<<<< Cerita Sebelumnya
Bagian 3
Kisah sebelumnya:
Sejak kecil Ulin dibesarkan oleh Tambi, neneknya. Tambi, wanita Dayak tua yang memegang teguh adat leluhurnya, mendidik Ulin sarat dengan nilai-nilai menjadi wanita Dayak yang sesungguhnya. Setelah Ulin besar dan menikah, betapa kesal hati Tambi ketika Ulin berubah, ingin mencicipi kehidupan modern, dan menganjurkan suaminya meninggalkan ladang untuk bekerja di kamp, perusahaan pengolahan kayu. Ulin sendiri juga menikmati enaknya belanja di kamp.
Tambi
Jika akibat mengomel sama dengan melahirkan --mampu memutuskan ratusan urat saraf-- mungkin sudah mengulitpohonlah wajahku. Atau, apakah memang sudah berwujud demikian --wajah tua ini-- karena Ulin sampai-sampai tidak bisa membaca betapa aku tengah menggelegak. Siap pecah. Sekarang. Kesabaranku sudah terperas habis. Semua tampak menyala.
Menantang.
Menusuk-nusuk.
Seingatku, dulu aku pernah marah besar, tapi tidak seperti ini. Marahku kali itu lebih disebabkan sengatan rasa dikhianati daripada benci. Orang-orang itu, para pendatang, telah melepaskan kendali diriku untuk pertama kali. Mana kutahu, mereka yang mengetuk pintu dengan hormat, bertamu dengan santun, dan berbicara seramah kelinci ternyata diam-diam menabur bubuk beling ke dalam periuk di dapur.
Bayangkan saja….
Suatu pagi, mereka memperdengarkan decak kagum saat melihat keindahan hutan asri kami --pepohonan yang kuat melawan alam, katanya-- tapi sebentar malam pohon itu telah hilang. Mereka mencurinya! Sekali waktu, mereka juga memuji kesederhanaan kami, bahkan ikut menaruh hormat kepada apa yang kami yakini, tapi beberapa hari berselang tiba-tiba mereka mengirimkan angin puyuh. Tentu saja wujudnya bermacam-macam: raksasa mesin beroda banyak, kepiting baja, kapal penarik berekor pecut, hingga fitnah beracun. Pesannya sudah jelas. Agar kami segera bergeser dari kampung. Pindah ke tempat jauh atau… lenyaplah.
Bue, mendiang suamiku yang berhati tempoyak, sempat berusaha berdamai.
“Burung Kipasan Petualang sudah cukup senang jika diberi sejumput nasi. Ia mungkin tinggal sebentar, tapi pasti pergi lagi setelah kenyang. Jadi, apa salahnya membagi mereka sedikit dari apa yang dibutuhkan? Tunjukkan kita tuan rumah yang baik.”
Demikian Bue membela para pendatang yang hendak mendirikan perusahaan kayu dan bertetangga dengan kami. Pembelaan yang disesalinya belakangan karena para pendatang ternyata bukan oloh itah. Bukan pula burung Kipasan Petualang, melainkan Belalang Hama. Mereka tidak dilahirkan untuk patuh pada aturan adat dan tidak punya rasa takut pada kemarahan Tatu Hiang. Lihat saja, mereka melanggar semuanya tanpa rasa bersalah. Mereka mengabaikan bunyi gong pertanda batas wilayah adat. Bagi mereka, semuanya layak dikangkangi. Dan, Buelah yang pertama kehilangan hampir semuanya.
Kupikir, seorang pencuri makanan seharusnya belajar dari para pendatang itu tentang bagaimana cara mencuri sesuatu tanpa dikenai hukuman. Masih kuingat betapa hancurnya Bue ketika petak-petak tanah, juga kebun karet, durian, dan rumpun rotannya, diserobot perusahaan. Tidak ada hukuman. Tidak ada denda adat yang dibayar. Pada akhirnya, rasa kecewa, sakit hati dan putus asa menggerus Bue dari dalam serupa gerinda yang tertanam. Ia meninggal dengan tubuh sekurus rotan-rotannya yang hilang.
