh hati kepadanya. Saya pun langsung ngomel-ngomel. Haha... ha… cemburu!

Tapi apa daya, anak saya, Sulthan, ikutan jatuh hati pada kucing kampung itu. Mereka berdua  menamainya Desy. Saya sebal bukan main. Karena, selain alergi  bulu, saya juga mempunyai pengalaman buruk dengan kucing. Waktu kecil ayah dan kakak saya sangat menyukai kucing. Kami punya 10 kucing kampung di rumah saat itu.

Tiap saya pulang sekolah,  kucing-kucing  itu datang menghampiri saya, menempel-nempelkan kepalanya di kaki saya. Yang saya rasakan  geli bukan main. Belum lagi bulunya menempel di mana-mana, termasuk di karpet ruang keluarga tempat  menonton TV,  dan membuat saya selalu bersin-bersin.
Pada saat jam makan, mereka kompak ikut ke dapur. Sibuk meminta makan juga, kadang-kadang tidak sabar sampai naik ke atas meja. Ayah hanya tersenyum  melihat kucing-kucing nakal itu.

Belum lagi  saat musim kawin tiba. Kucing-kucing banyak yang hamil, dan beberapa kejadian mereka tidak mau melahirkan  di kardus yang sudah disediakan. Pernah suatu kali malah melahirkan di lemari pakaian saya karena saya lupa menutup pintunya. Alhasil, baju saya dipenuhi darah dan bulu kucing. Huh!
           
Dan sekarang si Desy  makin akrab dan pandai mencuri perhatian anak saya dan  suami. Suara “miaw... miaw...” manjanya  seolah-olah dibuat imut-imut. Bahkan Desy sudah berani masuk ke ruang praktik dan duduk manis, tapi  dia  lebih sering nongkrong di meja kerja suami. Jarang  mau  mendekat ke meja kerja saya, mungkin karena tahu saya galak  (pada kucing), hahaha....   
           
Beberapa malam ini Desy sering keluar malam dan akibatnya hamil! Oh, no! Memang belakangan saya lihat Desy sering nongkrong bersama kucing kampung berbulu hitam yang rutin datang  tiap sore. Eh, pas si Desy hamil, si kucing berbulu hitam itu malah menghilang entah ke mana. Jadilah, Desy hamil tanpa ada yang bertanggung jawab.

Saat itu saya langsung ngomel-ngomel pada  suami, menyuruh menawarkan kepada orang-orang agar si Desy diadopsi saja karena saya merasa tidak sanggup mengurus bayi-bayi kucing yang akan lahir tak lama lagi.  Tapi, suami saya  keukeuh menahan Desy di rumah.

Biarin aja, Mah, kasian. Lagi hamil gede gini,” bela suami, sungguh-sungguh. Saya kesal sekali, namun saya juga tidak tahan ingin ketawa mendengar pembelaan suami. Oh, Desy….(f)   


Ajeng K. Gunawan
Cimahi, Jawa Barat

                                                                       
 
 
 


Topic

#Gadogado

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?