
Sejujurnya saya bingung bagaimana harus bersikap ketika ada orang yang bilang: "kebanyakan pilih-pilih kali, ya?" ketika mereka mengetahui bahwa saya belum menikah padahal usia saya lebih dari 30 tahun. Kalau membeli sepatu saja saya pilih-pilih, tidak bolehkah saya memilih untuk pria yang saya harapkan bisa menjadi teman seumur hidup saya?
Beberapa bulan lalu, saya dan teman saya mendatangi Plaza Indonesia, Jakarta. Tujuan kami ke sana adalah untuk mendatangi sebuah store sepatu yang sedang sale. Saat sampai di sana, banyak sepatu dipajang. Semuanya seolah menuntut perhatian saya. Saya pun melakukan seleksi awal dengan melihat model. Begitu saya menemukan model yang saya suka, tangan saya otomatis menjangkaunya, membalikkan si sepatu untuk melihat harga yang biasanya terletak di bagian bawah. Ketika harganya di luar kemampuan saya, saya pun meletakkannya kembali. Lalu melanjutkan kembali tahap seleksi.
Saya pun akhirnya menemukan sepatu yang menurut saya - dan disetujui oleh teman saya - sangat saya banget. Sepatu ankle booth warna krem dengan heels yang tidak terlalu tinggi (saya taksir hanya sekitar 7 cm). Begitu saya balik sepatu tersebut harganya sangat masuk kantong saya. Saya pun jatuh cinta! Dengan mata berbinar, saya menanyakan kepada pramuniaga, nomor yang sesuai kaki saya. Tapi binaran itu langsung hilang begitu pramuniaga kembali dengan tangan kosong. "Maaf nomornya tidak ada. Hanya itu yang tersisa." Karena tidak mungkin pakai sepatu dengan dua nomor di bawah saya. Saya pun batal membelinya. Saya patah hati!
Setelah mencoba berpasang-pasang sepatu, saya akhirnya pulang menenteng satu pasang. Sejujurnya ini bukan sepatu paling ideal buat saya karena heels-nya terlalu tinggi yang tentunya akan membuat kaki pegal bila dipakai terlalu lama. Namun saya berkompromi dengan diri saya untuk menerima 'kekurangan' sepatu tersebut karena dia memenuhi kriteria lain yang saya cari, seperti model yang cantik, harga yang pas dompet dan kesesuaian dengan acara yang akan didatangi dan pakaian yang dikenakan.
Sama halnya ketika saya memilih pasangan. Eits, bukan berarti saya menyamakan pria dengan sepatu, ya. Saya harus tegaskan ini sebelum saya diamuk para pria atau aktivis pembela pria. Maksud saya ada kesamaan dalam proses memilih dan berkompromi. Justru karena saya sadar benar bahwa pria tidak sama dengan sepatu maka proses memilih dan berkompromi ini jauh lebih sulit. Tidak seperti sepatu di mana memilih dan berkompromi menjadi hak veto saya. Sementara untuk pasangan, proses memilih dan berkompromi melibatkan dua orang yang memiliki kebutuhan, keinginan, pemikiran dan pengalaman yang berbeda. Inilah yang membuatnya menjadi lebih sulit.
Saya sudah memilih dia, belum tentu dia memilih saya. Saya pernah mengalami ini beberapa tahun lalu. Saat saya sudah memantapkan hati bahwa dia adalah pilihan saya untuk menghabiskan sisa hidup saya, dia tidak meyakini hal yang sama. Dia memilih meninggalkan saya dan menikah dengan wanita lain. Saat itu saya luar biasa hancur namun seiring waktu saya sadar bahwa itu konsekuensi dari memilih seseorang, yaitu tidak dipilih balik.
Sama halnya ketika dua tahun lalu saya tidak memilih balik seorang pria yang meminta saya menikahinya. Keputusan ini saya ambil setelah mempertimbangkan banyak hal. Ada kriteria tertentu yang tidak bisa saya kompromikan sehingga saya yakin keputusan tidak memilihnya adalah yang terbaik.
Mungkin ada orang yang tidak kesulitan atau bahkan mewati proses memilih ini. Itu tidak masalah karena tiap orang memiliki cerita yang berbeda. Berbeda bukan berarti salah, kan? Namun untuk saya sendiri, sampai saya menulis blog ini (siapa tahu besok saya berubah pikiran) saya merasa membutuhkan proses memilih tersebut. Karena bila untuk sepatu saja saya pilih-pilih, masa saya nggak pilih-pilih untuk pria yang akan saya investasikan waktu, perasaan dan hidup saya? (f)
Baca blog saya sebelumnya:
Baca blog saya sebelumnya:
Topic
#BlogEditor