Sepeninggal Bue, aku, si janda malang, mengira angin puyuh yang dikirim perusahaan untuk keluargaku telah berlalu. Pikirkan saja… tanah, pohon, dan seorang suami sudah direnggutnya. Kurang apa lagi?
Ternyata…. memang masih kurang.
Perusahaan itu benar-benar gergasi jahat! Atei, mendiang sulungku yang berhati ketan, mencoba melawan dengan caranya sendiri. Ia berpikir bahwa sesosok monster akbar tidak jauh berbeda dari seekor beruang. Besar dan mengerikan, tapi tidak sulit dikalahkan. Cukup tusuk ketiaknya dari jarak segalah, maka ia akan sekarat. Sulungku pun mendekat. Sengaja bekerja di kapal penarik mereka. Tapi, ia belum sempat berbuat apa-apa ketika roh penunggu sungai sudah keduluan mengambil jiwanya. Kapal Atei terbalik dalam sebuah kecelakaan. Semua pekerja selamat, kecuali dia.
Mengapa bisa?
Kupikir, orang-orang perusahaan sudah tahu bagaimana cara menyuap para roh. Jika benar demikian, sungguh tidak salah aku memusuhi mereka.
Malam ini, untuk yang kesekian kali, aku menyaksikan kejahatan itu lagi. Entah apa yang mereka tiupkan ke atas ubun-ubun cicitku, Puti, hingga tubuh kecilnya hampir mendidih. Mulutnya terus meniupkan batuk pula. Kering dan bergema hingga sempat membuatku berpikir kalau ia sudah kosong. Yang kutahu, Puti dan Ulin menghabiskan waktu sepanjang hari ini di kamp.
“Hanya menjual sayur dan buah, Mbi. Banyak orang di sana, jadi harus menunggu,” jawab Ulin, ketika kudesak apa saja yang dilakukannya sehingga pergi saat fajar dan pulang menjelang gelap.
Namun, tidak ada gunanya aku berusia tiga perempat abad lebih jika buta pada tipu-tipu anak muda. Di kamp, mereka pasti bersenang-senang. Merayakan kebebasan semu karena terlepas dari pengawasan para tetua.
Tidak perlu aku kerasukan roh ular untuk tahu kalau darah mereka berdesir secepat air parit di musim hujan pada setiap akhir Hari Belanja. Tidak perlu pula aku meminjam hidung anjing pemburu untuk mengendus aroma kelepak nafsu yang baru terbakar. Selama ini, aku hanya mencoba tidak terlalu peduli, hingga Puti, yang mulai mengigau karena demam tinggi, menggerakkanku untuk bertindak. Mulai sekarang, aku akan memperketat pagar perlindungan itu. Menjauhkan keluargaku dari pengaruh jahat para pendatang dan perusahaan. Sayangnya, niat baik ini tidak berbalas.
Ketika kusuruh Ulin menyalakan tungku untuk membuat ramuan obat, ia malah berkata kalau segelas air sudah lebih dari cukup. Ia akan memberi anaknya dua butir tablet --nama yang baru kudengar-- yang ada di rak. Obat-obatan yang dibelinya di Warung Kamp tanpa setahuku: obat penurun demam dan obat batuk. Itulah saat di mana aku benar-benar pecah.
"Bagaimana kalau ia mati?!"
Mina
Tambi mengamuk! Para peladang memperbincangkannya selama beberapa waktu. Entah siapa yang meniup pertama kali, tapi berita itu menyebar serupa asap kebakaran hutan. Sesuatu yang cukup menggemparkan di tengah kehidupan peladang yang monoton. Jika ada koran lokal, pastilah nama Tambi akan dimuat pada salah satu halamannya. Tentang kemarahan seorang perempuan tua yang mendatangkan petir.
Benarkah?
Ulin, satu-satunya saksi mata, masih enggan berbagi detail kejadian malam itu kepada siapa pun, termasuk aku, bahkan hingga hari ini. Tiga hari setelah kutemukan ia mirip induk burung patah sayap di sudut kamar pondoknya. Kusut. Sembap. Ketakutan. Dengan Puti yang masih dicokoli demam dan tergeletak serupa ranting bingung di atas dipan. Aku benar-benar bersyukur tergerak datang ke sana pagi itu.
