Food Trend
Yudha Budhisurya: Pemilik Stark House dan Produsen Stark Beer

18 May 2013

Namanya boleh jadi belum bergema di tengah khalayak ramai, namun sosok yang satu ini tak asing lagi di dunia bisnis kuliner. Meski mengaku masuk dunia bisnis tanpa disengaja, berkat kepiawaiannya dalam membentuk konsep sebuah resto menjadi apik dan nyaman untuk tamu, lulusan Bachelor of Arts in Management, Ohio State University, Amerika Serikat, ini sukses mendirikan resto dan bar seperti Domain, Embassy, Portico, dan yang terbaru adalah Stark Bierhouse beserta birnya yang berlabel Stark Beer. Ini pun belum membuatnya cukup puas. Pria 33 tahun ini juga cukup sibuk menjadi promotor musik di bawah label Urbanite Asia.
Mengapa Anda tertarik menggeluti dunia bisnis?

Sepertinya bisnis memang mengenal kata ‘berjodoh’. Pada waktu kuliah saya memang belum tahu arah profesi dan karier saya mau dibawa ke mana. Namun, di tengah perjalanan kuliah, saya mulai mencoba bekerja di restoran dan ternyata saya sangat menikmati lingkungan tersebut. Di sana, tamu bisa menikmati hasil produk yang saya siapkan, dan itu menjadi pemicu saya untuk menggeluti dunia kuliner. Saya beruntung, karena setelah lulus kuliah tahun 2001, kakak saya sudah memegang bisnis kuliner (Manna Lounge) dan saya diajak untuk bergabung. Dan, menurut saya, ini bukan pekerjaan, melainkan bagian dari hidup.

Apa tantangan terberat dalam berbisnis?
Tantangan sebenarnya bagi saya menjadi motivator. Harus selalu inovatif dan one step ahead dari yang lain. Kompetitor sudah banyak dan bagus-bagus. Hal itu menjadi tantangan bagi kita untuk selalu membuat yang lebih baik dan terus berkembang.  Satu lagi, sejujurnya, kualitas sumber daya manusia terkadang juga menjadi kendala. Namun, bukan berarti tidak bagus sama sekali. Untuk itulah, kami selalu menyiapkan program pelatihan yang cukup intensif bagi para karyawan.  

Konsep bisnis apa yang selama ini Anda terapkan hingga bisa survive di tengah persaingan?
Customer oriented. Ketika kita memahami dan selalu berpikir apa yang customer mau, maka kita bisa memikirkan solusi berikutnya. Ketika kebutuhan mereka bisa kita penuhi dengan baik, secara otomatis mereka akan loyal.

Terobosan yang ingin atau sudah Anda buat?
Terobosan-terobosan kecil sudah banyak, tapi kalau untuk sesuatu yang besar belum terpikirkan. Saya hanya berusaha untuk selalu inovatif. Contohnya, kami menjadi pionir dalam pertunjukan dance music orchestra. Lalu, kami juga pernah membuat acara yang namanya Silent Disco, yang konsepnya mengganti speaker dengan headphone wireless. Jadi, orang-orang menikmati musik hanya dari headphone. Saat itu, Silent Disco di luar sudah ada, tetapi di sini belum.

Siapa sosok yang paling berjasa hingga Anda bisa menjadi seperti sekarang?
Saya mengawali karier ini dari kakak-kakak saya. Mereka sudah lebih dulu berkecimpung di bidang ini dari akhir tahun 1990-an. Mereka mengajak saya untuk bergabung dan belajar binis (memegang kendali manajemen club milik keluarga). Selain itu, tentu orang tua dan keluarga.

Berikan satu kata yang menggambarkan keluarga untuk Anda?
Rumah. Keluarga itu seperti rumah untuk saya.

Dalam karier sekarang, inspirasi apa yang Anda dapat dari keluarga?
Keuletan mereka dalam bekerja. Mereka, termasuk orang tua saya, bisa bekerja kapan saja dan bisa relaks kapan saja. Kami memang suka bepergian bersama. Satu hal yang terus memotivasi saya adalah ketika Ibu selalu mengatakan,  kalau kami pergi, biasakan ada hasilnya. Dulu ibu saya mengawali karier dengan berdagang, bukan mendesain. Beli barang-barang di suatu tempat kemudian dijual. Jadi, dari bepergian itu selalu ada hasilnya. Saya dan kakak-kakak   juga seperti itu. Jika saya pergi ke suatu tempat, saya mencoba untuk mendapatkan hasil dari bepergian itu.



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?