Kini, Puti sudah hampir sehat kembali. Sejak duduk bersebelahan dengan ibunya di dalam pondokku setengah jam lalu, ia sudah menghabiskan cukup banyak gorengan mandai. Cempedak berbumbu yang sengaja kugoreng dengan minyak tengkawang, bukan minyak kelapa.
“Sungguh malu aku, Mina. Anakku hanya merepotkanmu,” Ulin menepis lembut tangan Puti yang hendak mengambil sepotong gorengan lagi.
“Tidak apa-apa. Biar saja ia makan. Anak baru sembuh justru lebih baik begitu,” kubela Puti sambil menyodorkan piring yang hampir kosong ke depan hidungnya.
“Ambil ja. Kau suka?” tanyaku.
Tangan Puti cepat-cepat menyambar dua potong terakhir, lantas kepalanya mengangguk mantap. “Iyuh. Nyaman tutu nah1.”
“Hati-hati sakit perutlah!” Ulin menyela mengingatkan, sebelum melempar senyum malu kepadaku.
Aku hanya tertawa. Senang rasanya melihat keduanya seakan tidak terpengaruh sikap bermusuhan Tambi yang terbaru. Pikirkan saja, sejak malam ia mengamuk, perempuan tua itu tidak pernah lagi terlihat berkunjung ke pondok Ulin, padahal cicitnya sedang sakit. Ia seakan telah meletuskan sumpah untuk melupakan mereka. Kukira, hal itu sungguh keterlaluan. Seorang nenek tidak seharusnya sekejam demikian, tapi…. Tunggu dulu. Bagaimana kalau Ulin ternyata telah melakukan sebuah dosa besar tak termaafkaan, yang disembunyikan anak itu dariku?
Tadi, kucoba mengorek Ulin lagi untuk menambal bolong-bolong rasa penasaranku tentang peristiwa ‘Tambi Mengamuk’. Namun, apa yang kudapat ternyata kurang lebih sama daripada yang telah kutahu. Katanya, Puti mendadak demam sepulang dari kamp, dan Ulinlah yang disalahkan Tambi. Ketika demam Puti akan diturunkan dengan obat warung, lagi-lagi Ulin disalahkan Tambi.
“Sebenarnya, Tambi tidak mengamuk, Mina. Ia hanya berteriak keras-keras, mungkin karena tidak pernah melihat obat sebesar kemiri itu. Lalu, Tambi pergi. Hujan turun rerintik. Aku menangis. Puti terus mengigau. Aku bingung. Obat kubuang ke luar karena aku teringat kata-kata Tambi. Katanya, bagaimana kalau Puti…. Mati. Tidak, aku tidak mau! Aku takut. Untung saja ada dedaunan penurun demam tumbuh dekat teras. Kuminumkan Puti ramuannya. Hanya itu. Untunglah ia sembuh.”
Sampai di sini, Ulin terdiam lama seakan kosong dari kata-kata. Sebagai tuan rumah, aku cukup tahu diri untuk tidak memaksa. Pembicaraan segera kuubah. Melantur ke mana-mana asal tamuku senang. Hingga Ulin melontarkan tema obrolannya sendiri. Tentang Andau.
Perubahan wajah Ulin begitu nyata ketika membicarakan suaminya, ia pasti sangat rindu. Dengan wajah memerah bunga pacar, ia percaya Andau akan pulang pada akhir bulan sekaligus akhir minggu sebentar lagi. Lima bulan persis.
“Pohon yang dikerjakannya pasti sangat banyak. Ya kan, Mina? Andau pasti kelelahan. Kasihan sekali ia.” Ada nada sayang yang memancar kuat dari suara Ulin hingga air matanya nyaris memancur jika tidak cepat-cepat kugoda.
“Tapi, jangan lupa… uangnya juga pasti sangat banyak. Mau kau belikan apa?”
Ulin tersenyum. Matanya juga.
“Um, bagaimana kalau panci berlampu itu, Mina. Kubeli satu punyamu karena katamu ada dua di kampung. Pancinya akan kupakai menyimpan beras karena….”
Kalimat Ulin selanjutnya mengalir tanpa terdengar. Pikiranku sedang keluyuran. Aku tiba-tiba teringat pada tatapan jatuh cinta yang ditunjukkan Ulin pada magic jar-ku ketika melihatnya pertama kali. Tatapan cinta pandangan pertama yang serupa, tapi tak sama dengan apa yang diberikannya kepada Andau dulu. Dialah cinta pertama si gadis.
Apakah karena itu Ulin menjadi terlalu naif merasakan Pertanda?
***
Tambi
Sudah hampir dua minggu dan rasanya sangat menyakitkan. Hatiku. Menanggung luka bakar akibat letusan kemarahanku sendiri. Menyesalkah aku? Tidak. Aku tidak menyesal telah meletus semendadak itu. Semua yang kukatakan adalah kebenaran. Tentang kekhawatiranku. Tentang mereka. Aku hanya tidak mau keturunanku lebih mencintai para musuh ketimbang leluhurnya sendiri. Namun, di sisi lain, aku tetap punya penyesalan. Mengapa aku tidak bisa menahan marah saat itu?
Seharusnya aku cepat sadar, kebenaran ibarat sumpit pemburu sejati. Tidak akan meleset dari sasaran, jika ditembakkan dengan kerendahan hati. Ulin mungkin tidak akan lari makin jauh, jika aku lebih bersimpati dan ramah saat berbicara hal-hal serius dengannya. Lihatlah perempuan itu, istri Ikoh, maksudku. Dengan mudah direbutnya perhatian Ulin hanya lewat basa-basi. Tapi, malam itu… ya, Tuhan….
Aku benar-benar hilang kendali saking khawatirnya. Apalagi, rasa putus asa itu terasa menusuk-nusuk saat kulihat Ulin berdiri di dekat Puti sambil menggenggam racun, yang disebutnya obat, bagai tengah memegang mukjizat. Penuh percaya diri pada apa yang baru dikenalnya, sebaliknya penuh penolakan kepadaku. Seketika itulah aku seakan melihat sebuah jurang menganga di antara kami, dengan Ulin berada di seberang sana tanpa sanggup kujangkau lagi.
Semula, aku berharap Andau mampu menjaga Ulin dari apa pun yang buruk baginya. Tapi, aku bisa apa ketika pemuda itu justru selemah daun pisang kena angin. Pinta Ulin agar ia bekerja di kamp justru diikuti. Jadwal kerja yang mewajibkannya masuk hutan berbulan-bulan dituruti pula. Dan sekarang, ketika ia tidak pulang selama hampir enam bulan, apakah itu karena ia mematuhi sebuah perintah pula? Apakah mandornya begitu mabuk kerja?
Semalam aku bermimpi. Seekor ular bertamu ke pondok Ulin dan berdiam di bawah dipannya. Pagi tadi, semendadak angin, seekor elang muda terbang rendah melintasi teras depan pondokku. Keduanya adalah Pertanda, demikian kudukku yang merinding berbisik. Sesuatu yang buruk akan terjadi.
Dan, memang benar.
Tabat baru saja pulang dari mengantar penyewa klotoknya ke Kota Hilir. Penyewa itu orang-orang kamp. Dari mereka, ia mendengar kabar tidak baik tentang sikap beberapa orang pekerja perusahaan, terutama yang tinggal di Kamp Tarik. Mereka berulah di luar batas.
“Aku jadi terpikir Andau,” kata Tabat. “Seingatku, ia pernah bercerita tentang kamp semacam itu; yang bisa berpindah serupa gerobak dan ia tinggal di dalamnya jika sedang survei masuk hutan.” Sampai di sini, Tabat terdiam. Lalu, “Semoga pemuda itu baik-baik saja. Semoga Tatu Hiang melindunginya. Bagaimana, Bu? Bukankah kita semua berharap sama?”
Tabat menjatuhkan pandangan tepat ke dalam manik mataku, meminta persetujuan. Namun, tiba-tiba saja kita berdua sudah saling tahu bahwa entah mengapa doa itu beraroma bencana.
Mina
Tebaklah siapa yang datang berkunjung ke tempatku beberapa hari kemarin. Tambi… ya, Tambi. Jika kau merasa heran, apalagi aku yang sedang bersiap mencuci di atas lanting belakang pondok. Ia seolah muncul diantar kabut hutan yang belum hilang hingga sempat kusangka roh leluhur. Namun, begitu suaranya terdengar, aku tidak ragu menebak kalau benar-benar nenek Ulinlah yang sedang berdiri di depanku.
“Nirai kabar ikau2? Aku mau bicara.”
Kami duduk berhadapan di kamar pondok. Aku menunggunya membuka percakapan sembari menerka-nerka apa gerangan yang telah terjadi.
Apakah kepalanya terantuk sesuatu semalam? Apakah aku punya utang padanya dan lupa membayar? Apakah ia sedang demam? Mengapa ia mendadak menemuiku?
Namun, ketika mulut ompong Tambi mulai menumpahkan kata demi katanya selancar kucuran beras, kudapati diriku tidak lagi digaruk rasa penasaran tentang kedatangannya. Ada hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan.
Hari itu aku batal mencuci. Aku juga tidak turun ke ladang. Penyebabnya bukan Tambi --kami hanya berbicara sebentar-- melainkan apa yang ditinggalkannya usai itu. Sekarung beban yang tidak ringan; tentang mimpi dan Pertanda. Sesuatu yang, menurut Tambi, harus segera dipastikan kebenarannya karena sepertinya menyangkut kerabat kami.
Maka, mulailah aku beredar. Berjalan ke mana-mana demi mengumpulkan serpihan kabar angin atau petunjuk apa pun sambil berharap apa yang kutemukan kelak sesuai dengan yang ingin kupercaya.
Bahwa mimpi hanyalah bunga tidur.
Bahwa Pertanda bukan lagi milik dunia modern.
Bahwa firasat Tambi mungkin salah.
Sayangnya, hati kecilku tidak sependapat.
Aku tetap oloh itah walaupun orang-orang tua seangkatan Tambi menyangsikannya. Aku memang memuja parabolaku, mengasihi kulkas dan radioku, merasa kurang enak badan jika tidak memakai krim wangi bengkuang, tapi hal itu bukan berarti aku tidak percaya pada pesan tersembunyi yang dibawa mimpi atau para hewan. Aku justru sangat memercayai dan menghormatinya, itulah mengapa aku begitu mengkhawatirkan Ulin.
Enam tahun lalu, seorang kerabat jauhku membawa Andau ke pondok peladang kami. Si anak yatim piatu yang pendiam dan berbadan liat. Rupanya, mereka hendak mencari kayu Ulin untuk dijual, dan meminta izin menginap selama beberapa waktu. Saat inilah Ulin bertemu calon suaminya.
Di mataku, Andau dan Ulin pasangan yang serasi. Anak-anak muda pekerja keras yang bersemangat dan ingin maju. Siapa pun bisa melihat, sejak menikah, keduanya selalu berladang dengan sungguh-sungguh, meskipun hanya mengerjakan milik Tambi. Mereka mampu menghasilkan berkarung-karung buah-sayur dan puluhan kaleng beras untuk Tambi. Tentu saja, hal ini membuat perempuan tua itu bangga. Tidak ingin melepas mereka, bahkan menolak menerima kenyataan ketika Ulin tiba-tiba meminta suaminya bekerja di perusahaan kayu.
Aku masih ingat betapa sulitnya masa-masa itu. Mereka belum punya pondok sendiri. Andau harus meninggalkan Ulin dan Puti yang masih bayi, sementara Tambi --dengan kuasanya sebagai nenek-- semena-mena menghukum cucunya yang dianggap pemberontak dengan bersikap keras. Sikap ‘rasakan sendiri akibat pilihanmu’, yang diselingi lebih banyak omelan dan teguran ala nenek-nenek, untunglah sedikit mereda ketika Andau pulang dua bulan kemudian. Ia membawa uang, juga minyak goreng, kecap, gula dan garam. Ulin pun tersenyum bahagia. Tambi mengisak tak menyangka. Dan aku, yang kebetulan sedang berkunjung ke pondok mereka, langsung memeluk Andau sambil menangis haru.
Pemuda itu membuatku bangga.
Cerita Selanjutnya >>>>
Penulis: Anindita Siswanto Thaif
Pemenang I Lomba Mengarang Cerber Femina 2012


